
#BAYANG_MASA_LALU
#BMLpart_28_29
LinDa Vin
Wira ...
Aku tau kau hanya ingin menghiburku, dan kau bisa melakukan itu. Aku nyaman bersamamu sebagai seorang teman, tak ada anganku tentangmu ataupun pria lainnya sekarang ini.
Tapi aku tak bisa berjalan sendiri, aku membutuhkanmu, Vivian dan lainnya, agar aku tak tengelam dalam lautan dukaku dan menikmati sendiri kesakitan ini yang pasti membuatku terpuruk.
Kedekatan ini berjalan begitu saja, mengalir seperti air.
Aku tak bisa menghindarimu, apa alasanku. Dan aku sedang tak ingin sendiri.
"Hayy, melamun ajha".
Wira menjentik pelan ujung hidungku, aku melihatnya dan tersenyum untuk menyembunyikan segala gundahku, walau ku tau dia tetap bisa membaca itu.
"Mba Bil, makannya aku siapin ya" ucap Nini mendekat.
"Mau disuapin?" Tawar Wira.
Aku mengeleng.
"Aku bisa sendiri, dikit ajha Nin" pintaku ke Nini.
"Kok sedikit?, harus banyak makannya, kan bukan hanya buat kamu sendiri"
Wira mengambil piring yang ditangan Nini memasukkan semua ke piring dan tak menyisakannya.
Pelan kumakan tetapi tetap saja tak mampu baru separo sudah mual mau muntah. Aku mengeleng, tak dapat meneruskan makanku. Aku memberikan piringku ke Wira, dia mengambilkanku segelas teh hangat.
"Selamat pagi" sapa 2 orang perawat yang masuk setelah mengetuk pintu kamar yang sudah terbuka.
"Pulang ya?, dilepas dulu ya ininya" tanya perawat itu ramah kemudian melepas infusku, aku menutup mataku saat perawat itu akan menarik jarum di pungung tangan kiriku.
"Kamu kenapa?" Tanya Wira melihat ekspresiku.
"Takut" jawabku. Dia malah tertawa.
Ini kali pertama aku terkapar diatas ranjang rumah sakit.
"Ini pertama tauk" alasanku.
"Nggak sakit kok, nggak terasa kan?". Ucap perawat itu sambil menutup bekas jarum dengan plester bulat.
"Ini obatnya, aturan minumnya ada di bungkusnya ya" Perawat satunya menyerahkan bungkusan obat di tangannya kepada Wira.
"Terima kasih, semoga sehat selalu, kami permisi" pamitnya kemudian.
"Terima kasih Sust" ucapku dan Wira.
Nini terlihat sudah berkemas, Wira membantuku bangun, aku masih duduk di tepi ranjang dengan kaki mengantung.
"Nin, sendalku mana?" Aku lihat tak ada alas kaki dibawahku.
"Oh iya lupa" Nini nyenggir sambil membongkar kembali tas nya. Dia mengeluarkan sebuah bungkusan dan beranjak ke arahku.
Wira mengambil dari tangan Nini, ketika gadis itu akan membukanya.
Wira membuka bungkusan sendal itu dan memasangnya di kakiku.
Nini menatap kearahku, alisnya terangkat, bibirnya bergerak tanpa suara "wow".
"Ayok" Wira membantuku turun.
"Pelan-pelan" ucapnya.
"Aku nggak apa-apa bambang jangan lebay"
Dia menuntunku seolah aku tak bisa berjalan sendiri.
"Kamu kalo jalan suka meleng soalnya, makanya aku kuatir ajha" aku hanya nyengir, dia memang benar.
Aku mengandeng Nini, berjalan keluar, Wira mengikuti kami.
Kusapukan pandanganku berkeliling, bagaimana Rangga dan Kyla, bagaimana mungkin darah mereka tak sama, apa mungkin Kyla bukan anak Rangga.
Kalau benar, betapa hancurnya perasaannya, lalu Kyla anak siapa, tapi Karina begitu yakin itu anak Rangga.
"Mba.. awas tangga" seru Nini padaku, dia menyadari aku tak melihat jalan.
"Tuh kan suka meleng kalo jalan" celetuk Wira dibelakangku.
Dan dia benar. Tak ada bantahan dariku.
