
#Bayang_Masa_Lalu_20
Rangga menarikku dalam dekapanya. Kuhanya memejamkan mata. Menikmati sensasi rasa yang beberapa waktu kemarin sempat memudar. Nabila nikmati malammu sayang ..
----
Selepas Sholat Subuh aku bergegas kedapur, memasak air untuk kopi Rangga.
"Sayang gulanya dikit ajha" ucap Rangga yang tiba-tiba muncul dibelakangku.
"Tumben , biasanya suka manis"
"Liat kamu ajha udah manis sayang, kalo ditambahin gula takut kena diabet"
Aku tertawa mendengar gombalan Rangga selalu membuatku bahagia walau kadang garing.
Aku mengaduknya setelah menuangkan air panas.
"Cicip dulu" pintaku ke Rangga, sepertinya aku terlalu sedikit memberi gula.
Rangga mengambil sedikit kopinya dengan sendok bekas ku mengaduk.
Matanya memercing sebelah, dia memang tak bisa yang pahit-pahit.
Salah sendiri tadi minta gula sedikit. Aku tersenyum geli melihat ekspresinya.
"Kepahitan sayang" ucapnya kemudian.
"Masak sih , coba lagi" pintaku, nurut ajha Rangga mencicipnya kembali
"Masih sama" ucapnya.
Aku menambahkan sebuah ciuman lembut ke bibir suami tampanku itu.
"Dah manis belum?" godaku. Rangga tersenyum lebar.
"Manis, manisnya pake banget,makasih ya" Rangga menciumku mesra. Tangannya melingkar dipingangku.
"Karin dah bangun?" Saking asiknya aku dan Rangga tak sadar kalau ada Karina. Rangga melepas pelukannya saat melihat Karina.
Karina kesal langsung kembali ke kamarnya.
Terdengar sesuatu dilempar dikamarnya.
Rangga terlihat ingin menyusulnya, aku menahan tanganya.
"Jangan sayang, biar tenang dulu, takutnya tambah histeris, kasian bayinya" alasanku saja, aku tak ingin Rangga menyusulnya.
"Eh sayang, aku kekamar dulu ya" pamit Rangga kemudian. Aku menganguk mengiyakan.
Aku lihat di kulkas, banyak bahan makanan, sepertnya masih ada waktu kalau cuma buat sarapan.
"Sayang sarapan dulu yuk" pangilku ke Rangga, rupanya dia sudah bersiap dengan pakaian kerja.
"Karin, Karina sarapan dulu" pangilku mengetuk pintunya.
Tapi dia tak mau keluar.
"Karina nggak sarapan?" tanya Rangga mulai perhatian.
"Ntar biar aku yang bujukin, kamu sarapan dulu ajha"
"Kamu libur?"
Aku mengeleng.
"Berangkat agak siangan saja" jawabku.
Selesai sarapan Rangga berpamitan. Aku mengantarnya sampai teras depan.
Aku kembali kedapur untuk membersihkan peralatan bekas kumemasak barusan.
Terlihat Karina menyusulku ke dapur.
Wajahnya tak terlihat sekesal tadi.
Dia menarik kursi dan mulai duduk dimeja makan.
"Bil, kenal kan sama pak Stev?" Tanya Karina tiba-tiba.
"Nggak kenal cuma tau, dia atasan Rangga, emangnya ada apa?" tanyaku.
Agak aneh sih, denger dia bicara datar seperti ini, biasanya dia kalo ngomong kan suka ngegas.
"Kamu juga pastinya tau kan koneksi ku banyak di kantor pusat" ucapnya lagi.
Dari sini aku mulai membaca apa yang akan disampaikannya.
"Terus kenapa?" tanyaku kemudian.
"Bil, aku rasa kamu cukup pintar. Kamu pasti tau kan aku bisa hancurin karier Rangga dengan mudah, ayolah tak usah bersaing denganku, kamu nggak mau kan lihat Rangga hancur"
Aku tertawa, terlalu pintar memang dia. Aku percaya koneksinya banyak di pusat, aku juga percaya dia bisa menghancurkan karier Rangga dengan mudah. Yang tak kupercaya ternyata dia sebodoh itu.
"Karina denger, mau jadi gembel kamu, mau kamu kasih makan apa anakmu, makan cinta buta kamu itu" aku masih tak bisa menahan tawaku.
