BAYANG MASA LALU

BAYANG MASA LALU
BML Part 15


__ADS_3

#Bayang_Masa_Lalu 15


"Maaf ya ga bisa nemenin kamu buat acara nanti, Pak Juan lagi disini" ucap Rangga pagi ini.


Aku hanya menganguk walaupun sebenernya kecewa karena Rangga tak bisa menemaniku untuk Opening hari ini.


Aku mematut diriku didepan cermin. Gaunku terasa lebih longgar dari sebelumnya. Rangga memelukku dari belakang mengodaku.


"Sayang hari ini cantik banget sih" ucapnya sambil mencium pipiku.


"Sayang..ihh " ucapku sambil menurunkan kepalaku. Aku sudah dandan dari pagi, dengan riasan sedikit lebih tebal.


"Siapa suruh adek cantik banget hari ini, abang kan jadi meleleh" aku tertawa geli mendengar Rangga mengucapkan kalimat itu.


"Sayang dipangil Karina itu" aku mendengar suara teriakan Karina. Rangga masih engan melepasku.


"Mas .. Mas Rangga" terdengar jelas suara Karina dari luar kamarku. Rangga mendengus kesal.


Karina melongok kedalam kamarku.


"Terus yang anter kontrol siapa?" Tanyanya kemudian, ketika melihatku dan Rangga sudah bersiap.


"Besok ajha aku yang anter " jawabku. Menyusul mas Rangga di depan pintu


"Kan jadwalnya hari ini" sungutnya


"Kalau mau hari ini, bawa mobilku saja, biar aku bareng Rangga" Ucapku sambil berjalan ke ruang tengah melewatinya


"Aku kan hamil, kamu denger sendiri aku gak boleh capek, masak nyetir sendiri" rengek Karina


"Pakai Ojek onlen saja, kalau ga kuat nyetir" Balasku, kan sudah kubilang hari ini gak bisa bathinku.


"Ihhhh " Karina berlalu dengan kesal. Dia masuk kekamar.


Rangga menyusulku, ke ruang tengah,


Aku sedang memasang sepatuku, ketika dia terus menatapku.


"Ngapain sih lihatnya sampai gitu amat?" ucapku, tatapan Rangga membuatku salah tingkah.


Rangga langsung memelukku setelah kuberdiri.


"Hay.. apaan sih sayang"


Rangga hanya tersenyum, pelukanya semakin erat.


Aku berusaha menghindari ciuman gemasnya tapi dia dengan kuat memegang kepalaku dan mendaratkan ciumanya kearahku.


"Sayang riasanku.." ucapku berusaha lepas dari pria yang sedang kerasukan ini.


Rangga hanya tertawa melihatku.


"Ihh tuh kan" ada bekas lipstikku menempel di bibir dan wajahnya. Aku mengusapnya dengan tanganku.


Wajahku sendiri seperti apa aku belum tau nanti saja dimobil aku poles lagi.


Mobil kami keluar beriringan sesaat sebelum terpisah dipersimpangan. Ku lihat mukaku dicermin, untung bulu mata dan riasan nya tak sampai rusak karena ulah Rangga barusan.


Aku kembali menebalkan bedak dan lipstik saja.


"Wooww, cantik banget kamu beibz" puji Vivian padaku.


"Kamu juga saiy" balasku


"Kalau aku memang setiap hari selalu cantik" ucap Vivian


L


"Aduhh gubraakk" kataku


Vivian hanya terkekeh, Vivian memiliki wajah oriental, dia memang keturunan chines. Tubuh tinggi langsing, kulit putih wajahnya seperti artis korea.


"Haiy Nabila" Ayu datang dengan beberapa temannya.


"Baru tau kalau ini punya kamu, pas lihat foto didepan" lanjutnya heboh.


"Berarti kamu sudah ketemu mas Firman ya?" Tanya ayu setengah berbisik.


Aku hanya menganguk


"Oh pantesan ajha..." Ayu tak meneruskan kata katanya karena teman-temannya mendatanginya.


