
#BAYANG_MASA_LALU
Part-26
-----
"Terima kasih untuk segala hal yang pernah ada diantara kita, terima kasih untuk kebersamaan kita selama 6 tahun ini, terima kasih untuk segala cinta dan terima kasih untuk luka ini".
Aku turun dari mobil Rangga, air mata ini tak dapat kusembunyikan. Aku berlari kemobilku.
Luka ini semakin dalam, tapi setidaknya aku telah memberi kesempatan pada cintaku.
-----
Aku masih menenangkan diriku dibelakang setir kemudi, air mata ini seolah tak mau berhenti, aku sudah menyekanya berkali-kali.
Hati ini masih berharap Rangga akan mengejarku, biarlah kulawan Dunia untukmu. Aku akan kesampingkan lukaku, bila kau sekarang datang padaku.
Aku hanya bisa menertawakan diriku sendiri, sudahlah Nabila, tak usah kau menunggu, takkan datang Rangga padamu.
Lepaskan dirimu, bebaskan cintamu dari orang yang tak bisa melindungi hatimu.
Sebesar apapun pengakuanya atas cintanya padamu, kenyataannya dia tak memilihmu.
Dia mengesampingkan rasamu, dia mengabaikan cintamu, dia tak perduli akan perihmu.
Ah.. Rangga ternyata hanya sebatas ini arti diriku untukmu.
Kulajukan pelan mobilku, aku kembali ke butik.
Tak kutemui Sintia dimejanya, itu lebih baik. Dia tak akan menanyakan mata sembab ini.
Aku langsung masuk keruanganku. Menaruh tasku dan mendudukkan raga ini.
Masih terus memikirkan apa yang barusan terjadi. Mencoba menyemangati diri sendiri, mencoba untuk kuat.
Tetap saja ini lebih sakit dari yang lalu...
Nabila ... Nabila... harus bisa..
Kutidurkan kepalaku diatas lipatan tanganku
Memejamkan mata lelahku.
"Kak, kak Nabila"
Goyangan kecil di lengan membangunkanku, malas kubuka mataku, Sintia berdiri disampingku.
"Kakak sakit?", tanyanya kemudian.
"Cuma ketiduran Sint" jawabku sambil mamaksa mataku membuka lebih lebar.
"Kakak habis nangis lagi"
"Iya, dari pada jadi penyakit, kalau udah nangis, seseknya lumayan reda" jawabku.
"Karena kak Rangga lagi?"
"Iyah tadi ketemu, sewaktu kakak habis antar berkas ke mas Satriya".
"Terus?"
Sintia duduk didepanku.
"Kakak ajak pulang"
"Hah, terus? Kak Rangganya?"
"Nggak mau "
Sintia menyipitkan matanya.
"Beneran kak Nabila, bilang gitu, mau baikkan?"
Aku menganguk, sintia mengengam tanganku.
"Kakak yang sabar ya, Sintia percaya Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang lebih baik untuk Kakak"
"Kakak pulang saja, tak usah dipaksakan"
Aku menganguk, Sintia benar lebih baik aku tenangkan diriku dirumah.
-----
Tak mudah menjalani hari dengan segala luka dihati, dan menikmati kesakitan ini.
Tapi ada mereka yang selalu ada untukku, yang tak membiarkanku sendiri dalam kesakitan ini
Aku beruntung memiliki mereka yang sangat peduli padaku. Yang selalu inginkan senyum dan tawaku. Dan yang selalu menghiburku.
Dan Wira, bukan aku tak peka sebagai wanita, bukannya aku tak merasa, kalau perhatianya padaku lebih dari lainnya. Tapi lebih nyaman membangun rasa sebagai teman, tak bermain dengan perasaan dan telah ada Feby, aku tak ingin ada salah paham yang merusak hubungan mereka.
Mas Firman, dia sedang menemani mba Ajeng berobat di Singapura. Tapi sudah seperti minum obat, 3 x dalam sehari selalu menanyakan kabarku, walaupun kadang baru kubalas malam, semenjak tau aku dan Rangga berpisah perhatianya lebih dari biasanya, mungkin dia hanya ingin memastikan aku baik-baik saja.
