BAYANG MASA LALU

BAYANG MASA LALU
BML Part 2


__ADS_3

Bulek  Lulik menyodorkan sebuah amplop coklat kepadaku.


"Dibawa Sahrul tempo hari, katanya surat  cerai dari Firman" jelas bulik.


Aku merasa biasa mendengarnya, bagiku mas Firman sudah tiada dan rasa ini sudah mati.


"Tingal tanda tangan saja kan bulek?"


Kubuka aplop itu dan menandatangani yang ada tulisan namaku tanpa membaca isi lainnya.


Kumasukkan kembali berkas berkas itu dan mengembalikannya ke bulik Lulik.


Meninggalkan Armand untuk kembali melanjutkan kuliahku, terasa sangat berat. Walaupun dia mengenalku bukan sebagai ibunya tapi tetap kami merasakan ikatan bathin yang kuat. Menjelang keberangkatanku Armand mendadak panas.


"Nggak apa-apa Bil, Armand baik baik saja. Cuma mau pinter" ucap bulik Lulik. "Ya gimanapun kan kalian ibu dan anak pastilah ada ikatan perasaan, bisa jadi karena kamu mau pergi". Lanjut bulik kemudian.


Dengan perasaan berat dan kuatir aku berpamitan dengan lelaki kecilku itu. Dia sedang terlelap dengan kompres didahinya.


----


"Bil, orderan kamu yang masuk kemarin sudah dikirim sama mas Wawan. Nanti minta resi resinya ke dia ya. Mba ada acara di Bandung 3 harian, mba titip kamu handle toko ya". Ucap mba Wina " eh ini dibawain manga sama Astri panen dirumahnya" lanjutnya sambil meletakkan piring yang berisi mangga yang sudah dikupas.


"Iya mba Win, siap. Oh ya nanti aku transfer kalo sudah aku WD ya" jawabku


"Astri manis banget mangganya" lanjutku setelah menyomot satu iris mangga didepanku. Gadis manis itu tersenyum merekah tanpa bersuara.


Ya mba Wina adalah teman kuliah bulik Lulik. Dia punya usaha toko pakaian. Dulu aku hanya bantu beres-beres dan terkadang jaga tokonya.


Tapi sudah satu tahun terakhir aku berjualan online dan hasilnya sangat cukup untuk biaya hidupku. Malah lebih.


Bulik  Lulik juga masih terus mengirimi aku uang  bulanan. Padahal sudah kubilang aku sudah ada uang sendiri dan sudah lebih dari cukup. Tapi dia tetap saja mentransfer bulananku.


Entah terbuat dari apa hati bulikku itu. Dia bagaikan malaikat bagiku, dan sahabatnya mba Winapun juga sama baiknya. Dia selalu memperkenalkanku sebagai adiknya.


Perkuliahan dimulai tempat baru teman baru dan suasana baru. Ini salah satu jalan untuk merubah kehidupanku, semangatku begitu membara.


Semester awal aku cukup cepat beradaptasi, sudah memiliki sahabat sahabat baru. Walaupun aku jarang untung keluar bersama mereka tapi aku cukup bisa mengimbangi obrolan mereka.


"Iya nih, sekali kali ikut kita kita kenapa" protes Vivian ketika aku menolak halus ajakan mereka untuk ke bioskop.


Aku merasa tak enak untuk sekarang, karena aku selalu banyak alasan untuk tidak pergi sebelumnya.


Akhirnya aku menganguk setuju. Suara riuh teman temanku mengundang mata mahasiswa lainnya.


"Sudah sudah ... ayokk" aku menarik tangan Anisa menuju ke tempat parkir.


"Mi pake mobilmu ajha yah, punyaku ga muat" Vivian merangkul gadis berbadan besar yang selalu kami pangil Mami itu. Nama aslinya sih Naomi.


"Lu yang nyetir yes, sekali kali mau jadi penumpang". Pinta mami, Vivian menganguk setuju.


Anis, Naomi, Vivian, Iche, Alin itulah teman teman dekatku sekarang.


Diantara kami Vivian dan Alin yang paling menonjol, kulit putih bersih, wajah cantik kinclong. Vivian tinggi langsing. Alin lebih mungil.

__ADS_1


"Vi, aku naik taksi sekalian dari sini saja ya, aku nggak bawa motor tadi" kataku ketika kami selesei nonton.


"Aku anterin sekalian ajha Bil, kan searah." Ucap Vivian disambut angukan lainnya.


"Gitukah, tambah seneng daku" ucapku.


Tuhan memberikan banyak sekali nikmat padaku, yaitu orang orang baik disekitarku. Sudah menginjak tahun ke 2 kuliahku.


Dan aku selalu menjadi yang terbaik.


Bagaimana kehidupan asmaraku. Aku menutup rapat rapat hatiku. Aku berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan laki laki.


Kegiatanku hanya kuliah, mengurus toko onlineku yang semakin besar sampai aku punya admin sendiri. Dan sesekali keluar bersama teman temanku.


Bukan nya aku ke Ge eR an tapi dari semester satu sudah beberapa cowok yang mendekatiku tapi semua tak pernah aku tangapi.


Aku masih trauma dan belum ingin memikirkannya.


"Mba Nabila, ibu Winanya keluarkah?" Asri memasuki ruanganku."ada tamu, aku barusan datang aku cari cari ibu ga ada" lanjutnya.


"Iya As, lagi kerumah tante Marta antar pesanan" jawabku."siapa?" menanyakan tamu mba Wina, Asri mengangkat bahunya.


Aku beranjak keruang tamu. Seorang pria duduk di sofa ruang tamu dia tertunduk asyik dengan ponselnya.


