BAYANG MASA LALU

BAYANG MASA LALU
BML Part 35


__ADS_3

#BAYANG_MASA_LALU


Part 35


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bebz."


Vivian muncul setelah pintu kamarku terbuka, aku merapikan berkasku yang berserak diatas tempat tidur.


"Saiy, dah makan belum?" tanyaku kemudian.


"Udah sih, tapi kalo ntar lapar ada makanan kan?"


"Iya, nggak tau Nini masak apa tapinya."


"Aku buatin minum dulu ya."


"Nggak usah bebz itu udah ada air putih, cuzz dah siap dengerin semuanya."


"Bingung mulai dari mana?" Ucapku.


"Pak Andre?, aku mengenalmu dari semester 1 sampe sekarang sudah 8 tahun lebih, tak ada namanya di daftar, tiba-tiba sedeket itu."


"Andre Firman Sudrajat, dulu suamiku."


"What?" Vivian terkejut mendengarku dia mengelengkan kepalanya.


Aku menceritakan masalalu ku yang kelam, kesalahanku, kebodohanku, dan bagaimana keluarga Sudrajat memisahkanku dengan mas Firman.


Ahh walau sudah lama sekali tetap aku memangis menceritakan saat-saat itu.


"Aku kembali bertemu denganya waktu handle masalah sewa klinik kita, itu miliknya, dan berlanjut, beberapa kali memintanya pergi tapi selalu ada alasan dia kembali."


Ceritaku ku awali dengan mas Firman bayangan masalalu yang selalu membayangi kehidupanku sampai sekarang.


"Dia tidak tau kalau anak kalian masih ada?" Tanya Vivian, aku menganguk.


Kuperlihatkan foto Armandku ke Vivian.


"Bebz, ini seperti fotocopy nya mas Firman." Vivian menutup mulutnya melihat kesamaan mereka berdua.


"Kamu tak ingin memberi tahu Mas Firman?"


Tanya Vivian kemudian.


"Aku memang melahirkannya, tapi aku tak punya hak apa-apa terhadapnya, dan aku takut kalau Armand sampai tau, psikisnya terganggu, dia masih sangat belia, aku tak ingin melukainya."


"Aku bisa melihatnya, mendekapnya, tapi aku tak bisa mengucapkan kalau aku ibunya."


Vivian memelukku, menenangkanku yang mulai merasakan betapa sesaknya dadaku.


"Dan dia ingin kembali padamu setelah Rangga pergi?"


"Iya, dia utarakan berkali-kali, ku menolaknya, tapi dia selalu datang lagi, bahkan dia mau tinggalkan istrinya demi aku, dan aku tak inginkan hal itu."


" Dia terlihat sangat mencintai kamu, dia seperti tidak memperdulikan dunia, dipikirannya sepertinya hanya ada kamu."


"Mas Firman alias pak Andre, secara keseluruhan Perfect, sempurna sebagai pendamping kamu, dan kalian sudah memiliki anak, tapi dia bukan pria lajang lagi, dia punya istri apapun perasaanya pada istrinya, itu tak menutup kebenaran dia pria beristri, dan keluarganya, itu jahat banget, walaupun mereka sudah berubah tapi luka itu tak bisa begitu saja hilang, aku pribadi jadi nggak respect dengan keluarga Sudrajat."


"Kamu mencintainya?"


Tanya Vivian kemudian, aku terdiam, lalu mengeleng pelan.


"Aiihh bebz, sadar atau nggak kamu masih mencintai dia, hanya masalah kadarnya saja seberapa besar hanya kamu sendiri yang tau."


Aku melihat ke arah Vivian, apa memang seperti itu, tapi dia benar, aku tak pernah bisa benar-benar menyingkirkan mas Firman dalam hatiku, apalagi saat melihat Armand. Bagaimanapun kami pernah saling mencintai.


"Rangga, kamu masih berharap dia kembali?" Vivian tegas menatapku


Aku menganguk, Vivian terlihat tak suka.


