
#BAYANG_MASA_LALU
#BMLPart30
LinDa Vin
Kuseka airmataku, menguatkan bathinku sendiri. Kubergegas mencuci mukaku dan berganti baju, merebahkan raga dan jiwa lelah ku. Menikmati malamku sendiri dan mendung yang bergelayut di hati terbenam dalam pelukan gelapnya malam, terlelap dalam dekapan mimpi.
Kuterluka lagi..lagi dan lagi...
\=\=\=
"Mbak Kenapa?" Tanya Asri ragu melihat mata sembabku.
"Nggak apa-apa As, lagi terharu sama kejutan semalam dari teman-teman" alasanku.
Tapi Asri masih berdiri didepanku, menatapku.
"Maafkan, Asri mba" ucapnya pelan.
"Kenapa minta maaf?, kayak lebaran ajha" gurauku menutupi lukaku yang kembali terbuka semalam.
"Asri yang menaruh bunga dari Mas Rangga dikamar mba" ucapnya kemudian.
Aku sudah menduga, kalau Nini tak mungkin mau bertemu Rangga lagi.
"Asri tak tega, maafkan Asri mba" buliran kecil menetes dari mata Asri, aku mengengam tangan Asri, aku cukup tau perasaanya.
Aku mengenal Asri semenjak dia bekerja di mba Wina, jauh sebelum kumengenal Rangga. Asri yang pendiam, menjadi saksi perjalanan cintaku dan Rangga.
Rangga juga banyak membantunya sewaktu dia dalam masalah keuangan waktu itu.
Lebih dari sekedar hutang budi, tapi rasa sayangnya pada kami.
Air matakupun tak dapat kutahan lajunya, mengalir begitu saja. Buru-buru kumenyekanya.
"Mbak nggak apa-apa, mbak ngerti kok" ucapku menenangkanya
"Nini kemana?" tanyaku lagi.
"Nini belanja ke pasar, makanan sudah siap kalau mba mau sarapan" jawab Asri kemudian.
"Mba, Asri kebelakang dulu, nanti kalau butuh apa-apa pangil saja" pamitnya. Aku menganguk dan tersenyum.
Rangga, bukankan cinta itu harusnya saling menguatkan, tapi cintaku padamu membuatku lemah.
Sampai sekarangpun kau tak berusaha menghubungiku lagi. Sampai kapan kamu mau menunggi Bil?
Nini sudah menyiapkan susu dimeja, sarapan itu saja sudah membuat perutku penuh. Aku meminta Asri menyiapkanku bekal saja.
Kubuka ponselku, ucapan selamat ulang tahun dari mas Firman, belajar dari mana dia bisa menulis kata-kata indah ini, diakhiri sebuah pertanyaan, apa yang bisa kuberikan sebagai jawaban. Aku memilih mendiamkanya.
"Mba, ini bekalnya" ucap Asri.
"Masukin mobil ajha " pintaku.
"Kan mbak ga bawa mobil semalam".
"Iya kah?"
Pikiranku terlalu kalut, jadi lupa aku kemarin dijemput Vivian, pulang dianter Wira. Mobilku masih dikantor.
"Mas Wawan kemana?"
"Sudah berangkat ke gudang tadi mba"
"Terus mba brangkat ke kantornya gimana?" Aku mengaruk kepalaku yang tak gatal.
Aku baru mau membuka tas ku kembali untuk mengambil ponsel untuk memesan taxi online ketika terdengar suara orang mengucapkan salam.
"Coba liat kaya ada tamu " pintaku ke Asri, dia masih membawa bekalku ditangannya, dan berjalan kedepan.
"Mas Dokter" ucap Asri setelah kembali.
Ternyata Wira, dia pasti ingat kalau aku tak bawa Mobil, padahal aku sendiri lupa.
Aku beranjak kedepan, Asri mengikutiku sambil membawakan laptopku di tangan satunya dan bekal yang masih dibawanya.
"Hai" sapaku. Wira menunguku diteras.
