
#BAYANG_MASA_LALU
#BML36
LinDa Vin
Vivian memberitahuku ada meeting besok pagi, membahas pembukaan Klinik baru diluar kota, aku tak terlalu andil banyak dalam mengurusnya hanya sebatas sharing modal saja.
--
Pagi-pagi aku datang seperti biasa, Baru ada mobil Lody yang kulihat, mungkin kepagian.
Aku langsung ke ruang meeting, Lody sudah bersiap disana.
"Pagi Lod" sapaku dia mengalihkan pandangan dari layar laptop ganti melihatku.
"Hai Bil, pa kabar?" Tanyanya.
"Mayan lah seperti biasa hehehe"
Jawabku
"Belum keliatan Wira?" Tanyanya padaku
"Belum liat, emang diajak meeting juga, bukan kita bertiga aja?"
Lody berdiri dan mendekatiku, dan duduk di meja tepat didepanku.
"Rencananya, kita mau tempatkan Wira disana sementara waktu, di sini nanti akan rekrut baru" jelas Lody.
"Tapi di sini pasien Wira bagaimana, apa mau ganti yang baru?" Tanyaku.
"Sementara saja" jawab Lody aku hanya menganguk.
"Pagi Lod" Sapa Wira sambil menjabat tangan Lody
Wira menarik kursi dan mendekatkan ke kursiku.
"Pagi Siti" sapanya dengan senyum khasnya
"Pagi Bambang" balasku.
Lody beranjak kembali ke laptopnya ada segaris senyum dibibirnya.
Wirapun senyum-senyum melihatku,
"Pohon durian pohon duku, Di sampingnya pohon waru, Memandang wajahmu setiap waktu, Tak pernah membuatku jemu"
Sebuah pantun Wira lantunkan untukku.
"Aihh apa-an sih, Lod denger nggak ada yang ngegombal pagi-pagi" seruku ke Lody, sepupu Vivian itu terkekeh.
"Tong kosong nyaring bunyinya, Kalo hatimu kosong, bolehkah aku mengisinya?" Lanjut Wira.
Terdengar suara Lody berdehem, kemudian beranjak mendekati pintu.
"Bentar, aku jadi haus, ambil minum dulu ya" diapun berlalu wajah putihnya memerah
"Apa an sih bambang, salah makan ya?" tanyaku melihat kekonyolan Wira pagi ini.
"Dari Masjid terdengar Azan, Suaranya memecah malam, Sudah saatnya aku nyatakan, Kucinta kamu teramat dalam"
Terjadi juga, jangan-jangan meeting hari ini hanya dalih Vivian dan Lody, untuk memberi ruang kepada Wira menyatakan perasaanya padaku.
Aihh katanya teman, malah nambahin beban begini.
"Wira, jangan bercanda seperti ini, nggak lucu ah, aku nggak suka" ucapku.
"Aku sedang tidak bercanda Bil, aku serius, aku mencintaimu" Wira menatapku lekat.
"Untuk pertama kali, seumur hidupku aku jatuh cinta, awalnya aku bahagia, ternyata aku manusia normal juga, tapi saat kutau kau tak sendiri, aku mengantungkan rasa itu dan menyimpannya dihatiku. Tapi saat kau kembali sendiri apa aku salah kalau rasa itu aku ungkap kembali?"
"Wira, aku sayang ke kamu sama seperti aku sayang ke Vivian, lody dan lainnya, tolong jangan membuat rumit hubungan kita dengan perasaan, dengan rasa yang dinamakan cinta itu"
Kepalaku kembali berputar, masalah mas Firman saja belum benar-benar selesai, sekarang Wira.
"Kenapa tidak kita coba jalani dulu, aku hanya ingin menjagamu, selalu berada didekatmu, menghapus air matamu, dan aku hanya ingin membahagiakanmu".
Wira terlihat sunguh-sunguh dengan ucapannya. Ada apa dengan para pria ini.
"Wira, kamu paham juga kan, aku sedang hamil anak Rangga, aku masih terikat padanya sampai bayi ini lahir, dan aku belum memikirkan masalah cinta atau apalah, aku hanya ingin fokus untuk anakku".