"Bebz, aku heran kenapa Rangga berubah seperti itu, dia seperti bukan Rangga yang aku kenal, dia seperti pecundang." ucap Vivian kemudian.


"Hmm kalau kamu masih mengharapkannya kenapa tak meminta nya kembali?".


"Sudah pernah, dia tetap pergi, terakhir aku menghubunginya dia tak mau mengangkat dan membalas pesanku, aku hunungi dia sewaktu ulang tahunku." jelasku tentang Rangga, mata Vivian membulat.


"Harga dirimu kamu kemanain bebz, huff ada apa dengan Rangga, aku masih kesal padanya, dia tau kamu hamil?"


Aku mengeleng, sepertinya aku bukan curhat, tapi sedang di introgasi.


"Mana Ponselmu." tanya Vivian kemudian.


"Untuk apa?" Tanyaku, sambil mengambil ponsel disampingku dan memberikannya ke Vivian.


"Rangga, kamu namai apa?" Vivian membuka aplikasi WA diponselku.


"SayangQ" jawabku.


Kulihat Vivian mengetik sesuatu, dia memununggu.


"Nah dibaca." ucapnya lagi.


"Kok dibaca doang sih." lanjutnya.


Dia menunjukkan tulisan yang dikirim ke Rangga.


[Sayang, kamu dimana? Aku mau bertemu, aku hamil anakkmu] tulis Vivian.


Tak ada balasan dari Rangga. Vivian pun menelponnya, lama tak diangkat.


"Hallo Rangga."


Vivian kemudian menekan loudspeaker.


"Iya, Ini siapa?"


Terdengar suara seorang perempuan, aku dan Vivian saling bertatapan.


"Nggak salah kan nomornya?" tanya Vivian tanpa suara, aku jawab nomornya benar.


"Hallo ini siapa ya?" tanya perempuan itu lagi.


"Ini nomor Rangga benar?" tanya Vivian kemudian.


"Oh Mas Rangga, benar ada perlu apa ya?"

__ADS_1


"Bisa bicara?"


"Mas Rangganya udah bobok itu, kamu siapa sih?, malam-malam telpon"


"Kamu yang siapa?, mana Rangga?" suara Vivian meninggi.


"Haduuhhh mas Rangga masih bobok, kecapean habis maen sudah ahh, ganggu aja"


Dan Pangilan ditutup, aku menutup mulutku yang terbuka dengan kedua tanganku


Vivian mencoba menghubungi lagi tapi tak diangkat.


"Kurang ajar, Rangga ... " teriak Vivian geram, dan aku masih tertegun, aku tak dapat berfikir apapun.


Ini sudah jam 10 lebih, dan seorang perempuan yang mengangkat telpon Rangga, dan mengatakan Rangga sedang tidur setelah bermain.


Aku menatap Vivian yang terlihat sangat emosi, dan aku, aku seperti kehilangan sebagian nyawaku, berkespresipun aku sudah tak mampu.


Vivian memelukku, menangispun aku tak mampu. Aku hanya terdiam, aku tak mau mempercayainya tapi kondisi apa yang bisa aku jadikan dasar sampai ada perempuan yang mengangkat telpon Rangga malam-malam, aku tak menemukannya.


"Bebz, aku tak tau lagi, ada apa dengan Rangga, dia bukan Rangga yang aku kenal, bebz jangan seperti ini." Vivian mengoyang lenganku.


Aku hanya menganguk sebagai isyarat aku baik-baik saja, walau tak demikian.


"Rangga aku No komen, maaf bebz, aku nggak bisa lagi, tapi semua kembali sama kamu, kalau kamu masih ingin denganya, aku pasti bantu walau aku nggak respek lagi.". l


"Besok kita ke kantornya? Atau ke apartementnya?" Tawar Vivian.


"Tapi itu bukan suara perempuan yang dulu kan?" Tanya Vivian lagi.


Aku mengeleng, itu bukan suara Karina, lalu siapa lagi.


"Oh ya, Wira, aku mau bicara tentang dia juga bebz."


Aku kembali melihatke arah Vivian.


