BAYANG MASA LALU

BAYANG MASA LALU
BML Part 23 - 24


__ADS_3

#Bayang_Masa_Lalu


#BMLSeries


LinDa Vin


#BML_Part_23


Rangga tak pulang ke Cempaka, dia sedang menjaga Karina beberapa hari ini. Dan hanya mengucapkan maaf belum bisa menemuiku. Sebentar lagi Operasi Karina dijadwalkan.


Kapan drama ini segera berakhir. Sepertinya aku sudah mulai lelah. Aku sendiri sudah tak yakin apakah Karina akan memenuhi janjinya. Bagaimana kalau dia tak menyerahkan bayinya? Tak masalah buatku. Tapi Rangga, apa mau dipisahkan dengan anaknya.


Menerka-nerka saja kepalaku sudah sakit.


----


"Bebz , nanti jam berapa ke resepsi Sandra?". Vivian menghampiriku yang sudah di parkiran belakang Klinik.


"Oh iya, acaranya jam 7 kan? Sekitaran itu palingan" jawabku sambil memasukkan laptopku ke dalam mobil.


"Sama Ranggakah?" Tanyanya kemudian.


Aku mengangkat bahuku, aku belum mengajaknya.


"Sendirian paling saiy, dia banyak kerjaan" kerja menjaga Karina.


"Ya udah, ntar kabari yah, biar disana barengan, aku juga sama Lody nanti" jelas Vivian.


"Siyapp " ucapku dengan gaya hormat, Vivian mencemol pipiku yang sudah mulai berdaging kembali.


"Sakit saiy" teriakku, Vivian hanya tertawa.


Mobil kami beriringan untuk beberapa saat. Sudah Jam 5 sore, aku memutuskan langsung pulang.


Aku sudah menelpon Sintia tadi mengabari kalau aku tak kembali ke Butik.


Setengah 6 aku sampai di rumah, dan langsung naik kekamarku.


Badanku terasa segar, setelah mandi.


Aku memilih-milih baju sambil menunggu adzan magrib.


Kujatuhkan pilihan pada kebaya kombinasi brokat berwarna dusty pink, dengan bawahan kain batik. Cantik...


Aku mulai berias setelah sholat magrib.


Kutatap wajahku sendiri dicermin, seperti orang lain.


Aku tak terlalu berani bermain warna, cari aman yang soft saja ala ala korea katanya.


Kemudian mencari tas yang sesuai dan juga alas kaki.


Sudah hampir jam 7 aku segera turun,


Nini menatapku takjub.


"Wah mbak, Nini kira artis dari mana tadi, cantik banget" pujinya padaku.


"Makasih Nini" aku tersenyum manis.


"Mba pergi kondangan dulu" pamitku


Vivian menelponku, menanyakan apa aku sudah berangkat. Gedungnya tidak jauh


dari rumahku, sekitar 15 menit aku sudah sampai di gedung resepsi Sandra.


Kulihat Vivian dan Lody sudah sampai, dan menungguku di depan penerima tamu.


Cantik sekali sahabatku itu, dia datang dengan gaun merah menyala selutut.


"Haiy bebz, cantik banget sih"


"Makasih saiyang" jawabku.


"Aku tadi sudah pesan jangan pake hill tinggi-tinggi". Protesku pelan, karena aku terlihat mungil didekatnya, Vivian tertawa.


"Eh itu Wira" tunjuk Lody pada Wira yang baru datang.


Dia datang bersama seorang gadis cantik berkerudung.


"Wah, ada yang segera nyusul nih". Goda Vivian melihat Wira datang membawa pasangan. Wira hanya tersenyum dan gadis itu tampak malu malu.


"Kenalkan ini Feby"


Wira memperkenalkan pasanganya.


"Nabila" sambutku pada gadis berwajah lembut itu.


Kamipun beriringan masuk kedalam gedung. Didalam sudah banyak teman lain yang datang.


Kami disambut keluarga Sandra, dan berjalan ke pelaminan kemudian untuk mengucapkan selamat kepada sang pengantin baru dan berfoto.