Matanya menyipit mengamati wajahku. Pasti dia melihat sembab dimataku.
Wira mengambil kotak makan dan Laptopku dari tangan Asri.
"Bareng?!" Ucapnya, aku menganguk. Dia meletakkan bekal dan laptopku dijok belakang. Kemudian membukakan pintu mobilnya untukku.
Berlahan mobil Wira meninggalkan halaman rumahku.
"Kamu habis nangis?" Tanya Wira memecah kebisuan.
"Iya, kan kamu waktu itu yang bilang, kalau nangis itu bisa bikin hati nyaman" jawabku.
"Iya, tapi kan harus ada sebabnya dan nggak terus-terusan juga". Wira melihatku sedih.
"Emm, bagi tips, biar sembabnya cepet ilang" ucapku ingin lepas dari pertanyaan Wira lainnya.
"Kompres pakai air dingin" jawabnya.
Hari ini Wira terlihat serius dari biasanya.
"Jangan terlalu memikirkan perasaan kamu sendiri Bil, stres nggak bagus buat janin, dampak buruknya besar buat perkembangan janin, jadi tolong jangan egois". Wira menolehku sesaat.
Ucapan Wira benar, ya iyalah dia kan Dokter, tapi memang sebaiknya aku tak boleh terlalu lama berlarut-larut dengan perasaan ini.
"Iya Pak Dokter, terima kasih sudah mengingatkan" ucapku ke Wira.
"Terkadang kamu harus melupakan apa yang kamu rasakan, dan mengingat apa yang pantas kamu dapatkan"
"Aku nggak suka lihat kamu bersedih Bil, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan, ambil hakmu jangan nikmati kesakitanmu". Lanjut Wira.
Aku menarik nafas dalam mendengar ucapan Wira, dia benar lagi, aku harus bahagia demi janin yang ada diperutku ini.
Mobil Wira berhenti di depan kantorku, aku tak pernah memberi tahu alamatnya. Dari mana tau kantorku disini.
"Kamu dari mana tau kantorku disini?" tanyaku kemudian sebelum turun.
Wira hanya tersenyum.
"Emm ngikutin kata hati ajha, taunya kebawa kesini" jawabnya.
"Mana ada, emang nya hati kamu google map" Wira tertawa mendengarku.
Wira turun, dan menbawakan barangku sampai kedepan.
"Sudah sini ajha". Pintaku.
"Makasih ya atas semuanya" lanjutku.
__ADS_1
Wira tersenyum dan menganguk. Aku masih berdiri memandanginya sampai dia masuk mobil, dan sampai mobilnya menghilang dari tangkapan mataku.
"Kak, itu siapa sih, Sintia lihat semalam perhatian banget ke kakak".
Sedikit kaget ketika Sintia muncul dari pintu penghubung kantor ke butik.
"Dokter Wira, dia kerja di Klinik". Jawabku.
Sintia membawakan barangku, kamipun bergegas ke atas.
"Tebakan Sintia dia ada rasa ke Kakak, Sintia bisa lihat dari caranya menatap kakak tadi malam"
Sintia mendudukkan pantatnya di kursi depan meja kerjaku.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Sintia.
"Ganteng sih, imut, perhatian, tapi kok Sintia lebih suka Pak Andre ya hehehe" ucap Sintia sambil terkekeh.
Aku hanya mengelengkan kepalaku.
-----
Kubuka bekalku yang tadi di siapkan Asri, sambil mengecek ponselku.
Aku belum membalas pesan dari mas Firman. Aku bingung akhirnya aku hanya menjawab dengan ucapan terima kasih singkat.
Pesan dari Wira juga, mengingatkanku untuk meminum vitaminku.
----
Hari berganti, semingguan dari hari ulang tahunku, tak ada kabar apapun tentang Rangga, Apakah dia sudah benar-benar tak menginginkanku lagi, tapi kenapa. Ah kenapa juga aku masih terus memikirkanya.
Melupakannya itu yang harus kulakukan mulai dari sekarang.