"Dia sepertinya jatuh cinta sama kamu, bukan sepertinya sih, memang iya, kamu sadar itu juga kan?"


Aku menunduk, aku merasakan perhatian yang berlebihan dari Wira, walaupun aku mengangapnya sama seperti ke Vivian dan lainnya. Orang-orang yang membuatku nyaman.


"Lody yang udah lama kenal sama Wira, dia nanyain kamu ke Lody, maaf ya aku suka cerita tentang kamu ke Lody, eh Lody cerita ke Wira. Lody juga sadar kok Wira punya rasa ke kamu."


Vivian mulai kembali bercerita.


"Kata Lody, Wira itu belum pernah pacaran, dia tipe tidak mudah jatuh cinta, padahal waktu dikampus dia itu idola banget, banyak yang ndeketin, eh jangan salah di klinik banyak loh yang ngefans sama dia, member klinik juga banyak, tapi ya gitu, sukanya sama kamu."


Ya wajarlah banyak wanita tertarik padanya, hal itu tak terbantahkan.


"Aku sama Lody, lebih suka kalau kamu sama Wira, dia baik dia tulus dan dia sayang kekamu." lanjut Vivian.


"Ini bukan pertandingan saiy, ini masalah hidupku yang rumit, bukannya Febby itu pacar Wira?"


"Bukan ternyata, kata Lody itu adik sepupunya, makanya mirip gitu."


"Saiyy, aku kok tambah pusing, beneran, trus saran kamu gimana?, aku harus gimana?" Tanyaku ke Vivian.


Vivian mengaruk kepalanya, wajahnyan terlihat bingung. "Aku juga bingung bebz."


Tapi setidaknya aku tak merasa sendiri, walaupun aku semakin tak bisa menentukan arahku.


"Saiy, aku pengen pinjem alat dari doraemon yang bisa buat aku menghilang." ucapku ke Vivian, wajahnya terlihat bimbang mau tertawa tapi wajahku serius.


Obrolan kami berlanjut sampai tengah malam.


-----


"Bil"


Siska menyambutku, kami saling cupika cupiki, akupun kemudian duduk. Vivian duduk di sebelahku.


"Cari siapa?, Wira nggak ada."


"Tau saja, kapan hari bilang mau anter kontrol kamu."


"Iya cuma pas sudah ada Vivian tidur dirumah sekalian." alasanku.


"Ayok naik dulu." pinta Siska, akupun naik keranjang.


Jadi ingat sewaktu mengantar Karina kesini, dan Rangga.. ahh siapa perempuan itu.


Alhamdulilah semua baik, sudah 18 minggu di layar sudah mulai terlihat ada mahluk mungil di rahimku.


Dan untuk kedua kalinya aku melewati kehamilanku sendiri tanpa suami, bedanya sekarang aku memiliki banyak teman yang menyayangi aku, tak terbuang dan jadi bahan cemoohan seperti dulu.


"Bil, kamu nggak apa-apa?" Tanya Siska, aku tersadar dari lamunanku dan menyeka air mataku.


"Aku terharu." tutupku.


Setelah sedikit mengobrol, akupun pamit karena pasien lain sudah banyak yang menunggu, Siska memberiku copy resep yang harus kutebus ke Apotik.


---


Aku dan Vivian berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit, terlalu banyak hal yang terjadi disini. Bagaimana kabar Karina dan Kyla sekarang. Apa bayi itu sudah sehat, semoga saja dia baik-baik saja.


"Mba Nabila"


Terdengar ada yang memangil namaku, akupun berhenti mencari arah suara.


Ternyata Vania, staf keuangan di kantor Rangga.


"Mba.. mba Nabila." dia terlihat ceria mendekat kearahku.


"Vania, apa kabar?" balasku dengan tersenyum.


"Ya Allah mba lama nggak ketemu, padahal dulu pas masih pacaran sering ketemu, pas Nikah malah belum pernah ketemu lagi."


Iya dulu aku sering menjemput Rangga untuk makan siang diluar.