"Maaf mas, mba Wina masih keluar antar barang" mendengar suaraku pria itu mengalihkan pandanganya dari layar ponsel. Kemudian berdiri sambil memasukkan ponselnya kesaku.


"Oh.. sedang keluar, em .. apa boleh saya tunggu?" Tanyanya kemudian.


"Boleh silahkan" jawabku mempersilahkan. Pria itu mengulurkan tangannya.


Dan mempersilahkannya kembali duduk.


Berawal dari obrolan basa basi untuk memecah suasana cangung.


Obrolan menjadi terasa nyaman karena Rangga orangnya enak dalam mengobrol.


Hampir satu jam tak terasa, sampai kudengar suara mobil mba Wina. Sesaat kemudian diapun sudah berdiri didepan pintu.


"Assalamualaikum... "suara mba Wina kencang, "oh ada tamu, maaf maaf" ucapnya saat melihat Rangga. Kami berduapun serempak membalas salam mba Wina.


Mba Wina tersenyum dan beranjak masuk.


"Loh.. ini tamunya mba Wina" pangilku, langkah mba Wina tertahan. Dia memandang kearahku. Tangan kananya menunjuk bagian dadanya. Sebagai isyarat memperjelas ucapanku.


"Mba Win lupa ya? Ini Rangga mba adiknya mba Annisa" pria itu berjalan kearah mba Wina. Dan menyalaminya.


"Ya Ampun Rangga... Ya Allah.. sudah bujang kamu sekarang" mba Wina sedikit terlihat kaget tapi kemudian menepuk sosok didepannya.


Rangga hanya tertawa renyah.


Akupun pamit melanjutkan pekerjaanku. Sesekali terdengar tawa keduanya dari ruanganku.


"Ssttt..." mba Wina sudah berdiri didepan mejaku. Aku mendongak kearahnya.

__ADS_1


"Ada salam dari Rangga" ucapnya kemudian.


"Waalaikumsalam" jawabku sekenanya.


"Tau nggak? dia dari tadi  nanyain kamu mulu" mba Wina menarik kursi dan duduk didepanku.


Aku mendengarnya tapi pura pura fokus ke laptop didepanku.


"Cie cie cie... ada yang malu malu". Goda mba Wina.


"Apaan sih.. " kilahku, tapi entah kenapa pipiku terasa hangat. Padahal aku belum merasakan perasaan apapun ke Rangga.


"Tadi dia minta kontak kamu tapi belum mba kasih, kan ijin dulu sama yang punya" jelasnya kemudian.


Obrolan tadi sore dengan mba Wina berlalu begitu saja. Sampai kuterima sebuah pesan malam ini.


"Assalamualaikum Nabila, ini Rangga" bunyi tulisan di layar.


Ragu aku membalas, akhirnya hanya kutulis salam dan kata iya.


Ponselku berbunyi lagi, Rangga minta ijin menelponku. Tapi belum sempat kujawab sudah ada pangilan masuk.


Terdengar suara renyahnya diseberang. tak terasa sudah jam 10. Sudah hampir 2 jam kami mengonbrol.


Dia mengakhiri obrolan dengan ucapan selamat tidur jangan lupa berdoa dan semoga mimpi indah. Dan akupun masih merasa biasa.


Dari hari ke hari kami semakin sering berkomunikasi. Ngobrol denganya tak pernah kehabisan bahan. Lepas dari itu semua Rangga adalah sosok yang menarik.


Sangat sedap dipandang mata.


Perawakanya tidak terlalu tinggi, tapi berkulit putih, wajahnya seperti masih anak kuliah semester awal. Padahal dia  diatasku.


Munafik rasanya kalau aku bilang tak ada rasa terhadapnya. Tapi aku punya ketakutan sendiri akan bayang masa laluku. Yang memaksaku menyimpan rasa ini dalam dalam.


"Nduk sudah tidak usah kirim uang buat Armand, bukan apa apa. Tapi lebih baik kamu simpan buat sekolah adik adikmu. Insyaallah Armand tidak kekurangan apapun" bulik menolak halus atas uang yang kuberikan.


Dia memang benar kedua adikku masih sangat membutuhkan banyak biaya. Mungkin ini saatnya aku ikut bertangung jawab atas mereka untuk membantu orang tuaku.


Bulik merubah pangilan ke video call, lelaki kecilku sedang berada disampingnya. Dia tersenyum manis dan mengucapkan terimakasih atas mainan yang aku kirim.


"Kak Nabil, makasih yah mainan nya Armand suka banget. Kak Nabil kapan kesini?" Wajah itu selalu bisa membuatku tersenyum, walau akhirnya aku akan menangis tersedu setelah vicall berakhir.


Armand suka bercerita tentang sekolahnya. Yah sekarang dia sudah TK. Sudah banyak bicara dan bertanya.


Waktu berjalan dengan cepat. Hubungan tanpa status begitulah yang kujalani dengan Rangga. Sudah tiga tahun berjalan tapi tak ada komitmen diantara kami. Semua mengalir begitu saja.


\=\=\= ---- \=\=\=


"Dunia sempit ya, dan waktu berlalu begitu cepat. Semua sudah banyak berubah" ucap Ayu mukanya terlihat lebih serius.


"Bil, aku minta maaf ya. Aku tak ada saat kamu terpuruk" Ayu mengengam tanganku.


"Aku sendiri tidak tau tiba tiba mama memindahkanku ke surabaya.

__ADS_1


Aku bahkan tak tau kalau kamu dan mas Firman  menikah" Ayu mengingit bibirnya. Matanya memerah, ah semuanya kembali terlintas menari nari dibenakku. Sedikit demi sedikit semua kenangan yang sudah ku kubur dalam muncul di kepalaku.


Bersambung....


__ADS_2