BAYANG MASA LALU

BAYANG MASA LALU
BML Part 18


__ADS_3

#Bayang_Masa_Lalu_18


Karina berdiri didepan pintu, aku mengekori Rangga.


"Ada apa ?" Tanyaku pada Karina.


Tapi dia seolah tak mau melihatku.


"Mas, air di kamar mandiku mati" ucapnya ke Rangga.


"Oh kirain apaan" pagi-pagi udah kayak petasan banting.


"nanti ajha biar dibenerin mas Wawan, agak siangan dia anter Nini kesini. Ntar kuminta sekalian benerin" ucapku ke Karina, aku berjalan melewatinya.


Dia masih diam terpaku didepan Rangga. Mau apalagi pikirku


Akupun melangkah mundur dan menanyakan kenapa belum pergi. Karina hanya bersungut kesal dan masuk kekamarnya.


Aku berjalan menuju dapur dan merebus air panas untuk kopi Rangga.


Rangga mengikutiku kedapur.


"Sayang, Nini jadi dibawa kesini?" tanya Rangga padaku. Dia menuangkan air putih ke dalam gelas ditangannya.


"Iya sayang, kandungan Karina kan semakin lama semakin besar, dan Siska bilang kondisinya kurang begitu baik"


"Nini nggak akan cerita kemana-mana, kamu tenang saja" lanjutku.


Kuletakkan kopi didepan Rangga, yang masih termanggu, entah apa yang dipikirkan lelakiku itu.


"Aku mandi dulu" pamitku sambil memegang lengannya.


Kemudian beranjak kekamar mandi, aku ada janji dengan Lody dan Vivian pagi ini.


Rangga sudah duduk di tepi ranjang saat kukeluar dari kamar mandi.


"Sayang, berangkat pagi?" tanyanya melihatku bersiap.


"Iya, ada janji sama bebebz" jawabku.


Rangga memperhatikanku yang sedang mematut diri didepan cermin.


Rangga berdiri dan memelukku dari belakang.


"Kamu kurusan" ucapnya kemudian.


"Baguslah nggak usah diet berarti aku" candaku.


"Aku minta maaf ya sayang" ucapnya kemudian.


Aku membalikkan badanku, kutangkupkan tanganku ke wajah lelakiku ini.


"Sudahh.. masih pagi, no melow melow, aku gak suka" ucapku kemudian mencium pipinya.


Sedang tak ingin bermain perasaan sepagi ini. Aku lebih suka kalau Rangga mengodaku dengan gombalannya walau terkadang garing.


"Ayok mandi... auk acem" ucapku lagi.


Setelah menyiapkan baju Rangga di ranjang, kumasukkan barang-barangku kedalam tas.


Aku menunggunya sampai selesei mandi. Dan pamit setelahnya.


Aku sempatkan membuka ponselku dimobil, pesan dari mas Firman, dia masih menunggu penjelasanku. Tapi itu bukan urusannya lagi. Aku tidak perlu menjelaskan apapun ke dia atau orang lain tentang rumah tanggaku.


Aku memilih tak membalasnya.


Aku lajukan mobilku ke Klinik. Kulihat sudah ada mobil Lody, tapi tak kulihat mobil Vivian, sepertinya dia belum datang.


Segera ku masuk ke ruanganku, meletakkan tas dan pergi keruang meeting. Lody sudah ada disana, ada Dr Atika dan Wira juga, serta Jenny.


"Tunggu Vivian dulu ya, ucap Lody padaku" akupun menganguk. Dia menyiapkan laptop dan proyektor.


Kursi kami membentuk setengah lingkaran. Lody memberikan beberapa gambar kepadaku.


"Maaf maaf saya terlambat" Vivian datang dengan nafas ngos-ngosan. Aku kemudian menyodorkan sebotol air mineral saat dia duduk disebelahku.


"Baiklah, bisa kita mulai ya..?" tanya Lody kemudian.


Kami akan membahas tentang alat yang akan segera didatangkan dengan teknologi terbaru.


Lody menjelaskan banyak hal terutama keungulannya.


Alat ini mengunakan teknologi laser.


Aku mendengarkan penjelasan Lody sambil memainkan rambutku dengan jari.


"Harapan kita, dengan pengunaan teknologi terbaru ini akan semakin memberikan pelayanan yang lebih berkualitas lagi" tutup Lody.


Ketukan terdengar di pintu, Laras muncul membawa kopi dan kue lalu membaginya.


Kami sempatkan mengobrol dan saling bertukar pikiran sebelum memulai pekerjaan hari ini. Team work yang solid harus dibentuk demi tercapainya tujuan perusahaan.


Tak melulu serius, kami lebih banyak mengumbar tawa dalam obrolan pagi ini.


