BAYANG MASA LALU

BAYANG MASA LALU
BML Part 37


__ADS_3

#BAYANG_MASA_LALU


#BML37


Tak ada yang sangup aku katakan kecuali Airmata yang tak berhenti mengalir.


"Kemana sekarang Rangga?" tanya bulik Lulik padaku, aku hanya mengeleng.


"Rangga baru terbang dari kalimantan, dia juga berbohong pada kami, dia bilang semua baik-baik saja, kami kira dia disini kami hubungi lagi sesampainya disini, ternyata dia di pindah ke sana beberapa bulan yang lalu" terang mba Anis kakak perempuan Rangga.


Aku sedikit mengangkat wajahku, melihat ke mba Anis, berarti sesuai dengan yang Vania katakan, Rangga di pindah jauh.


"Ini masalah besar, kalian menikah kami semua menjadi saksinya, kalian libatkan kami, kenapa masalah sebesar ini kalian putuskan sendiri, walaupun kami jauh kami keluarga kalian" lanjut bulik.


Mama hanya menangis sesengukan, begitupun ibuku.


"Apa yang terjadi sebenarnya?, bulik sudah lama curiga ada yang tak beres, tapi tak mengira hal sebesar ini".


"Tunggu kak Rangga bulik" ucapku menahan isakku.


Bulik Lulik melihat ke mba Anis.


"Harusnya tidak lama lagi Lik, katanya penerbangan jam 2 tadi. Sekarang sudah hampir jam 7" Jelas mbak Anis


Semua terdiam, hanya suara isak yang terdengar.


"Assalamualikum"


Semua mata tertuju ke arah pintu, dadaku berdegup kencang.


"Waalaikumsalam, masuk".


Bulik Lulik memegang kendali,"duduk".


Perintahnya ke Rangga, entah sudah berapa bulan kami tak berjumpa, Rangga melihat ke arah perut buncitku, tatapan kami beradu, sesak sekali rasanya dadaku.


"Rangga, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" Bulik Lulik langsung mengintrogasi Rangga tanpa memberinya jeda.


Rangga terlihat ragu, tapi akhirnya berhasil dia ceritakan semuanya, situasi tegang ini membuat perutku kaku dan kepalaku terasa sakit. Lebih sakit lagi ketika luka itu terkorek kembali.


"Gila kamu" tiba-tiba mba Anis memaki adiknya itu.


"Kamu juga Bil, kenapa tak menghubungi kami sama sekali, mama telpon pun kamu bilang kalian baik-baik saja". Tunjuknya padaku.


"Sampai perut Nabila sebesar ini, kamu nggak tau istrimu hamil" tanya bulik Lulik, Rangga mengeleng.


"Kenapa kamu tak beritahu ke Rangga?" Bulik melihat kearahku.


"Bila sudah coba menghubungi, tapi telpon Bila tak diangkat, Rangga juga tak mencoba menghubungi Nabila lagi". Ucapku dengan tangis tertahan. Aku tak menceritakan masalah telponku yang diangkat seorang perempuan.


Rangga melihat kearahku, dia nampak terkejut mendengar kata-kataku.


"Benar kamu tak mengangkat telpon Nabila?" Tanya bulik lulik ke Rangga.


Rangga menganguk.


"Kenapa, apa alasannya? Kenapa tak mengangkatnya?"


"Rangga kira Nabila akan meminta Rangga menjauhinya lagi, Karena Bila sudah tak membutuhkan Rangga lagi". Jelas Rangga.


"Kenapa kamu langsung menyimpulkan hal itu?". Mba Anis ikut menanyai adiknya.


" Rangga mendapat kiriman foto Nabila dengan pria lain, Rangga juga melihat sendiri Nabila diantar pria itu"


"Maksudnya apa?" Tanyaku bingung.


