
"Sintia, kamu handle kantor dulu ya. Kakak ada keperluan luar kota sekitar semingguan, kalau nggak penting sekali tak usaha hubungi kakak"
Itu pesanku ke Sintia.
Akupun mengabari ke Vivian hal yang sama.
Kukemasi barangku pagi ini, hanya satu tas sedang dan satu tas ransel.
"Mba mau kemana? tanya Nini melihatku hendak berpergian.
"Mba ada urusan, kalau ada yang tanya siapapun itu jawab tidak tau" pesanku ke Nini.
"Mba naik apa?"
"Naik kereta, eh udah ya, ojek mba sudah datang"
Aku berlari keluar, ojekku sudah menunggu.
"Stasiun ya pak" pintaku.
Kereta jam setengah 8 pagi membawaku pulang. entah kenapa hati ini sangat rindu, rindu pada Armandku, rindu pada anakku.
"Sayang mama datang" andai mama bisa mengucapkan itu sambil memelukmu..
Begitu indah hidup mempermainkanku... semua hanya bisa kulihat tanpa bisa kudekap....
----
"Nabila, kenapa nggak ngabari kalau mau pulang, kamu kenapa ini mata kamu sembab gini, kamu ada masalah?".Rentetan pertanyaan Bulik bagai peluru yang terus ditembakkan.
"Nggak bulik,.Nabila kangen sama keluarga disini" jawabku
Akhirnya sampai juga dirumah bulik, Armand masih belum pulang les. Sampai lupa sudah berapa lama aku tak pulang. Karena keluarga disini yang lebih sering kerumahku.
"Bulik, Nabila boleh tidur dikamar Armand ya?" pintaku. Bulik hanya menganguk.
Dia membantu membawa tasku ke kamar Armand
'Kalau kamu sudah siap, ceritakan semua kebulik, bulik tau semenjak hari pernikahanmu kamu menyimpan masalah, kalau kamu sudah siap saja"
Bulik meninggalkanku di kamar Armand.
Kulepas pandanganku kesekeliling, ada foto keluarga bulik,om dan Armand dicetak besar terpasang diding.
Dimeja ada foto Armand sendiri dan satu lagi foto kami bertiga, aku, Armand dan Rangga.
Begitu besar rasa sayang Armand padaku dan Rangga.
Aku kesini, supaya tak memikirkan Rangga. Tapi ternyata... tambah sakit saat tau Armand sangat menyayangi Rangga.
Aku keluar kamar mencari bulik didapur yang sedang menyiapkan makanan.
"Bulik, Armand pulang jam berapa? Bila yang jemput ya? " Sekilas bulik melihat jam di dinding.
"Setengah jam-an lagi nduk, les nya di jalan Karimata 11, mau pake motor apa mobil?"
"Pake motor ajha bulik, Bila berangkat sekarang ajha ya, lupa-lupa ingat jalannya hehehe"
Bulik memberikan kunci dan STNK padaku. Lama nggak naik motor agak kaku rasanya.
Alhamdulilah sampai juga ditempat les Armand, masih 10 menitan lagi baru keluar. Tak jauh dari tempatku berhenti, banyak ibu-ibu bergerombol, akupun mendekat dan menyapa ramah mereka.
"Belum keluar ya? " tanyaku membuka pembicaraan.
"Bentar lagi mba, jemput siapa njeh?
tanya salah satu ibu.
"Saya jemput Armand" jawabku sambil tersenyum.
"Oh anak ganteng to, mba siapanya njeh?"
"Saya kakak sepupunya Armand" jelasku
"Armand itu jian ganteng,sopan, sholeh, rajin" puji salah satu ibu
"Masih kecil sudah jadi idola emak-emak, gede jadi idola cewek itu hahaaha" ibu lain menimpali, semua tergelak, waduh populer juga ternyata anakku.
Terdengar riuh dari ruang les, sepertinya anak-anak sudah keluar kelas.
Beberapa sudah terlihat berhamburan keluar. Kepalaku sesekali melongok, Armand belum keluar juga.
"Kak Nabila" Armand berteriak dia kaget melihatku, namun lekas dia berlari ke arahku.
"Kak Nabila kok disini?" tanyanya kemudian, nafasnya sedikit tersengal.
Aku memeluknya kemudian. Kangen sekali rasanya.