Aku menyayanginya, tapi aku tak berani menginginkanya, hubungan yang rumit.
Apalah bedanya aku dengan Karina kalau aku penyebab perpisahan antara mba Ajeng dan mas Firman. Walauapun tidak bisa disamakan tapi tetap sama saja konteksnya.
Meski sudah ada Armand buah hati kami, yang sampai sekarang tidak dia ketahui. Kadang ada kasihan karena menyimpan kebenaran dari mas Firman. Dan entah sampai kapan.
Tapi semua kulakukan demi Armandku, tak rela rasanya memberi luka di usianya yang sangat belia. Biarlah seperti ini sampai dia besar dan bisa memahami segala hal yang sudah terjadi.
Proses perceraianku pun sepertinya juga tak banyak memakan waktu, kami sama-sama mengunakan jasa pengacara, dengan posisiku sebagai pengungat.
Mas Satriya sampaikan padaku, tidak menemui kesulitan apapun sehingga dalam waktu dekat semua akan selesei.
--------
[Bebz, aku sudah beli kado buat Dian, kita nanti kerumah sakit ya]
Pagi itu masuk pesan dari Vivian, Dian karyawan kami baru saja melahirkan kemarin.
[Iya saiy, aku nanti langsung ke klinik]
Balasku.
"Nini kamu masak apa?" Tanyaku pagi itu, aku sudah bersiap untuk berangkat.
Tak biasanya aku tak nyaman dengan bau makanan. Tapi akhir-akhir ini, setiap mencium bau bawang rasaku begitu tak nyaman.
"Nini masak Sop mba, mbak mau sarapan?" Tanyanya padaku. Aku mengeleng
"Tolong buatkan teh hangat saja" pintaku.
Kopiku sudah Nini siapkan dimeja, tapi aku sedang tak ingin meminumnya.
"Nin, nggak ada selai strobery kah?"
Ninin terlihat membuka kulkas, dan mengeluarkan satu jar selai yang kuminta.
"Tumben, biasanya Nini yang ngabisin, mba kan sukanya coklat" ucapnya saat memberikan selai padaku.
"Lagi kepengen saja" ucapku.
Nini kembali membawa teh hangat dan meletakkan didepanku.
"Mba" pangil Nini padaku, aku menjawabnya dengan mengangkat alisku, karena masih mengunyah roti dimulutku.
"Itu pak Dokter ganteng kok sering banget kesini?" Nini menanyakan tentang Wira.
Aku meminum teh hangatku setelah memasukkan setangkup roti kedalam perutku.
"Entar mba tanyain ke Wira" jawabku
"Bukan gitu" ucapnya lagi.
Aku sebenarnya mengerti arah pertanyaanya.
__ADS_1
"Lah trus? Mba tanya kesiapa?, kan tadi mau tau alasan Wira sering kesini"
"Hiihh, mbak masak sih nggak ngerasa kalo Pak Dokter itu suka sama mba Bila" ucap Nini gemas.
"Ya taulah, kalau nggak suka kan nggak mungkin kita dekat, tapi kan semua juga suka sama mba yang cantik imut dan mengemaskan ini, Vivian, Lo...". Aku tak meneruskan kalimatku karena Nini langsung ngeloyor meningalkanku.
Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya, yang kesal-kesal gemas.
"Nin, mba berangkat dulu" teriakku.
Tak ada jawaban. Baru setelah ku mengucapkan salam dia menjawabnya.
---
Aku sudah menunggu diruanganku, Vivian belum terlihat datang. Aku juga tak melihat Wira yang biasanya datang pagi.
Tumben pikirku.
"Assalamualaikum" pintuku terbuka seiring salam dari Wira.
"Waalaikumsalam" jawabku.
"Tumben siang Pak Dokter?" tanyaku, dia menarik kursi dan duduk didepan mejaku.
"Kangen ya?"
"Ihh " balasku.
"Biasanya kan pagi-pagi banget datengnya"
Lanjutku.
"Iya baru datang tadi pagi, abis pulkam". Jawabnya.
Baru ingat dia ambil cuti 2 hari kemarin.