"Karina mengirimkan fotomu dengan seorang pria kalian terlihat begitu dekat, aku menunggu didepan rumah untuk melihatnya sendiri, pria itu sama dengan yang mengantarmu pulang di hari ulang tahunmu"


"Karina?" Tanyaku. Rangga menganguk.


"Melihat begitu saja kamu sudah mundur?" tanya mba Anis terlihat emosi " kenapa kamu tak datang menanyakan sendiri pada Nabila hanya main perasaan, mengira-ngira, kalian sudah menikah bukan pacaran lagi" serang mbak Anis itu ke adiknya.


"Rangga takut menyakiti Nabila lagi, Rangga hanya ingin dia bahagia, walau bukan bersama Rangga" alasan Rangga


"Haduuuh, kamu ahh, hemmm, ada apa denganmu?, dulu kamu yakinkan kami, sekarang meyakinkan dirimu sendiri tak bisa, semakin tua bukanya semakin dewasa malah sebaliknya". Mba Anis terlihat geram pada Rangga, dia mengepalkan tanganya.


"Kamu juga, siapa pria itu?" Tanya bulik padaku. Giliranku sekarang.


"Teman bulik, teman di Klinik, Bila nggak cuma berdua Bila bersama banyak teman waktu itu, Wira mengantar Bila karena memang kami searah" belaku, walaupun tak sepenuhnya benar.


Rangga terus menatapku. Sesekali pandangan kami beradu tapi entah apa yang kurasakan sekarang, semua campur aduk jadi satu.


"Sekarang kalian mau seperti apa? Kesalahpahaman sudah diluruskan, ingat ini pernikahan bukan pacaran, berpikirlah dewasa jangan kekanak-kanakan seperti ini" bulik mulai mendingin.


"Rangga masih berhak atas kamu, kalau dia memintamu rujuk, kamu tak boleh menolaknya" tambah bulik Lulik


Aku mengangkat wajahku, mendengar ucapan bulik Lulik, dan melihat ke arah Rangga, dulu memang aku menginginkanya, merindunya, tapi rasa itu kini seperti terkikis. Bukan, bukan karena kebersamaanku dengan Wira, tapi karena keputus asaanku sendiri yang memudarkan cintaku padanya.


"Rangga?" panggil mamanya," keputusan ada ditanganmu lagi sekarang pikirkan baik-baik". Lanjut mama.


Rangga melihat kearahku, aku menatapnya tajam. Dia mencoba mencari rasa itu dimataku, yang mungkin akan sulit terlihat lagi setelah kepergianya selama ini.


"Rangga ingin bicara berdua dengan Nabila"


Rangga berdiri, dia menghampiri ku, dia memegang tanganku yang kuletakkan diatas pahaku, dan menarikku berdiri. Membawaku naik kekamarku.


Rangga membukakan pintu, aku masuk lebih dulu, dia menyusulku, kemudian menutup pintu kembali.


Aku berjalan ke arah jendela, berdiri membelakanginya, melepas pandanganku jauh.


Rangga memegang tanganku yang menjuntai, kemudian menciumnya, aku memejamkan mataku, dadaku berdegup kencang, ada pergolakan dibatinku.


"Sayang maafkan aku?" Ucapnya, ada isak disuaranya.


Lama sekali aku tak mendengar pangilan itu, air mataku tak dapat kutahan, aku gigit bibirku, untuk menenangkan letupan dihatiku.


Aku masih terdiam tak mampu mengucapkan apapun. Semua rasa bercampur menjadi satu.


"Sayang, berikan aku satu kesempatan lagi, untuk menebus semua kesalahanku, kesempatan untuk menganti waktu kita yang hilang dan terbuang"


"Terima aku dengan hatimu, bukan karena keterpaksaan atau karena suatu keharusan"


Rangga membalikkan tubuhku, hingga aku dapat jelas menangkap wajah kuyunya dengan kedua mataku.


Tak banyak yang berubah dari wajah itu, hanya lebih tirus, dia masih tetap tampan seperti yang dulu.


