
#Bayang_Masa_Lalu
#BMLPart25
Sekarang aku hanya menyiapkan diri untuk memberi penjelasan pada keluargaku dan Rangga, pada Armandku.
Demi mereka juga aku bertahan sampai titik ini. Perkawinan kami belum ada 1 tahun. Dan mereka tau aku dan Rangga saling mencintai, bagaimana caraku menyampaikan semua hal ini tanpa menyakiti hati mereka.
Tidak mungkin bisa, pasti akan ada luka. Kabar ini bukanlah yang mereka harapkan dariku.
Setelah sholat ashar, aku pamit pulang ke Sintia , yang masih menyimpan banyak pertanyaan dibenaknya.
----
Malam baru kulihat ponselku, Vivian berpuluh kali menghubungiku, Wira juga. Dan mama nya Rangga, setajam itu ternyata firasat orang tua.
[Bil, telpon mama tolong diangkat ya]
[Perasaan mama kok tidak enak, kalian baik-baik sajakan? Mama telpon Rangga juga belum diangkat]
Terkirim tadi sore.
Aku tak ingin membalasnya, bukan apa-apa, aku bingung menjawabnya.
Tapi tetap aku tak tega.
"Assalamualikum ma" salamku saat mama mengangkat telponku. Kutahan sesak didadaku.
"Waalaikumsalam sayang, mantu mama apa kabar?, mama telpon kalian dari tadi belum ada yang balas, mana Rangga?"
Glek.. lidahku kelu, dadaku semakin sesak.
"Maaf ma, Nabila tadi ada meeting, baru kepegang hpnya, Kak Rangga masih sibuk sepertinya ma, tadi Bila telpon juga belum dijawab" maaf ma aku berbohong, biar Rangga sendiri yang memberi penjelasan.
"Nggak tau, akhir-akhir ini perasaan mama tak enak. Alhamdulilah kalau kalian baik-baik saja, ya sudah Bila pasti capek. Sampaikan ke Rangga suruh telpon mama nanti kalau sudah pulang, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam ma"
Kalau sekarang aku benar-benar menangis. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka bila tau apa yang terjadi sebenarnya.
Sekuat apapun aku tetaplah manusia biasa, rasa cinta ini terlalu dalam untuk Rangga, mulut bisa mudah mengucap untuk melepaskan. Tidak demikian dengan hati ini.
"Saiy, aku nggak apa-apa agak nggak enak badan saja, aku tidur dulu ya"
Send, kukirim ke Vivian.
"Pak Dokter aku baik-baik saja" kukirim ke Wira dan Lody.
Kupejamkan mataku, lelah jiwa dan raga rasanya.
-----
"Nabila.." Rangga kaget melihat kedatanganku ke Serayu, ada berkas-berkas yang harus kuambil. Tapi bukan itu maksud kedatanganku.
"Mau apa lagi? Mas Rangga sudah tak memilihmu, masih ajha datang, dasar nggak tau malu"
Karina menatapku dengan wajah sinisnya.
Aku beranjak kekamar, tanpa memperdulikan mereka. Aku mengemasi beberapa berkasku dan memasukkan ke dalam map. Rangga menyusulku kekamar.
"Sa.." suaranya terdengar tercekat.
"Bil" lanjutnya kemudian.
Aku berjalan mendekatinya.
"Rangga , aku mohon maaf sebelumnya, dengan tidak mengurangi rasa hormatku, apa lagi ingin menjatuhkan harga dirimu sebagai laki-laki, tapi tempat ini hakku, aku yang menyewanya sendiri dengan uangku".
Ucapku.
"Oh ya"aku berjalan mengambil buku tabungan dan kartu ATM dari dalam tasku dan meletekkan nya di meja.
"Itu uang dari kamu, uang yang kamu berikan ke aku setiap bulannya, aku belum pernah memakainya" ucapku.
"Itu hak-mu Bil" jawab Rangga.
"Baiklah aku terima" aku kembali memasukkan buku dan atm itu. Aku hanya basa-basi tak ikhlas rasanya kalau di nikmati Karina.
Rangga memberikan uangnya bahkan sebelum kami menikah dia sudah menitipkanya padaku.