"Kamu cantik juga ya kalau dandan gini" bisik Wira dibelakangku saat kami sedang mengantri foto dengan mempelai.


"Hemm biasanya jelek ya" ucapku pelan juga.


"Iya, manyun mulu akhir akhir ini"


"Ihhh.. " dengusku, Wira hanya tertawa.


Setelah sekian purnama tiba juga, giliran foto bersama sang pengantin. Fotografer mengatur posisi kami. Setelah beberapa kali jempretan kamera profesional dan puluhan jempretan kamera ponsel selesai juga foto fotonya.


Kami pun turun pangung tapi ternyata acara berfotonya belum selesai.


Wira mengacungkan kamera ponselnya didepanku untuk berselfie, aku pasang beberapa ekspersi dari cantik sampai konyol.


Feby juga mengajakku foto bersama, aku diapit pasangan serasi ini. Mereka mirip sekali. Kalau jodoh katanya gitu mirip mukanya.


Wira mengambil gambarku dan Feby, aku dan Lody dan juga dengan Vivian.


Dan beberapa karyawan lain yang bertemu disitu.


Setelahnya kami berhamburan terpisah.


Melihat mereka datang berpasangan hatiku mendadak getir. Mending Vivian masih ngandeng Lody lah aku .. hmmm


"Ngapain bengong gitu?"


"Siapa?"


"Kamu"


"Aku?"


"Iya kamu, memangnya ada orang lain yang aku ajak bicara disini" ucapnya mulai kesal.


"Aku nggak lagi bengong, makanya aku nggak ngerasa" Ucapku


"Lah tadi barusan apa?"


"Itu nglamun bambang" ucapku datar.


"Ihh sama ajha siti .." Wira seperti ingin mencubit hidungku gemas.


"Eitss" tanganku menepis tangan nya mataku melotot.


"Mana Feby tadi" tanyaku kemudian.


Wira menunjuk kearah Feby yang sedang mengambil makanan.


"Kamu nggak makan?" Tanyanya padaku.


"Ntar ajha, eh Vivian tadi mana?"


Kami harus berbicara dengan berdekatan karena suasana yang berisik.


Wira menunjuk kearah kanan, Vivian sedang bersama dokter Atika.


Aku berjalan menghampiri mereka, Dokter Atika memperkenalkanku dengan suami dan anaknya.


"Bebz , jarang ketemu Rangga aku" tanya Vivian ketika kami tinggal berdua.


"Kangen ya, nanyain mulu" Vivian tertawa


"Lembur saiyy" lanjutku


"Kalian baik-baik ajha kan?" Vivian memasang wajah curiga, " Nggak sedang lagi ada masalah kan?"


"Nggak kami baik-baik ajha"


"Tapi..." Vivian tak melanjutkan kalimatnya saat Lody datang bersama Wira dan Feby.


Hufff untung ajha.. aku nyengir sendiri.. lega


"Kamu kenapa, nyengir gitu " tanya Lody yang ternyata melihatku.


"Siapa aku? Olah raga muka" jawabku asal


"Pulangkah?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Iya udah kenyang nih" ucap Wira.


"Hemm dasar anak kost, SMP" sindirku


"Apaan SMP" tanya Vivian melihatku


"Sehabis makan Pulang" jelasku, mereka pun


tertawa, padahal bagiku itu garing.


"Eh tunggu foto dulu" seru Wira


"Kan tadi sudah .." protesku.


"Jarang kan liat Nabila gini, harus di abadikan. Kalo Vivian kan sudah tiap hari memang cantik"


"Makasih Dokter Wira" ucap Vivian dimanis-manisin.


"Ihhh... Genit" ucapku sambil nyengir.


Vivian kembali tertawa. Terlihat Feby senyum-senyum melihat kekonyolan kami.


Kamipun keluar dan berjalan ketempat parkir.


"Bebz hati-hati ya" Vivian mencium pipi kanan kiriku, kemudian beranjak menuju mobil mengandeng sepupunya itu.


Wira dan Feby masih disampingku. Akupun berpamitan pada mereka, aku menempelkan pipi kanan dan kiriku pada gadis itu.


"Aku duluan ya" pamitku.


