
#BAYANG_MASA_LALU
#BMLpart33
#BMLSeries
-------
Aku pun menutup kembali pintu kamarnya dan bergegas turun. Aku urungkan niatku bertanya tentang foto-foto itu.
-----
"Pagi Sint" sapaku, ketika kulihat Sintia sudah duduk di kursinya.
"Pagi Kakak, oh ya berkas yang kemarin belum kakak tanda tangani, tapi kakak cek dulu ya".
"Okay ntar aku periksa, eh pak Wahyu sudah ngabarin belum?"
"Belum sih kak, nanti Sintia konfirmasi lagi"
"Oh..okay"
Akupun bergegas keruanganku.
---
"Kak, kak Vian kirim pesan minta dibuka" Sintia hanya memunculkan kepalanya saja saat memberitahu pesan Vivian.
Aku meraih tasku dan mengambil ponselku,
[Bebz, ada undangan dari Nyonya Sudrajat]
[Besok siang, pembuakaan Paradise Resort]
Kubaca pesan dari Vivian.
"Halo saiy, kok ndadak sih?" aku langsung menelpon Vivian.
"Nggak juga sih, udah dari berapa hari yang lalu datengnya, aku nya lupa, maaf ya"
"Iya pikun akut"
Vivian tertawa mendengarku.
"Ke Klinik dulu, berangkat dari sini ajha, aku belikan gaun cantik buat kamu"
"Oh ya...tengkyu saiyangku, bawa badan doang yes, biar anak-anak salon yang permak muka aku sekalian hehehe"
Candaku.
"Jins kali dipermak" aku tertawa mendengar celetukan Vivian.
"Ya udah, dateng pagi ya!"
"Iya saiy, bye"
Nyonya Sudrajat tak mungkin kami tak datang dia member VVIP di Klinik.
Ahh pasti ada mas Firman, kok jadi deg-deg an sih. Kuhempas jauh pikiranku tentang mas Firman, mulai kembali pada deretan angka dilayar laptopku, dan desain Byan untuk koleksi terbaru.
-----
Berangkat pagi seperti biasa, Nini menitipkan bekal untuk Wira, aku janjian sekalian di Klinik.
Tumben mobil Vivian sudah terparkir, baru jam 8 lewat 15. Kuparkiran mobilku bersebelahan.
Kulihat keruangan Vivian tak ada di tempat, hanya tasnya saja. Ku menuju ke Pantry ada mba Laras ku minta membuatkan teh manis untukku.
Aku bergegas keruanganku, menghempaskan pelan pantatku ke kursi kerjaku. Baru akan kutarik tas untuk mengambil ponsel, pintuku terbuka lebar.
"Pagi bebz, ini aku dah bawain gaunnya"
Ucapnya sambil meletakkan 2 buah gaun diatas sofa.
"Nggak pakai ukuran kamu kan saiy? Godaku.
"Hahahha mau?"
Aku mengeleng.
"Takut tengelam hahaha"
Wira muncul dengan senyum dibibirnya.
"Pagi Wira" sapa Vivian
"Pagi Cantik"
"Ihh makasih"
"Pagi pak Dokter" sapaku
"Pagi bu Dokter" balas Wira.
"Cie. Cie, dah berani sekarang" goda Vivian.
"Nahh 'nglamak' kan saiy, hajar" ucapku
Vivian dan Wira tertawa.
"Pagi-pagi banget, eh mau kemana?" tanya Wira melihat gaun di sofa.
"Ada undangan pembukaan Resort"
Jawab Vivian
"Oh Nyonya Sudrajat, aku dapat juga tapi undangan makan malam"
"Iyakah?, oh sama Lody juga ya?" Tanya Vivian, Wira menganguk.
Wira menatapku, seperti ada yang mau disampaikan.
"Apa? Ga punya gandengan ya?" godaku
"Kan dah couple an sama Lody" lanjutku.
"Ahaiiy, maaf ya bebobz, Nabila sama akyu tak bisa diganggu gugat"
Ucap Vivian.