"Kak Nabila libur kerjanya, jadi gantian kakak liburannya disini" jelasku.
Lelaki kecilku itu tampak ceria mendengarku.
"Ayuk naik" aku mengandeng tangan Armand.
Kunyalakan motorku, Armand naik dibelakangku, tangannya melingkar diperutku.
"Udah?"
'Udah kak" mendengar jawaban Armand aku jalankan motorku.
Cerita tentang harinya tadi mewarnai perjalanan singkat kami pulang kerumah. Tanganya yang melingkar diperutku sesekali aku cium.
"Wah anak bunda sudah pulang" Bulik keluar setelah mejawab salam Armand, lelaki kecilku langsung mencium tangan bundanya itu.
"Ganti baju dulu nak" Bulik menyuruh Armand berganti baju, Armand berlari masuk kamar.
"Kamu mandi sana dulu nduk" pintanya padaku. Akupun menganguk mengekorinya masuk kedalam rumah.
"Eh bulik, nanti kalau ada yang telpon ke bulik, nanyain Nabila bilang nggak tau ya" pesanku padanya.
Bulik menghentikan langkahnya
"Rangga juga?"
Terutama dia bathinku. Aku menganguk mengiyakan.
Aku sengaja mematikan ponselku, aku hanya ingin menikmati hariku, tanpa diganggu siapapun.
Satu minggu penuh, aku disini, mengantar-menjemput Armand sekolah dan les, membuat makanan untuknya, mengajaknya jalan-jalan, menemaninya belajar, dan mendekapnya sewaktu tidur.
Berkumpul bersama Mbah, ibu dan semua keluargaku disela waktu menunggu Armand pulang sekolah.
Waktu terasa cepat sekali. Seperti baru kemarin aku pulang, memang 1 minggu tak dapat mengantikan 9 tahunku yang hilang bersama Armand tapi setidaknya aku pernah merasakan.
"Rangga bingung nyari kamu, Bulik jadi nggak tega, itu ibumu juga bingung jawab" ucap bulik saat aku mengemasi barangku, karena liburan ku telah usai.
"Tapi bulik belum bilang kan kalo Nabila disini" tanyaku
"Ya belum, bulik jadi ikut pura-pura panik"
Bulik duduk di ranjang Armand.
"Ada apa sih nduk?, kamu belum mau cerita ke bulik juga?"
"Maafkan Nabila bulik" ucapku, aku benar-benar belum sangup mengatakan.
----
Semua ikut mengantarkan aku ke Stasiun, ada air mata yang mengiringi, beda saja rasanya, aku tau mereka mencemaskan keadaanku, walaupun aku mengatakan baik-baik saja, mereka tak bisa sembunyikan kekawatirannya atasku.
Armand seolah engan melepasku, dia selalu memelukku sampai keretaku datang.
----
Aku buka ponselku di dalam kereta, ponselku sampai ngadat alias hang. Aku nyalakan ulang, baru kubuka pelan. Kubaca sekilas kemudian ku offkan kembali.
Aku menata hati dan perasaanku, besok harus kuhadapi lagi permasalahan pelik dihidupku. Menghindarinya memang tak merubah apapun, tapi kebersamaanku dalam seminggu ini memberiku semangat untuk menghadapi pahitnya hariku nanti demi secerca cahaya yang pasti kan datang.
------
Kereta tiba di stasiun tujuanku sekitar jam 9 an malam, aku langsung naik taksi pulang ke Cempaka.
"Mba darimana saja? Hp mbak nggak bisa dihubunggi semua bingung" cerca Nini melihatku datang.
Dia mengambil tas yang aku bawa, mas Wawan dan istrinya juga menyusulku, Asri mengikuti dari belakang.
Mereka terlihat tegang melihatku. Aku memandangi mereka bergantian.
"Kenapa?" tanyaku pada mereka.
"Aku ngak kenapa-kenapa" yakinku kepada mereka.
"Nin, kamu masak apa, mbak lapar" ucapku kemudian duduk di sofa ruang tengah.
Aku merebahkan badanku di sofa. Badanku lumayan pegal, Nini datang dengan sepiring nasi sayur dan lauk. Aku segera bangun, kulahap tak bersisa makanan dipiring.
"Mbak mau tidur dulu" pamitku lalu naik ke tangga. Kubuka pintu kamarku, Asri sudah memasukkan barangku kedalam kamar.
