
#BAYANG_MASA_LALU
#BMLSeries
#BMLPart31
➡️➡️➡️➡️
Pagi itu kubuka ponselku sebelum kumasukkan kedalam tas.
Tak ada pesan dari Wira, ah kenapa aku jadi memikirkanya, kulihat waktu dia online, tumben, entah kenapa ada kecemasan yang hadir.
"Nin bekalnya mba sudah disiapkan kah?" Tanyaku pada Nini saat ku bertemu di bawah tangga.
"Sudah mba, Nini masukkan mobil ya?"
Akupun menganguk.
"Mba sarapan dulu, Nini sudah bikinin susu sama roti bakar" lanjutnyat, lalu berjalan ke arah meja makan, aku mengikutinya dari belakang.
Aku baru menghabiskan susuku ketika Nini membawa tasku dari ruang tengah.
"Mba seperti ada yang telpon dari tadi geter-geter" ucap Nini sambil menyerahkan tasku.
Kubuka tas dan mengambil ponselku, dari nomor tidak dikenal, siapa pikirku.
Aku cek di pesan WA ada pesan masuk dari nomor yang sama.
[Kak, ini Febby, mau minta tolong]
Segera kuhubunggi kembali nomor itu, terdengar suara lembutnya mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, iya Feb ada yang bisa kakak bantu?" Tanyaku langsung.
"Iya kak, maaf jadi ganggu kakak, tadi sudah hubunggi kak Lody ternyata masih dibali, Febby minta tolong, Febby nggak bisa hubunggi kak Wira dari kemarin, kata kak Lody kemaren kak Wira juga nggak masuk kerja pas di cek ke Klinik. Febby jadi kepikiran, ini Febby masih KKN diluar kota"
Jelas Febby, emm kemana Wira atau ada sesuatu terjadi kepadanya?
"Kakak tolong lihat di kostnya ya, di perumahan Griya Residense no 55 kamar no 11 kak , Febby nggak tau nomor telpon kostnya kak Wira" kecemasan terdengar jelas di suaranya.
"Iya, kakak ke kost nya dulu, nanti kak Nabila kabari" ucapku.
Aku bergegas beranjak dan berjalan cepat menuju mobil.
Kulajukan pelan saat memasuki perumahan yang cukup elite itu, kutepikan mobilku saat terlihat nomor rumah yang kucari.
Sebuah bangunan besar bergaya modern. Ada pos penjaga di samping pagar bagian dalam, ku tekan bel dan tampak seorang lelaki keluar.
"Iya mba, ada yang bisa dibantu".
Sapanya setelah membuka sedikit pagar besar itu.
"Iya pak, em saya mau tanya, benar Dokter Wira tinggal disini?"
Tanyaku.
"Saya kurang tau mba, saya penganti karena yang jaga biasanya kemaren ibunya meninggal, mba masuk dulu" ucapnya mempersilahkan.
"Eh itu pak mobilnya" tunjukku melihat mobil Wira terparkir.
"Em.. kamar no 11 sebelah mana ya pak?" Tanyaku kemudian.
"No 11 lewat tangga yang itu mba, terus belok kanan, kamarnya menghadap taman" jelasnya.
"Saya boleh masuk kesana pak?"
"Oh iya silahkan mba, monggo"
Setelah diijinkan aku segera menaikki tangga dan menuju kamar Wira.
Kok jadi berdebar, kuketuk pintu tak ada jawaban, kuputar gagang pintu, tak terkunci aku pun membukanya.
Wira ada disana, aku beranjak mendekat dia mengingil matanya terpejam, ku mendekatinya, wajahnya sangat pucat.
Kusentuh wajah itu Ya Tuhan badanya panas sekali. Dia sedikit membuka mata melihatku, tapi kembali terpejam.
"Wira" pangilku lagi, tapi sepertinya dia terlihat lemah sekali.
Ya Tuhan, aku bingung badan Wira panas sekali, aku melihat sekeliling,
"kompres kompres kompres" gumanku pelan sambil mencari sesuatu yang bisa kupakai untuk mengompresnya, aku membuka lemari dan laci-laci, bajunya tertata rapi, ketemu , aku menemukan sebuah handuk kecil.
Aku nyalakan dispenser dan mengompres Wira dengan air hangat.
Dokter aku butuh Dokter, aku menghubunggi Dokter Atika, ini masih pagi dia pasti belum berangkat ke Klinik. Aku ceritakan kondisi Wira.
"Wira" pangilku lagi dia masih terpejam, aku membalik kompresnya yang mulai mengering.
Aku lihat ponsel di meja nya, mati pantas saja, aku cari charger tak ada, aku cari powerbank ditasku, untung aku membawanya.
Febby, aku harus memberitahukan kondisi Wira, dia menangis. Aku jelaskan sudah meminta dokter Atika datang, untuk menenangkanya Febby.