"Tunggu sini ajha, aku ambil mobil dulu" pinta Wira.
Aku menunggunya di depan Lobby Rumah sakit.
Mataku terkesiap saat kulihat Mobil Rangga, bergerak keluar dari rumah sakit. Dadaku kembali berdegub lebih kencang. Berarti dia masih disini untuk Kyla dan Karina.
Lamunanku membuyar saat mobil Wira berhenti di depanku. Nini membukakan pintu untukku. Berlahan mobil Wira membawaku menjauh dari Rumah sakit.
"Melamun lagi"
Wira menyentuh ujung hidungku.
"Emm.. Pak Dokter, kalau anak itu pasti mewarisi golongan darah orang tuanya yah?" tanyaku ke Wira.
"Ya pastilah, mewarisi golongan darah orang tuanya"
"Kalau seorang anak , ibunya B ayahnya O mungkin nggak anaknya golongan darahnya AB?" tanyaku kemudian.
"Nggak mungkinlah, kalau ibu B ayah O anak bisa B bisa O tak mungkin AB, kalo AB itu berasal dari orang tua yang bergolongan darah A, B dan AB" jelasnya.
Aku terdiam. Kalau Kyla anak Rangga kenapa bisa berbeda, terus apa yang Rangga rasakan sekarang ya, setelah tau ternyata darah mereka tak sama, tapi tadipun dia masih bersama mereka.. sakit rasanya.
"Ada apa, tiba-tiba tanya golongan darah" tanya Wira kemudian.
'Nggak, pengen tau ajha, kan ilmu juga itu" jawabku.
Tak banyak pembicaraan sepanjang perjalanan pulang, sampai mobil Wira tiba didepan pagar, Nini turun dan membuka pagar. Wira memasukan mobilnya sampai halaman.
Dia segera turun dan membukakan pintu untukku.
Nini mengeluarkan barang dari mobil Wira, dan bergegas masuk kerumah.
"Makasih ya pak Dokter, dah banyak bantu " ucapku.
"Jangan sungkan menghubungiku, aku balik dulu ya, kamu jaga diri, Assalamualikum" pamitnya.
Aku menganguk dan membalas salamnya dia beranjak dan masuk kedalam mobilnya.
Nini keluar dan menutup pagar, aku masuk dan duduk di sofa.
Aku mengambil ponselku di tas yang Nini letakkan di meja depanku.
Aku buka dan melihat pesan serta pangilan yang masuk, tak ada dari nama Rangga. Kembali kuletakkan diatas meja tanpa membuka pesan lainnya.
Direlung hati terdalam aku masih mengharapkanya, tapi untuk memohon lagi dia kembali aku tak bisa, aku bukanlah manusia tanpa cela, aku pernah menduakan nya. Tapi apa salah kalau aku minta dia yang memperjuangkanku sekarang.
"Bebz"
Teriakan Vivian membuyarkan lamunanku. Kuusap titik air disudut mataku.
Senyum mengembang di wajah cantik itu. Dia meletakkan parcel buah di meja, kemudian mencium pipi kanan kiriku.
"Kekamar yuk, sekalian aku mau mandi" ajakku. Vivian mengandengku menaiki tangga.
Aku membuka kamar, Vivian membuka tirai dan jendela.
Pandangannya berhenti di foto perkawinanku dan Rangga yang masih kupajang.
"Aku mandi dulu saiy"
"Iya bebz" Vivian berjalan ke ranjangku, dan duduk disana.
Terasa lebih segar setelah membersihkan badanku, Vivian terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Bebz, Wira nggak pulang ya semalam, jagain kamu?" Tanya Vivian dia meletakkan ponselnya kembali kedalam tasnya.
"Iya, nemenin Nini jaga shiff malam" jawabku.
"Eh bebz, masak nggak nyadar sih, Wira perhatian ke kamu itu over banget"
Vivian memancingku.
"Masak sih, sama ajha kayak kamu ke aku saiy" tutupku, walau terlintas juga sebenarnya.
"Lah wajar lah bebz, aku dari jaman bahula temenan sama kamu, lagian kan aku cewek, jangan pura-pura nggak tau deh, nggak mungkin nggak ngerasa kalau Wira ada rasa iya kan?".