Sudah sore, kumulai merapikan berkas-berkasku.
"Kak, ada Pak Andre ingin bertemu" ucap Sintia yang muncul dari balik pintu.
"Disini apa dibawah?" Tanyanya lagi.
"Tunggu dibawah saja, sekalian kakak mau pulang" ucapku.
Aku kemasi barang-barangku dan merapikan meja kerjaku.
"Kak jangan lupa pesan Sintia ya" gadis itu tersenyum melihatku keluar ruangan.
"Pesan apa?", tanyaku bingung.
"Pak Andre, ntar suruh munduran dikit, soalnya gantengya kelewatan", Sintia tergelak mengucapkannya.
Fans beratnya Firman rupanya anak ini. Akupun cuma nyengir.
Aku mendorong pelan pintu, mas Firman sedang duduk menungguku.
"Udah mau pulang?" Tanyanya melihatku menenteng tasku. Akupun menganguk.
"Iyes, mas kapan datang?"
Dia memang bolak balik ke Singapura karena mba Ajeng dirawat disana.
"Kemarin malam" jawabnya.
"Mba Ajeng apa kabar?"
"Ya begitulah, masih belum banyak perubahan"
Mas Firman menatapku lekat, ah aku tidak suka tatapan itu. Tatapan yang dulu sering menerbangkan aku ke langit.
"Biasa ajha lihatnya" sungutku.
Tapi mas Firman malah tertawa melihat muka kesalku.
"Selamat Ulang Tahun emm" mas Firman tak melanjutkan kalimatnya.
"Maaf ya telat ngucapinnya, tapi kan kemarin sudah lewat WA, tapi nggak dibalas. Padahal aku dah nulis pakai hati" wajahnya dibuat pura-pura kesal.
"Bila udah bales". Sangahku
"Masak cuma trims"
Aku tertawa melihat ekspresi tidak terima mas Firman.
"Sudah gitu mas send malam siang baru dibalas, dan cuma trims" protesnya.
"Maaf" ucapku dengan sisa tawaku.
"Makasih Doanya buat Bila" lanjutku
"Terus?"
"Apanya yang terus?" tanyaku
"Jawabannya?"
Aku terdiam, selain Doa ada harapan berbalut pertanyaan di untaian kata-kata yang dikirimkan padaku tempo hari.
Aku menghela nafasku dalam.
"Bila lupa, Bila bacanya sekilas terus kata-katanya terlalu indah, kadang otak Bila nggak nyampe memahami maksudnya" alasanku.
Aku belum memiliki jawaban untuknya.
"Bil, kamu mau kita memulai lagi hubungan kita dari awal lagi"
Mas Firman mengucapkanya dengan wajah serius, matanya menatapku tajam.
"Mas Firman serius mau memulai lagi hubungan kita" tanyaku kemudian.
"Lebih dari serius, mas ingin memperbaiki semuanya, mas ingin hidup bahagia bersama wanita yang mas cintai".Mas Firman menatapku teduh.
"Mas mencintaiku?"
"Lebih dari apapun, Dunia juga tau itu".
"Terus mas mau menikahiku segera?secepatnya?".
Mas Firman terdiam. Aku hanya menantangnya. Toh aku harus menunggu kelahiran bayiku dulu.
"Iya kenapa tidak, kita bisa menikah segera".
"Jadi yang Pertama?" Tanyaku, kutatap lekat mata indah yang tercekat itu
"Bila tak mau jadi yang kedua" tegasku.
"Kamu selalu menjadi yang pertama dan satu-satunya dihatiku Bil"
"Bukan hanya di hati, tak ada yang bisa melihat itu, Bila ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya dihadapan semua orang, bukan hanya disimpan dan dimunculkan kemudian bila yang pertama telah menghilang"
Aku tak mau menjalin hubungan semu, sebuah pilihan juga harus dihadapkan pada mas Firman. Dan jujur aku lebih siap menerima kenyataan pahit daripada manis.