Aku menatapnya tanpa rasa, kemana perginya getaran itu, kemana perginya rasaku yang mengebu, apakah rasa itu benar telah mati.


"Sayang, kamu boleh menghukumku semaumu, tapi tolong jangan lagi menjauh dariku"


"Aku menjauh? Rangga kamu yang menjauhiku, kamu yang meningalkanku" ucapku sinis


"Berkali-kali aku memintamu kembali, kuinjak harga diriku, kutempatkan di bawah kakiku, kubuang jauh egoku, ku abaikan lukaku, kumenghubungimu setelah kubaca tulisan darimu, tapi apa?, kau abaikan diriku"


Ucapku setengah berteriak tak terima.


"Sayang aku minta maaf, aku salah paham padamu".


"Kenapa kamu tak memilih untuk cemburu, agar aku dapat melihat kalau kau benar-benar masih mencintaiku" ucapku menahan tangisku.


Rangga terdiam tak menjawabku.


"Bagaimana, kalau ada pria lain yang lebih mencintaiku, apakah kau juga akan melepaskanku? Dengan dalih demi kebahagiaanku?"


Nada suaraku masih meninggi, aku memandangnya dengan tatapan tajam.


"Kamu pikir sekecil itukah rasaku kepadamu, kamu pikir sedangkal itukah cintaku kepadamu, hingga hanya dalam sekejap mampu mengantikan posisimu di dalam hatiku".


Wajahku mendongak kearah wajahnya


Aku menatapnya tajam, ini bukan kebencian hanya ungkapan kekesalan yang lama tertahan.


"Sayang, aku salah aku minta maaf, demi anak kita, kita mulai dari awal lagi".pinta Rangga, tanganya ingin memegang perut buncitku, aku mengibasnya.


"Dia anakku" ucapku, sambil melempar pandanganku ke arah lain.


"Sayang, apa yang kamu inginkan, apa yang kamu mau sekarang" tanyanya padaku.


Aku mengeleng, aku tak meninginkan apapun.

__ADS_1


"Aku menginginkanmu kembali menjadi istriku, aku ingin rujuk" ucap Rangga kemudian.


Aku melihat kembali kearahnya.


"Apa aku punya hak untuk menolaknya" jawabku.


"Tapi tolong jangan berharap lebih dariku, penolakan mu atasku, dan kepergianmu menyisakkan sakit disini" ucapku menunjuk dadaku.


"Aku akan membuatmu kembali mencintaiku" ucap Rangga kemudian.


Apakah aku senang dengan keputusannya, kalau itu dia katakan beberapa bulan yang lalu, pasti iya. Tapi sekarang, boleh jujur tidak.


Rangga mengandeng tanganku, dan membawaku kembali ke tengah persidangan.


Semua mata menatap ke arahku dan Rangga.


"Kami memutuskan untuk kembali bersama" Ucap Rangga, tanganya mengenggam ku erat.


Semua terlihat bahagia, kecuali aku, entah kenapa aku belum bisa menerimanya.


Aku paksakan tersenyum, walau sangat sulit. Perutku terasa tegang sekali.


Armandku mana? Aku tak melihatnya


"Bulik Armand dimana?" Tanyaku kemudian.


"Sedang bermain dengan Arya di kamar belakang" jawab bulik.


"Bila permisi dulu" pamitku.


Kuberjalan pelan, menuju kamar belakang.


"Sayang" pangilku.


"Armand menoleh kearahku dan bangun dari duduknya kemudian berlari memelukku.


"Kak Bila mau punya Adik?".tanyanya antusias melihat perut buncitku.


"Iya biar Armand ada temen main " ucapku.


"Kak maaf, ini gara-gara Arya ya" Arya mendekatiku, dia merasa tak enak padaku karenanya semua keluarga jadi tau.