Setelah merasa cukup, kamipun kembali memulai aktifitas kerja kembali. Aku kembali keruanganku, ku membuka ponsel yang sengaja kutingalkan di dalam tas. Tapi ku urungkan niatku, aku kembali memasukkannya  kedalam tas.


Aku harus segera ke butik.


Aku kemudian menutup ruanganku,dan berjalan ke ruang Vivian untuk berpamitan. Aku sedang membenarkan kancing bajuku saat aku tak sengaja menabrak Wira yang baru keluar dari ruang Vivian.


"Maaf Bu Nabila?" Ucapnya kemudian.


"Saya yang salah Dokter" balasku.


Dokter muda itu tersenyum grogi, kemudian ijin berlalu.


Entahlah kenapa aku hobby banget nabrak orang kalau jalan, mas Firman suka bilang aku 'meleng' kalau jalan. Kenapa jadi mas Firman?.


"Saiy, aku ke butik dulu yes?" Pamitku hanya membuka sebagian pintu ruang kerja Vivian.

__ADS_1


"Iya bebz, hati hati muachh" Vivian memonyongkan bibirnya.


Kulihat jam ditanganku sudah jam 11 lebih. Ku berjalan ke arah parkiran lewat pintu belakang. Aku memarkirkan mobil di halaman belakang yang dikhususkan untuk karyawan.


Tanganku mencari kunciku di dalam tas, dan menekan tombol bergambar kunci terbuka.


Aku hentikan langkahku saat mas Firman muncul dari belakang mobilku.


Matanya tajam menatapku, aku merasa seperti pesakitan. Kadang heran, apa dia tak ada pekerjaan lain. Bukannya aku tidak suka perhatiannya, tapi aku sudah menikah bukan single lagi.


"Mas jangan disini, banyak cctv" ucapku mendekatinya. Aku tau maksud kedatangannya.


Diabaikan di ponsel tak ada pengaruh baginya.


Diapun keluar lebih dulu menuju mobilnya. Aku melaju pelan keluar dari klinik, mobil mas Firman mengikutiku.


Bingung mau membawa mas Firman kemana. Kulihat dia masih membututiku.


Aku arahkan mobilku ke hutan kota, disana ada parkiran mobil luas dan lokasi tidak terlalu ramai. Bahkan sepi kalau jam kerja seperti ini. Aku parkirkan mobilku, benar saja sepi, mas Firman memarkirkan mobilnya disebelahku.


Aku berdiri didepan mobilku. Tangan kulipat didada. Menunggunya keluar dari mobil.


"Kenapa tak membalas pesanku, tak mengangkat telponku?" tanya mas Firman padaku setelah turun dari mobilnya.


"Maaf, Bila masih meeting tadi, hp Bila tinggal di tas" alasanku.


"Okay, kamu belum menjawab pertanyaanku kemarin" wajah mas Firman terlihat lebih serius dari biasanya.


"Rangga suamiku" jawabku tanpa menatapnya.


"Lalu wanita hamil itu?"


"Istrinya juga"


"Maksudnya?" Mas Firman terlihat bingung dengan jawabanku.


"Mas, ini rumah tangga Bila, biarkan Bila selesaikan sendiri" ucapku kemudian.


"Bila tau mas sangat menyayangi Bila, tapi ini sudah berbeda, ada batasan yang harus tetap kita jaga". Lanjutku.


Mas Firman berdiri didepanku, kedua tangan nya memegang lenganku.


"Bil, mas tak bisa memahami hubungan rumitmu dengan mereka dan tak mau tau, tapi mas hanya ingin melihat kamu bahagia. Mas akan pergi dengan rela kalau kamu benar-benar bahagya, tapi mas akan terus menjadi bayaganmu apabila mas masih melihat kesedihan dimatamu"


"Ini tak seperti yang mas pikirkan, Bila dan Rangga baik- baik saja, hanya kami sedang diuji" balasku ke mas Firman.


"Mas Firman tak perlu mengkuatirkan Bila, Bila pasti bisa melewati semua ini" yakinku ke mas Firman.


Mas Firman melepaskan lenganku. Aku tau bukan hal ini yang ingin dia dengar, ungkapan sok kuatku.


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dari masalah rumahtanggaku.


"Mas kemarin aku bertemu ibu"


Mas Firman kaget mendengar perkataanku.


"Masih tetap cantik ya" pujiku kemudian.


"Ibu minta maaf padaku atas segala yang sudah dilakukannya dimasa lalu" lanjutku.


"Terus" ucapnya saat ku mulai berhenti.


"Ya Bila maafin, lagian itu juga sudah lama Bila juga udah maafin dari dulu-dulu" sambungku lagi.


