BAYANG MASA LALU

BAYANG MASA LALU
BML Part 8


__ADS_3

#Bayang_Masa_Lalu


Lamaranku akan digelar sebentar lagi, keluargaku akan datang lusa.


Orang tuaku adik-adikku nenekku dan pastinya anakku beserta bulik dan om Agus.


Walaupun Rangga sudah menerimaku sepenuhnya dan juga keluarganya, tapi masih ada rasa takut menyelinap dalam hatiku. Semua karena kehadiran mas Firman ayah dari anakku yang kembali hadir dalam kehidupanku.


Aku tak mampu menceritakan ini kesiapapun termasuk bulik tempatku biasa mencurahkan segala hal tentang hidupku selama ini.


Bukan hanya karena pesona raganya tapi ada sesuatu yang ada dalam diri mas Firman, yang aku sendiri juga tak bisa ungkapkan, yang selalu mampu menghipnotisku, setiap aku didekatnya.


"Sin, kamu 4 hari kedepan handle dulu semua ya, kakak mau cuti" jelasku pada sintia.


"Cie cie yang dilamar" goda Sintia "akhirnya.. beneran Sintia ikut bahagia" tambahnya lagi.


"Semoga diberi kelancaran sampai hari H ya kak" Doa gadis itu, aku tersenyum, mengamini ucapannya.


"Kak Sintia ijin jam 10 nanti ya, mau antar mama terapi" ijinnya, "lepas istirahat sudah datang kok" aku menganguk.


"Salam buat mama" ucapku.


Aku baru ingat aku belum menyelesaikan masalah sewa tempat untuk klinik dengan mas Firman.


Ragu aku ingin menghubunginya Ciuman mas Firman kemarin masih bisa kurasakan sensasinya.


Membuatku takut untuk kembali bertemu dengannya.


Aku takut diri ini kembali terlena terlalu jauh, dan tengelam terlalu dalam dalam sensasi rasa yang mas Firman hadirkan.


Tapi aku sudah terlanjur pastikan pada Vivian akan selesei minggu ini. Karena akan ada beberapa bagian yang harus segera direnovasi untuk menyesuaikan dengan konsep yang telah kami sepakati.


Tapi aku benar2 tak sangup kalau harus kembali bertemu dengannya. Lamunanku buyar seketika saat terdengar pintu ruang kerjaku diketuk.


"Masuk" ucapku, Dian pegawai butikku muncul dari balik pintu.


"Bu ada tamu, katanya sudah ada janji" ucapnya kemudian.


Aku merasa tidak ada janji dengan siapapun hari ini di kantor, atau Sintia lupa memberitahuku.


"Oh ya Dian, persilahkan masuk" ucapku.


Tak berselang lama dian turun dan naik kembali, membukakan pintu dan pamit kembali bekerja kemudian menutup lagi pintunya.


Mas Firman sudah berdiri didepanku, dan kemudian duduk tanpa aku persilahkan. Aku diam masih termangu.


"Ini perjanjian sewa tempatnya, aku sudah tanda tanggani, aku udah info ke Sintia asisten kamu untuk prosedur pembayarannya dan hal lainnya".


"Per 5 tahun sesuai dengan permintaan kamu dengan nominal..." mas Firman menyebutkan angka yang jauh dari penawaranku. Jelas membuatku semakin terkejut.


Mas Firman menjentikkan jarinya kearahku


"Mas nggak salah nominalnya?" Pastiku kemudian, pria itu mengeleng.


Aku merasa akan ada masalah baru yang timbul, harga yang mas Firman berikan pasti akan menimbulkan berbagai pertanyaan untuk yang lain.


"Mas ini murni bisnis" ucapku kemudian.


"Ada yang salah? Bahkan aku bisa memberikannya tanpa kamu harus menyewanya". Lanjutnya.


Aku menarik nafas dalam. Apalagi ini, pikirku. Aku tiba tiba merasa takut, aku merasa mas Firman semakin lama semakin sulit kupahami, kadang dia sadar tapi dengan cepat berubah dengan kegilaanya. Ini sudah tidak benar. Tapi bagaimana caraku mengatasi ini semua.


"Untuk istriku, apa yang tidak bisa aku lakukan" mataku terbelalak. Mas Firman kembali memulai kegilaannya.


Mas Firman bangun dari kursinya dan berjalan kearahku, aku masih terduduk menelaah apa yang sedang terjadi.


Dia berdiri tepat dibelakangku, Tuhan tolong kembalikan kesadaranku. Dadaku selalu berdetak kencang setiap dia didekatku.


"Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku dimasa lalu" bisik mas Firman,


Membuat hatiku berdesir.