"Malam saja sama aku" bisik Wira dengan suara jelas, sengaja mengoda Vivian.
"Tak bisa, kamu sama Lody saja, dah couple an mantap itu, Dokter Atika juga malam kok"
"Bebz aku ngajaknya Nabila, belum jawab dia" Wira tak mau kalah.
"Ne ne ne... " Vivian mengerakan telunjuknya.
Aku hanya menahan tawa melihat kelakuan mereka.
"Harusnya malam semua saja, aku sama Nabila kamu seperti biasa sama Lody"
"Undangan kita berdua makan siang bebobz"
"Heiy heiyy sudah kayak rebutan permen ajha" tenangku.
"Dah ah, yuk bebs, aku dah minta Anita sama Risa datang pagi, pasti dah nunggu di salon".
Vivian mengambil kembali baju yang diletakkan di sofa tadi.
"Mau kemana?" tanya Wira padaku
"Kan dah dibilang mau ke salon" jawabku.
Akupun beranjak mengikuti Vivian.
"Eh bentar lupa" aku baru ingat titipan Nini.
Akupun berbalik,mengambil bekal yang sudah Nini siapkan untuk Dokter idolanya itu.
"Em, buat pak Dokter tersayang" godaku
Wira tersenyum
"Makasih yah, perhatian banget"
"Dari Nini" jelasku, Wira mengeleng tersenyum mengoda.
"Makasih ya"
Aku gemas dengan senyum Wira. Sengaja mengodaku.
"Itu dari Nini, Bambang" ucapku kesal sambil berlalu. Wira hanya tertawa, renyah banget tawanya.
Aku menyusul Vivian yang sepertinya sudah masuk ke salon.
Setelah pertempuran yang lumayan membuat pegal kelamaan duduk, puas sekali.
Kulihat ke Vivian.. ah sahabatku itu memang luar biasa dia selalu tampil sempurna.
"Bebz" Vivian mengodaku dengan pose duck facenya, tetap cantik.
Baju pilihan Vivian buatku sangat pas dengan posturku, dan memyamarkan perutku yang mulai terlihat.
"Ris, fotoin kita" Vivian memberikan ponselnya kepada Risa. Berbagai gaya seperti biasa, tapi kebanyakan konyol dari pada cantik.. akunya..
"Wuih lama juga ya ternyata" ucapku melihat jam diponsel Vivian.
Sebuah clutch bag dan alas kaki memyempurnakan penampilan kami hari ini. Dan tetep aku selalu minder dengan tinggi badannya.
__ADS_1
Bukan, bukan aku yang pendek (pede) Vivian yang terlalu tinggi.
"Ssstttt tenang, ada bonus buat kalian nanti" ucap Vivian sebelum keluar, disambut senyum lebar Anita dan Risa.
Kami lewat pintu belakang, karena di depan sudah banyak pelangan.
Kami berpapasan dengan Wira saat menuju tempat parkir, aku dan Vivian menghentikan langkah kami.
"Wira" sapa Vivian, dia pasti ingin mendengar pujian dari Wira.
"Perfect" puji Wira, disambut senyum manis .. senyum genit tepatnya oleh Vivian.
Wira menatapku tak bergeming.
"Haiy" Vivian menepuk lengan Wira.
"Liat Nabila sampai segitunya" goda Vivian.
Aku jadi salah tingkah sendiri.
Wira membisikkan sesuatu ke Vivian, sahabatku itu terkekeh. Kemudian bersalaman seperti tanda kesepakatan.
"Apa an sih?" tanyaku melihat keduanya.
Wira hanya senyum-senyum.
"Duluan ya .. sudah ditunggu" pamit Wira, "Bebz jangan lupa pesanku" lanjutnya. Dokter itu tersenyum manis padaku
Kemudian berlalu.
"Apa an?" tanyaku kepo ke Vivian tapi dia hanya mengeleng dan tertawa.
Aku memanyunkan bibirku sebal, Vivian tambah terkekeh.