"Hati-hati Bil" Wira tersenyum.


Aku berjalan menuju mobilku. Kulihat jam masih setengah 9 an.


Aku putarkan mobilku tanpa tujuan, tiba-tiba perutku terasa lapar. Aku asyik ngobrol tadi sampai tak sempat ambil hidangan.


Aku melihat ke kanan kiri, aku ingat mas Firman pernah mengajakku kesini. Ya ada Taman didepan, aku belokkan mobilku masuk ke parkiran. Ada bakso di sisi kanan belakang taman ini.


Kondisi taman lumayan ramai mungkin karena akhir pekan, tapi apa iya aku mau makan dengan baju seperti ini.


Haiyahh pasti jadi pusat perhatian, apalagi aku sendirian.


Aku lihat ke jok belakang, aku sudah menurunkan sweaterku untuk dicuci kemarin.


Aku baru menyalakan mobilku saat pintu kacaku diketuk.


Aku ambil uang pecahan 5000 an yang selalu kusiapkan di laci, kuturunkan sedikit kaca mobilku dan memberikannya.


Aku kaget ketika tangganku ditarik dari luar, refleks kutarik..kurang ajar pikirku.


Antara takut dan marah kurasakan.


"Nabila..."


Tapi kenapa dia memangil namaku, seperti suara mas Firman.


Aku beranikan melihat ke sisi kananku, dia menurunkan penutup mukanya.

__ADS_1


Ihhh ..


Aku menurunkan kaca mobilku lebih lebar.


"Mas bikin Bila takut ajha" ucapku sebal, kupasang wajah manyunku. Mas Firman tertawa melihatku


"Kamu ngapain disini?" tanya nya kemudian.


Tanganya diletakkan di atas kaca jendela.


Aku masih kesal, aku benar benar takut tadi.


aku tak menjawab pertanyaan mas Firman.


"Cantik banget, darimana?" Lanjutnya lagi.


Aku memilih membuka pintu mobilku.


Mas Firman melangkah mundur saat ku turun dari mobil. Kututup kembali pintu mobilku dan bersandar disana.


"Bila lapar" ucapku saat cacing diperutku mulai bergolak.


Mas Firman malah menatapku tanpa berkedip.


"Ih liatnya gitu banget sih"


"Kamu cantik banget hari ini" pujinya kemudian.


"Mas sudah yang ke 1000 bilang gitu, recehan Bila sudah habis"


"Beneran" ucapnya lagi


"Mas Bila laper" ucapku lagi


"Kamu tadi kesini mau makan bakso?" Tanyanya, aku menganguk.


"Terus kenapa tadi mau pergi, ngak jadi"


"Masak pakai baju ginian, yang ada pada liatin Bila semua, apalagi bila sendirian" ucapku.


Mas Firman melepas jaketnya dan meberikannya padaku. Aku segera memakainya.


Ku segera mematikan mesin mobilku yang masih kunyalakan.


Kami beranjak masuk ke dalam taman.


"Mas ngapain disini?"


"Ya cari angin ajha" jawabnya


"Ngapain angin dicari"candaku


"Mau nya nyariin kamu" balas mas Firman.


"Ihh gombal" mas Firman tertawa kecil


"Kamu darimana?" Lanjutnya


"Dari kawinan temen kantor" jawabku.


"Sendirian saja?"


"Kelihatanya?


"Sendiri"


"Gitu masih nanya" ucapku manyun.


Mas Firman kembali tertawa.


Lumayan ramai warungnya, kami duduk agak jauh dari rombong.


"Pak Bon, 2 ya " teriak mas Firman ke pak Bon, pria bertubuh tambun itu mengacungkan jempolnya. Tak menunggu lama 2 magkok bakso tersaji di meja.


Jadi ingat pas kali pertama di ajak mas Firman kesini.


Hmmm baunya mengoda, sambal banyak sedikit saos dan kecap, mantap. Sebenarnya pengen nambah, tapi malu.


"Masih laper?" Tanya mas Firman seolah bisa membaca pikiranku.


"Keliatan ya?" Tanyaku dengan muka bersemu.


Mas Firman memindahkan isian magkoknya ke mangkokku.


