BAYANG MASA LALU

BAYANG MASA LALU
BML Part 21


__ADS_3

#Bayang_Masa_Lalu_21


Rangga mengejarku keluar.


"Nabila.. Nabila tunggu" teriak Rangga. Aku menghentikan langkahku.


"Aku tidak sengaja membuat dia jatuh" ucapku, mataku melotot kearah Rangga.


"Iya aku tau, tapi kamu seharusnya bisa lebih hati-hati" ucapnya kemudian.


"Rangga, aku tidak sengaja" Emosiku sudah tidak tertahan, aku membalikkan badan dan beranjak darinya.


Aku berjalan keluar dari rumah sakit, dadaku masih berdegup kencang. Aku melangkahkan kaki tanpa tujuan.


Emosi ku yang tak tertahan membawa langkahku jauh meninggalkan rumah sakit.


Aku membelokkan kakiku kesebuah cafe. Hanya memesan segelas kopi, aku duduk disamping jendela, melepas pandanganku jauh. Hatiku sakit luar biasa.


Air mataku sudah enggan keluar, tapi getaran dan sebah didadaku tak dapat kuredam. Pahitnya kopi tanpa gula sepertinya masih lebih manis dibanding pahitnya hariku sekarang.


"Bu Nabila" kudengar seseorang menyapaku, aku menoleh, ternyata Dokter Wira.


"Sendirian?" tanyanya ragu ketika melihat wajahku. Aku segera menarik nafasku dalam dalam untuk meredam emosiku.


Aku tersenyum dan menganguk.


"Oh ya, kalau gitu, saya sedang menunggu teman" pamitnya.


Aku kembali menganguk.


Kembali kulempar pandanganku jauh keluar jendela. Entah berapa lama lamunanku berkelana, sampai akhirnya Dokter Wira kembali menghampiriku.


"Bu Nabila baik-baik saja?" tanyanya ragu.


"Maaf sudah lancang, tapi .." dia tak melanjutkan kata-katanya.


Aku yang sedari tadi tak mengucapkan satu patah katapun merasa tak nyaman juga. Kenapa harus terlarut dengan hal ini.


"Ketauan bohongnya pasti, kalau saya bilang, saya baik-baik saja" ucapku kearahnya.


Dokter Wira yang dari tadi berdiri, akhirnya duduk didepanku.


"Iya, wajah Ibu tak mengambarkan demikian" ucapnya hati-hati.


Aku tersenyum kecut, kemudian meneguk kopi pahitku.


Sempat hening untuk beberapa saat, karena tidak ada bahan obrolan.


"Sudah mulai nyaman kah dengan tempat yang sekarang?" tanyaku mengawali.


Dia menjawab dengan semangat. Tak terasa akhirnya obrolan kami mengalir begitu saja.


"Kalau boleh,bisakah saya pangil Ibu dengan nama saja, kita kan tidak jauh juga usianya" pintanya, "diluar saja" lanjutnya.


Akupun tersenyum mengiyakan.Dokter Wira sekitar 2 tahun diatasku,


Ponselku bergetar , Rangga menelponku. Aku hanya mendiamkanya malas mengangkat.


"Kok nggak diangkat" tanya Wira karena lebih dari sepuluh kali Rangga menelponku,


Aku hanya mengeleng.


'Kesini naik apa, kayaknya nggak ada mobil kamu di depan"


"Jalan kaki" jawabku, Wira menatapku heran


"Jalan kaki, dari..?"


"Dari rumah sakit Cahaya Ibu" jawabku lagi


"Serius ? Rumah sakit kesini itu jauh loh" lanjutnya terlihat tak percaya


Aku baru sadar, pantas saja telapak kakiku terasa panas dan perih


"Temennya nggaj jadi datang?" tanyaku, aku tak melihat kehadiran temannya.