"Aku ingin malam ini juga, kalian semua pergi, aku tak menginginkan kalian ada disini" tegasku.
"Bil.. aku.."
Aku menutup telinggaku. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. Rangga beranjak mengemasi barangnya.
Sampai dia keluar aku masih menutup telingaku.
Kudengar suara gaduh Karina. Aku hanya berdiam dikamarku sampai mereka benar-benar pergi.
Saat ku keluar semua sudah kosong, dan sepi. Seperti jiwaku sekarang.
Kupandangi sekelilingku, air mataku mengalir deras, mengingat segala hal yang pernah terjadi dirumah ini.
Rangga aku mencintaimu, tapi aku tak bisa berjuang lagi untuk cintamu, kau tak memilihku menjadi bagian hidupmu, kau tak memilihku untuk menua bersamamu seperti yang pernah kau janjikan dulu.
Nabila.. hidup akan terus berjalan, keterpurukan tak kan memberimu apa-apa, bukankah kau sudah cukup tertempa dengan segala bentuk kesakitan. Percayalah ada Bahagia yang menantimu..
Ku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
-----
Memulai aktifitas seperti biasa, setelah berhari-hari bermuram durja.
Ayo Nabila semangat..
Kupanjatkan Doa di sepertiga malamku tadi, semoga Allah selalu memlindungiku dan memberiku kekuatan menapaki hari-hariku... sendiri...
Tak perlu memberi penjelasan kepada semua orang yang beberapa hari ini menghujaniku dengan banyak pertanyaan. Cukup dengan senyum yang kembali kusungging tulus dibibirku.
-----
"Kak" sapa Sintia pagi itu.
Aku berhenti didepannya. Dia mengamati wajahku, mencari mendung yang kemarin bergelayut di wajahku.
"Malah bengong, oh ya kakak belum selesai periksa laporan keuangannya, 2 harian lagi ya" ucapku. Sintia hanya mangut-mangut. Akupun bergegas masuk ruanganku.
Hampir tak terjamah pekerjaanku beberapa waktu ini.
Kembali membenamkan diri dengan pekerjaan hari terasa lebih cepat.
Sudah siang, Nini tadi membawakan aku bekal, tak perlu keluar.
Istirahat sebentar untuk sholat dan makan. Kembali melanjutkan ke pekerjaan.
Jam 5 aku bereskan mejaku, badanku mudah terasa lelah sekarang. Aku pulang lebih dulu dari Sintia.
Pekerjaan yang kubawa pulang sebatas angan. Selepas isya aku sudah tak dapat menahan kantukku.
-----
Jam 8 aku sudah tiba di Klinik, semingguan lebih aku tak kesini. Trakhir hari itu, ah aku tak mau mengingatnya.
Aku mendengar ada seseorang memainkan gitar, sepertinya dari Ruangan Wira. Benar saja, dia memang selalu pagi.
Aku mengetuk pintu, dan terdengar suaranya mempersilahkan masuk.
"Bil" ucapnya saat melihatku, dia langsung berdiri dan menyandarkan gitarnya di tembok belakangnya.
"Haiy" sapaku. Wira masih berdiri menatapku.
"Assalamualaikum Dokter Wira" sapaku lagi.
"Waalaikumsalam"
"Liat apa sih?" aku menoleh kebelakangku.
"Eh kok berhenti sih, main lagi dong" pintaku kemudian duduk didepan Wira.
Wajah Wira masih tampak bingung.
"Bil, kamu udah baikkan?" Tanyanya ragu.
Aku tersenyum.
"Aku kepikiran kamu tau nggak sih?" tanyanya
"Tau" jawabku "kan udah aku bales"
"Iya tapi kamu nggak cerita kamu ada masalah apa"
"Masalah keluarga, masak mau diceritakan"
"Ngomongin yang lainnya ajha, boleh nggak?" Aku malas membahas masalah pribadiku. Apa lagi kami belum lama mengenal.
Tak terasa sampai hampir jam 10,.kami mengobrol tak jelas. Wira cukup menghiburku pagi itu.
"Kerja-kerja" seru Vivian yang nyelonong ke ruangan Wira.
"Bebz.. " Vivian menatapku, seperti tatapan Wira tadi pagi.
"Apa an liatnya sampe kayak gitu" ucapku
.