"Aku nggak terlalu laper" ucapnya.


Aku tersenyum dan melahap habis dengan cepat, beberapa waktu ini nafsu makanku agak kurang terkendali.


Segelas teh hangat menutup makan malamku


.


"Nggak makan berapa hari ?"


"Seminggu " jawabku.


Mas Firman heran melihat makanku.


"Dah malem mas,.pulang yuk" ajakku setelah kenyang.


Kamipun beranjak, aku menungunya di dekat pagar taman saat dia masih membayar. Tak lupa sapaku ke pak Bon dengan senyum dan angukan kepala.


Selesai membayar, mas Firman berjalan kearahku. Kemudian kamipun berjalan bersisian menelusuri jalan didalam taman.


"Makasih dan temenin Bila" ucapku memecah keheningan. Mas Firman hanya tersenyum.


"Mas sering kesini ya?"


"Kadang-kadang saja"


"Mas pernah ngajak mba Ajeng kesini?" tanyaku ingin tau.


"Mana mau Ajeng makan dipingir jalan?"


"Memang sudah pernah nawarin?"


"Bila pulang dulu ya mas?" Pamitku ketika kami sudah sampai kembali di parkiran.


"Hati-hati" mas Firman mengusap lembut kepalaku.


"Mas juga" balasku.


Kulajukan pelan mobilku meninggalkan mas Firman yang berdiri menatap kearahku.


Hampir jam 11 an aku baru sampai rumah, aku baru tersadar jaket mas Firman terbawa lagi olehku. Kasian pasti dia kedinginan.


Aku hanya mencuci muka, mengambil wudhu dan langsung sholat. Perut kenyangku membuat ku sangat mengatuk. Kurebahkan tubuhku dan menarik selimutku..


-----


#BML_Part_24


Aku hanya bangun untuk sholat shubuh dan kembali bermalas malasan dikasur.


Aku mengambil ponsel yang tak kulihat dari kemarin sore.


"Hallo Assalamualaikum" salamku ke Rangga.


"Kemana ajha? Ga dibuka hpnya?"


"Iya, jarang cek ponsel, ada apa sayang?"


"Kamu nggak pulang lagi kesini?"


"Karina kan nggak mau lihat aku"


"Aku yang mau lihat kamu"


"Ya kamu kesini ajha"


"Karina nggak bisa ditinggalin, kemarin pendarahan lagi"


"Terusss??" Tanyaku mulai kesal. Rangga hanya terdiam.


"Udahh ah males pagi-pagi udah bikin mood jelek ajha. Kalau mau ketemu kesini, kalau nggak ya sudah jangan ribet" omelku langsung kututup telponku.


Ih sebel, kena jampi jampi apa sih Rangga bisa tunduk gitu sama Karina.


Ya Tuhan aku benar benar lelah, kalau memang Rangga jodohku semoga kami diberi kekuatan untuk melewati ini semua..


Kalau bukan???


Aku tak mau berandai andai hal yang tak aku inginkan. Aku tak setegar yang orang lihat.


5 Tahun bersamanya, mulai dari aku kuliah Rangga selalu ada untukku, hampir setiap saat bertemu, entah siang sewaktu dia istirahat atau sore selepas pulang kerja. Dia yang selalu mendukungku, dia yang selalu menjadi sandaranku. Dia yang menemaniku dari aku bukan siapa-siapa. Rangga adalah aku, aku adalah Rangga.


Dan sekarang, dia menjelma seperti orang berbeda, dia bukan orang yang dulu sangup melawan dunia untukku, bukan pula orang yang bisa menjaga hatiku.


-----


" Sayang, aku dirumah sakit, Operasi Karina dimajukan" Masuk pesan dari Rangga.


Aku masih memandangi pesan di ponselku.


Akhirnya ...


Bergegas kumasukkan ponselku kedalam tas, berkas tak sempat kurapikan.


"Kakak mau kemana?" tanya Sintia melihatku keluar ruangan.


"Kakak ada perlu, eh kayaknya nggak balik kekantor, tolong rapikan berkas kakak dimeja ya" pesanku.