"Sudah tadi, ya jelas nggak lihat, dari tadi kamu melamun, makanya aku samperin" jawabnya. "kuatir saja liatnya"


"Kuatir kenapa?, kuatir aku kesurupan?" Aku tertawa dalam sakitku.


Wira tertawa kecil mendengarkan ucapanku


"Boleh aku antar pulang nanti?" Tanya Wira kemudian. Terlihat ragu dia menanyakan hal itu padaku.


"Aku naik ojek ajha, ntar ngrepotin kamu lagi" tolakku.


"Sama sekali nggak merepotkan" ucapnya dengan tersenyum. Aku mengeleng.


Kami berpisah di depan Cafe, dia menungguku sampai taksiku datang.


"Pak jalan Cempaka 59 ya" ucapku pada pak sopir.


"Iya mba" jawabnya ramah.


Kunci mobil  Rangga serta kunci rumah terbawa di tasku, aku minta mas Wawan mengantarnya kerumah sakit sesampainya aku dirumah.


Kembali Rangga berusaha menghubungiku, tapi aku sedang tak ingin bicara dengannya.


Kepalaku sakit sekali, hari minggu yang menyedihkan.


Karina, Karina salahku memang begitu lemah menghadapimu.


Hanya karena aku memiliki pengalaman sepertimu. Kelemahanku yang sok menjadi pahlwan , yang tak ingin ada wanita lain yang merasakan dengan penderitaanku dulu.


Tapi kita tidaklah sama, itulah kebodohanku.


"Sayang, angkat telponya" pesan Rangga kembali masuk. Aku membacanya di notif,


dan kembali hanya kulihat.


Aku rebahkan badanku sesudah mandi, baru jam 5 sore. Aku malas melihat ponselku, aku turun kebawah, Nini hanya menatapku.


Aku tiduran di Sofa sambil menyalakan TV, aku jarang sekali melihat TV.


"Mba, sudah makan?" Nini mendekatiku "Nini masak Rica mentog, biasanya mba Nabila suka"


Aku bahkan lupa aku belum makan seharian, aku bangun dan duduk bersila di sofa.


"Mbak belum lapar Nin" ucapku.


Walaupun perut ini terasa perih tapi aku sama sekali tak bernafsu makan.


"Nini bawakan kesini ya?" Paksa Nini, aku melihat kearahnya, aku tak tega membiarkannya mencemaskanku, akupun menganguk.


"Sedikit ajha Nin" pintaku.


Aku selalu suka masakan Nini, tapi hari ini terasa berbeda, mungkin karena hati ini sedang dongkol dan sakit.


Aku kembali kekamar saat ku dengar kumandang Adzan magrib. Hanya dengan bersimpuh padamu ya Rabb hati hamba ini bisa lebih tenang. Aku tak beranjak aku lafadzkan dzikir menanti waktu sholat isya, selalu menbuatku nyaman dan lebih tenang.


Selesai sholat isya aku baru membuka Ponselku.


Ratusan telp dan pesan dari Rangga, dan banyak pesan lain yang kuabaikan seharian. Aku hanya melihat chat terbawah saja, melihat pesannya terbaca Rangga langsung menelponku.


"Assalamualaikum sayang" ucapnya saat ku mengangkat telponnya.


"Waalaikumsalam" balasku tanpa sayang.


"Sayang, aku minta maaf, tak seharusnya aku seperti tadi aku benar-benar minta maaf" ucapnya kemudian.


Aku hanya terdiam.


"Sayang.." pangilnya lagi.


"Lagi malas bahas" ucapku " ya udah, aku udah ngantuk, kepalaku pusing mau istirahat dulu, assalamualaikum" tutupku.


Aku baca chat lainnya, ada bebebz, Sintia dan beberpa lainnya.


Terselip juga Dr Wira diantaranya.


"Sudah sampai rumah?" Bunyi chatnya terkirim sejak jam sore tadi.


Aku balas satu persatu, meminta maaf karena slow respon. Dan kembali menutup ponselku.


Aku memejamkan mataku, semoga mimpi masih memberi hal manis dalam tidurku.