"Aku titip ya, buat Dian" Wira memberikan sebuah aplop berwarna putih.
Aku mengambilnya dan memasukkan kedalam tasku.
"Sama Vivian ajha?" Tanyanya, aku jawab dengan menganguk.
Wira mengamati wajahku. Membuatku sedikit risih.
"Apaan sih liatnya kayak gitu?" Sungutku
"Kamu sakit?" tanyanya kemudian.
"Nggak" jawabku.
Aku merasa badanku baik-baik saja
"Muka kamu pucet" ucapnya lagi.
"Masak sih?" Aku mengambil ponselku dan melihat wajahku di kamera depan.
"Nggak ah biasa ajha, paling kurang tidur saja" lanjutku. Wira hanya mengangkat bahunya.
"Besok malam bisa nemenin aku nggak?" Tanya Wira sambil menatapku.
"Kemana?"
"Ada undangan Nikahan temen, nggak enak datang sendirian".
"Feby nggak bisa nemenin?"
"Anak nya lagi survey lokasi KKN di luar kota"
Aku masih terdiam, belum memberikan jawaban, sampai Vivian muncul dari balik pintu yang setengah tertutup.
"Pagi pak Dokter". Sapanya ke Wira.
"Pagi bebz" goda Wira ke Vivian.
"Ini pagi-pagi sudah dua-duaan ajha" ucap Vivian kemudian sambil senyum mengoda.
"Ya udah cuzz yuk bebz". Ajak Vivian, aku memasukkan ponsel ke tas ku dan bergegas berdiri.
"Kami pergi dulu ya, Assalamualaikum" pamitku ke Wira yang masih engan bangun dari duduknya.
"Waalaikum salam" jawabnya tersenyum.
"Daa pak Dokter" pamit Vivian ke Wira.
---
Ah Rumah sakit ini lagi, kenapa juga Dian harus melahirkan disini, kenapa aku jadi menyalahkan Dian.
Memori 2 bulanan yang lalu kembali melintas di benakku.
"Kenapa bebz?" Tanya Vivian melihatku melamun.
"Nggak apa-apa saiy, eh Dian di ruang apa?" Aku alihkan pembicaraan.
"Di kebidanan, Anggrek 15 " jawab Vivian.
Setelah menanyakan pada salah satu perawat akhirnya ketemu juga kamarnya.
Dian masih terbaring diranjangnya, senyumnya mengembang menyambutku dan Vivian. Bayinya terlelap di Box bayi yang bersisian dengan ranjangnya.
"Cowok ya?, ih lucunya?" Tanya Vivian terlihat gemas.
"Iya Bu cowok" jawab Dian.
Lucu sekali, jadi ingat Armandku sewaktu masih bayi.
Kami tak dapat mengobrol lama, karena keluarga Dian dari luar kota datang.
"Oh ya, kami pamit dulu, semoga mama dan bayinya senantiasa sehat, jadi Anak sholeh debaynya" pamitku.
"Terima kasih bu Nabila , bu Vivian sudah menyempatkan waktunya".
Aku menyalaminya dan memberikan titipan Wira serta dariku.
Aku dan Vivian keluar setelah menyalami semua anggota keluarga Dian.
-----
"Saiy, ntar mampir dulu ke toko buah ya?" Pintaku ke Vivian.
"Mau beli apa?"
"Ya buahlah, masak nasi padang"
Vivian nyengir sambil menolehku.
"Nggak lucu" ucapnya.
Memang tak lucu tapi bisa membuatku tertawa, ketika kulihat ekspresi lucunya.
Kami berjalan bersisian sepanjang koridor.
Tapi selalu seperti ini, berada disini dilorong ini, hati seperti tercubit, disini kudapatkan luka, luka yang tak berdarah namun sakitnya belum sirna sampai sekarang, ada rasa getir, ada rasa sesak.
"Bebz" Vivian membuyarkan lamunanku dengan pangilannya.
Aku menoleh kearahnya, dia menunjuk kesuatu tempat dengan dagunya.
Ruang NICU anak, aku sedikit menyipitkan mataku. Ada Rangga dan Karina juga kedua orang tua Karina.