Sintia hanya menganguk, aku bergegas turun dan melaju ke rumah sakit.


Aku menghampiri Rangga dan Orang tua Karina, yang berdiri didepan ruang operasi.


Wajah mereka tampak cemas.


"Karina pendarahan tadi, kata Dokter Siska harus segera di Operasi" jelas Rangga tanpa kuminta.


Aku memeluk ibu Karina, wanita itu terlihat sangat cemas akan keadaan Karina.


Ponselku bergetar, aku menjauh dari mereka. Vivian menelponku, mengabarkan besok pagi ada meeting.


Aku kembali ke depan ruang operasi, Rangga mengengam tanganku.


Hatiku terasa tidak nyaman.


Siska keluar dari Ruang operasi, dia sejenak melihatku.


"Kondisi ibu masih lemah karena pendarahan cukup banyak, untuk bayinya alhamdulilah silahkan di adzani dulu"


Rangga bergegas masuk, orang tua Karina mendekat ke pintu ruang operasi. Aku masih terpaku, entah apa yang kurasakan tak bisa aku gambarkan.


Siska menatatapku, kemudian memelukku.


"Aku tak tau apa yang terjadi, tapi aku tak akan mampu bila menjadi kamu" ucap Siska matanya basah.


"Kamu tau Bil, aku tak habis pikir kamu bisa setegar ini" ucapnya lagi.


"Aku siap mendengarkanmu, kalau kamu membutuhkanku"


Siska menyeka air matanya. Dan berlalu meningalkanku yang masih terpaku.


Tak berapa lama Rangga keluar, kulihat matanya memerah. Sepertinya dia menangis. Tapi aku tak dapat mengartikan airmatanya.


Karina terlihat dibawa keluar, sepertinya dipindahkan ke ruang perawatan.


Kedua orang tuanya mengikuti dan Rangga juga tanpa melihatku. Apa dia lupa aku masih disini.


Lalu untuk apa aku disini, aku masih diam terpaku.


Aku putuskan untuk pergi, kondisi Karina juga tak memungkinkan untuk menyeleseikan kesepakan yang pernah kami buat.


Kuarahkan mobilku ke arah rumah. Tak mungkin aku kembali kekantor, aku sedang tak bisa berfikir apapun.


"Mba Nabila sakit?" tanya nini melihatku pulang siang.

__ADS_1


Aku hanya mengeleng dan langsung naik kekamarku.


Entah kenapa rasa takut ini semakin pekat terasa. Perasaanku sangat tak nyaman, seperti akan terjadi sesuatu yang tidak aku harapkan.


Sampai malam Rangga tak menghubungiku. Sampai aku terlelap dalam harapku.


Saat kubangun ditengah malamku, kumelihat kembali ponselku, tak ada juga. Apa secepat ini dia melupakanku.


Ah mungkin ponsel rangga kehabisan baterai. Aku mencoba berfikir positif.


Pagi kuterbangun, sautan suara burung menandakan sudah waktunya sholat shubuh. Aku segera bangun dan mengambil wudhu. Rangga juga belum menghubungiku.


"Mba Nabila sarapan dulu" panggil Nini ketika melihatku turun. Aku bersiap pagi sekali.


Napsu makanku sirna tapi Nini sudah menyiapkan untukku.


"Kamu masukin ke kotak bekal ajha Nin, ntar mbak makan dikantor" ucapku.


Aku duduk Sofa ruang tengah menungu Nini menyiapkan bekalku.


Di sofa ini, biasanya aku dan Rangga bercengkrama, disini biasanya kami berbagi cerita. Hmm pagi-pagi sudah terbawa suasana.


"Mba, Nini masukkan mobil ya?" aku menganguk, Nini beranjak kedepan. Langkahku mengikutinya.


"Nin, mba berangkat dulu, Assalamualaikum" pamitku.


Nini menjawab salamku dan melambaikan tanganya.


Aku ada meeting di Klinik pagi ini, tapi ini terlalu pagi. Sepanjang jalan pikiranku terbang kemana-mana.


Aku memasukkan mobilku parkir di halaman belakang. Bergegas menuju ruanganku.