__ADS_1


---


Aku baru selesai mandi ketika Rangga sudah terlihat duduk di atas Ranjang.


"Sayang ngapain disini? Tanyaku, lidahku sudah terbiasa dengan kata sayang padanya, sehingga aku lupa sedang marah dengannya.


Aku melihatnya kacau sekali.


"Mandi dulu sana!" Pintaku sebelum dia menjawab pertanyaanku.


Rangga bergegas kekamar mandi, aku menyiapkan baju untuknya, walau tidak banyak tapi aku selalu menyimpan nya di rumah Cempaka.


Aku segera berganti baju saat Rangga mandi. Kemeja putih berpadu blazer hitam dan celana hitam.


Kulihat badanku dicermin semakin hari semakin terlihat kurus. Apa ini yang namaya makan hati.


Kututup riasanku dengan lipstik pink soft, dan menyemprotkan parfum kembali.


Rangga keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya, aroma sabun dan shampo tercium hidungku.


Biasanya aku langsung tergoda dengan situasi seperti ini, tapi tidak untuk hari ini.


Rangga mendekat kearahku, dapat kulihat rambut setengah basahnya yang membuatnya semakin terlihat mempesona.


Aku masih duduk mengeblow rambutku.


Dia mengoleskan deodorant dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


Aku masih menyibukkan diri dengan catokan ditanganku.


Rangga menatapku di cermin, ah semarah apapun padanya. Tapi cinta ini terlalu besar untuknya. Tapi aku tak mau terlena.


Aku memilih untuk tak berkontak mata denganya.


"Itu bajumu" ucapku supaya dia tak terus menerus menatapku.


"Sayang aku minta maaf" ucapnya lagi sambil menangkupkan tangan didada telanjangnya.


"Udah nggak usah dibahas lagi" ucapku


Rangga masih menangkupkan tangganya.


"Iya aku udah maafin" Ucapku tak tulus.


Rangga mendekatiku, aku langsung beranjak berdiri dan memasukkan barangku kedalam tas.


"Aku tunggu dibawah" ucapku sambil berlalu.


Aku menunggu Rangga dimeja makan. Nini sudah menyiapkan roti bakar dan kopi di meja. Nini memilih menghindari Rangga, dia pamit belanja ke pasar.


"Sarapan dulu" ucapku.


Rangga duduk didepanku.


Aku mengambilkan roti untuknya.


"Sayang aku benar benar minta maaf, aku hanya takut bayinya kenapa-kenapa" ucap Rangga lagi.


Aku meletakkan kembali roti yang sudah kugigit sebagian diatas piring. Selera makanku langsung hilang.


Aku langsung beranjak mengambil tas yang kuletakan di sofa ruang tengah. Rangga membuntutiku.


"Sayang" Rangga menahan tanganku.


Aku membalikkan badanku menghadapnya.


"Aku nggak mau bahas masalah hati pagi-pagi,  karena aku nggak mau merusak perasaanku hari ini" ucapku kemudian menarik tanganku.


Dia pasti bisa melihat amarah dimataku yang belum pernah dilihatnya.


Mobil Rangga menghalangi mobilku, aku memintanya keluar lebih dulu. Sesaat kami beriringan dan seperti biasa terpisah disebuah persimpangan.


Aku harusnya ke butik bukan keklinik, tapi pikiran kacauku membawaku ke klinik.


Terlanjur akupun turun dan berjalan menuju ruanganku. Belum banyak yang datang karena klinik buka jam 10.


Aku lihat Laras sedang membuat minum di pantry.


"Ras, kopi ya, agak manis nggak apa-apa". Pintaku padanya, hidupku sudah pahit aku tak ingin menambahinya dengan rasa pahit lagi.


Aku membuka ruanganku, meletakkan tas dimeja dan bersandar dikursiku. Aku pejamkan kedua mataku.