Sebenarnya aku ingin segera tidur, tapi badanku terasa lengket, akupun mandi sebelum benar benar mengistirahatkan badanku.
Aku bangun siang, karena sedang datang bulan dan masih capek perjalanan kemarin.
Malasku kekamar mandi. Tapi seminggu sudah kutinggalkan pekerjaanku. Air hangat cukup menghilangkan kantukku.
Aku kaget saat keluar dari kamar mandi, Rangga sudah berdiri menatapku. Aku tak bisa mengambarkan raut wajahnya saat ini.
"Sayang dari mana ajha ?" Kukira dia akan mencercaku dengan nada tinggi.
Rangga memelukku yang masih berdiri terpaku.
"Kamu buat semua orang kuatir, tau nggak sih?" Rangga memegang kedua lenganku.
"Aku tanya semua orang , nggak ada yang tau kamu dimana" ucapnya terlihat cemas.
"Aku minta maaf, aku salah, nggak seharusnya aku bicara keras seperti itu, aku minta maaf", ucap Ranga memohon.
"Sudah sayang, aku minta maaf juga , sudah bikin kuatir, yang penting aku udah disini". Ucapku "Aku bersiap dulu, ganti baju dulu" aku beranjak mengambil bajuku dari lemari.
Aku membawa baju gantiku kekamar mandi, entah jadi kurang nyaman kalau membuka baju dihadapan Rangga.
Kulengkapi penampilanku dengan riasan natural warna soft.
Rangga hanya memperhatikanku tanpa berani menyentuhku seperti biasa.
Aku mengajaknya turun, dan menawarinya sarapan.
"Aku duluan ya sayang" pamitnya, aku menganguk dan mencium pungung tanganya. Rangga mencium keningku, dan kurasa hampa.
Aku berjalan ke meja makan, Nini sudah menyiapkan sarapan di meja.
"Nin, mbak ga sempet sarapan, kamu masukkan kekotak bekal ajha ya biar mba makan dikantor, mba tunggu didepan" ucapku meninggalkan Nini, aku memanasi mobilku sebentar.
Nini datang dengan tas bekal yang kuminta dan memasukkannya kedalam mobil di kursi belakang.
"Mba berangkat dulu, Assalamualaikum" pamitku.
Nini melambaikan tangannya setelah menjawab salamku.
Aku lajukan pelan keluar pagar dan mempercepat setelahnya.
__ADS_1
-------
"Sint" sapaku "Assalamualaikum" Sintia meloncat dari kursinya dan memelukku.
"Kakak... kemana ajha"
"Kan kakak dah minta ijin liburan"
"Tapi ponsel kakak nggak bisa dihubungi, kak Rangga bingung nyariin kakak, kak Vivian bolak balik call aku, sampe pak Andre tanya ke aku juga, aku sendiri nggak bisa ngubungin kakak" antara kesal , cemas, lega jadi satu diwajah Sintia.
"Kakak minta maaf dah buat bikin cemas" ucapku sambil membuka pintu ruanganku.
Sintia menguntitku dibelakang.
"Kak Nabila nggak kasih tau kak Rangga kah kalo mau pergi" tanya Sintia lagi.
Aku hanya mengeleng, aku tarik kursiku dan kemudian duduk. Sintia duduk didepanku.
"Kak Nabila baik-baik saja kan?" tatapan Sintia penuh selidik.
"Iya .. kakak baik-baik saja" yakinku " oh ya yang stok bahan kita yang dari bandung gimana?"
Tanyaku mulai mengalihkan pembicaraan ke pekerjaan.
"Sudah kak untuk yang itu beres, kalau yang klien kakak, Sintia jadwal ulang besok ya pertemuannya, Byan sudah siapkan beberapa desain yang bisa kakak tawarkan" Sintia beranjak, pamit melanjutkan pekerjaanya.
"Oh ya kak, laporan keuanganya belum kakak periksa berkasnya ada dimeja" ucapnya saat sampai dipintu
"Iya Sint" jawabku.
Memeriksa laporan yang bertumpuk membuatku jadi lapar. Aku membuka bekal yang dibawakan Nini tadi, 1 kotak berisi nasi lengkap satunya lagi berisi roti bakar.
Kututup kembali yang berisi nasi dan menyimpannya di laci bawah untuk makan siang.
Sintia mengetuk pintu dia muncul dengan cangkir ditanggannya.