__ADS_1
Aneh, tapi itu yang kurasakan. Setidaknya aku akan lebih bisa memantapkan langkahku, baik dengan mas Firman atau tidak denganya.
"Tak mungkin aku menceraikan Ajeng dalam kondisi seperti ini" ucapnya.
"Bila tak meminta mas Firman menceraikan mba Ajeng, tapi bila juga tak mau menjadi yang kedua"
"Bil, bukankah yang penting kita bisa bersama lagi, menjadi Istri pertama hanya soal waktu, kamu tetap satu-satunya yang aku inginkan"
"Terus mas memberikan predikat Pelakor ke Bila, karena masuk dikehidupan mas saat masih menikah dengan mba Ajeng, Tak habis pikir aku mas"
Aku terdiam sesaat.
"Gengam atau relakan, bila mas ingin mengengamku dalam kehidupan mas, Lepaskan mba Ajeng, bila mas tak bisa melepaskan Mba Ajeng, relakan Bila, biarkan Bila sendiri, jangan menjadi bayangan masa lalu Bila"
Mataku masih menatapnya, menunggu kata-kata keluar dari mulut mas Firman.
"Bil, kita hanya menunggu sebentar, akan kuperkenalkan kamu sebagai istriku kesemua orang satu-satunya dan selamanya".
"Menunggu Mba Ajeng sembuh atau menunggu mba Ajeng pergi, mas itu namanya Egois. Tak memikirkan perasaan mba Ajeng dan Bila"
"Ajeng mau dimadu, dia mengijinkanku menikah lagi kapanpun".
"Tapi bukan dengan Bila, itu syaratnya kan"
Mas Firman menatapku, pasti dia bertanya-tanya dari mana aku tau.
"Bil, aku mencintaimu" suara mas Firman terdengar parau.
"Mas, Rangga juga mencintaiku, tapi waktu itu dia juga tak memilihku. Apa bedanya dengan mas Firman sekarang?"
"Bil, aku tak mencintai Ajeng, kamu tau itu kan, hanya kamu dari dulu dihatiku"
"Rangga juga tak mencintai Karina, mas juga tak mencintai mba Ajeng, tapi kenapa tak ada dari kalian yang menjadikan aku pilihan pertama".
Mas Firman tak mampu menjawabku, mas maafkan aku, aku tak bisa menolakmu dengan cara lain. Bahkan aku tak mampu berfikir bila ternyata kau lebih memilihku.
"Lepaskan Bila, biarkan Bila mencari kebahagian Bila sendiri, jangan menjadi bayangan masa lalu Bila, kalau mas tak mampu membahagiakan Bila sepenuhnya, kalau mas tak mampu berikan jiwa dan raga mas seutuhnya, jangan paksakan, itu akan menyakiti Bila lebih dalam lagi".
"Kita akhiri semuanya, cukup sampai disini. Mas percayalah, Bila bisa menjaga diri sendiri. Bila mohon jangan datang lagi, jangan hubungi Bila lagi"
Entah ini penolakanku keberapa kali, tapi dia selalu kembali.
Berat rasanya, tapi semua harus dilepaskan. Bayang masa lalu itu tak boleh hadir kembali. Aku ingin hidup untuk masa depan bukan masa lalu.
Dan Apa bila mas Firman adalah masa depanku, aku ingin memiliki dia seutuhnya tanpa menyakiti siapapun dan itu tak mungkin sekarang.
Mas Firman masih tertunduk, segala kerinduanya padaku tak berbalas sesuai harapnya. Sunguh tak tega aku melihatnya, dia cinta pertamaku, dan dia sangat mencintaiku. Dan aku tak pungkiri rasa itu masih ada untuknya.
Tapi bukankan hidup adalah sebuah pilihan, seperti yang kulakukan aku memilih mengakhiri hubungan yang tak berarah ini.
Mas Firman meraih tangganku, mengengamnya erat.
