
#BAYANG_MASA_LALU
Part 27
Pelan kubuka mataku, terasa berat sekali.
"Bil.." wajah Siska terlihat cemas
Aku dimana? Pikirku. Badanku seperti kehilangan tenaga. Kumenoleh kekanan Vivian menatapku cemas.
Siska memelukku," Sungguh aku tak tau harus mengucapkan selamat atau apa, kamu hamil" antara senang dan tangis di wajah Dokter cantik itu.
"Tapi Sis, seingatku setelah hubungan terakhir, aku sempat mendapatkan haid, memang nggak banyak dan nggak lama seperti biasanya. Aku kira karena faktor pikiran"
"Iya Bil, kadang memang seperti itu, jadi sekitar 10 sampai 15 harian setelah pembuahan ada darah yang keluar, orang awam mengira itu haid, tapi bukan.
Itu bisa disebabkan implantasi embrio," jelas Siska kemudian.
Kupegang perutku pelan dan mengusapnya. Aku menatap Vivian. Banyak rasa yang terpancar dari matanya. Dia mengengam tanganku.
"Okay ibu hebat, jaga pikirannya, hindari stres, harus makan, aku percaya kamu wanita hebat" ucap Siska menguatkanku.
Aku menganguk, dan mencoba tersenyum.
"Aku permisi dulu, ada jadwal operasi, nanti aku kesini lagi" Siska mencium keningku.
Aku benar- benar tak mengerti apa yang kurasakan. Aku hamil disaat perpisahanku dengan Rangga telah ditetapkan.
Bagaimana kalau Rangga tau dan memintaku kembali, aku tak mampu menerimanya kembali. Tapi menyembunyikan ini darinya? Apa bisa, Aku mampu mengurusnya sendiri, tapi apa yang akan kujelaskan kelak padanya, bila dia menanyakan ayahnya. Kepalaku semakin sakit.
"Bebz, kamu mikirin apa?, jangan banyak pikiran, harus ingat kamu sedang hamil"
"Justru itu saiy, aku bingung"
"Aku ngerti bebz, tapi beneran aku nggak bisa lihat Rangga kembali, dia nggak pantas buat kamu, bukan lelaki lemah seperti Rangga yang kamu butuhkan, lahir bathin aku nggak rela, tapi semua keputusan tetap ada ditangan kamu".
"Kalaupun akhirnya kamu menerima Rangga kembali, aku bisa apa, sesayangnya aku ke kamu, aku tak punya hak mencampuri masalah pribadimu, aku hanya bisa mendukungmu"
Vivian mengengam tanganku, tak diragukan lagi manisnya persahabatan kami.
Vivian beranjak kearah pintu saat terdengar ketukan. Dan membukanya
Sintia muncul dari balik pintu, dia berjalan cepat padaku.
"Kakak kenapa?" tanyanya cemas.
"Kakak baik-baik saja sint, kata Dokter cuma kecapekan" jawabku.
"Bentar lagi, kamu jadi tante Sint" ucap Vivian, Sintia menoleh kearah Vivian.
memastikan yang didengarnya barusan. Vivian menganguk pelan, telapak tangan menutup mulutnya.
Dia pasti bingung juga harus senang atau sedih, Sintia memelukku, matanya berkaca-kaca. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Dia mengeleng dengan senyum getir, "Sintia bingung kak" ucapnya kemudian.
"Kak, maaf Sintia belum bisa nemenin kakak, mama tadi agak drob, sekalian Sintia ijin ya kak hari ini"
"Iya, nggak apa-apa, udah ada Vivian yang nemenin, salam buat mama"
Sintia mengusap sisa air matanya, dan memelukku sebelum berlalu hilang dibalik pintu.
Suara ponsel Vivian berbunyi, dia seperti membicarakanku.
" Lody diluar, aku liatnya kedepan dulu" Aku menganguk. Ah cepat sekali beritanya tersebar.
Tak berselang lama, Lody sudah mengekori Vivian.
Aku mencoba tersenyum menyambut Lody ditengah perang bathin yang kurasakan.
Lody menghampiriku , terlihat kecemasan diwajah itu, ternyata masih banyak orang baik disekitarku.
"Bil, gimana? Apa yang dirasakan sekarang?" Tanya Lody padaku.
"Pusing pak Dokter, kepala berat"
"Jujur aku bingung, disatu sisi aku senang akan jadi seorang om, tapi disisi lainnya aku prihatin" ucap pria bermata sipit itu.
Iya jujur sekali ucapanmu Lody mewakili perasaan banyak orang termasuk aku sendiri , aku tersenyum padanya.
"Senengnya aja yang dibanyakin, biar bisa suport aku terus, sedihnya nggak usah" ucapku.