Mas Firman memutar kursiku, kemudian bersimpuh didepanku, dia meraih tanganku "Aku akan membuatmu bahagia" ucapnya, bibirku kelu tulang tulangku melemas tak sangup digerakkan.

__ADS_1


Aku hanya terpaku menatapnya. Bahkan ketika dia berdiri dan mendaratkan sebuah kecupan hangat dikeningkupun aku masih belum tersadar.


Mataku hanya mampu mengikuti langkah mas Firman yang kemudian menghilang dibalik pintu.


Aku membolak balik berkas didepanku. Kepalaku terasa sakit. Otakku tak mampu memikirkan ini semua.


Apakah aku masih menjadi istrinya, pertanyaan bodoh itu muncul kembali.


Kepada siapa aku dapat bertanya. Aku sama sekali tak memahami hal hal seperti itu.


Mas Firman benar-benar telah mengacaukanku pikiranku, atau aku sendiri yang sebenarnya bodoh menikmati semua kegilaanya.


Beberapa hari lagi keluarga Rangga datang untuk melamarku. Aku harus membuang jauh jauh semua hal tentang mas Firman.


Sebuah pesan WA aku kirimkan ke Rangga.


[Sayang aku belanja sendiri ya, kemarin ada yang masih kurang] pamitku kerangga.


Dia  ada meeting mendadak dikantor pusat.


[Hati hati sayang] balasnya.


Mungkin dengan belanja akan sedikit menghiburku dan melupakan kegundahan hatiku. Aku tengah sibuk mencoba sepatu, ketika seseorang menyentuh pundakku pelan sembari memangil namaku.


Aku mendongak, Ayu tersenyum menatapku.


"Hai.." sapanya kemudian. Akupun berdiri, kemudian kami saling berpelukan.


"Bagus, cantik" ucapnya melihat sepatu pilihanku.


"Sendirian?" Tanyaku kemudian. Ayu menjawab dengan angukan.


Setelah membayar kamipun melanjutkan kembali perbincangan di sebuah coffeshop


Pertemuan pertamaku tak banyak menceritakan kehidupan ayu sekarang, sekarang suasana lebih santai dan mencair.


Kami bercerita tentang banyak hal, aku baru tau ayu ternyata cucu pak Suwondo. Pak suwondo sebatas yang aku tahu adalah salah satu kontraktor besar dikota ini,  pantas saja property nya dimana mana, akhirnya kami beralih ketopik tentang percintaan kami.


Ayu sedang berpacaran dengan teman kuliahnya dulu. Tapi sekarang sedang LDR karena pacarnya melanjutkan study nya di Australia.


"Kamu pantas mendapatkan kebahagianmu Bil" ucapnya kemudian.


Ayu bergeser sedikit menjauh ketika menjawab sebuah pangilan masuk di ponselnya.


"Telpon dari mba Ajeng" terang Ayu tanpa aku menanyakannya.


"Kasiah juga walau sebenernya dulu aku tak menyukai dia, tapi sekarang sudah mulai berubah" lanjutnya.


Aku mengaduk aduk minumanku dengan sedotan, agar dia tak curiga kalo aku sebenernya menyimak cerita nya dengan seksama.


"Rahimnya akan diangkat" aku menghentikan adukanku, dan beralih fokus menatap Ayu "ada tumor atau kanker gitu jadi kepaksa harus diangkat" lanjutnya lagi.


"Kasian mas Firman, padahal mereka belum punya anak" Ayu meneruskan ceritanya.


"Apa ini karma ya Bil? Karna Ibuku dulu jahat sama kamu. Ibu masih shock dia kan pengen banget cucu dari mas Firman"


Sepertinya aku tak perlu menjawab pertanyaan Ayu.


"Sabar ya Ay" kuraih tangan sahabatku itu dan mengengamnya, saat raut wajahnya terlihat sedih. Ayu menganguk pelan.


"Maaf ya Bil, aku tak bisa datang di acara lamaranmu, aku takut kalau keluargamu melihatku, kebahagiaan mereka jadi terganggu". Tolak Ayu saat kumengundangnya ke acaraku. Aku paham, dia memang benar.


"Doanya saja Ay" pintaku


"Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu Bil" Ayu memelukku. Ada raut sedih yang tergambar di wajahnya.


----


"Assallamualaikum sayang" suara Rangga dari seberang.


"Waalaikumsalam" balasku


"Sayang aku besok penerbangan paling pagi, tapi sekalian nunggu mama sama yang lain dibandara, pesawatnya landing perkiraan jam 10 an". Terang Rangga.

__ADS_1


"Iya sayang" ucapku "love you " lanjutku


"Love you too" balas Rangga.