"Habiss kamu bikin kita kepikiran"
"Keruanganku yuks" ajakku ke Vivian" Pak Dokter dah mau kerja".
"Jangan manyun lagi" pesan Wira padaku. Aku hanya tersenyum.
Aku dan Vivian membahas tentang penawaran kerja sama, pembukaan cabang diluar kota. Perlu banyak pertimbangan dan survey yang harus kami lakukan
------
Siang itu aku baru selesai meeting dengan klien di sebuah Restoran, mulai masuk tadi sudah cukup mengusik hatiku.
Kulihat ke lantai atas. Aku duduk disana waktu itu bersama Vivian, saat ku mengoda Rangga. Masih melekat dalam ingatanku senyum dan tawanya, kecupannya juga masih dapat kurasa getarannya.
Rasa ini begitu menyiksa bathinku, tak dapat kumenolak hadirnya. Aku tak menyadari cinta itu masih begitu besar padanya, tak peduli sedalam apapun luka yang telah di tancapkan dihatiku. Aku tak dapat menahan laju air mataku, yang tiba-tiba meluncur dari kedua mataku.
Aku segera menyeka nya sebelum ada yang melihatku.
"Bila"
Pangilan itu spontan membuatku mendongak keatas.
"Kamu nanggis" terkejut mas Firman melihat masih ada sisa air mata. Dia kemudian duduk didepanku.
"Kamu kenapa?" Tanyanya kemudian.
Aku mengeleng dan menmbersihkan sisa airmataku dengan kedua tanganku.
"Nggak apa-apa" jawabku, memaksa tersenyum.
"Maaf mas ada kerjaan di Kalimantan beberapa waktu kemarin" jelasnya tanpa kuminta.
__ADS_1
"Kamu kenapa nangis, karena Rangga?"
Tanyanya kemudian.
Aku hanya tersenyum, senyum kecut.
"Kami sudah berpisah" ucapku kemudian
"Karena perempuan hamil itu?"
tanya mas Firman. Aku menganguk.
"Sebentar, sebenarnya aku tak ingin tau tapi..agak aneh saja, kalian saling mencintai, terus tiba-tiba ada wanita itu diantara kalian, kalau Rangga mencintai kamu bagaimana dia bisa berhubungan dengan wanita itu"
"Bila juga nggak ngerti, Rangga sendiri juga tak mengingatnya, waktu itu Bram mengerjainya" aku sendiri tak dapat menjelaskan yang terjadi.
"Bram.. Agung Bramantyo?" Ulangnya
"Mas kenal?"
Mas Firman menganguk.
"Temanku kuliah dulu, oh iya aku pertama bertemu perempuan itu waktu dia dengan Bram, sepertinya bukan perempuan baik-baik"
"Kamu yakin Rangga sangup melakukan itu?" tanya mas Firman.
Aku mengeleng.
"Kalau Rangga sadar tak mungkin sangup, tapi dia mabuk saat itu" jelasku.
Aku tidak pernah merasakan mabuk, jadi aku tak tau apa yang bisa dilakukan sewaktu seseorang mabuk.
"Tak perduli apa latar belakangnya, tapi dia tak memilihku ketika dia dihadapkan pada dua pilihan"
"Dia pilih Karina?"
"Bukan dia pilih bayi itu"
"Sudah melahirkan?" Aku menganguk.
"Yakin itu anak Rangga?"
Aku terdiam.
"Anaknya atau bukan aku nggak perduli lagi, yang jelas dia tidak memilih Bila ketika dia dihadapkan pada suatu pilihan. Sudah cukup untuk membuat Bila sadar, Cinta Rangga pada Bila tak sebesar yang Bila kira, apa yang harus Bila perjuangkan?"
"Kamu sudah yakin berpisah denganya?"
"Mas, dia yang tak bisa dengan Bila, dia yang tak memilih Bila, mas tau rasa sakitnya luar biasa, lebih dari itu, harga diri Bila benar-benar sudah terinjak, ketika seorang Karina bisa menyingkirkan Bila dari Rangga"
"Alasan apa lagi yang bisa membuat Bila bertahan dengan Rangga, nggak ada" lanjutku
Mas Firman terdiam. Kami terdiam sesaat.