Mas Firman, bathinku.


Dia ada dilist undangan, tapi aku belum melihatnya hadir.


"Ngapain celingukkan gitu?" tanya Vivian memghampiriku.


"Gak.. gak papa" jawabku.


Sampai akhir acara pun aku tak melihatnya datang.


-------


Hari ini aku sudah janji ke Karina mengantarkankanya kontrol kandunganya.


Aku menanyakan apakah dia masih sakit.


Tapi dia tak terlalu suka mengobrol denganku.


Ponselku berdering pangilan dari Vivian memintaku langsung ke klinik.


Akupun tak memulai kembali obrolanku dengan Karina sampai dirumah sakit.


Aku mengantarkan kembali kerumah setelah selesai kontrol.


--


"Sayang lihat" pangilku ke Rangga sambil menunjukkan foto hasil usg milik karina tempo hari.


Rangga terkesima "lucu ya" ucapnya dengan tersenyum. Deg, kenapa hatiku tiba tiba seperti tercubit.


Aku sengaja meminta Nini menyiapkan berbagai sayuran, sudah dipacking siap diolah. Kashian bayi Karina karena beberapa waktu yang lalu aku dan Rangga begitu sibuk, sehingga kurang memberi perhatian padanya.


Aku lihat dia belum bangun sampai aku dan Rangga berangkat, mungkin bawaan bayi pikirku. Aku sudah siapkan makan di meja dan berbagai buah.


"Sayang jangan lupa nanti mampir beli susunya" aku mengingatkan Rangga ditelpon.


"Iya sayang nanti aku mampir" jawabnya kemudian.


Akupun menutup telpon dengan salam dan sebuah ciuman.


"Sint, kakak ke klinik dulu ya" pamitku pada Sintia yang terlihat sibuk dengan komputernya.


"Iya Kak, oh ya yang desain baru belum bisa jalan kak, ini baru dikabarin dari bagian produksi nunggu bahannya minggu depan baru dikirim"


Aku menghentikan langkahku.


"Kalau di dulukan pesanan dari Pak Baga, bisa gak?, kan itu cuma tambahan ajha jadi ga terlalu banyak"


"Bentar kak, Sintia cek dulu" Sintia terlihat membuka data di komputernya.


"Bisa kak, bahan semuanya siap, okay nanti aku kabari ke mba Tiaranya"


"Okay kakak keluar dulu ya" pamitku.


-------


"Heiy bebz" sapa Vivian melihatku datang.


"Full ya saiy minggu ini?" tanyaku pada Vivian sambil meletakkan tasku dimeja.

__ADS_1


"Puji Tuhan, luar biasa bebz. Reservasi beberapa minggu kedepan juga sudah banyak yang masuk" ucapnya kemudian.


"Alhamdulilah, semoga diberi kelancaran selalu ya saiy" doaku. " eh situ tadi mau ngomong apa katanya penting" tanyaku kemudian.


"Oh iya, apa tadi ya?" Vivian coba mengingat yang ingin dikatakanya padaku.


"Aih dasar pikun" ucapku


Setelah beberapa saat dia belum mengingat juga yanh ingin dibicarakanya


"Haiyahh ntar kalau ketemu langsung kamu catet ajha," ucapku


"Ini desain seragam baru buat perawat sama bagian lainnya" aku mengeluarkan desain yang sudah digambar Byan.


"Nah ini maksudku, seragam karyawan" ucapnya kemudian.


Kami mengobrol sampai sore, akupun pamit pulang duluan karena harus kembali kekantor lagi. Sudah mulai malam akupun menutup komputerku dan memacu mobilku pulang.


Rangga sepertinya belum datang, aku tak melihat mobilnya didepan.


Kulihat karina sedang melihat TV diruang tengah, dia tak mengindahkan kedatanganku . Aku langsung masuk kamarku.