"Nggak sayang, kamu bener memang seharusnya begini, kakak yang merasa bersalah tak pernah melibatkan keluarga"


"Terus, gimana kak Rangga pulang?, dia dimana ternyata?" Tanya Arya kemudian.


"Ada kak Rangga?" Tanya Armand menyelingi pertanyaan Arya padaku.


"Iya ada didepan" jawabku pada Armand lebih dulu.


"Kak Bil, Armand ke depan dulu ya" pamitnya. Akupun menganguk dan tersenyum. Dia bergegas kedepan.


"Rangga selama ini di Kalimantan, kami ternyata telah salah paham" jawabku ke Arya.


"Mas Rangga meminta kakak kembali padanya?". Aku menganguk. "Kakak mau?"


Tanyanya lagi.


"Kakak tak punya hak menolak, kakak hamil masa iddah kakak sampai bayi ini lahir, selama itu pula kakak tak bisa menolak kalau Rangga ingin rujuk" jelasku ke Arya.


"Kakak terlihat tidak senang dengan hal ini?"


Aku tersenyum getir.


"Apa karena mas Wira?" Lanjutnya.


Aku mengeleng.


"Bukan karena Wira, tapi memang rasa kakak ke Rangga sudah terkikis seiring harapan kakak yang hilang kemarin"


Aku menghela nafas, mencoba mengatur hatiku.


"Lalu kalau kakak rujuk, bagaimana mas Wira?, Arya lihat mas Wira sangat mencintai kakak"


Deg, dadaku sedikit tersentak, bagaimana aku mengatakan padanya.


Bukan mungkin, tapi memang salah, harusnya aku tak membiarkan Wira mendekatiku, selain memang aku masih masa iddah, juga pasti akan semakin membuatnya berharap banyak akan cintaku.


Tapi semua mengalir begitu saja, tak dapat kubendung atau sebenarnya tak ingin kubendung. Aku hanya sedang mencari pembenaran untuk diriku sendiri. Sekuat dan setangguh apapun, aku tetap lah seorang wanita yang ingin di perhatikan dan selalu disayangi.


Dan ketika Rangga pergi tanpa mau perduli, Wiralah yang selalu ada dan perhatian padaku, dan juga bayiku, apakah salah kalau aku merasa nyaman dengannya.


Wira selalu ada untukku, Wira yang mengobati luka-luka di hatiku, ada sebah didadaku, apa aku sangup mengatakan semua ini padanya, untuk pertama kalinya air mataku ini keluar untuk Wira.


Apa aku telah jatuh cinta padanya, entahlah tapi aku tak sangup membuatnya terluka. Kupikir ungkapan dan candaan kami tanpa rasa, ternyata aku salah.


Arya mengusap air mataku, kebersamaan kami beberapa waktu ini cukup membuatnya mengerti apa yang sedang kurasakan.


"Kakak ikuti pilihan hati kakak, kalau memang kakak tak bisa menerima kembali kak Rangga sebaiknya jangan dipaksakan. Bicarakan lagi baik-baik".


"Kakak perlu waktu, semuanya terjadi begitu cepat".


Aku mengajak Arya kedepan berkumpul dengan keluarga lainnya. Semua terlihat bahagia, Armand sedang bermain dengan Rangga.


Ku berharap dia tak bertemu mas Firman, wajah mereka benar-benar sama, pastinya akan menambah masalah baru.


Sesekali Rangga melihat kearahku, kucoba menghadirkan rindu untuknya, tapi kubelum bisa, sedikit getaran saat menatapnya saja tak mau terasa. Apakah rasa itu benar-benar telah pergi?


Aku pamit kekamar lebih dulu, kehamilan ini memang membuatku mudah lelah.


Nabila apa yang kamu inginkan, Ranggamu telah kembali, tapi kenapa sedikitpun kamu tak merasa bahagia..


Aku rebahkan badanku, setelah sholat isya. Rangga menyusulku kekamar.