--
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam Dokter"
Jawabku, Dokter Atika menghampiri Wira kemudian memeriksanya.
"Bu, sebaiknya kita bawa ke Rumah sakit" ucap Dokter Atika, aku hanya menganguk. Dia terdengar menghubunggi seseorang.
----
Dokter Atika menemaniku sebentar dirumah sakit, karena harus ke Klinik, aku memintanya menyampaikan ke Jenny, untuk memending atau Cancel semua yang ada janji dengan Wira.
Dari hasil tes lab, Wira sakit typus, Dokter bisa sakit juga ternyata.
Aku pandangi wajah pucat didepanku, untung Febby menelponku, aku sendiri yang sadar dia tak menhubungi beberapa waktu, tak terpikir jauh untuk mengecek keberadaanya. Teman macam apa diriku ini.
Wira mulai membuka matanya, sayu sekali. Hmm tak tega melihatnya.
Aku memegang keningnya, masih panas tapi tak sepanas tadi sebelum di bawa kerumah sakit.
Wira meraih tanganku dan mendekap didadanya. Kemudian kembali memejamkan matanya. Sebentar kemudian terlihat Wira kembali terlelap. Aku menarik tanganku pelan.
Aku belum mengabari Sintia. Aku mengirimkan pesan padanya. Aku tak kekantor hari ini.
"Bebz, gimana kondisi Wira?, tadi di kasih tau Dokter Atika".
Vivian menelponku, ketika ku baru saja akan menghubunginya
"Udah lumayan saiy, tadi sampai nggak bisa bangun, badanya panas banget, sekarang sudah agak lumayan". Jelasku.
"Kamu kapan pulang?" Tanyaku lagi.
"Ntar malam bebz, besok langsung aku cuzz situ".
"Ya udah, hati-hati ya saiy". Tutupku.
Aku kembali menghampiri Wira, menarik kursi dan duduk disampingnya.
Mengamati wajah pucat pria yang menemaniku akhir-akhir ini.
"Bil" gumannya pelan, matanya masih terpejam.
__ADS_1
"Wira, butuh sesuatu?" tanyaku kemudian.
"Makasih ya" ucapnya kemudian.
Aku memegang tangan Wira yang masih hangat.
"Untuk apa?, sudah seharusnya kan, aku yang minta maaf nggak peka" jawabku.
Wira membuka sedikit matanya. Meletakkan tanganku kembali didadanya.
"Kalau ngasih nasehat ajha pinter, tapi jaga kesehatan sendiri nggak bisa" sindirku.
Bibir pucat itu sedikit tersenyum mendengar ucapanku.
"Selamat siang, makan siangnya saya taruh disini ya". Seorang wanita berkaca mata membawa nampan berisi makanan untuk Wira.
"Terima kasih" jawabku ramah.
"Makan ya!" Tawarku ke Wira.
Wira mengeleng pelan. Hmm dengan sedikit paksaan dan juga ceramah, bubur itu masuk juga beberapa sendok ke mulut Wira.
"Kok udahan, ayok habiskan" paksaku lagi
Mata itu terlihat memohon padaku. Untuk tak menyuapkan lagi makanan.
"Em dua kali lagi" paksaku, dia memberi insyarat dengan matanya menerima permintaanku.
Kusuapkan lagi bubur itu, sesuap demi sesuap dengan terus mengoceh. Lebih dari dua suapan seperti yang kuajukan tadi.
Sampai Wira benar-benar terlihat mau muntah aku baru berhenti, aku mengambilkannya minum.
Aku mengambilkan obat yang harus diminumnya siang ini. Kemudian membantu Wira meminumnya
"Udah istirahat lagi, biar cepet sembuh" ucapku kemudian.
"Makasih ya bil" ucap Wira lagi.
"Iyahh tinggal totalan nanti" jawabku.
Wira tersenyum melihatku, kemudian kembali memejamkan matanya.
"Aku sholat dulu ya, aku tinggal nggak apa-apakan?" Tanyaku.
Wira menganguk. "Iya aku nggak papa, doain aku ya!"
"Hemm aku doain cepet ketemu jodoh ya" jawabku sambil berlalu.
--
Aku sekalian mengambil bekal dimobilku yang disiapkan Nini tadi pagi.
"Nin, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam mba Bil"
"Ada mas Wawan nggak?, kalau ada minta antar mas Wawan ke Rumah sakit xx yah"
"Siapa yang sakit mba?"
"Dokter idolamu" jawabku.
"Hahh Dokter Wira, ahh pantesan nggak kerumah berapa hari ini".
"Makanya, cepetan sini ya". Tutupku.
Aku mengirimkan nama ruangan tempat Wira di rawat.