Jelasku ke Wira, aku tak ingin kalau kata-kataku sampai menyakiti pria baik ini.
"Ijinkan aku menemanimu, aku janji akan menjaga sikapku, aku hanya ingin menjagamu, aku terima kamu anggap aku sebagai teman seperti ke lainnya, tak apa asalkan aku bisa tetap didekatmu"
"Aku tak perduli, seribu kali kamu menolakku, sepuluh ribu kali aku akan datang padamu, aku hanya ingin memastikan tak ada airmata lagi, aku hanya ingin kau bahagia"
Aku tak bisa menjawab apapun, apa yang harus kukatakan.
"Yang terpenting aku sudah ungkapkan perasaanku, rasa ini begitu menyiksaku"
Lanjut Wira.
"Dan sekarang kau yang menyiksaku, kau menempatkanku dalam situasi yang tak nyaman" ucapku.
"Aku minta maaf, aku tak bermaksud seperti itu, sungguh Bil, aku hanya ingin melihatmu bahagia, bila suatu saat nanti bahagiamu bukan dariku aku relak melepasmu"
Aku terdiam, benar-benar tak bisa berkata-kata.
"Kita jalani seperti biasa, jangan pernah menjauhiku, walaupun dengan alasan tak ingin menyakitiku" pinta Wira padaku.
Dia seperti bisa membaca hatiku, yang ingin menjaga jarak denganya.
"Sudah, tak perlu memikirkanku, biarkan aku yang selalu memikirkanmu" lanjutnya.
__ADS_1
Aku mencoba tersenyum, entahlah kuikuti saja kemana arus ini membawaku pergi. Tak ingin terbebani dengan perasaan hati ini, yang pergi biarlah pergi, aku lelah, biarkan kuhidup untuk bayiku dan anakku.
----
Mencoba bersikap biasa setelah semua kejadian ini memang sulit alias tak mudah. Mengesampingkan masalah hati, biarlah semua mengalir apa adanya. Menjalani aktifitas biasa, menangapi biasa semua perhatian mereka.
Aktifitas kujalani biasa dalam 2 bulan ini, mas Firman entah apa maksudnya dia menitipkan sebuah bingkisan untukku, sebuah cincin sebagai penganti cincin pernikahan kami dulu yang belum pernah dia berikan katanya demikian, terserahlah. Paling tidak dia menepati janjinya itu yang terpenting.
Rangga dia tak menghubungi ku juga sejak malam itu, akupun tak ingin memohon lagi, cukuplah toh kesempatan sudah kuberikan berkali-kali.
Cintaku padanya serasa melebur bersama waktu, terkikis bersama harapan yang semakin menipis. Tak mau berharap banyak, tentangnya. Aku bisa sendiri tanpanya, aku bisa menghidupi bayiku sendiri. Masa bodohlah, kalau dia memang mencintaiku harusnya dia juga mencari tau tentangku, bukan aku yang selalu memohon padanya.
---
"Assalamualikum "
"Waalaikumsalam" aku terkejut melihat Arya yang sudah berdiri didepan pintu ruanganku
"Arya, kenapa nggak ngabarin kakak mau kesini" ucapku
Adikku itu hanya senyum-senyum.
"Kejutan kak" ucapnya.
Akupun berdiri hendak menyambutnya, mulutnya ternganga melihatku. Gantian dia yang terkejut
"Kak Nabila hamil?" Tanyanya
"Kok nggak ngasih tau sih" protesnya.
Akupun menghampirinya dia mencium pungung tanganku kemudian memelukku.
"Kenapa nggak ngabarin keluarga di solo?" Tanyanya sambil mengelus perut buncitku.
"Aku telpon ibu" Arya merogoh saku celananya.
"Tunggu jangan sekarang" cegahku.
Arya kembali memasukkan ponsel kedalam sakunya.
Aku kembali duduk di kursiku, Arya duduk didepanku, tersirat kebingungan di wajahnya.
Sebenarnya bingung mulai dari mana? Tapi akhirnya semua bisa aku ceritakan walau hanya garis besarnya saja.
