
#Bayang_Masa_Lalu 19
"Mba.. Nini ga kuat lagi, Nini pulang saja kerumah Cempaka ya?, Nini gak mau disini.
Nini tak dapat menahan derai air matanya.
Ah Nini, mbakmu ini hanya mencoba mempertahankan cintanya, cinta yang diimpikannya. Hanya sampai bayi itu lahir.
Tapi apakah Rangga akan bisa bertahan dengan keyakinanya padaku.
Bagaimana kalau Karina tak menepati janjinya sedangkan sekarang saja dia sudah memainkan cara liciknya
Ah Nabila rumit sekali kisahmu..
Aku menarik nafas dalam... clekit clekit rasanya hatiku.
Kulihat Nini sudah mengemasi barangnya. Akupun tak dapat menahannya untuk tetap tinggal disini.
"Nin, mbak minta maaf ya" ucapku
"Mba, dulu Nini sangat mendukung mba dan mas Rangga, kalian pasangan yang sempurna dan saling melengkapi. Tapi sekarang, Nini ngak ngerti apa yang terjadi dengan kalian. Nini pikir sudahlah mbak nggak usah lagi sama mas Rangga. Mba Nabila baik, cantik, pintar, mba bisa mendapatkan yang lebih baik dari mas Rangga yang bisa membahagiakan mba Nabila" Nini terlihat serius dengan ucapanya.
"Maafin Nini lancang bicara seperti itu, Nini sayang sama mbak, Nini benar-benar nggak rela, maaf juga Nini sudah nggak bisa baik lagi sama mas Rangga" lanjutnya.
Aku memeluk gadis muda itu, Percayalah Nin pasti akan terbit juga kebahagiaan untuk mbak suatu saat nanti, bathinku.
"Mbak nggak bisa maksa kamu buat nemenin mbak disini, mbak anter ke Cempaka, sekalian mbak berangkat ngantor" ucapku.
Aku beranjak kembali kekamar dan mengambil tasku.
Nini sudah bersiap diruang tengah dengan kopernya.
"Ayo" ucapku
Nini mengekoriku sambil menarik kopernya.
Aku mengantarkannya sampai depan pagar rumah Cempaka.
"Mba Nabila hati-hati, jaga diri" pesannya. Aku tersenyum.
Mobil kuarahkan langsung ke kantorku, belum juga jam 8 masih sepi, hanya motor saiful OB yang kulihat sudah parkir.
Aku sengaja tak segera turun, ku sandarkan kepalaku di kursi mobil.
Nabila .. apa yang kamu inginkan sayang..?
Tanyaku pada diri sendiri gemas.
Aku kaget saat terdengar ketukan di kaca jendela mobilku. Ternyata Sintia, Rupanya aku tertidur barusan.
Aku segera turun, Sintia melihatku dengan wajah cemas.
"Kakak sakit?" tanyanya kemudian melihat muka kusutku.
"Nggak Sint, kepagian tadi datang, terus ketiduran" jawabku.
Sintia terlihat masih belum puas dengan jawabanku.
Sintia mengandengku masuk.
"Kakak sarapan dulu kah, biar mas Ipul yang belikan"
"Nggak Sint, Kakak belum laper" ucapku.
"Okay, pangil Sintia kalau butuh sesuatu"
Aku tersenyum, aku tau dia mencemaskanku.
Bagaimanapun aku sekarang, aku selalu bersyukur punya kalian semua yang begitu menyayangiku.
Nabila.. semangat.. ucapku pada diri sendiri.
Sintia memberikan surat pesanan barang yang baru dicetaknya padaku.
Sebuah pesanan besar cukup menghiburku pagi ini. Setidaknya Tuhan memberikan kebahagiaan di sisi hidupku yang lain.
"Sintia, hubungi rekanan yang dibandung ya untuk stok kainnya, kalo ready kamu buatkan proposalnya"
"Siap kak"
"Oh ya kalau perlu tambahan pekerja harian lepas, buat pengerjaanya. Minta pak Jaya hubungi kakak ya" lanjutku
Sintia mengacungkan jempolnya.
Sampai siang Rangga belum menghubungiku, harusnya mereka sudah pulang dari tadi. Aku ingin menelponya, tapi ku urungkan niatku. Biar dia yang menghubungiku.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Terdengar ada pangilan di ponselku, Aku langsung tersenyum, segera kuangkat video call yang masuk.
Ah lelaki tampanku langsung tersenyum padaku.
"Kak .. Assalamualaikum " sapanya.
"Waalaikumsalam ganteng" balasku
"Kak, Armand minggu depan libur, Armand kesana ya?" tanyanya padaku
"Armand cuma sama bunda, Ayah lagi di kalimantan" lanjutnya lagi.
"Iya sayang... kak Nabila tunggu ya" jawabku kemudian.
Sebuah ciuman dan salam dia berikan untukku sebelum menutup telpon.