"Pasti Bil, tak perlu mengkuatirkan hal itu, kami semua pasukan Siaga" canda Lody menghiburku
"Dokter Wira belum bisa ikut, malam baru bisa, hari ini jam nya full" terang Lody,
Padahal aku tak menanyakannya.
"Iya, nggak apa-apa kok"
"Sudah tenang lihat kamu sudah baikkan, aku balik klinik dulu. Adek, om pergi dulu ya" canda lody lagi saat dia menjabat tanganku.
Vivian mengantarkan sepupunya sampai didepan
---
Malam itu Wira datang, aku meminta Vivian pulang karena sudah ada Nini juga.
"Mba Nini ke mushola dulu ya, mumpung mba Bila ada yang nemenin" pamit Nini, Riang sekali wajah itu, tak seperti tadi ketika dia baru datang.
__ADS_1
"Mas Dokter titip dulu ya" tambahnya lagi.
"Siap" ucap Wira dengan senyumnya.
Wira mengeser kursi dan duduk disampingku.
"Mau buah?" Tawarnya kemudian.
Aku sedang tidak berselera apapun. Aku mengeleng.
"Minum saja" pintaku, Wira mengambilkan air putih di meja sebelahnya.
"Makasih" ucapku setelah selesai meneguknya.
"Kamu tidur gih" ucapnya kemudian.
"Belum terlalu ngantuk" jawabku."Masih jam berapa, masih sore" lanjutku.
"Iya tapi kamu harus banyak istirahat, biar cepet sehat" ucapnya.
"Ini kan juga udah istirahat"
"Tidur maksudnya siti"
"Ini juga udah tiduran bambang" balasku.
"Tidur itu, matanya mejem"
Tangannya menutup mataku.
Aku tertawa, selalu ada saja ulah konyolnya.
Aku meraih tangannya yang masih menutupi mataku.
"Pak Dokter, makasih ya selalu buat aku tertawa" ucapku padanya.
Aku beruntung memiliki sahabat seperti mereka, yang sangat menyanyangiku.
Wira menatapku lekat, terlalu banyak hal yang terbaca disana, dan sedang coba kuingkari.
"Setiap waktu, aku ingin melihat senyum itu ada diwajahmu, aku tau semua ini tak mudah bagimu. Tapi aku yakin kamu wanita yang kuat, kamu pasti bisa melewati ini semua, dan aku akan selalu ada untukmu" .
Wira terlihat serius dari biasanya, tanganya mengengam ku erat, aku lupa kalau aku masih memegang tanganya tadi.
"Kamu tidur, aku akan disini menjagamu"
Aku masih tercekat. Mencoba memahami Wira aku belum bisa, atau kepura-puraanku saja tak memahami sinyal darinya.
Ku mulai memejamkan mata, bukan untuk tidur, tapi untuk memikirkan semua hal yang terjadi dalam hidupku ini.
Semua yang terjadi telah meluluh lantakan hati dan jiwa ini. Rangga setiap mengingatnya, hati ini getir sekali, cintaku terlalu dalam padanya, tapi lukaku sama dalamya. Air mataku tak tertahan, menerobos mataku yang terpejam.
Suara Wira terdengar dekat di telingaku, dia menyeka air mataku dengan tangannya, aku masih terus terpejam mencoba membenamkan kesadaran dalam dekapan malam.
------
Aku bangun saat terdengar adzan shubuh, aku tak melihat Wira mungkin dia sudah pulang, tapi Jaketnya masih ada dikursi. berarti semalam dia benar menjagaku disini. Nini terlihat bangun dari sofabed yang melengkapi fasilitas kamar rawat inap ini.
Rupanya Wira baru sholat dari mushola, Nini pamit ke mushola setelah membantuku sholat barusan.
Wira mengeser kursinya mendekat,
"Pagi, senyum dong biar menjadi semangat untuk hari ini" ucapnya.
Akupun memberikan senyuman yang dia minta.
"Kamu nggak pulang?" tanyaku padanya.
"Kalau boleh agak siangan, jam 8 an lah, kalau masih boleh disini" ucapnya.
"Gimana? Udah enakan?" Tanyanya lagi. Akupun menganguk.
"Infusnya mau habis itu" Wira beranjak memencet bel yang ada di atas kepalaku.
"Sus, infusnya ya" ucapnya.
Tak berselang lama seorang perawat datang membawa botol infus yang baru dan kemudian memasangnya.
"Makasih sust" ucapku dan Wira
"Baik terima kasih juga, kalau ada perlu lagi bisa pencet dibell" . Ucapnya kemudian keluar.
"Wira tolong matikan AC nya dingin" pintaku ke Wira, dia beranjak mengambil remote AC yang tertempel di dinding dan menekannya untuk mematikannya.
"Eh Bil, tau nggak persamaan AC sama kamu" celetuknya tiba-tiba sambil berjalan kearahku.