"Karier Rangga hancur, nggak ada pengaruhnya lagi buat aku sayang, aku wanita mandiri" jelasku padanya.
"Jadi nggak usah sok ngancam-ngancam, sampai disini paham?"
Karina berdiri dengan kesal. Dia beranjak kembali kekamarnya.
Aku tak habis pikir dengan pikiran-pikiran konyolnya.
------
Jam 10 an aku baru keluar rumah. Kulajukan mobilku langsung ke butik.
Sintia menyambutku dengan tumpukan berkas dan laporan yang harus aku periksa.
Selalu begini berkutat dengan pekerjaanku dan tanpa sadar sudah sore.
Aku ingat janji dengan Vivian menemaninya belanja. Sebelum merajuk, aku segera membereskan mejaku.
"Sint, kakak duluan ya" pamitku, Sintia berdiri dari duduknya.
"Iya kak, hati-hati", pesannya.
"Saiy aku jemput ya? 10 menitan lagi nyampai" ucapku ditelepon.
Aku hanya menepikan mobil sesampainya didepan klinik, Vivian sudah menungguku diluar.
"Aku pikir kamu lupa bebz".
"Sebenernya iya sih saiyy" godaku
"Tuhh kan" aku tertawa kecil melihat Vivian manyun.
"Mau blanja apa sih?"
" Lusa mami kan ulang tahun, mau cari kado"
__ADS_1
"Ngado apa, Cincin ajha mami kan suka perhiasan"
"Rencananya gitu sih bebz"
Aku melajukan mobilku ke sebuah toko perhiasan di dekat alun alun.
Setelah beli cincin untuk mami, Vivian mengajakku mampir melihat sepatu. Dia memang suka koleksi sepatu.
Magrib aku mengantarkanya kembali ke klinik. Segera kuarahkan mobilku ke Serayu.
Mobil Rangga sudah terlihat terparkir dihalaman saat ku sampai. Berarti dia pulang cepat.
Aku melangkah pelan, ada suara Karina di dapur dan Rangga.
Aku mengucapkan salam dari ruang tamu. Rangga muncul dari dapur.
"Mas ini Karin nggak bisa buka saosnya" teriak Karina saat Rangga akan mendekatiku.
Rangga membalikka badanya dan kembali ke Karina.
Aku langkahkan Kakiku ke kamar, kuletakkan tas diatas ranjang, aku terdiam sesaat.
"Sayang, aku beli Pizza tadi, aku ambilkan ya?" Rangga mengikutiku kedalam kamar.
"Dedek bayi yang minta ya?" tembakku
"Iya, bayinya yang ngidam" jelas Rangga.
Mataku langsung mendelik, mana ada bayi minta Pizza, bisa-bisanya si Karina ajha, bathinku. Rangga ah lama-lama nyebelin juga polos banget.
"Kamu kenapa?" tanyanya saat melihat raut mukaku berubah tak senang.
"Nggak apa-apa" jawabku kesal.
"Sayang, kan kamu yang minta aku baikin Karina"
"Bodo.." rajukku.
Rangga menghebuskan kencang nafasnya.
"Perempuan itu susah di mengerti, mulutnya bicara apa, tapi hatinya bicara apa"
Rangga berlalu pergi tak berselang lama terdengar suara mobil dinyalakan.
Sepertinya dia pergi dengan mobilku. Karena mobilnya nggak bisa keluar.
Entah jam berapa Rangga pulang aku sudah tertidur pulas dengan hati dongkol.
-----
"Sayang, aku senin ada training dibali sampai jumat. Jadi besok aku berangkat sabtu depan pulangnya" Jelas Rangga pagi itu.
"Lama banget "
"Iya, aku titip bayiku ya, kata Dokter kondisinya kurang bagus, sebenernya harus bedrest Karinanya ngak mau"
Bayiku??
Rangga mengeluarkan sesuatu dari dompetnya,foto USG bayinya diperlihatkan padaku
"Lihat sayang, udah segini" matanya berbinar.
Hatiku clekit-clekit.
Rangga menatapku, aku mencoba tersenyum.
"Hanya sampai Karina melahirkan kan?, kamu harus bisa" ucap Rangga padaku.
Aku bisa Rangga, tapi entahlah keyakinanku padamu tak sekuat dulu.
----
"Sayang, nanti baju kotornya dimasukkan ke kresek lagi ya, jangan dicampur" pesanku
Rangga menganguk mengerti.