Kalau Armand disini, tak mungkin aku tinggal di Serayu, dan pasti dia akan menanyakan Rangga, Armand begitu menyayangi Rangga. Ah "Pikir Keri " (pikir nanti).
Aku kembali menghadap komputerku.
Ponselku kembali berdering, bukan Rangga, ada nama Ayu dilayar ponselku.
Tumben dia menelponku.
__ADS_1
"Assalamualaikum Ay" salamku setelah mengeser tombol hijau dilayar.
"Bil, sibukkah?" tanyanya kemudian.
"Biasa aja Ay, ada yang bisa dibantu?"
"Nggak, temen aku yang butuh. Tapi enakan kalau ketemuan dulu deh Bil, dia mau buat seragam baru, minta didesainkan sekalian".
"Oh ok siaapp Ay, atur jadwalnya saja. Jangan lupa info in konsepnya ya, biar aku siapin pilihan desainnya dulu"
"Iya Bil, nanti biar pengajuan dulu atas nama perusahaanya"
Ayu menutup telponnya. Semoga deal bathinku.
Hufff sudah Nabila waktu nya Kerja Kerja Kerja...
Kesibukan hari itu cukup mengalihkan perhatianku dari masalah rumah.
Tak terasa sudah sore. Malas sebenarnya pulang.
Terdengar ketukan pintu, Sintia muncul setelahnya.
"Mba ada Pak Andre mau ketemu, emm diruang meeting apa langsung naik?"
mas Firman ngapain juga.
"Kakak malas turun, minta keatas ajha ya" jawabku. Sintia menganguk mengerti.
"Oh ya Kak, sekalian Sintia pulang duluan ya, sudah ditunggu mas Ferdy dibawah"
"Iya hati-hati, langsung pulang jangan klayapan" godaku. Gadis itu tersenyum.
Terdengar ketukan, pasti mas Firman. Aku mempersilahkannya masuk.
"Masih sibuk?" tanyanya setelah membuka pintu.
"Nggak juga" aku mengeleng.
"Mas tadi ketemu Rangga dirumah sakit" Kualihkan pandanganku dari monitor ke arah mas Firman yang sudah duduk didepanku.
"Iya, dia Nganter Karina kontrol" ucapku.
"Mas ngapain disana, ambil obat mba Ajeng lagi?"
"Mas nemenin Ajeng Cek Lab"jawabnya ragu.
Aku hanya tersenyum kecut, mendapati kenyataan hidupku.
Dua orang yang mengaku cinta mati padaku, sama-sama menemani istrinya kerumah sakit.
Gini amat sih Bil nasib cinta kamu Nyesek..
"Haiyy" mas Firman menyentuh tanganku, membuyarkan lamunanku.
"Malah melamun" ucap mas Firman lagi.
Aku hanya tersenyum, senyum getir tepatnya.
Mas Firman terdiam. Menatapku lekat, ada rasa bersalah dimata itu.
"Kamu mencintai Rangga?" tanyanya kemudian.
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskan berlahan.
"Tak mungkin kami menikah kalau aku tak mencintainya" jawabku.
"Tapi kamu masih mencintaiku" ucap mas Firman yakin.
Aku kembali tersenyum.
"Bila juga manusia biasa mas, Bila nggak munafik kalau Bila masih sayang mas Firman, tapi bukan untuk memiliki".
"Mas Firman, tetaplah cinta pertama Bila" ucapku lagi.
Ishhh terus ngapain coba malah ngomongin masalah cinta-cintaan gini.
"Bapak minta aku menceraikan Ajeng"
Aku kembali menatap mas Firman.
"Kenapa?" tanyaku.
Aku kira Pak Sudrajat lebih bijak daripada istrinya.
"Bapak tau aku tak mencintai Ajeng, Bapak bilang mau sampai kapan aku menyiksa diriku sendiri demi menuruti kemauan ibu"
Aku terdiam menunggu mas Firman melanjutkan kisahnya.
"Ibu sebenarnya juga mendukung, karena tau Ajeng tak bisa memiliki keturunan, tapi ibu bukan ibu yang egois seperti dulu, dia merasa kasihan dengan Ajeng"
"Ajeng tak mau aku ceraikan, dia rela aku menikah lagi tapi tak mau berpisah dariku".
Ya Tuhan mas Firman, hidupmu tak kalah rumit ternyata dari kisahku...
Kehidupan sedang mempermainkan kami berdua. Akupun tak bisa berkomentar apa-apa. Kami sama-sama memiliki masalah cinta yang rumit dan sakit.
Kami terdiam untuk beberapa saat.
Suara ponselku memecah lamunan kami berdua.
Rangga akhirnya menelponku.
"Waalaikumsalam" jawabku membalas salamnya.
"Masih dikantor?"
"Iya sebentar lagi pulang, sudah dirumah?"