"Saiy, Wira kan udah punya Febby, jangan berfikiran aneh-aneh ah". Sangahku.
"Yakin pacarnya?, Wira ajha nggak pernah bilang apa-apa tentang Febby, sapa tau adik pa ponakan, mirip gitu mukanya.
Beneran bebz, aku sering banget dia liatin kamu terpesona gitu, kamunya ajha yang nggak peka", Vivian berdiri dan mendekatiku yang masih mengeringkan rambutku di meja rias.
"Perasaan kamu ajha saiy, dia kan memang gitu orangnya ke kamu juga sering godain kan"
"Nggak, aku yakin, dia ada rasa kekamu".
"Lah terus mau diapain?"
"Ya nggak ada, eh tapi bebz, kamu ada rasa nggak sih, kayaknya nyaman banget kalau kamu deket dia"
Jiwa kepo Vivian muncul. Aku tersenyum kecut.
"Saiy, luka disini itu masih basah, bernanah " tanganku menunjuk dadaku. "Beneran aku nggak berangan apapun tentang cintaku sekarang. Aku hanya ingin menjaga anakku yang disini" aku mengelus perutku yang masih terlihat rata.
"Tapi aku tak ingin sendiri aku butuh kamu Wira dan lainnya untuk bersamaku". Ucapku.
Vivian memelukku.
Aku pernah sendiri dalam kondisi yang hampir sama seperti ini, jauh lebih menyakitkan bahkan.
Itulah yang menjadikan aku kuat seperti sekarang, kepahitan lebih dari ini sudah pernah kurasakan dan kenyang ku kenyam.
Tapi kini aku tak sendiri, dan aku tak mau sendiri.
"Bebz, nggak apa-apa kah aku tinggal dulu"
"Nggak papa saiy, aku dah enakan kok" tenangku ke Vivian.
"Ya udah, ntar kalo nggak besok deh sini lagi, hari ini pas banyak janji juga soalnya, eitts Nggak usah dianter kebawah capek naik turun"
Vivian mendudukkan ku saat ku akan bangun dari kursiku.
" Iya udah hati hati ya" setela cipika - cipiki Vivian beranjak keluar dan turun.
Ku cari ponselku, aku masih meninggalkanya di bawah tadi. Aku bergegas turun.
Masih berharap, selalu. Entahlah ada apa denganku, apa yang sebenarnya aku inginkan, masih saja berharap Rangga kembali, rasa itu semakin besar setelah kutau ada benihnya dirahimku. Rasa yang ingin kuingkari, rasa yang ingin kututupi dari orang sekitarku.
Tak adapun, hanya mas Firman yang pesannya belum kubalas juga. Mas Firman ahh kamu seperti mendapat peluang, dan kamu seperti tak menyiakan kesempatan. Aku cukup tau sifat ngeyel dan keras kepalamu, kamu juga tak pernah memenuhi akan janjimu untuk menjauhiku. Berkali kuminta tapi selalu saja ada hal yang membuatku kembali.
Baru akan kuletakkan ponselku ketika terdengar ada pangilan masuk. Mas Firman..
"Assalamualaikum mas" salamku
"WaalaikumsalamĂ m, Bil, kamu baik-baik saja kan?" Terdengar suara cemas disana.
"Maaf mas, Bila belum balas pesan mas Firman" ucapku tak enak.
"Sudah biasa hehehe, tak apa bagiku kau tak balas pesanku, asal kau balas rasa di hatiku"
"Apa-an sih, mas dimana sekarang?"
"Raga mas jauh terdampar disini, tapi hati mas tertingal disana bersama Nabilaku"
"Aku matiin kalau mas ngomong nggak jelas gini, nggak suka ah" ucapku kesal
Entah salah makan apa mas Firman.
"Iya.. iya maaf, mas malah jadi kangen kan, pengen lihat wajah kamu kalau lagi kesel gini"
"Ihh "
__ADS_1
"Banyak hal yang ingin mas sampaikan nanti, eh udah dulu ntar mas telpon lagi ya, da Bilaku"
Mas Firman menutup telpon nya, sepertinya ketidak warasanya kembali dan aku merasa akan berlanjut. Perpisahanku dengan Rangga seperti membuka jalannya untuk kembali.
