
#BAYANG_MASA_LALU
POV RANGGA
(Ulang Tahun Nabila)
Aku baru datang siang ini, setelah satu minggu meeting kantor pusat. Aku langsung menuju apartemenku, perjalanan dari Bandara agak lambat karena ada kecelakaan, sehingga jalur dibuat buka tutup.
Ku urungkan Niatku menemui Nabila siang ini, entahlah aku belum siap menghadapi kemarahannya lagi.
Hari ini ulang tahunnya, ulang tahun pertama setelah kami menikah dan juga ulang tahun pertama yang aku tak bisa mengucapkan kata kata manis untuknya serta melihat senyum dan binar matanya yang indah.
Bodohnya aku, berapa kali Nabila memintaku kembali, tetapi kenapa hatiku begitu buta. Aku memilih meningalkanya. Betapa dalam luka yang aku gores kan di hati wanita yang paling kucintai itu.
Asri mengangkat telpon ku juga, aku sampaikan padanya aku ingin meminta bantuannya. Aku menuju ke sebuah toko bunga. Ku minta penjaga itu merangkaikan mawar untuk Nabilaku.
Sebuah syair lagu cukup menggambarkan keadaanku dan pengharapanku saat ini. Ku selipkan didalam amplop bergambar bunga itu. Sayang beri aku satu kesempatan lagi. Aku ingin kembali, aku ingin memperbaiki kesalahanku, aku sangat mencintaimu.
Asri menungguku di luar pagar. Hanya kepadanya aku berharap, kalau Nini semenjak ada Karina, melihatku pun dia tak mau. Aku tak menyalahkannya semua karena rasa sayangnya pada Nabila.
"Assalamualaikum" salamku
"Waalaikumsalam mas"
"Asri mas minta tolong ya, kamu berikan ke Nabila".pintaku
"Mba Nabila nya belum datang mas".
"Iya mas tau, tolong masukkan kekamarnya saja, makasih ya udah bantuin aku".
"Asri pasti bantu sebisa Asri, oh ya mas apa kabar?"
"Kabarku tak akan pernah baik bila ku tak bersama Nabila" jawabku.
"Kenapa mas Rangga meninggalkan Mba Nabila?" Sorot mata Asri terlihat kecewa.
"Mba Nabila sangat menderita" lanjutnya.
"Iya mas sudah membuat hati Nabila hancur, Mas ingin memperbaiki keadaan semoga Nabila bisa menerimaku kembali"
Ucapku dengan sejuta sesal.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum dan nenangis.
"Terima kasih atas bantuannya ya mas pergi dulu, assalamualaikum" Pamitku .
Asri hanya menganguk dia terisak.
----
Aku kembali ke kantorku, hari-hariku terasa begitu berat, permasalahan dengan Karina dan perpisahan dengan Nabila membuatku tak bisa fokus dalam pekerjaan.
Sebuah keputusan akan menentukan langkahku esok. Performance ku yang terus menurun beberapa waktu terakhir, membuatku tersingkir. Perusahaan meminta ku memilih dipindah keluar Jawa atau aku mengundurkan diri. Semua yang ku rintis sekarang hilang sudah.
Bila Nabila masih mau menerimaku kembali, aku akan tetap bertahan, memulai lagi kehidupan asalkan bersamanya pasti tak akan sulit bagiku, tapi bila dia tak menginginkanku kembali pergi jauh darinya adalah sebuah pilihan.
Ku kemasi barang-barangku, apapun langkah yang kuambil, ruangan ini bukan milikku lagi. Lebih baik ku kemasi dari sekarang, esok aku tinggal berpamitan.
Kembali ke Nabila atau pergi jauh darinya, itu akan segera terjawab.
----
Layar itu tak lepas dari pandanganku, aku menunggunya mulai selepas magrib, tak ada kabar juga, apa Nabila belum pulang.
Sedikit kuterlelap suara ponsel membangunkan ku, Karina kenapa lagi dia, aku terlanjur membukanya, dia mengirim beberapa foto Nabila.
[Cepat sekali ya Nabila Move On, dia sedang bermesraan dengan pria baru sekarang].
Tulis Karina, dadaku sesak aku tak pernah membayangkan Nabilaku dengan pria lain.
Mereka terlihat begitu dekat.
Sayang apa kamu telah benar-benar mengantikan ku.
Ahh aku tak mau percaya Karina begitu saja, kubangun dari tempat dudukku. Kuambil kunci mobil kantor di security, mobilku sedang di service, aku sengaja menuju rumah Nabila, kalau itu foto baru berarti Nabila belum pulang saat ini.