Kudengar deru suara mobil Rangga berhenti didepan. Semoga tak lupa dia dengan susu buat Karina. Aku keluar kedapur selepas berganti pakaian.


Karina sedang mengaduk susunya, saat aku mengambil minum.


"Dedek sayang, papa Rangga beliin susu ini buat kamu" kudengar dia sedang bicara dengan bayi diperutnya.


Aku membuka tudung saji, makan apa dia, sayur yang buatkan sama sekali tak disentuhnya.


"Kenapa sayurnya masih utuh?" tanyaku padanya.


"Aku nggak suka" jawabnya ketus.


"Tapi bayimu butuh, jangan egois kamu lagi hamil, makan bukan hanya buat kamu tapi bayimu juga" jelasku padanya.


"Nggak usah sok peduli, sok seperti ibu peri" ucapnya sambil berlalu.


'Aku nggak perduli sama kamu, cuma peduli sama bayi kamu' pikirku.


Aku menyalakan kompor, merebus air, untuk Kopi Rangga.


Kulihat Karina sedang menjelaskan sesuatu pada Rangga, duduknya pun sudah tak berbatas. Hatiku mulai panas, sepanas kopi di tanganku.


"Sayang Kopinya" ucapku, Rangga mengeser duduknya saat tersadar Karina sudah menempel padanya.


Rangga menjawab dengan gugup.


"Kenapa sih kayak lihat hantu gitu?" Tanyaku heran.


Kulihat Karina yang masih ingin menempel ke Ranga.


"Ibu hamil nggak tidur?" Tanyaku, biasanya jam segini dia sudah molor."Sudah malam, kan harus banyak istirahat" lanjutku.


Dia masih tak bergeming. Baru ketika Rangga yang bicara dia beranjak ke kamar.


Aku menemani Rangga sebentar sambil memijat bahunya.


"Sayang aku tidur duluan ya" pamitku. Sebuah kecupan kuberikan padanya sebelum masuk kamar.


Sejak melihat foto USG Rangga mulai melunak, dia mulai memberi perhatian pada calon bayinya. Entahlah apa yang kurasakan aku sendiri sulit memahami diriku sendiri.


--


Aku mencium aroma asap rokok dari taman samping rumah, ketika aku mengambil berkas yang ketingalan.


Akupun berjalan mencari asal bau tersebut.


"Gila ya kamu" teriakku saat melihat Karina sedang asyik menghisap sebatang rokok.


Aku segera merebut dari tangganya.


"Gila.. bener-bener gila, kamu gak sadar apa kalau lagi hamil, pengen anakmu kenapa kenapa" aku memarahinya, tapi dia hanya diam tanpa ekspresi masa bodoh.


"Dasar perempuan bodoh, kamu tau karena bayi ini Rangga mau menikahimu, karena bayi ini dia mulai memperhatikanmu, kamu mau bunuh bayi ini dengan kebiasaan bodoh kamu" teriakku. Karina menatapku dia kemudian berdiri dan meningalkanku yang masih emosi.


Sepertinya aku benar benar bodoh, karena benar benar emosi, aku telah memberitahukan kelemahan Rangga pada wanita itu, sebenarnya aku hanya tak tega kalau bayi tak berdosa itu sampai kenapa kenapa karena ulah bodoh ibunya. Tujuanku hanya agar Karina menghentikan kebiasaan buruknya.


--------


"Mas Rangga bisa kan antar Karina kontrol hari ini?" Karina bergelayut manja ditanggan Rangga.


Rangga menatap kearahku yang berpura pura sedang meneguk kopiku.


"Sama Nabila juga!" ajak Rangga cangung. Sambil melihat kearahku.


Aku berjalan mengekori mereka, tangan Karina sengaja tak dia lepaskan dari lengan Rangga. Apa apaan pikirku.


Dadaku terasa sesak, ada gumpalan besar yang seperti menyumbat paru paruku sehingga aku seperti sulit bernafas.


Gigiku gemeretak dan tanganku mengepal.