Terdengar ketukan di pintu, Laras muncul dengan nampan berisi minuman kemudian meletakkan kopi dimejaku.


Kulihat masih ada satu cangkir di nampanya.


"Punya siapa Ras?" tanyaku


"Kopi untuk Dokter Wira" jawab laras. Aku hanya menganguk mendengar jawabanya.


Laras pamit dan menghilang dibalik pintu.


Tak berapa lama kembali pintuku diketuk, aku merasa tak ada pesan apa-apa lagi.


"Masuk!"


Wira muncul dari balik pintu, dengan senyum dibibirnya.


Tanganya menunjuk kursi seolah bertanya apa boleh duduk. Akupun menganguk mempersilahkan.


"Tumben pagi" tanyanya membuka pembicaraan.


"Iya salah ngantor, harusnya kebutik eh nyasar kesini dulu" ceritaku


Wira tertawa kecil.


"Kamu juga pagi banget?" tanyaku padanya.


"Aku memang sudah biasa pagi, maklumlah nggak ada yang urus di rumah, kalau disini kan ada mbak Laras, bisa minta tolong belikan sarapan sekalian" ucapnya sambil mengangkat alis


"Makanya cepet dihalalin, biar ada yang bisa bikinin sarapan" celetukku  kemudian


"Masalahnya yang mau dihalalin belum ada" balasnya dengan muka dibuat melas.


"Ih... Ini pasti modus buat ngrayu cewek cewek, ngaku single, joblo padahal pacarnya banyak" timpalku, Wira hanya tertawa mendengarku.


"Serius Bil, punya Adik cewek nggak yang kayak kamu?, bolehlah dikenalin" rayunya


"Adikku cowok semua" Lagian ngapain aku jawab serius pertanyaan Wira.


"Seneng liat kamu bisa ketawa lagi" ucapnya tiba-tiba.


"Eitzz stop Dokter Bagus Prawira, jangan kacaukan mood saya dengan hal kemarin" aku menyilangkan dua jari telunjukku.


"Okay .. maaf"


Dia melihat jam ditanganya."aku ke ruangan dulu, makasih dah ditemenin ketawa pagi ini" pamitnya dengan tersenyum.


Wira beranjak dan menghilang dibalik pintu, aku bersiap ke butik kemudian, Sekalian ketempat produksi rencanaku hari ini.


Perjalananku melewati rumah sakit tempat Karina dirawat. Pasti Rangga sedang menunguinya disana. Membayangkan mereka berdua-an membuatku hilang kosentrasi.


Srttttt suara ban mobilku berderit karena ku mengerem mendadak, dadaku terbentur setir kemudi. Jantungku berdebar hampir saja aku menabrak mobil depanku yang bergerak melambat karena akan berbelok.


Ya Tuhan, aku masih gemetaran dan shock, hampir saja pikirku.


Aku menarik nafas dalam, mobil belakangku sudah membunyikan klaksonnya. Aku melajukan kan pelan mobilku memberi jalan mobil dibelakangku.


Aku memilih langsung ke Butik yang lebih dekat dengan jarakku sekarang. Pak Yon menyambutku, aku langsung naik keruanganku. Aku tak melihat Sintia dimejanya. Mungkin dia di sebelah.


Aku segera mengatur hati dan perasaanku.


Aku benamkan pikiranku ke pekerjaan, dengan begini emosiku bisa teralihkan.


Tak terasa juga kan kan akhirnya sampai malam.


Sintia sudah berpamitan untuk pulang sudah jam 7 sekarang. Sebelah masih ramai biasanya sepi setelah jam 10, karena Butik tutup jam 9 malam.


Aku sempatkan Sholat isya sebelum pulang.


Setelah tadi pagi Rangga belum menghubungiku lagi sampai sekarang.


Pasti dia sedang sibuk dengan Karina dan bayi di perut perempuan itu.


Aku merasa mulai lelah, tapi aku belum mau menyerah. Nabila apa yang kamu inginkan???