"Sayang aku mandi dulu" ucapnya kemudian masuk kekamar mandi.


Aku bangun dari tidurku, berjalan ke lemari, semuanya masih sama, baju rangga masih tetap disana.


Aku menariknya dari tumpukan lipatan, dan meletakkannya di ujung ranjang, dan kembali merebahkan badanku. Sudah hampir 7 bulan usia kehamilanku, aku memiringkan badanku.


Aku pura-pura memejamkan mataku saat kudengar Rangga keluar dari kamar mandi. Dia sepertinya sedang memakai pakaiannya, tak berapa lama kudengar langkahnya mendekatiku.


Kurasakan tangannya mengusap kepalaku, kemudian mencium keningku.


"Sayang, aku rindu" ucapnya pelan.


Tangan Rangga mengusap perut buncitku, dan kurasakan kecupanya


"Papa datang" ucapnya.


Aku berharap hatiku bergetar, tapi belum bisa juga. Mungkin perlu waktu, aku mencoba mentolerir rasaku.


----


"Sayang bangun, sholat dulu". Suara Rangga membangunkanku, berat kubuka mataku.


Ada Rangga dikamarku malam hari agak cangung terasa, tapi sepertinya dia kali pertama ini tidur dikamarku.


Aku bangun dan mengambil wudhu setelah Rangga. Iya ini kali pertama kami sholat berjamaah dikamar ini. Terlalu banyak drama dihari lalu sampai sekarang dan entah sampai kapan.


Selesai sholat, aku membongkar tasku, aku belum sempat mengeluarkan baju-bajuku.


Rangga mendekatiku, dan membantuku.


"Sayang kamu dari mana? Habis berpergian ya?" Tanya Rangga sambil memasukkan baju kotorku yang sudah ku pisah ke dalam keranjang.


"Iya" jawabku singkat.


"Emm sayang, aku minggu depan harus kembali ke samarinda"


"Iya"


Mendengar jawabanku yang singkat Rangga menarikku dan mendudukanku ditepi ranjang, dia kemudian duduk dibawahku.


"Sayang, aku tau tak mudah bagimu menerimaku kembali, tapi aku tak akan mengulangi kesalahan-kesalahanku lagi untuk menyerah, ijinkan aku untuk menebus semua kesalahanku".


Ucap Rangga tanganya mengengam tanganku erat.


"Aku tak tau, rasaku yang dulu mengebu padamu, telah menguap seiring waktu, setiap hari rasaku semakin terkikis ketika tak ada kabar darimu, prasangkaku bahwa kau tak perdulikan aku telah terpatri dihatiku, aku minta maaf ini benar-benar sulit bagiku". Kulempar pandanganku jauh.

__ADS_1


"Aku melihatnya pagi itu, pria yang sama yang mengantarmu malam itu, aku ingin mencoba lagi mengungkapkan perasaanku, tapi entahlah apa yang ada dipikiranku waktu itu, kupikir kau sudah benar-benar menemukan pengantiku".


Rangga tak menceritakan itu tadi malam. Kumenatapnya lekat. Apalagi yang dia sembunyikan.


"Aku cemburu sayang, aku sakit tapi aku sadar telah menyakitimu, aku tak bernyali menerima penolakanmu kembali atas hadirku"


"Siapa pria itu sebenarnya? Dia terlihat begitu mencintaimu, benar demikian"


Raut wajah Rangga berubah, dan sulit kugambarkan.


"Wira, dia Dokter di Klinik, tadi malam sudah aku jelaskan kan" jawabku .


"Sekedar teman?rekan kerja? Sedekat itu?"


Cerca Rangga padaku.


"Aku hanya mengangapnya teman tak lebih dari itu, awalnya. Tapi kalau seiring berjalanya waktu dimana hanya dia yang selalu ada untukku, dan pudarnya harapan akan dirimu, apa salah kalau kualihkan rasaku".entah benar dari hatiku atau hanya ingin dia cemburu.