"Begini rasanya tercampakkan untuk kedua kalinya" ucapku getir
Mas Firman menatapku dengan rasa bersalah mendalam.
"Bil, mas minta maaf pernah menorehkan luka dihatimu"
"Mungkin sudah jalannya mas, Bila harus begini" kuatku pada diriku sendiri.
Akupun pamit pada mas Firman harus kembali kekantor. Dia melepasku dengan senyum gamang.
---
Aku butuh pengacara untuk membantu mengurus perceraianku dengan Rangga. Aku tak memiliki waktu dan tak mengerti cara mengurusnya.
Hati-hati aku bicara pada Sintia hari itu, tapi tetap saja dia begitu emosi. Mendengar ceritaku. Berkali-kali dia seka airmata yang mengaliri dipipinya.
Sintia memelukku erat, masih sulit baginya menerima hal ini terjadi padaku.
Aku meminta referensi pengacara yang bisa membantuku saat dia mulai tenang.
"Sepupu mas Fendy seorang pengacara Kak, kalau kakak mau nanti Sintia sampaikan"
"Bisa, nanti buatkan janji, kapan bisa menemuinya". Ucapku kemudian.
"Kakak sudah yakin?" Aku menganguk.
"Ah kak Rangga, Sintia masih belum bisa percaya ini" kekecewaan begitu terasa disuara Sintia.
Sintia tau betul perjalanan cintaku dan Rangga, tau bagaimana kami melewati semua hal bersama, tau bagaimana kami saling mendukung satu sama lain. Tak mudah baginya menerima akhir kisahku dan Rangga apalagi diriku.
----
"Satria" kenalnya
"Nabila" aku menyambut uluran tanganya.
"Silahkan duduk" ucapnya, akupun menarik kursi dan duduk didepannya.
Kamipun langsung keinti pertemuan ini
"Sintia sudah sedikit cerita, disini kan tidak ada masalah hak asuh dan harta gono-gini, jadi sepertinya tidak berbelit. Hanya birokrasi dan pemberkasannya saja" jelas Mas Satria padaku.
"Untuk berkas administrasi apa saja yang perlu saya siapkan?" Tanyaku kemudian.
Mas Satria menjelaskan semua tentang prosedur, dokumen yang perlu disiapkan dan hal lainya. Ternyata rumit juga ya birokrasinya.
Aku menyimak dengan seksama, apa yang Mas Satria sampaikan.
"Yah lumayan memakan waktu, kalau untuk pekerja seperti adek ini ya pasti susah meluangkan waktunya" imbuhnya lagi.
"Sudah dipikirkan matang-matang?" Lanjutnya.
"Saya siapkan Dokumen-dokumennya dulu, setelah siap saya hubungi kembali" ucapku.
Aditya Satriya, sepupu pacar Sintia. Aku menyerahkan masalah perceraianku kepadanya. Tak ada lagi yang perlu untuk dipertahankan, setelah hari itu bahkan Rangga tak mencoba menghubungiku sama sekali.
Jam 2 an, aku arahkan mobilku ke klinik, aku ada janji dengan Vivian kerumah Jenny yang baru saja melahirkan.
Mobilnya belum terlihat, aku parkirkan mobilku di samping mobil Lody. Bergegas aku keruanganku, menunggu Vivian datang dari membeli kado.
Terdengar ketukan pintu, ada Lody dan Wira. Mereka menitip sesuatu untuk Jenny.
"Berdua saja nanti?" tanya Lody
"Nggak sama Angela juga" jawabku.
"Masih cari kado mereka" lanjutku.
"Bebz" aku terkejut mendengar teriakan Vivian, wajahnya memerah dia terlihat sangat emosi dan marah.
Aku memandangnya dengan wajah bingung, begitupun Lody dan Wira, Angela menyusul Vivian masuk keruanganku.
"Kamu angap aku apa sih" tanyanya kemudian, dengan suara bergetar. Aku masih terpaku tak mengerti
"Saiy ada apa?" tanyaku kemudian, berdiri mendekatinya.
"Kamu bilang kamu baik-baik saja dengan Rangga, terus perempuan yang bersamanya itu siapa?" Teriaknya. Dadaku berdegub kencang, Lody dan Wira masih disini dan mendengar semua.