"Bil, aku mencintaimu dulu,sekarang dan esok, rasa ini akan selalu ada dan tetap sama, meski raga ini tak dapat mendampingimu, tak dapat mendekapmu tapi cinta ini akan selalu menguntai doa untukmu"
Ah mataku berembun, rumit sekali hubungan kita mas.
"Bila juga akan selalu mendoakan yang terbaik buat mas Firman" ucapku ada embun dimataku dan senyum dibibirku. Hadirnya bersamaan mengiris rasa ini.
Mas Firman bangun dari duduknya, berjalan dan berhenti disampingku, mengusap pelan kepalaku.
"Mas akan pergi dari hari-harimu, tapi biarkan mas selalu berharap jodoh akan mempertemukan kita suatu saat nanti, sebagai dua insan yang saling mencintai tanpa ada halangan apapun lagi, semoga kita akan bersama lagi untuk selamanya".
Mas Firman melangkah ke pintu, menariknya dan langkahnya semakin samar menjauh kemudian hilang.
Untuk hal ini aku sudah lebih siap, aku. masih punya hati, aku tak ingin melukai hati mba Ajeng yang tengah berjuang.
Aku sedikitpun tak sakit hati pada mas Firman, karena inilah memang yang harus dia lakukan. Aku justru salut, aku tak merasa kalah karena ini bukan pertandingan.
Aku menarik tas yang kuletakkan diatas meja, sudah waktunya sholat magrib aku memilih kembali keruanganku.
Rasanya ada beban berat yang lepas biarpun tak sepenuhnya, walau ada sedikit ketidak relaan yang hadir, kala harus memilih berakhir. Aku sudah terbiasa dengan hadirnya di hariku, dan esok tak kan lagi ada yang menyapaku lebih dari 3x sehari.
Aku pasti akan merindukanya, oh rasa ini tak bisa kumengerti, kenapa tak pernah mau pergi.
Mas aku berdoa semoga bahagia kan segera menghampiri kamu dan juga aku.
---
Aku baru memeriksa ponselku sesampainya dirumah, selepas membersihkan diri.
Ada yang beda tak ada pesan dari Wira seperti biasanya.
Kenapa aku jadi memikirkannya.
Masih kutimang ponselku, saat ada pangilan dari Vivian masuk.
"Bebz, kamu mau dibelikan apa?"
Vivian berteriak padaku, sepertinya sedang berada dikeramaian.
"Terserah saiyy" balasku
"Apa?" Serunya.
"Chat ajha" aku matikan pangilannya.
Dan segera menuliskan pesan.
Vivian dan Lody sedang berada di Bali, menghadiri perkawinan sepupu mereka.
Perutku lapar, aku segera meloncat dari tempat tidur dan turun ke meja makan.
Nini masak Rendang hmm, nafsu makanku sudah mulai membaik.
"Mba dibuatkan teh maniskah?" tanya Nini aku menganguk.
"Nin, jangan manis-manis" teriakku
Sebentar kemudian Nini sudah datang dengan segelas teh hangat.
"Babang gantengnya kok nggak dateng beberapa hari ini?" Tanya Nini padaku, aku hanya mengangkat bahuku.
Heran perhatian banget Nini ke Wira. Wira terakhir menghubungiku kemarin lusa.
"Nin, kamu kasih apa Rendangnya?" Nini menatapku bingung, "kamu kasih obat tidur ya, mbak jadi ngantuk" ucapku sambil menghabiskan teh ku.
"Itu penyakit mba Bila, habis makan ngantuk" balasnya.
Aku tertawa kecil, " Mbak naik dulu ya" pamitku.
Aku belum sholat, memaksa membuka mata sebentar. Selepas sholat kantukku sudah tak tertahan.
-----
Pagi itu kubuka ponselku sebelum kumasukkan kedalam tas.
Tak ada pesan dari Wira, ah kenapa aku jadi memikirkanya, kulihat waktu dia online terakhir kemarin lusa, tumben, entah kenapa ada kecemasan yang hadir.
Lanjut ??
__ADS_1