"Biar nggak ngantuk, banyak yang harus dicek soalnya" ucapnya sambil meletakkan kopi dimejaku.
"Hmm tau ajha sih, makasih ya, eh ini mbak bawa roti banyak" tawarku
Sintia mengambil beberapa "makasih kak" ucapnya dan kembali ke mejanya.
Akupun kembali berkutat dengan pekerjaanku.
Pekerjaan setumpuk memang memakan waktu, sadar-sadar sudah jam 5, waktu Sintia meminta pamit. Dia memang tak bisa lembur sepertiku, karena harus merawat mamanya yang sakit.
Masih ada tenaga kah Nabila?, tanyaku pada diri sendiri.
Tenaga ada hanya otakku yang mulai panas dipenuhi angka dan hitungan.
Sepertinya sebelum asap keluar dari kepalaku, aku rehatkan dulu. Kurapikan meja dan berkas-berkasku.
Aku membuka ponselku, yang tak ku sentuh seharian. Aku tak terlalu risau karena semua klien dan urusan kantor dihandle lewat Sintia. Entah jadi apa diriku tanpanya.
Tak semua kubaca.
Jariku terhenti di pesan dari Karina, ingin kubaca sepintas tapi penasaran juga, dia mengirim beberapa foto, WA memang aku setting mengunduh manual.
Kugerakkan jariku untuk membaca chat yang lebih atas dan mengunduh gambar yang dikirimnya.
Harusnya memang tak kulihat karena pasti aku belum siap.
Bukan gambar yang istimewa, tapi kalau melihat Rangga yang awalnya begitu menolak kehadiran Karina, dan sekarang dia tertidur sambil duduk disamping ranjang Karina dan membiarkan perempuan itu leluasa mengusap rambutnya.
Akan menjadi gambar yang cukup mencubit rasaku.
Kalau kalimat kalimatnya masih tetap mengangapku sengaja membuatnya jatuh, mencaciku dan memintaku meningalkan Rangga.
Aku mengalihkan ke Chat Vivian, selalu tersenyum melihat ungkapan kekesalan sahabatku ini.
Ada chat dari Lody dan Wira juga..
"Hallo sayaangkuhh" ucapku saat Vivian mengangkat telponku.
Seperti yang kuperkirakan dia pasti akan ngomel duluan.
"Iya iya saiyy, maaf yahh" pintaku memohon.
"Masih di butik? tanyanya kemudian.
"Iya, ini dah mau pulang"
"Aku jemput ya, Lody ulang tahun mau ngajak makan-makan diluar"
"Oh ya.. okay" jawabku.
Aku segera memasukkan ponselku dan barang- barangku. Aku matikan lampu dan berjalan menuruni tangga.
Pak Yon menyapaku seperti biasa, aku bergegas keluar menuju mobilku.
Baru kumenutup pintu setelah memasukkan kotak bekalku, motor mas Firman parkir dibelakangku.
Dia membuka helmnya mendekap didadanya.
Mas Firman masih duduk dimotornya saat kumenghampirinya.
Aku menangkupkan kedua tanganku, sebagai permohonan maaf karena tak membalas semua pesannya. Dan pasti dia sangat mencemaskanku.
"Kemana saja sih Bil" tanyanya kemudian, ada kecemasan dan kesal dinada suaranya.
"Bila lagi pengen liburan sendiri mas" alasanku.
"Tapi kan gak harus matikan ponsel kamu" ucapnya kesal. "Aku tanya ke Sintia dia juga tidak tau dan tak bisa menghubungimu" lanjutnya.
"Maaf" ucapku seperti anak kecil.
Mas firman turun dari motornya. Tangannya memegang kedua lenganku.
"Makasih udah perhatian sama Bila" ucapku.
Mas Firman mengusap rambutku pelan.
Kulihat mobil Lody mendekat.
"Mas maaf ya, Bila duluan ya, sudah dijemput itu sama temenku"
"Siapa?" Mata mas Firman menyipit.
"Vivian" jawabku.
Mendengar nama perempuan yang kusebutkan mas Firman terlihat lega.
Aku berjalan menuju mobil Lody, Vivian membuka kaca memintaku naik.
"Yang lain mana?" tanyaku setelah masuk, karena Vivian hanya sendirian.