Vivian tak dapat mengontrol dirinya, aku masih terdiam. Lody dan Wira saling memandang kemudian keluar, Angela ikut keluar.
Mereka meninggalkan aku dan Vivian hanya berdua.
"Kamu keterlaluan bebz, aku udah curiga kalian tidak baik-baik saja, dan terjawab hari ini. Aku bertemu Rangga di babyshop, dan perempuan itu, dia bawa bayi. Aku tak bisa menahan emosiku ke Rangga, tapi perempuan itu mengaku istrinya"
Emosi tak tertahan kentara di nada suara Vivian. Tangisnya meledak kemudian.
"Kenapa?, ada apa? " lanjutnya.
Aku tak dapat menutupinya lagi dari Vivian. Butuh kekuatan untuk membuka kembali luka ini.
Vivian memelukku, aku tak dapat menahan lagi tangisku, kutumpahkan segala yang kutahan selama ini didekapan sahabatku itu.
"Aku ingin menjambak perempuan itu, ingin kuremas mulutnya" ucap Vivian lagi, kalau Angela tak menahanku, sudah ku acak-acak perempuan itu"
Emosi Vivian belum mereda.
"Bebz lain kali tolong, jangan pendam sendiri masalah sebesar ini, aku sahabatmu kan?." Aku menganguk pelan.
Akhirnya orang disekitarku tau dengan sendirinya. Apa yang terjadi sebenarnya.
Kami urung pergi sore itu, kondisi emosiku dan Vivian tak memungkinkan.
Aku baru bersiap pulang, ketika Wira masuk keruanganku yang tak kututup.
"Mau pulang?" Tanyanya. Aku menganguk.
"Sabar ya Bil, aku percaya kamu bisa melewati semua ini" ucap Wira kemudian.
"Makasih pak Dokter, aku kuat karena kalian semua selalu mendukungku"
"Aku selalu bersamamu, kapan pun kamu membutuhkanku aku ada untukmu"
"Makasih, jangan kuatir kamu pasti aku repotkan nanti" ucapku.
"Bil,..." Wira tak meneruskan kalimatnya, aku masih terdiam menungunya.
"Apa?"
"Nggak jadi" ucapnya kemudian.
Akupun melangkah keluar Wira mengikutiku.
"Hati-hati, jangan nglamun bawa mobilnya" pesannya.
"Makasih ya" ucapku. Wira tersenyum, aku berjalan menuju parkiran belakang.
Vivian sudah keluar dengan Angela tadi.
--------
[Ngopi yuk]
Pesan Wira masuk, malam itu jam 8 an. Aku masih dengan laptopku yang sedari tadi kunyalakan tapi hanya kupandangi tanpa mampu mengerjakan apapun.
[Aku ngantuk]. balasku.
[Yah.. padahal aku sudah tunggu didepan]
Aku mengucek mataku, didepan?. Aku bergegas mencuci muka dan berlari kebawah.
Benar saja saat ku sampai dipagar depan Wira sudah duduk diatas motornya.
"Ngapain disitu?" Tanyaku setelah membuka sedikit pagar rumahku.
"Cari temen ngopi" dia berjalan menghampiriku.
"Kayak gerimis ya" kutadahkan tanganku hembusan angin teras membawa rintik air.
"Masuk ajha" lanjutku, kubuka lebih lebar pagarku. Wira menuntun motornya masuk kehalaman.
"Masuk" ucapku saat kami sudah diteras.
Aku jarang mendapat tamu dirumah, Wira akan duduk dikursi ruang tamu.
__ADS_1
"Kebelakang ajha yuk"
Ajakku, dia menguntitku. Aku mengajaknya ke taman belakang dekat ruang makan.
"Kamu sama siapa disini?" Tanyanya kemudian.
"Banyak, duduk " jawabku sekalian mempersilahkanya duduk.
"Suka burung?" Tanya Wira melihat banyak burung disitu.
"Mas Wawan, saudaraku didepan juga banyak" Wira mangut - mangut mendengar jawabanku.
"Aku buatin minum dulu ya?" Pamitku bergegas ke dapur.
"Eh kamu dah makan belum?" Aku segera kembali karena airku belum mendidih.