Aku mengeleng " Apa an ?" Tanyaku padanya. Dia kembali duduk di sebelahku.
"Nggak tau?, persamaan AC dan kamu itu sama-sama bikin aku sejuk" Wira sepertinya punya bakat melawak, dia selalu bisa membuatku tertawa.
"Dasar".ucapku ditengah tawaku.
"Em Main, main apa yang nggak bikin bosen?" tanyanya lagi.
"Main game, main bola, main laptop" jawabku, Wira mengeleng.
"Apa an?" Tanyaku menyerah.
"Main yang nggak bikin bosen itu, Mainatap indahnya senyuman diwajahmu" jawab Wira sambil melagukan syair lagu itu. Perutku sakit karena tertawa.
__ADS_1
"Lagi- lagi tunggu" senyum menghias bibir itu.
"Semen apa yang bikin bahagia?
Aku terdiam, semen apa coba
"Semen apaan ?"
"Semen yang bikin Bahagia itu, Semenjak aku mengenal dirimu".
"Aish.. Gombal akut pak Dokter ya"
Aku tertawa sampai keluar air mataku.
"Udah ah.. sakit perutku" seruku ke Wira.
Saking asyiknya nggak nyadar Nini sudah duduk di sofa sambilm senyum.
"Aku ke kantin dulu ya, mau ngopi dulu" pamitnya.
"Ihh co cwet" Goda Nini setelah memastikan Wira jauh.
"Apaan sih"
"Beneran Nini dukung 1000 persen" dua jempol diacungkanya.
Aku hanya tersenyum melihat Nini yang begitu bersemangat. Biarlah mereka yang disekitarku hanya melihat senyumku, biarkan kudekap sakitku tanpa seorangpun perlu tau.
----
"Assalamualaikum, pagi mama cantik" sapa Siska padaku, kemudian mencium pipi kanan kiriku.
"Dah seger kok, mau pulang hari ini?" Tawarnya.
"Mauu" jawabku cepat.
Siska sendiri yang memeriksaku.
"Bagus semua, udah bisa pulang hari ini, Tapi kurangi aktifitas, istirahat dirumah".
Siska menoleh saat pintu kamar terbuka.
"Wira" Serunya melihat Wira masuk.
"Siska hai" merekapun saling berjabat tangan.
"Pa kabar?" Tanyanya Siska ke Wira.
Dan mereka Reunian, aku membiarkan mereka yang terlihat riang dengan pertemuan ini.
"Ngapain kamu disini?".tanya Siska ke Wira, Wira terlihat tersipu. Seolah mengerti jawaban yang tak terucap Siska tertawa kecil.
"Ya ya ya, semangat Pak Dokter, tugas kita kan memang menyembuhkan".
Entahlah apa yang mereka bicarakan.
Merekapun bersamaan melihatku, akhirnya sadar juga ada aku disini, aku pura-pura tersenyum sebal.
"Kami dulu satu kampus" terang Siska kemudian.
"Kapan undangannya?" Tanya Wira ke Siska.
"Kamu duluan lah" Wira hanya tertawa.
"Kontak aku Nabila punya, ntar WA ajha, Abi Hikmal kangen pengen main gitar bareng" lanjut Siska.
Dunia ternyata sempit. Ternyata mereka bersahabat.
"Sudah boleh pulang, abisin infusnya saja, obat yang dirumah nanti biar diantar kesini. Aku buka praktek dulu, oh ya langsung pulang saja setelah obatnya diantar" terang Siska
"Biaya sudah aku urus semua jadi bisa langsung pulang"
"Jadi ngrepotin kan" ucapku sungkan.
"Tak ada istilah merepotkan dalam persahabatan" Siska memelukku.
"Pak Dokter semangat, aku dukung" ucap Siska sambil menjabat tangan Wira.
Wira menghampiriku, ada senyum dibibirnya yang tak dapat kuartikan.
"Aku tungguin ya, nanti sekalian aku anterin" ucapnya kemudian. Aku menganguk.
"Oh ya kasih tahu si bebebz, aku dah boleh pulang" pintaku pada Wira.
"Iya aku telpon Vivian" ucap Wira.
Dia berdiri disampingku, mencoba menghubungi Vivian, tapi sepertinya tidak diangkat.
"WA ajha ya?" Aku menganguk.
"Bil, tau nggak bedanya tanggal 28 sama 29 Oktober" tanyanya sambil mengetik pesan.
"28 oktober kan sumpah pemuda" jawabku
"Kalo 29 apaan?" tanyaku kemudian.
"Kalo 28 Oktober Sumpah Pemuda, kalau 29 Oktober, Sumpah Aku Sayang Kamu"
"Ihh " Aku mencubit tangan Wira yang terus tertawa.
__ADS_1
Bersambung..