"Sama Dokter Wira duluan tadi, eh itu siapa bebz bukan Rangga kan?" Vivian menunjuk dengan matanya ke arah mas Firman yang belum beranjak dari samping mobilku.
"Andre" jawabku singkat.
"Andre yang punya tempat kita sewa kan?" tanyanya kemudian . Aku menganguk.
"Ngapain?"
"Ihh kepo amat sih saiyy"
Vivian tertawa.
"Aku ketemu kapan hari dia antar ibunya ke Klinik, ternyata itu ibunya teman tante Mila"
Cerita Vivian.
"Tante Mila mamanya Lody?" Vivian menganguk.
"Kayaknya gak sebatas hubungan sewa deh" celetuk Vivian tiba-tiba.
"Ngapain coba dia nyamperin kamu malam-malam gini?" Vivian mulai curiga.
"Dia itu kakak nya temenku saiyy, pastilah aku ikut kenal" kilahku.
"Iya tapi ngapain ..auhh" Vivian tak meneruskan kata-katanya. Aku mencubit gemas pahanya.
"Sakit bebz"
"Biarin, udah dibilang jangan kepo masih aja.." sungutku.
----
"Selamat ya, semoga panjang umur sehat dan sukses selalu, n cepet naik pelaminan" ucapku ke Lody. Pria bermata sipit inipun tertawa.
Aku menyalami semua yang ada disitu, Satu tim di Klinik.
Tawa menyelingi obrolan seru kami, ternyata kalau di kantor jaim-jaim kalau pas diluar seperti ini mereka bocor juga.
Tapi seru.
Sesekali tatapanku beradu dengan Wira, tapi dia terlihat kesal padaku.
Saking serunya, aku sampai lupa mengabari Rangga. Tapi buat apa paling dia juga sedang bersama Karina.
Aku kebelet pipis, aku segera beranjak ke toilet setengah berlari. Untung kosong, uh lega. Segera kucuci tangan dan keluar.
Aku periksa ponselku apa Rangga menghubungiku.
Ternyata dia menelponku sekitar satu setengah jam yang lalu.
Bagaimanapun dia tetap suamiku.
"Sayang aku ada acara sama teman di Klinik, Lody ulang tahun, jadi malam aku pulang" ijinku ke Rangga. Kutekan tombol send
"Aku pulang ke Cempaka" kukirim lagi lanjutan pesanku. Tapi masih belum dibaca.
Aku kembali bergabung dengan mereka. Sampai hampir jam 11 sampai beberapa orang mulai pamit lebih dulu.
"Sudah dijemput suami didepan" pamit dr Atika, Jenny dan Indah juga dijemput suaminya. Sandra pulang dijemput pacarnya.
Suamiku???
Tinggal kami berempat, aku Lody Vivian dan Wira.
Aku tau Vivian akan memutar jauh kalau dia mengantarku pulang, karena memang tidak searah.
"Saiy aku pesan taksi online ajha ya" pintaku.
"Nggak aku yang anter" ucap Vivian.
"Jauh.. kamu sama Lody ntar bolak balik kejauhan" jawabku.
"Wir, kan kamu kos dideket cempaka sana juga kan?" tanya Lody pada Wira.
"Mau nawarin sih Lod, takut ditolak" ucap Wira kemudian.
"Kalau bareng Wira nggak papa, tapi kalau masih ngotot naik taksi, aku anterin"
Ucap Vivian.
Aku memandang ke arah Wira, dia hanya tersenyum.
Tiba tiba Vivian menarikku, menjauh.
__ADS_1
"Rangga kemana sih, nggak bisa jemput?"
"Ohh meeting luar kota" jawabku
"Tempo hari dia nanya in kamu bebz, aku sendiri nggak tau kamu kemana, hp dimatikan lagi "
"Bu ibuk ngerumpinya dilanjut besok ya" Lody menghampiri ku dan Vivian.
Wira menyusulnya dibelakang.
Kami berjalan ketempat parkir, mobil Lody dan Vivian lebih dulu keluar.
Wira membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan aku masuk.
Sebentar kemudian dia sudah naik di belakang kemudi.
"Jalan Cempaka ya" ucapku padanya . Seperti naik taksi online.Wira menganguk.
Cukup lama dia hanya diam, biasanya dia cerewet.
"Marah ya" tanyaku pelan.
"Maaf ya belum balas chatnya" lanjutku.