"Sayang aku berangkat ya?" Pamitnya. Aku menguntitnya keluar kamar.
"Aku pamit Karina dulu ya" Aku menganguk. Setelah kontrol terakhir Rangga berubah jauh sikapnya ke Karina, sangat perhatian.
Bukankah aku yang memintanya, iya tapi nggak segininya juga.
Aku melepas Rangga dengan lambaian tangganku.
Lemas kulangkahkan kaki masuk ke rumah, Karina sedang duduk di depan TV diruang tengah. Dia terlihat bahagia.
Melihatku dia tersenyum, senyum yang sama seperti senyumku dulu padanya.
Dia membalasku, dia memainkan permainan halus, langsung ke Rangga dengan perantara bayinya. Dia tau Rangga sangat berhati lembut kepada anak-anak.
Dan aku tak menyadarinya. Aku sibuk dengan pekerjaanku, dengan duniaku.
-----
"Nduk ini Armand ndak jadi liburan disana ya, om Agus dah belikan tiket, Bulik sama Armand nyusul ke Kalimantan"
Ucap bulik disambungan telepon.
Walaupun kecewa karena Armand tak jadi mengunjungiku, aku tetap memaksa tersenyum.
"Iya Bulik, nggak apa apa" jawabku.
Aku kembali fokus ke komputer, melanjutkan pekerjaanku.
"Sayang" pesan dari Rangga.
"Sayang karina pengen makan Daging dimasak pedas manis dengan bawang bombay, beli dimana ya?"
Aku menelpon Rangga di reject
"Sedang training sayang, chat ajha"
"Nama nya apa?
"Aku nggak tau, kamu tanya Karina ya"
Dimana belinya?, tau namanya juga ngak.
Ihh kenapa juga aku yang tanya, harusnya dia yang minta padaku.
Auk ah..
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
Terdengar ketukan di pintu, Sintia muncul bersama Byan.
Byan memberiku beberapa lembar desain,
"Bagus semua By" pujiku
"Ini baru 3 kak, masih kurang 7 lagi. Kakak pesan 10 model kan untuk diluncurkan lebaran tahun ini"
__ADS_1
"Kasih target By buat sisanya bisa selesai kapan, yang udah masuk ini aku lihatnya lagi, kalau ok semua ntar bisa masuk ke produksi"
"Iya kak baik"
Byan pamit keluar, Sintia masih didepanku dia mengamatiku.
"Kakak kenapa?" Tanya Sintia tiba-tiba
"Nggak.. nggak kenapa-napa" jawabku
"Kakak aneh banget akhir-akhir ini, abis nikah kakak malah lembur terus, Sintia juga jarang ketemu kak Rangga"
"Kan pekerjaannya juga tambah banyak, jadi harua dilembur? Tutupku.
Sintia terdiam.
"Sintia tau kakak sedang ada masalah, kalau kakak mau cerita, Sintia siap mendengarkan. Kakak tetaplah manusia biasa kakak butuh orang lain"
Aku hanya diam mendengar perkataan Sintia.
"Sintia akan selalu ada untuk kakak" gadis muda itu memegang tanganku meyakinkan niatnya.
Kemudian pergi keluar kembali ke mejanya.
-----
Seminggu Rasanya lama sekali, apalagi mengurus Karina dengan permintaannya yang aneh-aneh. Tak semuanya kupenuhi, aku hanya memastikan dia tidak kelaparan, dengan menyiapkan makanan saja.
Protes Rangga atas laporan karina memang membuatku sangat sakit. Dimana coba seorang istri yang mau dan bisa mengurus madunya yang semakin lama semakin melunjak.
"Hanya sampai bayi itu lahir sayang, kan kamu yang buat perjanjian juga"
"Aku tak ada perasaan apa-apa ke Karina, aku sama denganmu hanya ingin yang terbaik buat bayi itu"
Hanya itu kalimat yang Rangga ucapkan untuk menenangkanku.
Akhirnya Rangga pulang juga, aku sudah benar benar lelah menghadapi perempuan itu, kalau tak melihat sendiri dia benar-benar sering pendarahan mungkin sudah kumaki-maki atas aduannya ke Rangga.
Tapi aku juga wanita yang masih punya rasa kasihan atas kondisinya.