Kuperiksa lagi ponselku. Tapi Rangga tak juga menghubungkiku, aku cek WA dia aktif beberapa menit yang lalu. Kenapa tak menghubungiku.


Aku buang egoku, aku menghubunginya tapi di riject. Ku ulangi beberapa kali sama.


Kenapa?


"Tax usah menghubungi aq lagi" pesan terkirim keponselku dari Rangga. Ini bukan tulisan Rangga. Berarti Karina yang memegang ponsel Rangga.


Kemana Rangga?


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.


Wira muncul dari balik pintu sebelum aku mengucap apapun.


"Kopi?!" Tawarnya padaku. Dia membawa 2 gelas kopi ditangannya.


"Kamu kenapa pagi-pagi sudah kusut gitu" tanya Wira, aku hanya mengeleng.


Canda Wira pagi itu tetap tak merubah suasana hatiku.


"Bil, kamu kenapa?" tanya Wira terlihat serius. Aku hanya menatapnya, dan kembali mengeleng.


"Aku siap dengerin, kalau kamu butuh teman cerita". Ucap Wira lagi.


Aku benar-benar tak bisa menkondisikan hatiku saat ini. Aku tak bisa menyembunyikan kegundahahanku.


"Maaf ya" ucapku ke Wira. Wira menganguk mencoba memahamiku, aku baca ada kecemasan di mata itu.


"Jam 8, keruang meeting sekarangkah?" tanya Wira kemudian.


Aku menganguk langsung berdiri. Kami berjalan bersisian tanpa ada pembicaraan.


Aku sama sekali tak fokus, pikiranku kemana-mana. Apa yang disampaikan Lody sama sekali tak ada yang masuk ke otakku, bahkan sampai meeting selesei.


"Bebz, kamu sakit?" Vivian memegang keningku. "Kamu kenapa" tanyanya lagi.


Aku mengeleng.


"Saiy.. aku duluan ya" ucapku langsung beranjak.Vivian mengikutiku.


"Bebz tunggu, kamu kenapa?"


Aku bingung beralasan apa.


"Ntar aku cerita" ucapku, aku berlalu meningalkan Vivian yang masih bingung dengan sikapku.


----


Aku memutuskan untuk langsung kerumah sakit, berjalan pelan ku menuju kamar Karina, aku berdiri dikamar yang pintunya sedikit terbuka, namun cukup untuk melihat apa yang terjadi didalam.


Rangga sedang mengendong bayi itu, wajahnya terlihat sangat bahagia.


Terdengar suara ibu Karina


"Tanda lahirnya sama dengan Karin pak" sepertinya dia bicara dengan suaminya.


Aku berjalan mundur, aku sepertinya tak sangup melihat pemandangan ini. Tapi bukankah semua harus segera diseleseikan. Aku kembali melangkahkan kakiku kedepan.


Kuketuk pintu itu dengan kekuatan yang tersisa.


"Nak Bila" suara ibu Karina menyambutku.


Aku beranjak masuk walau tak dipersilahlan.


"Apa kabar Karina?" tanyaku kemudian mendekatinya.


Karina memalingkan wajahnya tak ingin melihatku.


Aku mendekati Rangga dan bayinya, kulihat wajah bayi itu, Cantik.


Rangga menatapku dengan tatapan tak biasa. Aku balik menatapnya. Aku ingin mengingatkan kesepakatanku dengan Karina.


Aku tak nyaman sebenarnya harus berbicara didepan orang tua Karina, tapi aku sunguh tak ingin berlama-lama.


Aku melangkah mendekati Karina kembali,


dia menatapku sinis.


"Karin, masih ingat dengan kesepakatan yang kita buat kan?" Ingatku padanya. Orang tua karina saling berpandangan.


Karin masih diam dan tetap engan melihatku.


"Aku harap kamu tidak lupa, atau perlu aku ingatkan kembali?" tanyaku lagi.


Semua orang terdiam.


"Baik, aku ingatkan kembali, kamu berjanji padaku, bila sampai kamu melahirkan, Rangga tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu, kamu mau pergi dari kehidupan kami, dan memberikan bayi itu pada Rangga dan aku"


Orang tua Karina terlihat kaget.