__ADS_1


Aku sendiri bingung dengan rasaku, aku tau Rangga sangat mencintaiku begitupun sebaliknya, tapi apa iya akan tetap sama kalau nanti anak Karina sudah lahir, Rangga terlalu berhati lembut, ke Armand saja dia sangat sayang sekali, apalagi anaknya sendiri.


Aku masih belum beranjak dari sajadahku. Kepalaku sakit memikirkan semuanya.


Aku merapikan mukenaku dan menaruhnya kembali di laci. Bergegas membereskan mejaku dan merapikan barang-barangku.


----


Kulajukan mobilku tanpa tujuan. Aku hentikan mobilku disebuah kafe bernuansa outdor. Lumayan ramai, ada penyanyinya juga.


Ku memilih meja agak dipinggir, sedikit lebih redup pencahayaannya.


Paslah dengan suasana hatiku.


Hanya memesan secangkir kopi dan french fries  serta menikmati lagu-lagu cinta yang dinyanyikan.


Hal yang belum pernah aku lakukan, nggak gaul memang. Kebanyakan kerja cari uang sampai lupa untuk memberi hiburan diri.


Ternyata asyik juga. Dibeberapa meja terlihat pasangan muda-mudi sepertinya pacaran, telat banget kayaknya aku.


Aku sedang fokus dengan lagu yang sedang dinyanyikan. Sampai kudengar ada seseorang yang memangil namaku.


Aku menoleh ke asal suara. Cowok dengan dengan Ripped jeans (celana sobek-sobek)  hitam dan berjaket kulit, sebuah topi menutupi kepalanya.


Pasti tak ada yang menyangka kalau dia seorang Dokter.


"Ngapain kamu disini?" tanyanya kemudian.


"Kamu juga ngapain disini?" tanyaku balik. Beberapa hari ini sering banget ketemu dia.


"Biasalah ngopi sama teman-teman, tuh disana" tunjuknya ke sebuah meja. Ada sekitar 5 cowok disana.


"Sendirian ajha" tanyanya kemudian. Aku hanya menganguk.


"Mau ditemenin?" tanyanya lagi. Aku mengeleng.


Bukannya pergi dia malah duduk, dia membuka topinya dan meletakkan dimeja. Rambut yang biasanya klimis disisir kebelakang sekarang sedikit terurai menutup sebagian wajahnya.


"Kan aku bilang mau sendiri, ngapain masih disini" sungutku.


"Biar nggak ada yang godain, silahkan kalau mau melanjutkan menikmati lagunya"


"Siapa juga mau godain emak-emak" ucapku lagi.


"Bil, muka kamu itu kayak anak sekolah, nggak percaya, tunggu"


Ngomong apa sih orang ini, aku nggak paham.


Dia berdiri dan duduk menjauh kembali kemejanya.


Aku masih belum mengerti dengan yang dimaksud Wira, sampai seorang cowok menyapaku dan meminta berkenalan denganku.


"Sendirian saja?" sapanya.


Aku menganguk dengan polosnya. Dia mengulurkan tangannya.


"Bryan" kenalnya.


Ragu kuangkat tanganku.


Sampai Wira kembali ke mejaku dan menangkap tanganku yang setengah terulur.


"Maaf ya nunggu lama" ucapnya kemudian. Lalu duduk disebelahku.


"Oh sorry bro, kirain..." ucap Bryan melihat Wira. Diapun beranjak menjauh.


Aku melihat ke arah Wira yang senyum senyum melihatku.


Aku baru sadar ternyata aku kuper sekali.


"Paham kan gunanya aku disini?" Ucapnya kemudian.


Aku hanya tertawa, menertawakan diriku sendiri. Aku seperti anak gadis lepas dari pingitan. Aku sudah terbiasa dengan warna yang itu-itu saja, padahal begitu banyak warna diluar. Hidupku ternyata terlalu monoton.


"Suka liat kamu ketawa kayak gini" ucap Wira kemudian.