Aku ingin membalikkan badan tapi kudengar seseorang memangilku.
Ibu Karina ternyata melihatku, ku urungkan niatku berputar arah, aku mengatur hatiku.
Vivian memegang tanganku, ketika aku meneruskan langkahku mendekati mereka.
"Nak Nabila"
__ADS_1
Kumelihat ada kesedihan bergelayut diwajah wanita cantik setengah baya itu.
"Assalamualaikum bu"
Salamku kemudian mencium pungung tangannya.
Wanita itu malah menangis sesengukan.
Disisi lain Rangga melihatku dengan rasa kaku dan terpaku, matanya sembab.
Disampingnya ada Karina yang masih tetap menatapku dengan rasa tak suka dan sinis.
"Siapa yang sakit?" tanyaku pada wanita setengah baya itu, walau aku sudah menduga jawabanya.
"Kyla nak, kyla sakit" wanita itu menutup mulutnya. Menahan suara tangisnya.
Oh anak Rangga diberi nama kyla.
Kulihat Sorot tajam Vivian ke arah Rangga dan Karina, amarahnya tak juga mereda dan tak dapat disembunyikan.
Aku masih termangu, entahlah untuk apa aku disini dan kenapa harus dipertemukan kembali.
"Yang sabar bu" aku mengusap lengan wanita itu.
Terlihat Rangga dan Karina beranjak bersamaan, saat seorang Dokter keluar dari ruangan itu.
Entah apa yang dijelaskan diawal karena jauh aku kurang mendengarnya. Aku dan Vivian melangkah mendekat dibelakang orang tua Karina.
"Jadi harus segera di transfusi darah, mohon maaf sementara stok dirumah sakit saat ini kosong, di PMI untuk golangan darah AB juga kosong" terang Dokter itu.
"Ibu golongan darah apa? Tanyanya ke Karina
"Saya B dok" jawab Karina
"Oh, kalo bapak A atau AB tanyanya ke Rangga" terlihat wajah Rangga terkejut.
"Saya O dok" jawab Rangga
"Kok bisa, Kalau Ayah O ibu B harusnya golongan darah anaknya O atau B juga.
Kalau Golongan darah AB, karena ibu B harusnya bapak A atau AB" jelas dokter tersebut. Dia terlihat binggung.
Aku masih menyimak dibelakang mereka. Rangga tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Aku dan Vivian saling berpandangan.
"Mohon bisa hubungi kerabat yang lain, atau teman, harus cepat dilakukan transfusi pada bayinya" tambah Dokter itu lagi.
"Saya AB Dok" entah apa yang mendorongku mengatakan itu. Semua mata menatap kearahku.
"Saya AB rhesus negatif " ulangku.
"Saya juga AB Dok" ucap Vivian, kumenoleh ke sahabatku itu.
"Sehat? Sedang tidak haid?" tanya Dokter padaku.
"Iya Dok, sehat lahir dan bathin" yakinku,
Vivian juga mengangukan kepalanya.
Aku dan Vivian mengikuti langkah Dokter itu yang membawa kami ke sebuah ruangan.
Seorang perawat memintaku berbaring disebuah ranjang, dan Vivian diranjang sebelahku.
"Mba Rileks ya" perawat berkaca mata itu tersenyum ramah. Akupun membalasnya dengan tersenyum juga.
Vivian juga sama di cek sepertiku.
" Sudah pernah Donor?" Tanyanya aku menganguk, kemudian dia memeriksa tekanan darahku dan Nadiku. Dahinya terlihat berkenyit.
"Mba sudah menikah?" Tanyanya padaku, aku menganguk.
"Kapan terakhir mestruasi?" tanyanya lagi, aku mecoba mengingatnya, sepertinya bulan ini aku belum datang bulan.
"Saya lupa sust, akhir-akhir ini haid saya kurang teratur" ucapku.
"Ini Donor nya belum bisa dilakukan, coba mbak nanti periksa lagi, sepertinya mba sedang hamil, tapi lebih pastinya mba bisa periksa ke dokter dulu atau bisa di testpack dulu" jelasnya.