"Saiy, tau lokasinya?" Tanyaku, Aku pribadi tak terlalu tau sudut kota ini. Vivian menganguk, dia fokus mengemudi kami menuju arah luar kota.
Lumayan perjalananya, tiba juga..wow.. resort cukup besar tampak dari luar,dengan konsep trandisional.
Mobil diarahkan petugas ke arah parkir khusus undangan. Mobil mewah terparkir berjajar. Disudut lain tampak berderet papan ucapan selamat.
Kenapa jantungku jadi berdegub kencang. Perasaanku tak enak.
"Bebz, kenapa kok tegang gitu?" Vivian menyadari kondisiku rupanya.
"Nggak apa-apa saiy, unik ya konsep resortnya, dari luar saja dah keliatan bagus" alihku. Vivian menganguk setuju, kamipun turun dari mobil.
Didepan kami sudah disambut ramah para pegawai yang berbaris, terhampar karpet merah di jalan masuk, kembali tamu disambut dan mengisi buku tamu, didalam sudah cukup ramai meja diatur sedemikian rupa, ada pangung cukup besar dan penyajian makanan yang di atur disamping kanan dan kiri ruangan.
Vivian menarik tanganku, sepertinya dia sudah menemukan keberadaan yang punya acara. Tuhan kenapa dadaku semakin berdegub.
Kami menghampiri dan mengucapkan selamat, Vivian mengucapkan lebih dahulu.
"Selamat ya Bu, semoga sukses kedepannya" ucapku.
Perempuan itu kemudian memeluk dan menciumku.
"Kamu cantik sekali" pujinya padaku.
"Bagaimana kabar kamu" tanyanya lagi.
"Nabila baik bu" jawabku manis.
"Bil.. " Ayu menghampiriku yang masih berdiri didepan Ibunya.
Kamipun berpelukan, akupun mengucapkan selamat padanya.
"Apa kabar?"
"Baik Ay, kamu kurusan ya?" Kulihat dia tak semontok biasanya.
"Yes keliatan ya?, buat persiapan dilamar". Ucapnya senang.
"Oh ya, selamat ya" aku kembali memeluknya.
Eits mana Vivian, ku menoleh ternyata dia bertemu mama Lody tante Mila.
"Aku pengen cerita-cerita kapan kamu ada waktu" tanya Ayu padaku.
"Aku selalu ada waktu, kamu saja yang sibuk kan?!" Jawabku.
Ayu menghentikan obrolanya, ketika melihat Kakaknya datang, ya mas Firman.
Ibu yang sedari tadi mengobrol dengan tante Mila pun mengalihkan pandangannya ke arahku.
Akupun tersenyum kearahnya, entah kenapa jadi kaku begini, mungkin karena Ibu dan Ayu memperhatikanku.
"Selamat ya mas" ucapku mengulurkan tanganku.
"Makasih udah datang" balasnya menyambut uluran tanganku.
Seorang wanita muncul dari belakang mas Firman sepertinya itu mba Ajeng, walau terlihat pucat dan kurus tetap terlihat cantik.
Tapi tatapannya padaku, tajam tak senang.
Aku menarikya, tapi mas Firman sengaja menahannya.
Ya Tuhan orang ini, pipiku panas, hatiku tak nyaman apalagi melihat tatapan mata wanita itu. Ayu dan Ibu belum melepas pandanganya dariku.
"Mas" pangil Ayu, pada kakaknya itu kemudian menarik tanganku.
Aku menunduk sebentar, dan menyapa mba Ajeng yang kini berdiri disamping mas Firman.
"Selamat ya mba" ucapku mengulurkan tanganku, Ya Tuhan dia seolah tak melihatku, dia tak menghiraukan uluran tanganku.
Aku hanya tersenyum kecut, mas Firman terlihat akan meraih tanganku tapi Ayu meraih tanganku lebih dulu dan menarikku sedikit menjauh.
"Bil, are you okay" tanyanya padaku.