"Kamu sering kesini?"


"Lumayan, enak tempatnya buat nongkrong, dan pas dikantung" jawab Wira


"Dokter mikirin kantong, hmm ngumpulin duit buat kawin ya?" Godaku.


Wira tertawa.


"Ya iyalah.. paling tidak kan aku bisa jawab pas ditanya bapak mertua, sudah punya apa ajha kok berani nglamar anak saya, tinggal jawab, sudah punya rumah pak, mobil pak, ini pak itu pak, auto diterima ya kan"


Aku tertawa melihat gaya songong Wira, nggak ngira banget.


"Ya deh.. ya deh.. siap pak Dokter, pokoknya nanti kalau kamu nikah aku bakal kasih kamu kado spesial" ucapku.


"Apaan?"


"Em.. aa.. aku kasih kado paket honeymoon ke bali" janjiku


Padahal aku sendiri belum honeymoon dengan Rangga. Nasib..


"Sama siapa?"


"Ya sama istri kamu lah, Bambang" ucapku gemas.


Wira kembali tertawa.


Lepas banget ketika mengobrol dengan Wira, sejenak terlupakan amarah dan kesedihan dalam hati ini.


Aku lihat sudah jam 10, saking asyiknya ngobrol nggak terasa sudah malam.


Wira mengantarkanku sampai tempat parkir.


"Hati-hati" ucapnya, aku menganguk dan tersenyum. Kulajukan mobil menjauh.


Sekitar jam setengah 11 aku sampai dirumah, sepertinya sudah  tidur semua, aku langsung berjalan kearah tangga untuk naik kekamarku.


Ku nyalakan lampu kamar lebih terang, kutaruh tas diranjang dan langsung membersihkan diri dikamar mandi.


Terasa segar sehabis mandi, aku rebahkan badanku di kasur, kuraih ponsel ditasku.


Hufff banyak pesan dan telpon masuk yang kuabaikan.


Rangga juga tak pulang, dia menunggui Karina dirumah sakit.


Sebuah pesan masuk dari Dr Wira, menayakan apa aku sudah sampai rumah. Segera kujawab sudah dan ucapan terima kasih karena sudah menamaniku tadi.


Kuletakkan ponselku diatas meja, mencoba memejamkan mata. Hatiku nano-nano rasanya.


Bercampur aduk tak karuan.


Aku tak bisa tidur, kunyalakan tv dikamarku. Kuganti-ganti chanel tak ada yang menarik.


Kupandangi sekeliling kamarku, pandanganku berhenti difoto pernikahanku dan Rangga. Kuberjalan mendekat, kutatap lekat wajah itu.


Rangga ...aku rapuh, aku lelah, keyakinanku akan cintamu mulai terkikis, harapanku akan menua bersamamu mulai memudar.


Apakah kamu akan pergi juga? meninggalkanku dalam kesakitan untuk kedua kalinya setelah mas Firman..


Apakah kisah kita hanya akan menjadi sebuah kenangan.


Apakah semua yang sudah kita lewati hanya menjadi hal yang tak berarti


Rangga aku tak mungkin kuat bertahan, bila kau sendiri mulai goyang


Rangga rasanya sakit sekali, sembilu ini mengiris hatiku, mencabik rasaku, mengikis asaku..


Air mataku meleleh tak dapat kutahan. Sampai mana aku kuat bertahan, akankan aku jadi pemenang atau hanya wanita yang terabaikan..


Aku kembali keperaduan, menutup kepalaku dengan batal, semoga lelapku segera datang, untuk meredam segala kegalauan.


------


"Sintia, kamu handle kantor dulu ya. Kakak ada keperluan luar kota sekitar semingguan, kalau nggak penting sekali tak usaha hubungi kakak"


Itu pesanku ke Sintia.


Akupun mengabari ke Vivian hal yang sama.


Kukemasi barangku pagi ini, hanya satu tas sedang dan satu tas ransel.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2