-----
"Mba Bila, ada mas Dokter Ganteng dibawah"
Nini mengetuk pintu kamarku. Aku masih menghadap layar laptopku.
"Iya, ntar lagi mba turun"
Kuberanjak keluar dan menuruni tangga, Wira sudah duduk ditempat biasanya. Sepertinya dia belum sempat pulang, Wira masih mengenakan kemeja.
"Baru pulang ya?" Sapaku
Wira tersenyum melihatku
"Dah makan belum, makan dulu yuk" ajakku
"Udah tadi, kamu sendiri dah makan? Vitaminya nggak lupa diminum kan?"
"Iya Pak Dokter, sudah semua" jawabku.
Wira masih menatapku membuatku salah tingkah.
"Lihatnya gitu banget"
Aku mengusap mata Wira dengan tanganku.
Dan dia hanya tertawa.
"Nggak boleh ya?"
"Ya nggaklah"
"Terus gimana dong supaya boleh?" Tanyanya sambil tersenyum, pertanyaan-nya menjebakku. Aku terdiam.
"Malah bengong, serius ini aku tanyanya" lanjut Wira.
"Auk ahh" aku tak dapat menjawab pertanyaannya, walaupun aku tau maksudnya.
Wira hanya tersenyum, melihatku salah tingkah.
"Aku tunggu ya jawabanya" ucapnya kemudian.
"Aku buatin minum dulu ya?" Kucoba mengalihkan pembicaraan.
Aku meningalkanya, walau belum Wira menjawab.
Aku kembali dengan secangkir kopi untuk Wira dan secangkir teh untukku.
Dan meletakkan nya dimeja. Wira meletakkan ponselnya yang baru dipegangnya.
"Bil, Rencana kedepan kamu apa?, Kamu sudah memberi tahu suami kamu, eh maksudku mantan suami kamu kalau kamu sedang hamil?" Tanya Wira tiba-tiba, wajahnya terlihat lebih serius.
"Maaf bukan aku mau ikut campur" lanjutnya.
Aku mengeleng.
"Rangga tak mengubungiku lagi, mungkin dia sudah tak perduli", ucapku getir.
"Apa yang sebenarnya terjadi Bil? Hanya lelaki bodoh yang bisa meninggalkan kamu, dan bukankan dia mencintai kamu".
Aku terdiam, aku malas bercerita tak ingin mengungkit sakit ini.
"Maaf, aku jadi membuka lukamu" ucap Wira kemudian.
"Nggak apa-apa, iya tak seharusnya aku menghindari masalah ini, dan menyembunyikannya dari Rangga, aku hanya butuh waktu, luka ini masih begitu perih".
"Kalau Rangga menginginkanmu kembali?" Tatapan Wira berubah saat dia menanyakan hal itu.
Aku terdiam, antara luka, harapan, cinta, keraguan, semua melebur menjadi satu. Antara rasa ingin kembali, tapi harga diri ini sudah begitu terinjak dan terkoyak, ketika Rangga menyingkirkanku dari hidupnya.
"Aku tak bisa menjawabnya, terlalu dini untuk berandai-andai" jawabku.
"Apakah masih ada ruang dihatimu, untuk cinta yang lain?"
Pertanyaan Wira terasa semakin dalam, dia mencoba menyelami rasaku.
Aku tersenyum getir.
"Bukankah cinta itu seharusnya membuat kita bahagia, tapi kenapa cinta membuatku terluka, apakah aku masih bisa percaya cinta?". Pandanganku kulepas jauh, serasa menembus tembok taman didepanku.
"Bukan cinta yang membuat luka, tapi manusianya, manusia yang mengatas namakan cinta, karena cinta itu putih, cinta itu kasih, cinta itu suci, cinta tak akan pernah menyakiti siapapun".
"Apakah kamu pernah merasakan, ketika cinta yang kita rasakan di abaikan dan tak berbalas kebahagiaan seperti yang kita inginkan?" Tanyaku ke Wira agar dia memahami sakitku.
Wira tersenyum, tapi bukan senyum seperti yang biasa menghiasi bibirnya. Kemudian menganguk pelan.