"Kakak bercerai dari kak Rangga?" Tanyanya tak percaya, dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Aku menganguk sebagai jawabanku.
"Tapi kan kakak hamil, kak Rangga nggak tau, kakak nggak ngasih tau?" Tanya Arya.
"Sudah pernah, tapi nggak ada tangapan malah seorang perempuan yang angkat telpon kakak" Arya melihatku tak percaya mendengar jawabanku.
Arya mengeleng, semua ini memang sulit dipercaya, apalagi dilakukan oleh seorang Rangga.
Adikku ini hanya menganguk, terpancar kesedihan disorot mata itu.
"Oh ya, kenapa kamu tiba-tiba disini?, pakai acara kejutan segala, sukses kakak benar-benar terkejut" ucapku.
"Arya nggak kalah terkejut" balasnya.
"Arya ada magang di sini 3 bulan, mau numpang di rumah kak Bila, kantornya nggak jauh dari sini" jelasnya.
"Kamu ke sini tadi naik apa? Terus sendirian aja magangnya?".
"Dianter temen tadi, 3 orang temenku yang magang , sama ama aku nginep tempet sodara juga" jelasnya.
---
"Kak, mas Wira itu asyik ya orangnya, main gitarnya juga jago banget, suaranya juga enak, bagus" puji Arya pada sosok Wira yang dikenalnya dua minguan ini.
Aku hanya tersenyum, mereka berdua memiliki hobi yang sama suka musik, Wira pun juga mengimbangi Arya dan teman-temanya yang terpaut umur dibawahnya.
"Kakak masak nggak suka baper gitu kalau dia nyanyiin lagu buat kakak" tanyanya dengan senyum mengoda.
Cowok ternyata punya jiwa kepo juga, tak terkecuali adikku ini.
"Aih, ayuk ni la tuo, katek lah baper-baperan macam budak sekolah be" jawabku.
Arya hanya terkekeh, dipikirnya kakaknya ini masih abg mungkin.
"Lah sapo tau, pacak bae kan, dalam nya laut dapat diselam dalam nya hati siapa yang yang tau" godanya lagi.
"Dem ah, serempak kakak, apo kawan kau?" tanyaku selepas selesai sarapan.
"Bareng Kakak ajha" jawabnya.
Kamipun berjalan beriringan, lumayan semenjak ada Arya, aku tak tak perlu menyetir sendiri.
---
Hari ini ada meeting persiapan pembukaan cabang baru klinik kami diluar kota.
Semua sudah siap seratus persen disana, sore nanti kami berangkat berempat. Perjalanan darat lumayanlah sekitar 5 jam perjalanan.
"Yakin aman ya?" Tanyaku karena dengan perut besar ini pasti akan lumayan riweh.
"Dokternya ada dua Bebz tenang saja" yakin Vivian.
"Tenang saja Siti, kita semua pasukan Siaga" tambah Wira sambil menunjukkan lengannya.
"Okay kita berangkat jam 4 sore ya" ucap Lody.
"Wira off ya mulai hari ini?" Tanya Vivian ke Lody.
"Iya, minggu depan juga pegang sana sementara, baru kita rolling dengan Dani"
__ADS_1
Jawab Lody
"Sementara Bebobz, biasa ajha mukanya, tiap hari juga sudah ketemu gitu" goda Vivian ke Wira. Dokter itu hanya terkekeh.
Bercanda semacam itu sudah biasa buat kami, karena itu cara kami mendekatkan diri. Aku mulai tak main hati, Wirapun sepertinya demikian tapi entahlah, kami rasa semua normal tak berlebihan.
\=\=
"Berapa hari kak?" Tanya Arya sore itu sambil membawakan tas berisi pakaianku ke teras depan
"Tiga hari-an lah" jawabku.
Tak berselang lama mobil Lody tampak masuk kehalaman, Wira turun memasukkan tasku ke bagasi belakang. Dan membukakan pintu untukku, setelah pamit ke Arya Wira pun naik kembali.
"Mas titip kakak sama ponakanku" pinta Arya ketika kaca mobil diturunkan.
"Pasti, tenang saja ada pasukan Siaga" jawab Wira lagi, Arya melambaikan tangannya.