"Mba Hamil?, Alhamdulilah selamat ya mba".


Ucapnya. "Hmm berarti berita itu nggak bener ya" lanjutnya lagi.


"Apanya yang nggak bener l?" Tanyakku bingung.


"Maaf, nggak apa-apakah Vania cerita?". Tanya nya ragu, aku menganguk.


"Ada gosip kalau Pak Rangga pisah sama mbak, gara-gara pelakor, ada yang lihat pak Rangga sama perempuan lain, tapi Vania nggak percaya, Alhamdulilah cuma gosip"

__ADS_1


"Tapi Pak Rangga ada masalah apa sih mba, maaf ya Vania jadi kepikiran, harusnya kan lagi happy ya, tapi Pak Rangga malah nggak semangat gitu, sampai harus dipindah gitu." suara Vania tak seceria tadi.


Aku masih terdiam karena bingung mau mengatakan apa.


"Kasian mba Nabila, harusnya kan pas hamil gini ditungguin sama Pak Rangga-nya eh malah jauh jauhan." Vania bercerita tanpa menatapku.


Vivian ikut menyimak cerita Vania.


"Jauh lagi pindahnya, jadi nggak bisa sering pulang. Mba Nabila yang sabar ya." Vania melihat kea arahku, aku mencoba tersenyum.


"Mba udah mau pulang ya? Maaf, jadi ngobrol lama sama Vania disini, Eh nanti salam dari Vania dan teman-teman kalau pas pak Rangganya pulang." lanjut Vania. Karakternya memang selalu rame alias cerewet.


"Iya nanti aku sampaikan, makasih ya, mbak duluan." pamitku, lalu mencium pipi kanan dan kirinya.


Aku mengandeng Vivian dan kembali berjalan.


Berarti Rangga tidak dikota ini lagi, tak mungkin aku bertanya dia dipindah kemana, karena setau Vania kami baik-baik saja.


"Berarti tak perlu ke kantor dan Apartemen Rangga ya, dia udah nggak disini." ucap Vivian kemudian seolah tau apa yang sedang kupikirkan.


Vivian mengantarkanku ke Butik, aku langkahkan kaki gamang, beban didada ini sama sekali belum berkurang, malah terasa lebih berat.


Menghempaskan pelan tubuhku ke kursi, kuambil ponselku dari dalam tas.


Kulihat jam setengah 9, harusnya Rangga sudah memegang ponselnya sekarang.


Ragu kubuka dan kukumpulkan kekuatanku untuk menghubunginya kembali.


Pangilanku dijawab tapi tak ada suara


"H a.. halo" ucapku.


"Ya ampun mba , ada apa sih ganggu terus dari tadi malam." kembali suara perempuan yang mengangkatnya.


"Rangga nya ada?" Tanyaku


"Dia nggak mau bicara dengan mba, saya sudah sampaikan tadi, mba hamil dengan siapa kan teman laki-laki mba banyak, katanya seperti itu, sudah jangan gangu kami lagi."


Kemudian telpon pun ditutup. Tidak, Rangga tak seperti itu, aku mencoba meyakinkan hatiku sendiri.


Lamunanku buyar oleh suara ketukan di pintu, Sintia muncul dan Mas Firman dibelakangnya.


"Kak ini laporan dari mba Asri, untuk Penjualan Online nya." Sintia meletakkan beberapa lembar laporan di mejaku, dan kemudian keluar setelah menyapa mas Firman.


"Kamu sakit?" Tanya mas Firman yang sudah duduk di depanku.


Aku mengeleng, aku seperti orang bingung.


"Beneran?, muka kamu pucat Bil" lanjutnya.


"Mba Ajeng gimana kondisinya?" Aku tak menjawab pertanyaanya.


"Masih belum stabil, kalau sudah membaik, rencananya kembali ke singapur" jawab mas Firman.


"Terus ngapain malah disini, mba Ajeng pasti butuh mas Firman disebelahnya". Ucapku tanpa ekspresi, sisa kepahitan semalam dan barusan.