Ada suara pangilan ponsel dalam tasku, oh aku lupa memasukkan ponsel Wira, aku sempat nyalakan sewaktu berangkat tadi.
Tapi tetap kulihat juga ponsel itu, kusentuh layar hitamnya.
Deg, kenapa ada gambarku, ini foto di pernikahan Sandra waktu itu. Tapi kenapa dia pasang jadi backgroundnya, mana foto paling konyol lagi.
Aku sendiri saja tak pernah memajang fotoku di ponsel. Aku kembali memasukkannya di tas, untung jiwa kepoku tak meronta untuk melihat isi ponsel Wira.
--
Wira terlihat sedang tidur, aku ikut merebahkan badanku di xtrabed. Semenjak hamil aku mudah mengantuk.
--
Samar kulihat Nini duduk di sofa depanku, kukucek mataku, dan bangun berlahan.
"Lho Nin, kapan datang, kok nggak bangunin mba" ucapku padanya.
"Eh bangun, lumayan mba, Nini bawakan makan juga tadi mba"
"Mas Wawan mana?"
"Masih urus pengiriman tadi mba, nanti balik lagi kesini"
Aku hanya memangut mangutkan kepalaku.
"Mba Bil, pak Dokter bangun" ucap Nini pelan sambil menunjuk ke Wira.
Aku segera bangun dari tempat tidur dan menghampiri Wira.
"Bil"
"Minumkah?"
Wira menganguk, kuambil botol air mineral dan memesakukan sedotan kedalamnya.
"Makasih"
"Kembali kasih pak Dokter".
Ucapku, kupegang kening Wira sudah turun demamnya.
"Oh ya wait" aku mengambil ponsel Wira dari dalam tasku dan memberikan padanya.
" Banyak telpon masuk sepertinya" lanjutku.
Dia menatapku.
" Nggak, aku nggak angkat, nggak buka-buka juga kok" imbuhku.
"Buka pun juga nggak papa" ucap Wira pelan.
Hmm penasaran sebenarnya kenapa dia memasang fotoku di situ. Tapi nggak enak juga mau tanya hal itu.
----
Mas Wawan yang menunggui Wira tadi malam, Wira tak ada keluarga disini, orang terdekatnya Febby juga masih diluar kota.
Aku sempatkan ke tempat kost Wira pagi ini, aku harus mengambilkan beberapa barangnya.
Seteah ijin penjaga aku pun bergegas kekamar Wira. Sedikit berberes, bekas handuk kemarin belum sempat aku bereskan. Aku mencucinya dikamar mandi.
Mataku mulai menatapi sudut demi sudut kamar itu.
Pandanganku berhenti disebuah sketsa gambar yang terbingkai rapi, gambar seorang wanita tampak samping sedang memainkan ujung rambutnya, aku tak mau ge er tap ini mirip denganku.
Dan itu kebiasaanku ketika sedang meeting.
__ADS_1
Aku menelan ludahku.
Ahh kenapa aku jadi penasaran sosok Wira, aku belum lama mengenalnya, tapi kami seolah sudah cukup lama kenal.
Aku mendekati meja yang ada dikamar itu, terlihat fotonya bersama seorang perempuan cantik yang sudah berumur, sepertinya ibunya, terbingkai dalam bingkai kayu diatas mejanya.
Bingkai itu terdiri dari dua bagian dan salah satu bagianya..
Itu foto kami dipernikahan Sandra, apa maksud Wira..?
Kuhalau rasa ingin tauku sementara waktu, segera ku buka lemari baju Wira mengambil beberapa helai pakaiannya dan memasukkan kedalam tas yang sudah ku siapkan.
Oh ya Dompet, aku harus mencarinya rumah sakit pasti butuh data lengkapnya. Kemarin Dokter Atika yang mengurus semua.
Aku menemukan nya di laci samping tempat tidurnya. Mataku terhenti pada sebuah buku berwarna biru dibawah dompet tadi. Seperti sebuah catatan harian.
Tuh kan jiwa kepoku mulai meronta, segera kuusir jauh-jauh.
Hmm sudah semua, kupastikan semua sudah rapi dan bersih, aku pun kembali menguncinya.
---
"Loh saiy, dah disini?"
Kulihat Vivian dan Lody sudah bersama Wira saat ku masuk.
"Haiy bebz, hmmuach" Vivian langsung menciumku.
"Iya sekalian ajha berangkat ke klinik" lanjutnya.
Aku memasukkan tas yang berisi pakaian Wira ke dalam lemari.
"Gimana Pak Dokter, dah enakan?" tanyaku mendekati Wira.
"Iya berkat kamu" jawab Wira
"Cie..cie " goda Vivian.
"Apa-an? Tanya dulu alasan kenapa berkat aku?"
Ucapku ke Vivian.
"Kenapa emangnya?"tanya Vivian masih tersenyum.