"Seneng ya bikin orang kepikiran" ucapnya kemudian.
"Aih.. mimpi apa dipikirin sama pak Dokter" candaku untuk mencairkan suasana.
"Ya nggak gitu, apa susahnya kasih kabar, biar orang-orang nggak bingung, nggak cemas, ini pergi nggak tau kemana, hp dimatikan sampe semingguan" Omel Wira.
Ihh ngapain juga dia sampe segitunya ngomel, ketularan Vivian kayaknya.
"Iya deh.. Ampun pak Dokter" aku menjewer telingaku sendiri. Wira akhirnya tertawa melihat tingkahku.
"Kamu dari mana?" Tanyanya mulai melembut.
"Ihhh kepo ya, mau tau ajha apa tau banget" godaku.
"Nggak dua-duanya"
"Ya udah, ngapain tanya tadi" ucapku manyun.
dan kembali Wira tertawa melihatku.
"Kamu nggak papa sering pulang selarut ini" tanya Wira kemudian.
"Udah biasa" jawabku.
"Nggak ada yang nunggu dirumah?"
Aku terdiam sesaat. Iya aku dan Rangga mulai dari awal menikah selalu pulang larut, sepertinya belum pernah kami menikmati makan malam berdua.
"Heh malah bengong" Wira menyengol lenganku dengan lenganya.
"Udah sampai Cempaka, Cempaka berapa?" tanyanya kemudian.
"Oh.. itu yang pagar hitam" tunjukku.
Wira menepikan mobilnya didepan pagarku.
"Makasih ya tumpangannya pak Dokter" ucapku sebelum turun.
"Sama-sama ibu Nabila" balasnya
"Eh besok mau dijemput?, katanya mobilnya di tinggal di kantor" tawarnya.
"Emmh nggak usah, ntar biar diantar sopirku ajha" tolakku halus.
"Ya udah, cepet tidur" ucapnya lagi.
Dia menungguku sampai masuk kedalam pagar.
------
Karina harus bedrest total sambil menunggu jadwal persalinan. Hampir 2 mingguan dia di rumah sakit, dia memelih dirawat dirumah, orang tuanya sudah datang menemaninya.
Hari ini dia sudah boleh pulang.
Dari saat kejadian sampai hari ini aku belum bertemu dengannya lagi. Akupun tidak pernah pulang ke Serayu. Rangga yang pulang ke Cempaka sesekali.
"Sayang, pulang ya" pinta Rangga hari itu lewat WA.
Sebenarnya aku lebih suka dirumahku sendiri, tapi itu sudah perintah dari suamiku.
"Iya, Sayang" balasku singkat.
--
Ku belum melihat mobil Rangga di halaman, sepertinya dia belum datang. Tapi lampu rumah semua menyala berarti Karina dan orang tuanya sudah di rumah.
Aku ucapkan salam saat masuk rumah, ibu karina menyambutku dari ruang tengah. Apa dia akan marah juga padaku?
Wanita cantik itu menyambutku hangat.
"Baru pulang nak?" Sambutnya sambil tersenyum, aku mencium tanganya, dan dia memelukku dan mencium pipiku.
Kadang terbesit pikiran, Karina bukan anak mereka. Bagaimana orang sebaik mereka memiliki anak seperti Karina.
Ibu Karina mengapitku masuk, Ayahnya terlihat baru keluar kamar dan bergegas mendekatiku. Akupun salim padanya.
"Udah makan?, ibu tadi masak tapi ya masakan rumahan"
"Bila ganti baju dulu ya bu" jawabku.
Wanita itu tersenyum. Aku bergegas masuk kekamarku.
Masih tak habis pikir, jangan-jangan anak mereka tertukar, tapi Wajah Karina mewarisi kecantikan Ibunya.
Aku melihat kesekeliling kamarku, mondar mandir nggak jelas dengan handuk ditanganku.
Aku masih belum beranjak kekamar mandi, walau sudah dari tadi aku masuk kamar. Hanya duduk disudut ranjang, dengan pikiran tak karuan. Tak nyaman sekali rasanya.
"Sayang"
Aku sampai tak mendengar kapan suamiku ini datang.
Dia berdiri disampingku, yang masih diam terpaku.
Aku memeluk Rangga dan menyandarkan kepalaku diperutnya.
Sepertinya aku sudah sangat lelah dengan semua yang terjadi.