"Bukan tidak berbalas, hanya belum, karena aku yakin suatu saat aku akan mendapatkan balasan cinta yang sama darinya, hanya soal waktu, karena aku harus mengobati lukanya terlebih dahulu sebelum ku tahtakan cintaku dalam hatinya"
Kami terdiam beberapa saat, aku tak pernah bicara seserius seperti hari ini dengan Wira.
"Maaf ya, sedikit dalam ya obrolan kita hari ini" ucap Wira, aku menoleh ke arahnya, rautnya sudah kembali seperti sedia kala.
"Sampai dinginkan kopinya" ucapnya lagi sambil meneguk kopi yang tadi kubuatkan.
"Kamu tau kan aku suka kopi?, em kamu tau nggak kopi apa yang paling aku inginkan?"
Wira masih memegang cangkir ditanganya.
"Kopi item" jawabku pelan. Wira mengeleng.
"Salah, kopi yang paling aku ingingkan, Kopingin bersamamu selamanya"
"Ihh nggak lucu"
"Memang bukan lucu-lucuan, itu serius Bil dari sini" ucap Wira tangannya menunjuk ke dadanya. "Bolehkah?"
"Apa -an sih nggak banget deh"
Wira hanya tertawa, dia membuatku salah tingkah.
"Ok kamu berhutang 2 jawaban" ucapnya kemudian.
"Dah malam, aku pulang dulu ya, cepet istirahat".pamitnya. Aku hanya menganguk.
"Nggak usah diantar, aku udah tau kalau jalan keluar dari sini, tapi ada satu jalan yang aku belum tau, bisa bantu aku nggak?"
"Jalan kemana?" Responku serius.
"Jalan menuju hatimu".
"Ihh" kucubit lengan Wira yang tertawa.
"Tambah 1 ya , jadi 3 pertanyaan, aku tunggu jawabanya". Ucapnya.
"Assalamualaikum selamat malam, semoga mimpi indah" . Ucapnya sambil berlalu.
Wira berhasil mengaduk hatiku dengan berbagai rasa, obrolan hari ini sedikit berat, banyak makna tersirat, banyak pertanyaan yang dia balut dalam sebuah candaan.
-----
Tak ingin berlama istirahatnya, sudah mulai kemarin aku kembali ke rutinitasku. Pekerjaanku sudah menunggu, 4 hari sudah cukup memulihkan ragaku, kalau hati jangan ditanya...
"Kak, mama titip ini buat kakak, tapi makannya siangan ajha ya". Sintia memberikan sebuah bungkusan kepadaku pagi itu.
Aku segera membukanya, hmmm rujak buah.
"Makasih ya, sampein makasih juga ke mama" ucapku ceria.
"Emm kak.."
Sintia terlihat ragu
"Ada apa?" tanyaku kemudian.
"Emm .. kak Rangga sudah tau belum kalau kakak hamil?" Tanya Sintia hati-hati.
Aku mengeleng.
"Kalau menurut Sintia, nggak perlulah kasih tau ke Kak Rangga, ngapain juga. Dia udah jahat banget ke kakak, palingan dia juga udah sibuk sama anaknya yang dari perempuan itu".
Sintia ternyata masih begitu kesal ke Rangga.
"Sintia percaya tanpa kak Rangga, Kak Nabila bisa kok, Sintia akan terus dukung kakak". Ucap gadis berlesung pipi itu.
Aku membalasnya dengan tersenyum.
"Eh kak, Pak Andre itu pacar kakak ya dulu, kayaknya masih perhatian banget, Sintia inget pas kakak pergi dulu itu, dia bingung nanyain ke Sintia mulu".
Anak ini punya jiwa kepo juga rupanya.
"Masak?, emm jawab nggak ya?" Godaku ke Sintia, tak mungkin aku jawab jujur, biarlah masa lalu itu hanya menjadi milikku.
"Dia bukan cuma telpon kak, dia nyamperin kesini, kalau nggak ada hal lain kan nggak mungkin". Lanjutnya lagi.
"Sint, kamu lama-lama kaya Vivian temen kakak, jangan-jangan kamu ketularan virus kepo dari dia" ucapku tertawa
"Ihh kan Sintia penasaran" Sintia memanyunkan bibirnya, tuh kan sudah mirip banget sama Vivian.
"Eh kak, ntar kalo ketemu pak Andre suruh mundur dikit ya!"