\=\=\=
Perjalanan melelahkan, untung ada tol perjalanan kami lebih cepat, walau beberapa kali berhenti di rest area, karena aku tak bisa menahan buang air kecil.
"Kakinya jangan digantung, nanti bengkak" kata Wira, iya tak nyaman, Vivian memintaku menaikkan kaki diatas pangkuanya, kubersandar di jendela yang telah kuberi bantal.
"Nanti sampai Hotel direndam air hangat ya" ucap Wira lagi.
"Iya Pak Dokter" jawabku.
---
Acara Opening sedang berlangsung, benar saja, semua yang hadir, yang rata-rata wanita, selalu mengerubungi Dokter itu.
Vivian mengelengkan kepalanya.
"Dikira artis K-pop paling ya bebz" celetuknya melihat ada yang sampai meminta foto.
Aku hanya tertawa, terlihat Wira sampai mengusap keringatnya.
"Siti, tolongin" ucapanya tanpa suara, aku melihat dari gerak bibirnya.
"Apanya?" Tanyaku, dia memberi kode yang tak aku pahami.
Entahlah Aku berdiri, dan menghampirinya kemudian mengandenganya pergi.
Semua mata jadi fokus kearahku.
"Makasih siti" bisik Wira padaku.
"Makasih saja nggak cukup, nggak ada yang gratis" ucapku, Wira terkekeh.
Mungkin mereka mengira aku istrinya, aku mendengar meraka membicarakanku, Wira hanya cengar-cengir senang.
----
"Makasih ya Wir, sudah bantu kita" ucap Lody sebelum kami pamit siang ini.
"Iya sama-sama Lod, santuy" jawab Wira
"Bil, jaga diri ya, maaf nggak bisa ngapelin kamu tiap hari lagi" matanya melihatku manja.
"Yang kamu apelin aku ,Arya, apa Nini?" Tanyaku.
Karena kalau Wira tidak kerumah pasti kedua anak itu yang bingung.
"Kamunya saja nggak peka, malah ditinggal tidur" bibir dokter itu manyun, akupun tertawa.
"Jagain bambang junior ya" ucapnya senyum-senyum.
"Apa-an sih" balasku.
"Haduh.. serasa dunia milik berdua, kita diangap ngontrak Lod" ucap Vivian dengan muka malasnya.
Kamipun tertawa. Tak ada Wira pasti berasa berbeda, hariku selalu ada dia walaupun kuhanya mengangapnya teman, belum bisa lebih dari itu.
----
Ada mobil Ayah di halamanku, aku minta Lody menurunkanku di depan pagar saja.
"Assalamualaikum" salamku saat masuk ke rumah, tak terlihat siapapun.
Tapi kulihat banyak alas kaki di depan.
"Waalaikum salam" ada yang menjawab salamku.
Mama muncul dari dari kamar dekat tangga.
"Mama" pangilku kaget.
Mama memelukku dan menciumiku, dia mengusap perutku.
"Bil" itu suara ibuku.
"Bu" aku memeluknya dia menangis memelukku dan menciumiku juga.
Dalam sekejap semua orang keluar, ada orang tua Rangga dan mba Anis, orang tuaku dan bulik Lulik.
Aku bagai pesakitan yang sedang di introgasi, hanya mampu diam dan tertunduk, semua mata tertuju padaku.
"Kalian benar-benar membuat kami kecewa, masalah sebesar ini tak pernah kalian bicarakan dengan kami, kalian anggap apa kami ini" bulik Lulik yang biasanya lembut itu tak dapat menyembunyikan rasa kesalnya.
Tak ada yang sangup aku katakan kecuali Airmata yang tak berhenti mengalir.
"Kemana sekarang Rangga?" tanya bulik Lulik padaku, aku hanya mengeleng.
"Rangga baru terbang dari kalimantan, dia juga berbohong pada kami, dia bilang semua baik-baik saja, kami kira dia disini kami hubungi lagi sesampainya disini, ternyata dia di pindah ke sana beberapa bulan yang lalu" terang mba Anis kakak perempuan Rangga.
__ADS_1