Aku cemburu...


" Ach..au" entah kesandung apa Karina terpeleset dan hampir jatuh. Rangga sigap menangkap tubuh wanita itu.


"Hati hati" ucap Rangga padanya.


Aku terpaku di depan pintu, tulang tulang serasa lolos dari badanku, hatiku serasa tercabik cabik. Aku memukul kecil kusen pintu disampingku.


Aku Cemburu..


"Bagus...perkembanganya" Siska memutar mutar alatnya diperut Karina. Dimonitor tampak bayi kecil bergerak-gerak.


Aku melirik kearah Rangga dia begitu takjub terkesima.


Ya Tuhan hati ini benar benar tak terima. Ah bayi itu belum juga lahir tapi dia sudah berhasil mencuri sedikit demi sedikit perhatian Rangga dariku.


"Pak sabar dulu ya, puasa dulu" goda Siska


Rangga terlihat bingung tak mengerti maksudnya.


Siska menyodorkan resep ke Rangga untuk ditebus. Tapi Karina buru-buru menariknya dan memberikan padaku yang berdiri dibelakang mereka.


Aku tersenyum kearah Siska yang menatapku dengan tatapan sedikit curiga.


Rangga dan Karina keluar lebih dulu, dan seperti tadi wanita itu tetap bergelayut manja.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" Siska berdiri dan berjalan kearahku.


"Kamu tegang banget, kamu gak papa kan Bil?"


"Aku sakit Sis, sakitnya disini didalam dadaku. Hatiku hancur berkeping. Kamu tau Sis.. itu suamiku. Yang bersama wanita itu adalah suamiku. Hatiku seperti dicabik cabik Sis, sakittt"


"Heyy malah ngelamun" Siska mengoyang lenganku pelan


Aku paksakan senyum, kearah dokter cantik itu.


Rangga dan Karina masih menungguku diluar, aku menarik nafas panjang dan kuhembuskan berlahan. Sedikit lebih tenang.


"Em Sayang kamu duluan ajha antar Karina, aku masih harus antri tebus obat, ntar biar aku pake gojek ajha kekantornya" pintaku pada Rangga.


"Nggak papa Sayang aku tungguin" ucap Rangga


"Mas.. aku capek perutku sakit, kita pulang dulu" rengek Karina.


"Tuh kan.. kasian Karina" ucapku


Rangga menatapku dengan cangung setengah iba, Aku menganguk mengisyaratkan aku baik baik saja.


Resep ditanganku hampir robek karena remasanku tadi. Aku tak sangup ya Tuhan.

__ADS_1


Badanku lunglai kududukan dikursi sambil menunggu antrian.


Aku menahan tangisku. Dadaku benar benar sesak. Aku memejamkan mataku, mencoba mengatur hati dan perasaanku.


"Bil..." terdengar suara yang tak asing ditelingaku.


Dan benar saja, mas Firman sudah berdiri disampingku.


"Kamu ngapain disini?" tanyanya kemudian duduk disebelahku


"Tebus obat" jawabku


"Ya tau tebus obat, kan memang apotik. Kamu hamil?" tanya mas Firman sambil memperhatikan perutku . Aku mengeleng.


"Nganter temen tadi" jelasku kemudian.


"Kamu sakit?" mas Firman menyentuh keningku.


Mas yang panas bukan dikening tapi dihatiku. Hatiku membathin


"Nggak mas, aku nggak papa" jawabku lemas.


"Mas Firman ngapain disini?" tanyaku balik sambil melirik kearahnya.


"Tebus obat" jawabnya


"Yee baless" ucapku sewot. Mas firman tertawa kecil.


"Ambil obatnya Ajeng" terangnya ragu.


" Nyonya Ajeng Prayudya" mas Firman berdiri mendengar nama istrinya dipangil.


Aku melihat sampai satu kresek obat yamg diserahkan ke mas Firman.


Mas Firman kembali duduk disampingku.