Aku terdiam harus bahagia atau sedih, Vivian menatap kearahku. Tapi seingatku setelah aku berhubungan terakhir dengan Rangga sepertinya aku pernah mendapat haid, walau tak seperti biasanya, lebih sedikit dan lebih cepat.
Aku turun dari ranjang dan duduk masih dengan perasaan yang sulit aku gambarkan.
Vivian selesei dengan proses donornya, dia duduk sejenak. Kemudian turun mengampiriku.
"Bebz" Vivian tak dapat berkata-kata dia memelukku, bulir air matanya hangat kurasakan.
Kedua perawat itu melihatku dan Vivian dengan tatapan keheranan.
Vivian mengandengku keluar.
Karina seperti sedang menungguku, matanya terlihat memerah.
Tiba tiba dia berjalan cepat kearahku dan mendorong lenganku. Aku menatapnya bingung. Vivian balas mendorong Karina.
"Pasti kamu yang sudah menukar anakku?, iya kan?, katakan dimana anakku?" Karina seperti orang kesetanan.
"Jangan berlagak nggak tau, kamu pasti sekongkol kan dengan temanmu yang dokter itu" teriaknya.
Dia kembali akan mendorongku namun Vivian mendekapku.
"Jaga bicara kamu, aku nggak pernah menukar bayimu atau bayi siapapun. Jangan asal bicara" aku sudah mulai hilang kesabaran.
Beberapa perawat terlihat keluar dari ruangan. Mendengar keributan kami.
"Kamu pasti sekongkol dengan teman kamu yang Dokter itu, kalian pasti yang menukar bayiku"
Karina semakin mengila. Rangga dan Orang Tua Karina terlihat berlari mendekat.
Sebuah tamparan aku berikan padanya, karena dia sudah bicara yang tidak benar tentang Siska.
"Kamu dengar, jaga mulut kamu, aku bisa masukin kamu ke penjara karena mulutmu itu, jangan pernah bicara buruk tentang Siska , dan jangan mengalihkan kesalahan pada orang lain. Kamu cek dna saja itu anakkmu atau bukan"
Amarahku sudah tak tertahan dan tak dapat ku kendalikan. Aku menarik Vivian berjalan cepat meninggalkan mereka. Tangan Vivian sudah mengepal.
"Bil, Bila" Rangga mengejarku, aku mempercepat langkahku, tapi tetap kalah cepat darinya.
Vivian mengibas tangan Rangga yang ingin menarikku.
"Mau apa lagi?" Seru Vivian.
"Belum puas kamu sakiti Nabila" lanjutnya.
Aku membalikkan badan, dan menghadap ke arah Rangga.
Aku hanya menatapnya, dari mataku dia pasti tau aku sangat marah.
"Kita bisa bicara?" ucap Rangga kemudian.
Wajahnya terlihat sangat kacau.
"Apa lagi?, mau bilang juga, kalau aku sudah menukar bayi kalian" sengalku.
"Bukan, aku... aku mau minta maaf" ucapnya kemudian.
"Untuk apa? Untuk perpisahan kita, aku sudah memaafkanmu" ucapku dadaku masih bergetar. Vivian merangkulku.
"Hubungan kita sudah berakhir, dan kamu sendiri yang memilihnya, aku sudah meminta mu memilih saat itu dan kamu tidak memilihku, aku masih menjatuhkan harga diriku memintamu kembali bersamaku tapi kau tak juga kembali padaku, jadi sekarang tolong jangan ganggu hidupku lagi " walaupun mataku terasa panas tapi sudah tidak ada air mata lagi.
"Biarkan aku sendiri, tolong jangan pernah kembali kehidupku lagi" tegasku
Aku menakupkan kedua tanganku memohon padanya.
Vivian menarikku menjauh dari Rangga.
"Bebz, dengar aku tak akan memaafkanmu, kalau kembali pada lelaki itu, apapun alasannya" ancam Vivian yang terlihat begitu kesal.
Dadaku terasa sesak, kepalaku sakit sekali, kulihat semua menjadi gelap dan kosong terasa ringan samar samar suara Vivian semakin menghilang.
Bersambung.
__ADS_1