"Ya aku sadar, urusan kita belum selesai, tak seharusnya ada pria lain didekatku, tapi pria yang seharusnya menjagaku yaitu dirimu, tak perdulikan aku, dan ketika Wira hadir memberikan segenap hatinya untukku, aku pun masih mengharapkanmu, tapi ketika harapanku padamu semakin memudar, rasa cinta ini padamu semakin menghilang seiring luka yang telah Wira sembuhkan.


Semua kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa kuperdulikan perasaan Rangga.


"Apa kamu juga mencintainya?" Rangga menatapku matanya memerah.


"Jangan tanyakan rasa itu padaku, aku tak mencintamu ataupun dirinya, aku hanya tak ingin melihatnya terluka, aku tak sangup menyakitinya". Ucapku tangisku tertahan.


"Tapi kamu bisa melihatku terluka?".


Rangga menatapku, menunggu jawabku atas pertanyaanya.


"Mungkin, bukankah kamu sering melakukannya padaku?"


Kemarahan ku atas perlakuannya selama ini masih belum bisa kuredakan.


"Kamu ingin membalasku?"


"Aku tak tau, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan sekarang" jawabku.


Rangga mencium tanganku.


"Aku menerimanya, kita akan memperbaiki semua, aku tak akan melepaskanmu lagi. Walaupun cintamumu padaku tak seperti dulu, seiring waktu cinta itu pasti akan kembali"


Rangga menatapku, aku masih tetap menatapnya dingin.


"Aku mau mandi dulu, aku harus bersiap kekantor" ucapku.


"Banyak keluarga disini, apa sebaiknya kamu tidak libur dulu". Pinta Rangga padaku.


Aku hanya menganguk, selain itu sebuah perintah, ucapannya memang benar.


Aku beranjak berdiri pergi kemar mandi, pergerakanku memang terbatas dengan perut yang semakin membuncit.


Mandi cukup menyegarkan hati dan badan ini.


Aku menyisir rambutku, terlihat Rangga muncul dari balik pintu yang terbuka.


Rangga berjalan kearahku, dan berhenti dibelakangku.


"Hmm Sayang dah cantik aja" Rangga melingkarkan tanganya kepingulku, dan mengusap perutku.


"Lucu ya, Rangga terus mengusap lembut perutku"


Dagu Rangga bertumpu di bahuku, kulihat senyumnya dari cermin didepanku. Dia tak memperdulikan sikap dinginku.


"Sayang aku mandi dulu ya" ucap Rangga, bibirnya mengecup pipiku, terasa hangat walau terhalang rambutku yang terurai.


Dia beranjak tak menunggu respon dariku, sekejab kemudian sudah terdengar suara air dari kamar mandi.


----


Hari itu Rangga mengajak Armand keluar jalan-jalan bersama keluarga lainnya. Aku memilih dirumah karena membawa perut saja sudah berat, tapi sebenarnya suasana hatiku memang masih sangat kacau.


Aku duduk di tempat biasanya aku dan Wira mengobrol, aku mempersiapkan hati untuk menyampaikan berita ini padanya. Apakah aku mulai menerima hadirnya dihatiku, atau hanya karena rasa terima kasihku dan sayangku seperti ke yang lainnya.


Aku belum tau, tak seharusnya dulu aku menerima tawarannya, untuk terus didekatku, walaupun tak ada kesepakatan apa-apa, tapi tetap akhirnya akan menyakiti kami berdua.


"Mba, mbak Bila tadi belum makan ya"


Nini mendekatiku, iya aku tak ikut sarapan tadi pagi.


"Belum laper Nin" jawabku pelan.