"Kamu masak?"
"Bukan, Nini yang masak"
"Udah makan tadi, pulang dari klinik"
Kudengar ceregku sudah bersiul siul. Kuberanjak kembali kedapur.
"Siapa mba?"
"Temen mba" Nini melongok ke taman.
"Cowok ya?"
"Iya, Dokter Wira, kerja di Klinik" jelasku.
Nini mengendap melihat Wira yang sedang menyiuli burung di taman.
"Ganteng ya" celetuknya kemudian.
"Heyy, jangan kegenitan ya, udah ada pacar itu" ucapku, Nini tampak memanyunkan bibirnya.
"Yah, kok ada pacar sih. Padahal cocok sama mba Bila"
"Hushh, Ngaco.." plototku ke Nini, gadis itu hanya senyum senyum.
Aku segera keluar, kuletakkan kopi dimeja, Wira menghampiru dan duduk sampingku.
"Di minum kopinya" tawarku.
"Masih Panas"
"Ya iya, nanti kalo sudah ngak panas bambang"
Wira tertawa mendengarku.
Wira terdiam alisnya terangkat, seperti menajamkan pendengarannya.
"Ada suara tangis bayi ya?"
"Nggak ah" jawabku.
"Bener siti serius" muka Wira terlihat tegang.
"Bener jelas banget tadi, bayi nangis" ucapnya lagi.
"Perasaan kamu ajha palingan" sangahku.
"Serius, aku denger tadi"
Nggak tega juga ngerjain Wira, akupun tak dapat menahan tawa melihat eksperesi Wira.
"Iya iya, itu bayinya Mba Aminah istri mas Wawan" jelasku dengan sisa tawa.
"Hmm ngerjain aku rupanya, awas pembalasan lebih kejam siti"
Aku tak bisa berhenti tertawa, sepintas terlihat senyum di wajah kesal Wira melihat kutertawa lepas.
Obrolan berlanjut , sampai sekitar setengah 10. Akupun mengusirnya.
"Dah malam, waktu berkunjung udah habis". Ucapku.
"Kok cepet sih, perasaan barusan duduk"
"Jangan main perasaan bambang"
Aku menarik tangan Wira yang malas bangun dari duduknya.
"Ayuk ah"
Wira meraih ponselnya dimeja dan berjalan mengikutiku.
"Makasih ya kopinya" ucap wira saat ku mengantarnya didepan pagar. Rintik hujan sudah menghilang.
"Iya, hati-hati, langsung pulang jangan klayapan dah malam"
Wira tersenyum, dan melajukan motornya setelah mengucapkan salam.
Aku segera mengunci pagarku dan bergegas masuk. Kantuk yang sempat hilang kini tak dapat kutahan. Segera kurebahkan tubuh ini dan terlelap.
----
"Mas, ini Dokumen yang kemarin mas minta, sudah saya lengkapi"
Mas Satriya membuka map berwarna biru tersebut, lalu memeriksa isinya.
"Iya sudah" mas Satriya mengangukkan kepalanya.
"Prosesnya biasanya berapa lama ya mas?" tanyaku kemudian.
"Ini kan adek yang mengugat, dan kalau berdasar dari alasan gugatan, bisa cepat, sebulan bisa selesai.
Apalagi kalau ke dua pihak tidak ada tuntutan apa-apa lagi tidak memakan waktu lama kok" jelasnya kemudian.
"Nanti berkasnya segera saya daftarkan, biar prosesnya lebih cepat dimulai" tambahnya.
"Maaf, ini diluar pekerjaan saya bicara, cuma sebagai seorang laki-laki saja, tidak habis pikir saja dari yang saya lihat dan sedikit cerita Sintia, masih sulit percaya, suami adek berbuat demikian" lanjutnya lagi.
"Tapi kenyataanya demikian" balasku.
"Mas bisa saya minta sesuatu" tanyaku pada mas Satriya.
"Apa ya dek?" balasnya dengan tanya juga.
"Pangil saya nama saja, Nabila, Bila atau Nabil, jangan dek, maaf loh mas saya tidak biasa" pintaku.
"Oh itu, baik dek eh Nabila"
"Makasih mas " ucapku.