Aku menarik nafasku dalam. Aih kenapa juga jadi seperti ini.
"Nggak apa-apa Ay" jawabku mencoba tersenyum.
Vivian menghampiriku, menatapku dengan wajah penuh tanda tanya.
Acaranya sudah mau di mulai, semua keluarga Sudrajat menuju ke pangung, tamu yang lain mulai menempati meja-meja diruangan itu, mas Firman menatapku aku anggukan sedikit kepalaku, sebagai isyarat aku baik-baik saja. Diapun mengikuti langkah keluarganya menuju ke pangung.
Vivian menarikku ke meja, sudah ada mama Lody dan seorang temannya.
"Kamu kenapa?"
Bisik Vivian ditelingaku, aku mengeleng.
"Nggak mungkin" bisiknya lagi penasaran.
Aku menoleh kearahnya dan kemudian menganguk.
"Nanti" jawabku pelan.
Pandanganku ke depan, ke arah pangung, sedang ada sambutan dari Pak Sudrajat.
Acara berlanjut dengan menayangkan Profil perusahaan dan penampakan resort beserta fasilitas didalamnya di layar besar yang berada disisi pangung.
Terasa getaran dari tas kecil yang sedang kupegang. Aku ambil ponselku, membaca pesan yang masuk.
[Bil, mas minta maaf ya]
Mas Firman yang mengirimiku pesan, kusapukan padanganku, dia sudah tak tampak didepan.
[Kamu cantik sekali hari ini 😘]
Lanjutnya lagi. Aku kembali mencari sosoknya.
[Nyari aku ya, hhmm coba kamu pejamkan mata 30 detik]
Mataku masih mencarinya kesekeliling.
[Pejamin mata dulu]
Entahlah kenapa aku menurutinya, aku memejamkan mataku.
Kubuka mataku saat ponselku kembali bergetar.
[PIC ] Foto mas Firman
[Dasar ]balasku sebal
Pesan suara masuk
{Kamu tambah ngegemesin tau nggak sih? Kalau lagi kesel gitu hahaha}
Ihh.. kenapa juga masih kutangapi. Segera kumasukkan kembali ponselku.
Kembali terasa bergetar. Kubiarkan.
Vivian menoleh kearahku alisnya terangkat, aku kembali mengeleng, kini matanya yang menyipit.
"Nanti" jawabku pelan.
"Kamu baik-baik saja" lanjutnya pelan.
"Tak begitu" jawabku.
Kulihat sudah banyak tamu yang berdiri, mulai berjalan ke sisi ruangan tempat hidangan.
Mama Lody mengajak kami, kami persilahkan mereka duluan, Vivian menyimpan rasa penasaran yang besar dan banyak pertanyaan tentang yang terjadi.
Dagunya terangkat, setelah mama Lody dan temannya meninggalkan meja.
"Nggak disini juga saiy, nanti pas di klinik aja" jawabku.
__ADS_1
"Aih bebz, lama nya, sekarang ja"
"Ceritanya panjang, dari pada tambah penasaran ceritanya seperempat jalan kan"
Jawabku.
Vivian menyerah juga dengan tak iklas
"Iya, aku kan dah bilang iya" yakinku demi melihat senyumnya.
"Bil, ayoh di cobain dulu hidangannya"
Aku sedikit kaget Ibu mas Firman sudah disampingku, dia menghampiri mejaku.
Perasaanku tiba-tiba tak enak, apalagi dengan pesan mas Firman barusan, semoga kegilaan Pria itu tak terulang.
"Iya bu" ucapku sambil bangun dari dudukku.
"Eh sebentar, ibu tinggal dulu" pamitnya sambil menepuk pelan bahuku. Dia berjalan ke arah sekumpulan wanita-wanita sebayanya. Mungin itu yang namanya wanita sosialita mentereng penampilannya.
"Akrab banget, pake disamperin loh" ucap Vivian keheranan.
Baru kami akan beranjak, seorang pria muda menyampaikan pesan untukku.