"Males kalau lama-lama sakitnya, bawel banget perawatnya" keluh Wira, hanya bercanda.
"Perawat yang ini?" Tunjuk Vivian padaku, Wira tersenyum ". "Hahaha baru tau ya, pasti serasa di omelin emak-emak ya?"
Vivian terkekeh, masak sih sampai seperti itu, aku kira biasa ajha, tapi kan itu menurutku sendiri.. aku hanya tersenyum.
"Dahh puas kan " ucapku lagi dengan bibir kumanyunkan
"Sarapannya belum dimakan?" Ucapku melihat bubur di meja masih utuh.
Terlihat Wira sudah berubah raut wajahnya.
"Aku nggak bisa makan bubur, pasti mau muntah" ucapnya kemudian
"Kan sudah dikasih anti muntah, gimana sih kan dirimu Dokter, Nasehatin orang ajha pinter, orang nggak doyan makan dipaksa makan, orang nggak bisa tidur di paksa tidur, giliran dia sendiri yang sakit, rewelnya minta ampun, kan harusnya lebih tau mana yang boleh dimakan atau tidak, kan ini lagi sakit urusan sama pencernaan yah pasti dikasih bubur, udah nggak usah komplen makan",
Ucapku sambil menyuapkan bubur kemulut Wira, Vivian dan Lody tak dapat menahan tawanya.
"Apa-an sih" ucapku sewot
"Nggak ada bebz, hahhaha paling tadi Nini masukin petasan cabe ke sarapan kamu ya"
Vivian tergelak. Aku menatap wajah Wira yang semakin pucat..hmm
"Aku udah minta Nini bawain nasi yang lembek an, dah nggak usah gitu lihatnya, serasa di siksa ibu tiri ya" godaku ke Wira.
"Mingir, kalau perawatnya kaya kamu, yang ada pasien tambah kejang-kejang" ucap Vivian mengambil alih piring dan sendok ditanganku.
"Emm ayo bebobz .. ak..ak " mulut Vivian ikut terbuka, Wira pun membuka mulutnya " ak aemm bagus, lagi ya" .
Perutku sakit menahan tawa, Ya Tuhan betapa konyolnya teman-temanku ini.
"Dasar kalian ya orang lagi sakit malah dibecandain" ucap Lody kemudian.
"Kamu sendiri juga, seneng ajha liatnya" balas Vivian. Lody tergelak.
"Sabar ya Wir" lanjut Lody kemudian
Kulihat Wira hanya tersenyum menangapi kelakuan kami.
"Tuhh kan tinggal dikit" tunjuk Vivian bangga sambil mengangkat piring ditangannya.
Kami kembali tertawa, walau tak ada keluarga didekatnya, kuharap Wira bisa merasakan kasih sayang dari kami para sahabatnya.
---
Kami bergantian menjaganya 5 hari ini, terkadang juga sama-sama, Wira samalah denganku jauh dari keluarga. Keluarga kami ya teman-teman kami ini.
---
"Yakin sudah mau ke klinik?". Ucapku saat mengantarkan makanan ke kostnya.
Perhatian sekali ya aku, jangan salah ini Nini juga yang maksa, dan lagian Wira juga sudah baik banget sama aku, masak aku nggak baik juga sama dia (teruntuk mak2 KBM). Sedikit membela diri.
"Iya udah seminggu lebih, nggak enak sama atasan" ucapnya.
"Atas mana?" Tanyaku sambil mendongak.
Wira hanya tertawa.
"Makan dulu gih, masakan spesial dari Nini buat pak Dokter" ucapku
"Hmm kamu nggak pengen masakin yang spesial juga buat aku?". mata Wira berbinar.
"Emm boleh, ntar kapan-kapan deh" jawabku
"Kapan?"
"Kapan-kapan!" Tegasku.
"Kata Lody masakan kamu enak".
Ucap Wira kemudian. Aku mendengarkan sambil memindah makanan ke piring.
"Nah ketauan kan sering ngomongin aku pasti ya".
"Iya " jawab Wira enteng. Kupikir dia akan mengelak.
"Makan dulu, habis itu minum obatnya jangan lupa, aku ada janji pagi, nggak apa-apa kan nggak bisa nemenin sarapan"
"Iya nggak apa-apa, makasih yah udah .." Wira tak melanjutkan kalimat ya.
"Udah apa?".tanyaku penasaran.
Wira hanya mengeleng dan tersenyum.
"Ya udah, aku pergi dulu. Assalamualaikum nggak usah diantar" pamitku.
"Waalaikum salam, hati-hati" balasnya.
Aku pun menutup kembali pintu kamarnya dan bergegas turun. Aku urungkan niatku bertanya tentang foto-foto itu. Nanti saja pikirku
__ADS_1
Lanjut?