"Barusan sampai sayang, liat kamu belum pulang"
__ADS_1
"Iya ntar lagi selesei kok"
Rangga menutup telponnya.
Mas Firman menatapku.
"Kamu nggak sakit hati?" tanyanya heran melihat ketenanganku.
"Ya sakitlah mas, mana ada coba perempuan yang nggak sakit suaminya dengan perempuan lain". Jawabku
"Terus kenapa kamu bertahan?" tanyanya lagi.
"Mas sendiri kenapa masih bertahan dengan Mbak Ajeng?" Mas Firman terdiam tak bisa menjawabku.
"Terlalu banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata, tak bisa dilihat dengan mata, dan tak bisa didengar dengan telinga namun hanya bisa kita rasakan tanpa bisa kita ungkapkan"
"Tak semua keinginan dapat kita wujudkan, walaupun sebenarnya kita bisa, namun karena ada banyak hati yang harus kita mengerti, banyak rasa yang harus kita jaga, akhirnya kita kesampingkan ego diri kita sendiri"
"Dan itulah kita sekarang, inilah kelemahan kekurangan dan kelebihan kita, tergantung dari sudut mana kita menilainya"
Tak tau aku dapat darimana kata-kata barusan. Tapi itulah pengambaran hatiku sekarang.
Aku berdiri dan mengemasi barangku.
"Mas, pulang yuk udahan terkesimanya" aku menarik tangan mas Firman untuk berdiri dari kursinya.
"Aku antar " ucapnya kemudian.
"Bila kan bawa mobil sendiri"
"Kalau gitu, Bila yang anter mas ajha"
"Haiyahh.. moduss, dah ah" aku berjalan mendahului mas Firman, tapi cepat langkahnya kembali sejajar denganku.
"Andaikan waktu bisa diputar kembali ya Bil"
Mas Firman berandai-andai.
"Andaikan waktu bisa kuputar kembali
Ku ingin dirimu tetap ada disini
Melewati kisah cinta yang kita jalani
Ku tak mampu bila dirimu pergi
Terdiam ku tenggelam menitis sepi malam..." Senandungku dengan suara pas- pas an melanjutkan kalimat mas Firman kesebuah lagu yang cukup hits di tiktok,
Terlihat gemas dia mengacak pelan rambutku. Aku tertawa melihat ekspresinya.
Aku tak melihat mobilnya, ternyata mas Firman parkir disebrang jalan.
"Hati-hati" pesannya. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan salam.
----
Rangga tak terlihat di ruang tengah seperti biasanya. Aku langsung menuju kekamarku, tak ada Rangga. Kudengar suara air, sepertinya dia di kamar mandi.
Aku menaruk tasku dimeja, melepas blazerku dan memasukkan ke keranjang.
Rangga terlihat keluar dari kamar mandi.
"Hai sayang" sapanya.
"Dah seger ajha ini babang" ucapku mencium aroma sabun yang menyebar memenuhi ruangan.
"Maaf tadi nggak telpon kamu seharian, abis anter Karina tadi langsung meeting sampai sore di hotel". Seperti biasa Rangga memelukku dari belakang.
Ohh.. kirain. Bathinku
"Iya sayang nggak apa-apa, aku mandi dulu ya, masak babangnya dah wangi gini, adek masih bau acem" ucapku.
"Nggak papa bau acem, babang tetep cinta" aku mencubit perut Rangga, dia hanya tertawa.
Kulihat Rangga merebahkan badanya saat ku keluar dari kamar mandi.
Tanganya sibuk memainkan ponselnya.
"Liat apa sih?" Kepoku lalu duduk disampingnya sambil ikut melihat keponselnya.
"Ini teman kirim video lucu" jawabnya.
Dia meletakkan ponsel dibantal sampingnya dan beralih menatapku.
Tatapan mengoda itu, ah aku harus buang rasa egoku, mendinginkan hasrat ini bukan strategi yang baik untuk menghadapi Karina, aku tak boleh mematikan rasa itu.
Aku harus tetap menjaganya, lebih dari sekedar masalah cinta, tapi harga diri juga.
"Sayang"
"Hmmm"
Rangga menyelipkan rambutku yang terurai kebelakang telingga.
"Aku rindu" bisiknya padaku...
Ayolah Nabila...bangkitkan gelora itu..
"Aku sangat rindu" balasku
Rangga mengecup pipiku, kemudian bibirku.
"Sayang aku mencintaimu" Rangga menatapku lembut.
Karina awas saja kalau kau sampai merusak malamku. Aku berdoa semoga dia sudah tidur dan baru bangun besok pagi.
"Bengong lagi" Rangga mencubit ujung hidungku. Aku mengeleng pelan.
Rangga menarikku dalam dekapanya. Kuhanya memejamkan mata. Menikmati sensasi rasa yang beberapa waktu kemarin sempat memudar. Nabila nikmati malammu sayang ..
__ADS_1
Bersambung