"Emangnya kenapa?" Tanyaku bingung.
"Habis gantengnya kelewatan"
Aku tertawa, Sintia sebelas duabelas ternyata sama Wira.
Tuh kan jadi keinget Wira.
"Siapa tau CLBK Sintia dukung, Ganteng, tajir, perhatian lagi cocok sama kakak" lanjut Sintia.
"Sintia kembali ke meja sekarang, udah jangan ngomongin itu lagi kasian keselek nanti dia" ucapku menyetop Sintia.
Sintia hanya senyum-senyum..
"Ih perhatian banget, sampe takut pak Andre keselek" godanya, kemudian buru-buru keluar dari ruanganku.
Ya ya ya, tak dapat kupungkiri mas Firman memang sangat mempesona, tak ada yang kurang darinya, dia terlihat begitu sempurna, dan akupun sempat berbuat salah ke Rangga karenanya.
Rangga, ahh semua orang terdekatku kini begitu kesal padamu, orang yang dulu mendukung hubungan kita, kini semua antipati padamu.
Bukankah tantanganku semakin berat bila kuturuti hasratku untuk kembali padamu?
Sayang kenapa kamu tak perjuangkan aku, kenapa kamu mengangap kemarahanku menolakmu waktu itu sebuah keputusan final, kenapa kamu tak memahamiku.
Aku benci dengan rasa ini, rasa yang tiba-tiba hadir, rasa yang mengebu, rasa yang inginkan-nya kembali. Rangga kenapa harus kamu?.
Kucoba membuang jauh anganku, aku tak ingin rasa ini menyiksaku.
Kualihkan kembali perhatianku pada tumpukan berkas dimejaku.
----
"Kak Sintia ijin pulang cepat bisa ada urusan" pamitnya.
"Kan memang sudah waktunya pulang Sint, dah hampir jam 5" ucapku padanya.
"Hehehehe nggak bisa temenin kakak lembur". Ucapnya lagi.
"Nggak papa, kakak juga nggak malam-malam kok".
Gadis itupun berlalu, dengan senyum manisnya.
----
"Bebz"
Vivian muncul dari balik pintu yang baru didorongnya. Membuatku kaget.
"Haiy..tumben"
"Iya, mau nyulik kamu" ucapnya kemudian.
"Masih banyak kerjaan?" tanyanya lagi
"Lumayan abis libur kemaren, nggak apa-apa lanjut besok ajah.
__ADS_1
Vivian muncul tiba-tiba, aku baru saja selesai sholat magrib, dan akan kembali melanjutkan pekerjaanku.
"Mau kemana sih" tanyaku ke Vivian, setelah ku membereskan mejaku.
"Ada deh, mau tau ajha" godanya.
"Ye, tumben-tumbenan mendadak, nggak kasih tau dulu". Ucapku.
"Bebz, makanya ponsel itu dipegang, jangan disimpen di kulkas, aku WA tadi mau jemput kamu abis magrib, nggak di read sampe sekarang"
"Iyakah, sorry"
"Dah biasa, nggak kaget"
Aku tertawa kecil, melihat Vivian kesal, kebiasaanku memang jarang buka ponsel.
Vivian membawaku dengan mobilnya, entah kemana, aku tanya berulang kali dia tak mengatakanya.
Dia membelokkan mobilnya ke sebuah Resto, ihh mau ngajak makan saja pake acara rahasia bikin aku kepo saja.
"Ayuk masuk" Vivian mengandengku, suasana Resto belum terlalu ramai, dia mengajakku ke Resto bagian samping belakang, tapi kenapa gelap.
"Ngapain sih saiy" tanyaku kemudian.
"Nggak di depan ajah" ucapku lagi.
"Udah disini ajha, duduk" pintanya, aku pun duduk setengah meraba, hanya cahaya dari dalam sedikit menerangi.
"Gelap saiy, nggapain sih disini" tanyaku lagi.
"Happy Birtday Nabila!!!"
Jantungku seperti mau copot.. aku masih terbengong ketika semua berkerumun ke arahku.
Sebuah lagu mereka nyanyikan untukku.
"Aku ulang tahun?" Tunjukku ke diriku sendiri.
Aku lupa dan tak ingat sama sekali. Aku terharu, benar-benar surprise .