Dia memintaku mengikutinya. Pasti mas Firman.
"Ada apa lagi?" tanya Vivian padaku.
"Bebz beneran aku bisa mati penasaran" lanjutnya.
"Saiy bentar ya, aku tinggal bentar saja" pintaku.
Pesannya aku diminta mengikutinya, atau dia akan memangilku dari pengeras suara. Pilihan pertama yang terpaksa aku pilih.
Aku mengikuti pemuda itu keluar dari ruang pesta, dia membawaku ke sebuah ruangan cukup besar, dan mempersilahkanku masuk.
Sesuai dugaanku, mas Firman sudah menungguku disana. Aku tak suka rasa yang bercampur dalam dadaku, begitu membuatku tak nyaman.
"Ada apa lagi sih mas?" Tanyaku dengan wajah lesu, jujur aku ketakutan sendiri dengan kenekatan yang sering dilakukan ayah Armand ini.
"Tanyanya kok gitu, nggak seneng ya ketemu aku" ucapnya mendekatiku.
Aku terdiam, entah kenapa aku jadi panas dingin.
" Bil, kamu cantik banget hari ini, makanya penget liatin kamu terus" ucapnya.
"Mas, diluar juga banyak tamu yang lebih cantik, kenapa nggak liatin mereka aja".
Diluar bertebaran wanita cantik disana, sekelas Vivian bahkan lebih apalah diriku dibanding mereka.
"Aku maunya cuma kamu" matanya menatapku lekat, pandangan kami beradu, ada yang terlihat membara disana.
Kepalaku langsung terasa berputar.
"Mas kita kan sudah pernah membicarakan ini sebelumnya" ucapku, aku menenangkan diriku sendiri yang sudah mulai kacau.
"Iya dan mas sudah berfikir kembali, mas tak akan punya kesempatan lagi nanti, oleh dari itu, aku memutuskan memberikan satu kesempatan lagi untuk memperjuangkan cintaku sekarang".
Rasanya aku berdiri tanpa tenaga, aku hanya bisa mendengarkanya.
"Aku memilihmu, aku menginginkan kamu, aku akan menceraikan Ajeng kita akan bersama" tegas mas Firman padaku.
Aku limbung badanku lemas seketika, aku mencari pegangan, aku memegang tangan pria itu untuk membantuku tetap berdiri.
Mas Firman menyadari keadaanku, dia memegangku dan membawaku ke kursi.
"Kamu kenapa?" Tatapnya cemas
Aku mengeleng badanku panas dingin rasanya. Aku tak siap dengan semua ini.
"Mas, Bila nggak bisa" ucapku, aku bingung, tantanganku waktu itu menjadi boomerang untuk diriku sendiri.
"Bil, mas menunggu lebih dari 10 tahun untuk hari ini" ucap mas Firman. Aku tau tapi aku benar-benar belum siap, batinku.
"Bukankan kita saling mencintai?" Tanyanya.
"Apa kamu masih mencintai Ranggamu itu?" Lanjutnya.
"Dia tak pantas buatmu Bil, dia yang sudah meningalkanmu dengan sadarnya, aku juga bukan tanpa salah padamu, tapi aku akan membuat diriku pantas untuk cintamu kembali"
"Mas ini Gila, nggak bisa seperti itu" ucapku.
"Iya aku memang gila, begitu ku sangat mengilaimu, aku tak pernah bisa melupakanmu, cinta ini tak pernah hilang dari dulu sampai sekarang dan semakin besar, kamu tau rasanya, sakit dan tersiksa, mencoba berbahagia saat kau dengan lain, menepikan rasaku, tapi saat kamu sudah sendiri lagi tak akan kulewatkan lagi kesempatan itu"
Mas Firman menatapku lekat, meyakinkan hatiku akan perasaanya padaku. Aku percaya tapi bukan keraguan atasnya, tapi diriku sendiri.
"Mas aku hamil" tegasku padanya.
Mata mas Firman menyipit demi mendengar lagi ucapanku. Aku mengaguk.