Hari minggu, aku gunakan untuk membersihkan rumah, aku sedang membersihkan dapur, semenjak Nini pulang ke Cempaka dapur jadi kurang terurus.
Tanganku menyengol bekas minyak goreng, yang baru akan kutuang kedalam botol.
Minyak jadi tercecer dilantai, segera kuambil ember dan obat pel, aku ingat pernah baca kalau membersihkan minyak bisa mengunakan tepung supaya tidak licin.
Baru aku membuka lemari tempat biasanya Nini menyimpan tepung, terdengar seperti suara orang jatuh terpeleset diiringi teriakan yang sangat kencang.
Aku langsung berdiri dan melihat Karina dilantai aku shock melihat darah yang ada dipahanya.
Karina mengerang kesakitan sambil memangil Rangga.
Aku buru- buru ingin menolongnya, tapi dia menghempas tanganku dan berteriak memangil Rangga.
Rangga datang dengan wajah kagetnya.
"Mas .. sakitt " teriak Karina
"Sayang keluar darah" ucapku yang masih shock.
"Langsung kerumah sakit" seru Rangga lalu mengangkat tubuh Karina.
Aku berlari mengambil kunci mobil, menyaut dompet dan ponselku di meja lalu memasukkannya kedalam tas slempangku.
Baru diruang tamu aku ingat ponsel Rangga
aku kembali kekamar mengambilnya sambil berlari.
"Bil, cepat Bil" teriak Rangga dari luar aku kembali berlari dan membuka pintu mobil.
Karina menjerit sepanjang perjalan, membuatku ikut panik.
"Mas sakit.. sakit" teriaknya
Seaampainya dirumah sakit Karina langsung dibawa masuk ke IGD
"Pasien, Dokter kandungannya siapa?" Tanya seorang perawat menghapiriku dan Rangga
"Dr Siska sust? "Jawabku " Bagaimana keadaanya sust?" Tanyaku kemudian.
"Tunggu Dokter Siska dulu ya mba" ucapnya padaku.
Rangga terlihat tegang. Akupun juga tak kalah tegang.
Tak berapa lama terlihat Siska datang dan langsung masuk ke ruang IGD.
Aku dan Rangga langsung beranjak ketika Siska keluar dari ruangan.
"Sis, bagaimana kondisinya?" Tanyaku kemudian.
"Ada pendarahan, habis jatuh ya?" Aku menganguk "iya kita berusaha, semoga semua baik baik saja" ucapnya kemudian.
Siska kembali masuk kedalam ruangan
Rangga kembali duduk dikursi , akupun menyusulnya.
"Kenapa Karina bisa sampai jatuh" tanyanya padaku, aku jelaskan kalau aku sedang bersih bersih.
Rangga terdiam. Tampak seorang perawat keluar dan mengatakan sudah bisa dilihat.
Aku mengikuti langkah Rangga, mendekati ranjang Karina, dia masih terlihat menangis.
"Mas Rangga" Tangisnya semakin dia kencangkan, Rangga mendekatinya.
"Nabila mas, Nabila yang buat aku jatuh" tangisnya.
Glek..
"Aku nggak sengaja Karin" ucapku pelan
"Bohong, kamu boleh membenciku, tapi tolong jangan sakiti anakku" teriaknya lagi.
"Karin aku nggak sengaja" ucapku dengan emosi tertahan atas tuduhannya.
"Mas Rangga, Nabila nggak ingin bayi kita lahir.." tangis karina semakin kencang, Rangga terlihat mendekap Karina dan menenangkanya.
"Aku benar-benar tidak sengaja" teriakku.
"Nabila sudah!" teriak Rangga padaku. Dadaku bergetar hebat belum pernah laki-laki ini membentakku seperti sekarang.
"Karina masih sakit".ucapnya kemudian lebih pelan.
Aku beranjak keluar, dadaku sakit sekali, air mata ini sudah siap meluncur, tapi aku tahan.
Rangga mengejarku keluar.
"Nabila.. nabila tunggu" teriak Rangga. Aku menghentikan langkahku.
"Aku tidak sengaja membuat dia jatuh" ucapku, mataku melotot kearah Rangga.
"Iya aku tau, tapi kamu seharusnya bisa lebih hati-hati" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Rangga, aku tidak sengaja" Emosiku sudah tidak tertahan, aku membalikkan badan dan beranjak darinya.
Bersambung