"Bebz selamat ulang tahun" Vivian memelukku, kemudian mengusap air mataku sebuah doa manis dia ucapkan untukku.
Ada Lody, Dokter Atika, Sintia, Jenny, Angela, Sandra, Indah
Pelukan dan Doa dari mereka benar-benar membuatku terharu. Aku tak mampu berkata-kata lagi.
Dan Wira, dia paling terakhir mengucapkapkan selamat padaku.
Doanya pun lain dari yang lain, dia bukan hanya berdoa untukku dia juga mendoakan dirinya sendiri, dia berdoa agar dia diberi umur yang panjang agar dia bisa terus menjagaku. Dia memang beda.
"Saiy , apaan sihh iseng banget" Vivian mengoles kan Cream yang diatas tart ke wajahku, dan dia tertawa telah mengerjaiku.
"Awas ya, pembalasan lebih kejam" ucapku. Kuambil cream dengan jariku dan akan membalas keisengan sahabatku itu, tapi dia berlindung dibelakang Wira.
Aku hampir saja terjatuh, untung Wira menangkapku.
"Hati-hati "
Ah seperti adegan sinetron, aku segera melepas tangan wira.
"Makasih" ucapku pelan, Wira menyolek kream dijariku, dia membalikan badan dan dengan cepat mengusapkanya ke wajah Vivian.
"Wira" seru Vivian.
Aku tertawa puas melihatnya sama blepotanya denganku.
Wirapun tertawa, yang lain juga.
Seperti abg saja tingkah kami, biarlah yang penting kami bahagia.
Terlihat pelayan menata makanan dimeja, entah siapa yang merencakan ini semua tapi aku benar benar terharu atas perhatian mereka padaku.
Wira menarikku sedikit menjauh, dia membantuku membersihkan mukaku dengan tissu.
Sesekali tatapan kami beradu.
"Udah" ucapnya memastikan.
"Makasih" ucapku lagi.
"Cuma terima kasih?"
"Ih pamprih.." ucapku setengah manja.
Wira hanya tertawa.
Vivian menghampiriku dan Wira, aku tertawa melihat wajah cemongnya.
"Wira curang, awas" protesnya ke Wira, kami hanya tertawa.
Aku dan Wira membantu membersihkan cream di wajahnya.
Kupandangi wajah-wajah ceria itu. Aku beruntung memiliki mereka.
Vivian mengandengku kembali ke meja.
----
"Wira anter bebebz aku ya"
pinta Vivian pada Wira. Acara sudah selesai hampir jam sepuluh. Semua sudah pulang. Tinggal kami bertiga
Wira melihat ke arahku, aku pun menyetujuinya.
"Duluan bebz, kadonya besok yess" ucap Vivian, dia memelukku, kembali sebuah Doa dia ucapkan untukku.
Kulambaikan tangan saat mobilnya melewatiku dan Wira.
Wira membukakan pintu mobilnya untukku, sesaat kemudian sudah berada disampingku, dibelakang kemudi.
Mobilnya melaju pelan meningalkan parkiran resto, dan kemudian melaju sedang.
"Selalu senang melihat senyum dan tawa di wajahmu" ucap Wira.
"Semua karena kalian" balasku.
"Beneran surprise, aku ajha nggak inget" lanjutku.
Wira tersenyum.
"Vivian yang atur semua, salut dengan persahabatan kalian"
"Kalian semua, penyemangatku, tanpa kalian tak taulah mungkin masih meratapi nasibku".
"Semua sayang sama kamu Bil"
Aku menoleh ke arah Wira, hadirnya cukup membuat hariku berwarna.
"Aku juga" balasku.
"Aku juga" ucapnya
"Juga apa?"
"Juga sayang kamu"
"Ihh.. apa-an ga lucu becandanya" dengusku.
Wira hanya tertawa.
Resto tak jauh dari rumahku, tak terlalu lama mobil Wira sudah menepi didepan pagarku.
"Bil, selamat ulang tahun ya Doaku masih sama seperti tadi" ucapnya saat mobilnya berhenti.
Wira memberiku sesuatu terbungkus kertas berwarna emas.
"Apa ini?" Tanyaku.
"Bukan apa-apa, terima ya, jangan menolak" ucapnya.