"Iya aku hamil anak Rangga" ulangku.
"Kamu hamil? dan Dia meninggalkanmu?"
"Dia belum tau"
"Kamu tak memberitahunya?".
"Aku coba menghubunginya, dia tak membalasku"
"Ya sudah, bukan masalah lagi kan, dia yang tak mau tau, apa yang masih kamu harapkan darinya".
"Maafkan aku Bil, aku egois ya, tapi cinta ini yang membuatku egois" lanjutnya.
"Aku disini, dan ini bukan masalah buatku" ucapnya sambil melihat ke arah perutku.
"Mas jangan seperti ini, kita pikirkan baik-baik, kita pikirkan juga perasaan orang disekitar kita".
"Bil, kita yang akan menjalani hubungan ini, bukan orang lain".
Aku bingung memberi penjelasanya padanya, kalau semua tak semudah itu.
"Mas tau kan? mas nggak bisa menikahi wanita hamil dan aku hamil".
"Aku akan menunggu sampai kamu melahirkan" yakinnya.
" Bagaimana tangapan keluarga mas?, apa mas sudah memikirkan tangapan mereka". Tanyaku, supaya dia memikirkan kembali keputusan gila nya ini.
"Mereka juga menginginkankan kamu, masalah kamu hamil tak sulit bagiku meyakinkan mereka" yakin mas Firman.
Aku seperti tak mendapat jalan apapun. Semua dimentahkah begitu saja oleh pria gila ini.
"Bila minta waktu" hanya itu yang sangup kukatakan.
"Mas selalu menunggu"
"Dan tolong jangan melakukan apapun, Bila mohon".
Aku takut dengan kenekatanya yang kadang diluar prediksi.
"Seperti aku melamar ke orang tuamu?, Ibu dan Ayah sudah siap meminta maaf kekeluargamu".
Benarkan dia sudah berfikir jauh dari dugaanku.
"Mas orang tuaku, keluargaku belum tau masalahku dengan Rangga, jadi tolong beri Bila waktu menyeleseikan permasalahan Bila, dan jangan melakukan apapun" tegasku padanya.
"Belum tau?" Tanya nya, aku menganguk.
"Aku akan bersabar demi kenyamananmu"
Ucapnya.
Kurasakan ponselku bergetar dari tadi, pasti Vivian menelponku.
[Bebz, kamu dimana? Lama sekali]
[Bebz....]
Pesan Vivian dan pangilan tak terjawab.
[Iya sebentar lagi, tunggu saiy]
Balasku.
"Mas, Vivian sudah menungguku" ucapku.
Mas Firman menganguk.
Kamipun berdiri dan berjalan menuju pintu, mas Firman membukakan pintu untukku. Dan kami berjalan kembali masuk ke tempat acara.
Apa yang kurasakan tak bisa kugambarkan, serasa mimpi dan aku ingin segera bangun, karena ini membuatku sesak. Tapi ini bukan mimpi.
Aku mencari Vivian, tak sulit menemukanya, tapi mas Firman menarikku, membawaku ke orang tuanya. Aku tak melihat mba Ajeng diantara mereka.
"Bil " Ayu tersenyum padaku.
"Pak" sapaku ke pak Sudrajat, pria itu tersenyum dan merentangkan tanganya.
Kaget rasanya dia memelukku. Kepalaku benar-benar makin sakit.
"Maafkan Bapak ya" ucapnya kemudian. Aku menganguk pelan dan memaksa tersenyum.
Mas Firman menatapku, seolah meyakinkan apa disampaikan barusan tadi sudah mendapat restu keluarganya.
Bersambung.
(Mari kita berpusing bersama, penulis perutnya sampai mulas).
Terima kasih sudah di Aprove untuk Admin.
__ADS_1
KriSannya selalu ditunggu ya..
Terima kasih untuk pembaca setia, mohon pengertian akan ada sedikit jeda lebih lama untuk part berikutnya. Sabar ya..