"Huwaaaa" aku kaget ketika Nini tiba tiba menangis kesal


"Maafin Nini mba, Nini jengkel, kalau mas Rangga kembali, pak Dokter gimana?, Nini nggak tega mba, Nini lihat sendiri, pak Dokter begitu sayang perhatian ke mba Bila, pak Dokter yang selama ini jaga mba Bila, Nini sudah berharap dia yang selamanya sama mba Bila"


Gadis itu tersedu, dia memang selalu ekspresif, aku menyeka air mataku yang ikut keluar.


Aku belum memikirkanya, sekarang semua keluarga berkumpul, aku tak ingin mereka kecewa.


----


"Yang lain mana?"


Aku sedang duduk di sofa ruang tengah saat Rangga datang.


"Mereka masih mau jalan, Arya yang menemani mereka"


Jawab Rangga, dia kemudian duduk disampingku.


"Terus kenapa kamu pulang duluan?" Tanyaku


"Aku Rindu sayang" ucap Rangga padaku dan memelukku.


"Sangat rindu" ucapnya lagi.


Aku masih terdiam, sebuah kecupan Rangga daratkan dipipiku.


Rangga turun dari sofa, kini dia dibawahku, tanganya menyilang dipangkuanku.


"Sayang, mama lagi ngambek, males ngomong sama papa, kita berdua ajha ya yang ngobrol?" Rangga bicara didepan perut buncitku, kemudian telinganya ditempelkan ke perutku.


"Apa, adek aja yang ngobrol sama papa, emm papa minta maaf ya nggak nemenin adek kemaren, abis ini papa temenin adek terus ya"


Kubiarkan Rangga mengobrol sendiri, tapi dia malah terlihat begitu asyik seolah bayinya yang bener-benar menjawab.


Aku sedikit tersenyum geli, Ya Tuhan lembutkanlah hati ini


"Apa-an sih, nggak lucu" ucapku, kumanyunkan bibirku. Rangga setengah bangun sehingga posisi wajah kami sejajar.


"Apa-an sih?" ketika dia melihatku dengan tatapan tak biasa, bibirnya mengulum senyum.


"Sayang "


Rangga menangkupkan kedua tanganya di sisi wajahku.


Mendekatkan wajahnya hingga kening kami beradu, ku mencoba mengais sisa cinta yang ada dihatiku, atau lebih tepatnya mencoba meruntuhkan gengsi dan ke-egoanku yang sekarang sedang menguasaiku.


Air mataku keluar begitu saja, entah untuk rasa yang seperti apa, ketika semua rasa menumpuk menjadi satu.


Rangga mengusap airmataku dengan ibu jarinya. Kemudian mendekapku didadanya, Sayang aku masih mencintaimu, sangat perih rasanya mengakui ini semua. Tapi untuk apa aku sembunyikan lagi bila kau sudah disini. Walaupun rasa sakitku sama besarnya dengan rasa cintaku. Tapi aku hanya menginginkan kamu.


"Sayang" ucapku


Rangga langsung mengangkat kedua lenganku, matanya berbinar melihatku, alisnya terangkat dan senyum itu, aku sunguh tak suka.


"Kamu jahat awww", kupukul pelan dada itu dan kemudian membenamkan kembali wajahku disana.


"Kamu tau? kamu orang paling menyebalkan, orang yang paling tidak peka, orang yang paling jahat yang ada dihidup aku, tapi kamu satu-satunya orang yang yang telah menawan hatiku, memenjarakan cintaku, membelengu jiwaku hingga hanya ada kamu, kamu, dan kamu, aku tak suka itu"


Ucapku


"Kamu juga melakukanya padaku, kau membuang entah kemana kunci itu, hingga hanya cinta untukkmu yang ada disini, tak ada ruang lagi untuk cinta lainnya, hanya kamu, kamu, dan kamu, tapi aku suka itu" balas Rangga padaku.


Rangga memelukku, rasa itu tak pergi, rasa itu tak mati hanya gengsi mengakui dan ego yang kembali menguasai.


"Sayang, maafkan aku ya, aku janji tak akan meninggalkanmu lagi" ucapnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2