Aku mengangkat alisku. Tak ada alasan juga menolaknya bukan.
"Makasih ya" ucapku lagi.
"Aku turun sendiri, Nini udah nunggu tuh"
Nini sudah menunggu ku didepan pagar.
"Mimpi indah" ucapnya saat kuturun, aku hanya tersenyum.
Mobil Wira melaju meninggalkanku dan Nini yang senyum-senyum mengodaku. Dia memang pengemar berat Wira.
---
Kulihat bucket bunga mawar di mejaku sesampainya aku dikamarku, dari siapa pikirku, aku mengambil kartu yang ada dibawahnya, kubuka amplop bergambar bunga itu.
Selamat Ulang Tahun Sayang, Untuk pertama kalinya Aku tak berhak lagi memberikan kecupan di hari Ulang Tahunmu.
Doaku selalu untukmu,
Maafkan aku yang telah menorehkan luka yang begitu dalam dihatimu.
Aku Mencintaimu...
Rangga.
Sebuah syair lagu terselip di kartu itu.
[Karamnya cinta ini
tenggelamkanku di duka yang terdalam
hampa hati terasa
kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
ku masih mengharap kau tuk kembali
Mungkin suatu saat nanti
kau temukan bahagia meski tak bersamaku
bila nanti kau tak kembali
kenanglah aku sepanjang hidupmu]
Aku terduduk di ranjang, air mataku tak dapat kubendung. Rangga kenapa kamu selalu membuatku menangis.
Aku sedang belajar untuk berjalan tanpamu, bukan melupakanmu, karena tak mungkin aku bisa melupakan cinta dan luka ini yang begitu dalam, serta benih cinta yang kau tanamkan di rahim ini.
Bahkan foto pernikahan kita belum rela aku turunkan. Walau melihat senyummu semakin membuatku terluka, tapi aku tak bisa menepis rasa rinduku padamu yang selalu hadir di sepi hatiku. Raga yang selalu merindu dekap hangatmu, dan belai lembutmu.
Cinta ini begitu menyiksaku, membuat sesak dadaku. Rangga lebih dari sekali kumemintamu untuk kembali, dan dirimu tetap pergi, sekarangpun hanya untaikan kata yang aku terima, bagaimana aku bisa menjawabmu, bagaimana bisa aku mendekapmu.
Kenapa bukan kamu sendiri yang datang padaku, temui aku minta aku kembali lagi dan lagi sampai memudar sakit ini. Rangga kenapa kamu tak juga mengerti. Aku hanya ingin kamu perjuangkan aku lagi. Kenapa kamu menyerah begitu saja.
Rasa ini begitu menyiksaku, aku menyerah.
Aku ambil ponsel dari dalam tasku, ku cari namanya, aku buang egoku, aku menelponya..
Sayang angkat telponku, berkali kucoba menghubunginya di WA dan pangilan biasa, masuk tapi tak diangkat. Di WA pun tertera tulisan 'online' tapi kenapa tak mengangkat pangilanku.
Gemetar tanganku mengetik pesan.
[Rangga, angkat telponku].
Dua garis biru, berarti dia membacanya, tapi tak membalasnya.
Kembali ku coba menekan pangilan, tetap tak diangkat.
Sayang apa maksud ini semua, apa kau sedang mempermainkanku, apa salahku padamu.
Dadaku terasa begitu sesak, aku hanya ingin mengatakan kerinduan yang aku rasakan, aku hanya ingin menerimamu kembali, aku hanya ingin mengabarkan tentang buah cinta kita,
Kuinjak sendiri harga diriku, kutempatkan dikakiku bukan diatas kepalaku dan akan kutentang dunia untukmu, tapi apa yang kamu lakukan padaku sekarang?
Aku terdiam, cukup Nabila, sudah cukup tak seharusnya kau mengemis seperti ini.
__ADS_1
Kuseka airmataku, menguatkan bathinku sendiri. Kubergegas mencuci mukaku dan berganti baju, merebahkan raga dan jiwa lelah ku. Menikmati malamku sendiri dan mendung yang bergelayut di hati terbenam dalam pelukan gelapnya malam, terlelap dalam dekapan mimpi.
Kuterluka lagi..lagi dan lagi...