Aku berjalan mendekati Rangga


"Sayang.. ?"


Rangga terdiam,


"Apa kamu mulai mencintai Karina, atau nada perasaan suka atau sejenisnya?" cercaku ke Rangga, Mungkin dia berfikir tak secepat ini aku membahas hal ini.


Rangga mengeleng, "Maaf Karina aku tidak pernah mencintaimu" ucapnya kemudian.


Orang tua karina terlihat bingung.


"Nabila, perempuan macam apa kamu, mau memisahkan seorang anak dari ibunya" teriak Karina.


"Karin, kamu sendiri yang menyepakatinya bukan?!" Ucap rangga.


"Tidak.. aku tak akan menyerahkan anakku, dengar, kalau mas lebih memilih Nabila, sudah jangan harap mas bisa menemui anak mas lagi"


"Biarkan anakku hidup tanpa mengenal papanya, biar dia tau papanya telah menelantarkannya".


Teriak Karina lagi, ancaman karina berhasil membuat Rangga tertekan.


"Sekarang mas pilih bayi itu atau Nabila" Karina ganti menekan.


"Karin, kesepakatan kita tak seperti ini" dadaku berdegub kencang.


"Persetan Nabila, jangan harap aku serahkan bayiku"


Rangga terlihat kacau. Semua pasti diluar dugaanya.


"Baiklah, itu keputusanmu, Sayang kita pergi" ucapku ke Rangga.


Rangga terpaku, menatap bayi yang ada digendonganya. Matanya memerah.


"Mas keluar dari kamar ini jangan berharap mas bisa menemui bayi kita lagi" ancam Karina lagi.


Rangga mematung, mungkin tak pernah terbesit sedikitpun dalam pikirnya akan berada dalam situasi seperti ini.


"Sayang aku minta maaf, aku tak bisa pergi" suara Rangga bergetar, aku mendekat dan menatapnya, meyakinkan pendengaranku.


Rangga tertunduk.


"Sayang, kamu yakin dengan yang kamu katakan?" Tekanku.


Rangga menganguk pelan.


Kugigit bibirku kuat-kuat meredam besarnya gejolak dalam hatiku.


"Baiklah, aku terima apa yang sudah kamu putuskan" ucapku " oh ya.. apapun yang terjadi nanti jangan pernah menemuiku kembali, jangan pernah!" tegasku.


Aku beranjak keluar, semua terasa gamang. Air mata ini sudah engan keluar. Nabila aku tau kamu bisa menghadapi ini semua ucapku pada diri sendiri.


Amarahku sudah mereda, walau sakitnya semakin terasa luar biasa.


Waktu yang terlewati sekian lama sudah tak ada artinya.


Siapa mengira nasib membawaku ke dalam peliknya hubungan ini.


Aku lajukan mobilku, ke butik. Tak kan ku larutkan hatiku dalam rasa kecewa ini.


"Kak.." sapa Sintia lalu berdiri, ketika ku mendekat di mejanya.


Dia menatapku dengan wajah penuh pertanyaan, tapi dia tak bisa sampaikan.


"Kakak nggak apa-apa" ucapku padanya, memaksakan sebuah senyuman untuknya.


Lalu beranjak masuk ruanganku.


Kutarik kursiku dan duduk seperti biasanya. Aku sedang tak bisa berfikir, aku hanya pandangi berkas dimejaku, tanpa menjamahnya.


Backsound by Naff Terendap Laraku


(Resah jiwaku menanti


Mengingat semua yg terlewati


Saat kau masih ada disisi


Mendekapku dalam hangatnya cintamu


Lambat sang waktu berganti


Endapkan laraku disini


Coba tuk lupakan bayangan dirimu


Yang selalu saja memaksa tuk merindumu


Sekian lama aku mencoba


Menepikan diriku diredupnya hatiku


Letih menahan perih yang kurasakan


Walau ku tahu ku masih mendambamu


Lihatlah aku disini


Melawan getirnya takdirku sendiri


Tanpamu


Aku lemah dan tiada berarti)


------

__ADS_1


__ADS_2