Rangga mendadak harus kekantor pusat dan baru pulang besok.


Tak lama kemuan ibu memberitahu juga akan berangkat besok pagi.


Semua persiapan sudah selesei. Aku mengamati kotak kotak yang berhias sedemikian rupa diruang tengah. Aku menghela nafas panjang.


Aku menguyur kepalaku dengan air hangat, menikmati aliran hangatnya, mataku terpejam, hariku terasa begitu berat akhir akhir ini. Aku berharap rasa yang kembali hadir untuk mas firman dapat ikut mengalir turun dari kepalaku dan menghilang.


Jam 7 malam selepas isyaan, aku bersiap keluar belanja makanan kecil.


Sebuah pesan masuk, aku engan membuka karena terlihat nama mas firman dilayar.


Tak berselang lama kembali masuk sebuah gambar.


Akupun sedikit penasaran. Akhirnya kubuka juga WA dari mas firman.


"Aku tunggu" tulisnya. Dibawah nya ada foto pagar bercat hitam. Itu pagar rumahku.


Aku mendapatinya bersandar di motor sport warna merah. Ketika aku membuka pagar depan. Pandanganya teralihkan kepadaku dari ponsel ditangganya.


Mas Firman menghampiriku dan memberiku helm yang sama dengan warna motornya, aku sejenak berfikir, aku harus bicara dengannya dan memintanya untuk tak menemuiku kembali. Dengan bicara dari hati ke hati aku berharap dia bisa mengerti.


Aku baru akan mengambil helm dari tanganya ketika dia dengan cepat memasangkannya di kepalaku. Aku mengikuti langkahnya tanpa sepatah katapun.


Sial gerutuku dalam hati, aku harus condong kedepan untuk dapat duduk nyaman. Aku sedang tak menginginkan kondisi seperti ini. Aku benar benar ingin melepaskan bayangan mas Firman dari hidupku.


Mas fmFirman memacu motornya, aku memegang ujung bawah jaket kulitnya karena takut jatuh.


Mas Firman menghentikan motornya di sebuah taman kota, seorang tukang parkir menyapanya. Sepertinya mereka sudah saling kenal.


Kenapa kaitan helm ini tak dapat kulepaskan, aku menekannya berkali kali tapi tak berhasil juga. Mas Firman menghampiriku kemudian membantuku melepaskannya.


Aku mengikuti langkahnya aku melihat sekeliling, dibeberapa sudut tampak beberapa abg mengerombol bercengkrama.


Dan beberapa pasang sejoli disudut lainnya.


Aku berjalan mengekorinya, sesaat kemudian dia berhenti untuk menyamakan langkah denganku.


Tak kudengar sepatah katapun keluar dari mulutnya mulai kami dari rumah tadi. Kedua tangan dia masukkan ke dalam jaketnya.


Semilir angin sedikit menusuk masuk kedalam kulitku, dan juga sisa angin perjalanan tadi. Sweater pink ku tak cukup mampu untuk menghangatkan badanku.


Kami berjalan beberapa saat, dan masih tetap tanpa ada obrolan apapun.


Langkahnya membawaku keluar dari taman sisi kanan dan berhenti disebuah gerobak bakso yang cukup ramai.


Kami menempati satu meja yang baru ditingalkan sepasang abg.


Seorang laki laki yang berdiri didepan gerobak menyapa mas Firman ramah.


"Pak bon, 2 ya " pinta mas Firman.


Sekian menit kemudian lelaki yang dipangil pak bon itu mengantarkan pesanan mas Firman.


"Wah sudah ada pasangan ya sekarang" ucapnya. Lelaki itu tersenyum ramah kearahku. Akupun membalasnya dengan tersenyum juga dan sedikit mengangukkan kepalaku.


"Bil, baksonya enak loh " mas Firman mulai mengaduk mangkoknya.


"Rasanya mirip banget sama yang dibelakang sekolah kamu dulu. Pak siapa itu..?" Mas Firman mencoba mengingat nama.


"Bakso pak Kadarusman" jawabku kemudian.


"Nahh itu, aku suka pangil pak kumis, soalnya kumisnya tebel kayak pak raden" mas Firman tertawa.


Aku masih menyilangkan tanganku diatas meja, dan menatapnya.


"Coba deh" mas fmFirman menusukkan satu bola bakso dengan garpunya dan mengarahkan kemulutku.


Aku menelan ludahku, aku ikut dengannya karena ingin bicara serius agar dia menjauh pergi dariku, bukan untuk beradegan romantis seperti di adegan ftv, atau berkencan seperti sepasang sejoli yang sedang kasmaran.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2