Mas Firman melihat plastik berisi obat dan Vitamin di mejaku.


"Barusan kontrol?" Tanyanya kemudian, aku jawab dengan anggukan.


"Kok nggak minta anter?"


"Dianter Vivian tadi, dia nginap dirumah semalam" jawabku.


"Semua baik-baik saja kan?"


Aku kembali jawab dengan anggukan.


"Mas" pangilku


"Ada apa?" Tanyanya dia mendekatkan wajahnya.


"Bila, Bila nggak bisa menerima niat mas Firman atas Bila" ucapku kemudian


Raut wajah mas Firman berubah. Dia menunduk.


"Bila mohon maaf, ini semua salah, seharusnya tak seperti ini" ucapku.


Mas Firman masih terdiam.


"Mas minta maaf Bil, harusnya tak membawamu kesituasi seperti ini, apalagi kamu sedang hamil. Mas hanya takut mas kehilangan kesempatan lagi, mas takut kehilanganmu untuk kesekian kalinya"


Ucap mas Firman tanpa melihatku, ada kegetiran dalam suara itu.


"Mas hanya ingin memperjuangkan cinta kita, mas yakin bisa membuatmu bahagia, mas ingin menebus waktu kita yang hilang 10 tahun ini"


"Rasa ini sudah bersamaku dari 13 tahun yang lalu, itu bukan waktu yang sebentar, kamu cinta pertama dan cinta terakhirku Bil, tak ada yang bisa mengantikanmu dihatiku"


Ada air mata meleleh di wajah tampan mas Firman, Mataku juga. Mata kami saling beradu, kami bicara tanpa kata, hanya lewat tatapan mata, ada rasa sesak dan sakit disana, yang tak bisa kami gambarkan lewat kata-kata.


Kami korban dari ketimpangan sosial, dimana harta menjadi tolak ukurnya, dan semua hal menjadi begitu terlambat, kami memiliki kehidupan masing-masing dengan pendamping masing-masing, yang berbeda mas Firman tetap setia tapi aku telah memantapkan hatiku ke Rangga.


"Mas ini bukan kesempatan kita untuk dapat bersama, kita hanya sedang memaksakan diri, Bila tau dalam hati mas tak pernah tega membiarkan mba Ajeng berjuang sendiri, mas bukan orang seperti itu"


Ucapku, aku memegang tangan mas Firman


"Mas jangan mengawali semua dengan kesalahan, mas percaya dengan takdir Tuhan, bukankan hidup, mati , jodoh seseorang sudah diatur oleh-Nya, kalau memang kita berjodoh nanti, pasti kita akan bersama, Dan bila nanti kita tidak berjodoh itu juga semua sudah kehendak-Nya, kita bisa apa selain menerima dengan lapang dada".


Mas Firman terdiam, kuharap dia bisa mengerti.


"Mas temani mba Ajeng demi Bila, dia lebih membutuhkan kehadiran mas Firman"


Pintaku padanya.


"Bil, kita begitu dekat tanpa bisa mendekap, kita saling mencinta tanpa bisa saling memiliki, rasanya tak adil ya?"


Mas Firman tersenyum hambar, akupun sama.


Akupun menangis untuknya, tak perduli orang bilang apa, tak dapat kupungkiri rasaku padanya memang masih ada.


"Mas harus Janji, mas tak boleh seperti kemarin lagi" pintaku


"Itu karena aku terlalu mencintaimu Bil"


"Bila tau mas, tapi kalau memang kita ditakdirkan bersama, pasti akan ada jalan untuk kita" tangan kami saling mengengam untuk menguatkan.


Airmata ini tak mau berhenti, terasa sakitnya direlung hati. Tangan itu lembut mengusap air mataku, akupun mengusap wajah basah itu. Kami tersenyum, senyum penuh luka.

__ADS_1


Mas Firman seperti biasa mengusap kepalaku, sebelum dia berlalu dan menghilang dibalik pintu. Airmataku kembali mengalir, entah untuk apa dan untuk siapa. Dadaku terasa sesak..


__ADS_2