[Asri apa Nabila sudah datang]
Lama tak ada balasan. Aku tepikan mobil diseberang rumah Nabila, dibelakang sebuah mobil yang terparkir didepan pinggir jalan berpaving itu.
Jam 10 lebih terlihat pagar rumah Nabila terbuka, tampak Nini keluar lalu melihat keujung jalan, kemudian masuk lagi. Tak berapa lama sebuah mobil berhenti, menepi didepan pagar itu, aku tak dapat melihatnya, kulihat sekilas dalam keremangan dari cahaya lampu jalan ketika dia melintas melewatiku, itu pria yang sama dengan yang di foto.
Aku belum pernah merasa sesakit ini, lalu apa yang telah kulakukan pada Nabila, aku menolaknya berkali-kali, masih pantaskah aku sakit hati. Bukankah dia berhak bahagia juga.
__ADS_1
Terdengar ponselku berbunyi, Nabila meneleponku, pasti dia sudah membaca suratku. Dia pasti marah padaku karena berani memintanya kembali, aku masih ingat kemarahannya ketika itu, apalagi sudah ada pria lain di sampingnya, pasti dia akan memintaku supaya tak menggangunya. Aku tak sanggup mendengar kemarahan dan penolakannya.
Aku membiarkan pangilan itu terus berdering. Membuka pesannya tanpa sangup ku membalasnya. Aku kacau..
----
Sekali lagi Nabila, apakah aku bisa. Pagi ini ku menunggumu di seberang kantormu. Aku siapkan diriku untuk menemuimu. Aku bulatkan tekadku, biarlah kau nanti mengusirku, tapi aku hanya ingin mengatakan aku masih mencintaimu.
Itu suara hati untuk Nabilaku.
Dadaku berdegup kencang, sepertinya ini memang balasan yang pantas untuk kebodohanku. Untuk keegoisanku tak memperdulikan hati dan perasaanmu. Dia lagi pria yang difoto yang begitu mesra menatapmu dengan sejuta cintanya, pria yang sama yang mengantarmu tadi malam.
Dan itu pria yang sama, yang datang menemuiku, 2 hari setelah Vivian memakiku di sebuah toko.
Pria yang sama sekali tak kukenal, pria yang mengaku telah lancang mencampuri urusan kita, pria yang mengaku begitu peduli padamu, pria yang tak sangup melihatmu menangis, pria yang mengaku jatuh cinta padamu untuk membuatku cemburu saat itu, pria yang sama yang memintaku kembali padamu, namun tak mengemingkan keputusanku walaupun ku mencintaimu.
Dan kau terlihat begitu nyaman dengannya, apakah masih ada kesempatan untukku jika sudah ada dia disampingmu.
Aku menyerah sayang...
--
"Assalamualaikum Bu"
"Nak Rangga" ibu Karina menyambutku dengan air mata seperti biasa. Tak kulihat Karina, itu lebih baik.
"Bagaimana kondisi Kyla" tanyaku
"Sudah mulai membaik, nak ibu meminta maaf sebesar-besarnya, karena Karina nak Rangga dan nak Nabila sampai harus berpisah seperti ini, ibu malu sekali. Ibu tak tau harus bicara apa lagi, sudah tau kalau Kyla bukan anak kandung pun nak Rangga masih begitu peduli".
Aku menghela nafas dalam, sesakit apapun hatiku, Kyla tetap hanya seorang bayi yang tak berdosa. Dan aku tetap menyayanginya.
"Sudahlah Bu, yang penting ibu jaga kesehatan supaya bisa terus menjaga Kyla, saya titip Kyla, mungkin saya tak akan menemui Kyla kembali. Saya dipindahkan keluar Jawa. Mulai besok saya sudah pergi meninggalkan kota ini, saya minta maaf bila selama ini saya telah berbuat salah"
Wanita itu semakin tersedu, Ayah Karina yang baru masuk mengelus pundak istrinya untuk menenangkan.
"Saya permisi, ini tolong terima jangan ditolak, ini untuk Kyla, mohon jangan beritahukan ke Karina, ini untuk Kyla" ucapku. Kuserahkan sebuah amplop berisi ATM dan PINnya.
Akupun beranjak keluar diiringi suara tangis ini Karina yang terdengar semakin mengeras.
Semua terjadi begitu cepat, belum ku kecap indah nya pernikahanku dengan Nabila, semua sudah sekejab sirna, hubungan bertahun-tahun semua tak ada artinya, aku mencintainya tapi aku juga menyakitinya.
__ADS_1
Sayang aku pergi, merelakanmu untuk kebahagiaanmu, mungkin hanya itu yang aku bisa lakukan untuk membalas sakit hatimu padaku. Tapi cinta ini tak akan pernah mati hanya padamu hanya untukmu, seumur hidupku.