Aku meneguk kopi yang tadi kupesan. Entahlah semua terasa begitu gamang dihatiku.
Masih belum percaya harus berhadapan dengan sebuah perpisahan untuk kedua kalinya. Tapi apa yang aku tunggu, Rangga seolah sudah asyik menikmati kehidupan barunya sebagai seorang ayah dan melupakanku begitu cepat.
Untuk apa lagi aku berlama-lama menikmati sakit ini.
"Bil " pangil mas Satriya melihatku melamun.
"Iya mas" jawabku sedikit kaget.
"Tidak pesan makan?" tanyanya.
Aku hanya mengeleng. Kulihat jam ditanganku. Sudah jam 11 siang.
"Mas, terima kasih waktunya, saya duluan ya, masih ada pekerjaan. Kalau nanti ada yang kurang atau apa, langsung mas info ya"
Pamitku, pria berbadan tegap dan berkulit coklat itu tersenyum.
"Pasti, hati-hati"
Kami berjabat tangan sebelum aku beranjak dari mejaku.
Aku berjalan menuju mobilku, diparkiran samping kafe, Seseorang menahan tanganku dari samping. Langkahku terhenti seketika.
Aku menoleh, dadaku langsung berdegup kencang, Rangga masih memegang tanganku, aku langsung mengibasnya .
"Ada apa?" tanyaku ketus.
"Siapa pria itu?" Rangga balik bertanya.
"Kenapa, apa pentingnya buatmu untuk tau dia siapa" ucapku.
Rangga menarikku masuk kemobilnya.
"Sayang, apa tidak bisa kita bicara lagi, kita cari jalan keluar lainnya"
"Apa lagi?" tanyaku.
"Kamu bahkan tak mau tau lagi sejak waktu itu, kamu tak perdulikanku lagi"
"Sayang aku minta, maaf aku bingung, aku tak bisa memilih"
"Tapi kamu sudah memilih, dan itu bukan aku"
Getir sekali rasanya hatiku.
"Sayang, aku sangat mencintaimu kamu tau itu"
"Kamu tau, ucapanmu semakin menyakitiku, kamu mempermainkan perasaanku, kamu bilang kamu mencintaiku, tapi kamu tak mampu memperjuangkan itu" aku menatapnya dengan segala sebah didadaku.
"Apa kamu juga bisa memilihku, kalau kamu diminta memilih antara Armand dan aku?" tanyanya kemudian.
"Jangan membela diri, jangan berandai-andai untuk menutupi kelemahan kamu. Itu tak akan sama" ucapku.
"Mengertilah posisiku? Kamu tau aku juga tersiksa dengan semua ini"
"Lalu mau mu apa?"
Rangga mengeleng.
"Aku hanya ingin bersamamu dan juga anakku" ucapnya.
"Apa itu mungkin?" Tanyaku padanya, Rangga terdiam.
"Satu kesempatan lagi, dan tak akan kuberikan kembali selamanya, seumur hidupku apapun yang terjadi. Kamu mau meneruskan kisah kita?" tanyaku ke Rangga.
Mungkin semua akan mengatakan aku perempuan bodoh tapi aku hanya ingin memberi satu kesempatan lagi pada cintaku.
"Maukah kamu kembali bersamaku?, maukah kamu menua bersamaku?, maukah kamu kembali menjadi imamku? Seperti yang pernah kamu janjikan dulu padaku"
Airmataku tak tertahan, dan menatapnya lekat. Dadaku terasa sesak. Menunggu sebuah jawaban yang menentukan arah perjalanan hidupku nantinya.
"Sayang aku mau, tapi aku tak bisa berpisah dengan bayiku". Rangga tak dapat menahan tangisnya. Sama sepertiku.
Aku menganguk, aku sudah mendapatkan jawaban yang aku inginkan.
"Terima kasih untuk segala hal yang pernah ada diantara kita, terima kasih untuk kebersamaan kita selama 6 tahun ini, terima kasih untuk segala cinta dan terima kasih untuk luka ini" ucapku padanya.
Aku turun dari mobil Rangga, air mata ini tak dapat kusembunyikan. Aku berlari kemobilku.
Luka ini semakin dalam, tapi setidaknya aku telah memberi kesempatan pada cintaku.
__ADS_1
Bersambung..