Rangga mengusap kepalaku pelan. Aku terdiam dan memejam.
Entahlah apa yang kurasakan. Sebuah kehampaan.
"Sayang, kamu udah makan?"
Tanya rangga kemudian, aku mengeleng.
"Aku mandi dulu sayang" kumelepas pelukanku dari Rangga dan beranjak ke kamar mandi.
Sebenarnya aku masih marah dan kesal padanya. Sakit ini tak bisa hilang begitu saja.
Tapi ini bagian dari konsekuensi yang harus kudapatkan karena menerima karina di hidup kami.
Lama aku berdiam dikamar mandi, sampai akhirnya Rangga memangilku.
"Sayang, kamu ngak apa-apa kan?
"Iya, bentar lagi" jawabku
Aku segera menyeleseikan mandiku, dan beranjak keluar.
Rangga tak terlihat di kamar, akupun keluar kamar, kulihat dia sedang mengobrol dengan ayah Karina, melihatku keluar kamar, ibu Karina berdiri mengampiriku. Dia mengandengku keruang makan.
"Bila sudah makan bu" ucapku padanya menolak halus. Nafsu makanku hilang.
"Nak Rangga belum makan nak Bila temenin ya?!" Ucapnya kemudian.
Rangga menyusulku ke dapur, ibu meningalkan kami berdua. Rangga menarik kursi dan duduk kemudian.
Aku mengambilkan makanan untuknya.
Aku menarik kursi dan duduk didepanya.
"Sayang, kamu nggak makan?" Tanya Rangga, aku mengeleng.
Selesai makan aku langsung masuk kekamar, Rangga menyusulku.
"Sayang" pangil Rangga melihatku terus terdiam.
Aku menatapnya..
"Sayang aku minta maaf atas semua yang terjadi, maaf telah membawamu kesituasi seperti ini" ucapnya melihat kegalauan dimataku.
"Aku sedikitpun tak ada perasaan dengan karin, aku lakukan hanya demi bayi itu.
Rangga meyakinkanku, tapi semuanya tak seketika membuat hatiku lega.
-------
"Aku tidak mau melihatnya" teriak histeris Karina dari dalam kamar pagi itu, setelah mengetahui aku pulang. Orang tuanya berusaha menenangkan. Dia memakiku dengan sumpah serapah. Aku masih terpaku didepan pintu kamarku.
Rangga baru keluar dari kamar mandi
"Sayang ada apa?" Aku hanya mengeleng. Rangga segera masuk kekamar karina.
Terdengar gaduh didalam, Karina sepertinya menyakiti dirinya sendiri. Terdengar tangisan ibu karina. Dan juga teriakan Rangga.
Aku segera membereskan barang-barangku dan memasukkan ke dalam tas. Lama-lama aku bisa gila disini.
Aku beranjak keluar, mereka tak menyadari kepergianku.
Sial, mobilku tak bisa keluar. Semalam aku datang lebih dulu.
Aku sudah sangat kesal. Ku berjalaan cepat keluar pagar.
Mencoba memesan taxi online, kenapa server sibuk pagi ini.
Ponselku bergetar, Rangga menelponku, sepertinya dia sudah menyadari kepergianku.
Aku malas mengangkatnya, aku masih berjalan dijalan perumahan, ku coba pesan kembali tetap server juga masih sibuk.
Mobil Rangga berhenti didepanku, dia membuka pintu kaca dan memangil namaku. Aku hanya melihatnya sekilas dan kembali berjalan.
"Sayang, masuk dulu" ucapnya terus mengikutiku.
Terlalu kesal sampai tidak memperhatikan sekelilingku, banyak pasang mata menatapku, akhirnya aku terpaksa naik ke mobil Rangga.
"Sayang.." ucap Rangga meraih tangganku, aku mengibasnya.
"Aku di Cempaka saja sampai Karina Melahirkan, daripada aku dibuat gila, liat aku kayak liat setan ajha" Ucapku kesal.
"Kamu masih percaya kalau aku mencelakainya?" Aku menatap Rangga tajam.
"Sayang aku nggak ada pikiran seperti itu, aku mengenalmu lebih dari siapapun. Aku minta maaf atas kejadian itu" ucap Rangga kemudian.
Aku menghela nafas panjang. Kekesalanku belum juga hilang.
__ADS_1
Bersambung..