"Ngapain?" tanyaku melihatnya kembali duduk.


"Duduk" jawabnya.


"Ya tau kalau duduk, ngapain mas masih disini kan obatnya udah diambil" semprotku kesal.


Berasa lagi syuting preman pensiun dialogku dengan mas Firman.


Mas Firman malah tertawa melihat ku kesal.


"Nyonya Karina" pangil mba Apoteker


"Karina? "Guman mas Firman tak kuhiraukan.


Aku lekas berdiri ketika nama Karina disebut.


Dan langsung pergi keluar Apotik.


Mas Firman menjajarkan langkahnya denganku.


"Bawa mobil?" tanyanya kemudian.


"Emang kenapa ? Tanyaku balik


"Nebeng" jawabnya singkat


"Emangnya mas gak bawa mobil?"


"Bawa sih, gak boleh ya?, kalau mau nebeng kamu"


"Masalahnya Bila lagi ga bawa mobil, Bila mau naik ojek" penjelasan yang tak penting.


"Kalau gitu kamu yang nebeng, aku anter, mau kekantor kan?"


"Ga usah makasih, Bila naik grab ajha mas"


"Aku anter.. " mas Firman menarik tanganku.


Aku menarik tanganku


"Nggak" jawabku, mataku melotot.


"Bawel" mas Firman menarikku dan memaksaku masuk mobilnya.


"Kamu aneh" ucap mas Firman sambil menatapku.


"Aneh.. gimana?, mas Firman yang aneh" sungutku karena memaksa mengantarku


"Kamu seperti nabila 9 tahun yang lalu, manja dan bawel" mas Firman terkekeh.


"Yakin kamu baik baik saja?" tanya mas Firman ulang.


Aku kembali menganguk.


"Kamu apa kabar?" tanya mas Firman terlihat mulai serius.


"Baik mas" jawabku .


Bertemu dari tadi, tanya kabarnya baru sekarang.


"Selamat ya, Ayu bilang kamu barusan nikah"


Aku tersenyum kecut.


"Bil, yakin kamu baik baik saja?:" tanya mas Firman berulang.


"Mas tanya satu kali dapat payung loh, dilempar tapi" ucapku kesal karena melontarkan pertanyaan yang sama.


Mas firman tak dapat menahan tawa mendengar ucapanku.


"Kamu bahagia?"


Jleb... dadaku seketika kembali sesak.


Aku tak menjawab pertanyaanya.


"Bil, yakin kamu baik baik saja?" tanya mas firman lagi, ketika mendapatiku hanya melamun.


"Bil, kalau kamu membutuhkan teman cerita, ada mas. Swear mas janji ga akan neko neko, angap ajha mas kakak kamu sendiri"


Aku memandanginya untuk memperjelas maksud kata katanya.


"Mas tau Bil, kamu tidak baik baik saja, matamu ga bisa sembunyikan itu semua"


"Makasih mas" ucapku, biarlah mas rasa ini kutangung sendiri. Aku tak ingin berbagi kesedihan kepada siapapun.


"Makasih sudah dianter" ucapku ke mas Firman, sebelum aku turun. Mas Firman tersenyum padaku.


----


Engan rasanya diri ini pulang, tapi ketiadaanku akan membuat peluang Karina semakin besar.


"Sayang kamu lembur lagi?" tanya Rangga malam itu.


"Udah selesei sayang, ntar lagi aku pulang" jawabku


"Oke aku jemput ya, tunggu bentar" pinta Rangga.


Aku baru selesei mengemasi berkasku, WA dari Rangga masuk.


[Sayang maaf, kamu naik grab ajha ya, Karina perutnya sakit lagi. Takut ada apa apa sama bayinya]


Air hangat itu menumpuk dipelupuk mataku, mengalir tak dapat kutahan.


Apa yang kuinginkan dan yang kutakuti terjadi bersamaan. Aku begitu sombong dan percaya diri akan cinta Rangga padaku.

__ADS_1


__ADS_2