Ada kelegaan terbaca dari tatapan mata mas Firman padaku.


Aku melihat jam di tangan kiriku, sudah hampir jam 1.


"Mas, Bila masih banyak kerjaan. Bila ke kantor dulu ya?"pintaku pada mas Firman.


"Nggak sekalian cari makan?" tanyanya kemudian. Aku mengeleng.


Mas Firman masih terus menatapku, membuatku jadi salah tingkah sendiri.


"Apaan sih liatnya gitu banget" protesku untuk menutupi grogiku. Mas Firman malah tersenyum melihatku yang salah tingkah.


"Udah ahh" akupun melewatinya yang masih tersenyum melihat mukaku memerah.


Aku membuka pintu mobil, dan segera masuk. Mas Firman mengetuk kaca mobilku, aku kemudian menurunkan kaca mobilku, hingga wajahnya tepat disampingku.


"Hati-hati" ucap mas Firman dengan senyum dan tatapan  teduhnya, aku menoleh dan mencoba membalas senyumnya


Aku memundurkan mobilku, dan lekas melajukannya ke arah kantor.


----- sesampainya di kantor Butik-----


"Kak, ini beberapa laporan belum di periksa" ucap Sintia, saat ku baru mendudukkan pantat dikursi.


"Taruk situ dulu Sint, ntar kakak periksa" pintaku pada Sintia.


Aku kembali berkutat dengan pekerjaanku.


----


Sudah seminggu Nini ikut denganku di Serayu, aku tau dia kurang nyaman dengan Karina begitupun sebaliknya. Karina mengadu ke Rangga kalau Nini tak mau menuruti perintahnya. Rangga yang biasanya tak menghiraukan keluhan Karina, kali ini responnya beda. Dia memintaku menegur Nini.


"Nggak bisa" tolakku ke Rangga.


"Nini bukan pembantu, dia sudah seperti adikku" ucapku kemudian.


"Tapi aku takut emosi Karina mempengaruhi perkembangan bayinya" ucap Rangga kemudian.


"Kamu tegur sendiri ajha" ucapku kemudian. Rangga malah mengeleng.


"Kan Nini ikut kamu, bukan kita apalagi aku" ucapnya kemudian.


"Iya aku ga bisa dan gak mau negur" tegasku.


Melihatku kesal Rangga meraih tanganku. Dan menciumnya.

__ADS_1


"Sayang aku ngak ada maksud apa-apa, maaf ya udah bikin kamu marah" ucapnya kemudian. Aku masih diam memasang muka kesalku.


"Sayang..." rayunya lagi. Kemudian memelukku


"Malas, mau mandi dulu" ucapku berusaha lepas dari dekapannya.


"Maafin dulu!" Pintanya, setengah hati akupum menganguk.


"Udah ah mau mandi" aku bersungut, Rangga melepaskanku dan aku langsung bergegas mandi.


Selesai mandi dan bersiap, aku berjalan ke dapur. Nini sudah menyiapkan Kopi untukku, tapi dia tak mau menyiapkan untuk Rangga, apalagi Karina. Kulihat Karina membuntutiku di dapur, sepertnya dia barusan masak sesuatu.


Rangga duduk didepanku, Karina segera menghampirinya.


"Mas aku bikinin nasi goreng buat sarapan" Karina meletakkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok.


Sekilas aku melihatnya. Warnanya gelap dan berminyak. Aku mengambil roti dan kemudian pelan kuoles selai coklat sambil sesekali melihat mereka.


Rangga terlihat menolak tangannya sudah hendak mengambil roti tawar didepannya.


"Kenapa? padahal aku dah bela belain bangun pagi buat bikinin mas sarapan" rajuk maduku itu.


"Aku ga biasa makan berat Rin " jawab Rangga keukeuh menolak.


Aku masih saja mengoles roti didepanku. Sambil terus memandangi mereka.


"Mas ini bayi kita yang mau buatin nasi goreng buat papanya, mas tega ya..." Karina semakin meranjuk.


"Iya iya aku makan" ucap Rangga menyerah.


Aku menumpuk roti yang sudah kuoles dari tadi dan mulai mengigitnya.


Nini yang sedari tadi melirik keduanya sambil membereskan belanjaan. Memutar mutar mulutnya menirukan Karina. Dan menirukan gaya seperti mau muntah. Aku hanya memelototinya.


"Aku suapin ya" dengan riang Karina menyendok nasi goreng buatannya, dan mulai membelah telur ceplok diatasnya dengan garpu, seketika lelehan kuning keluar dari dalamnya, tapi Rangga tak melihatnya. Karina buru buru menyuapkan ke mulut Rangga.


Seketika ekspresi Rangga berubah, auhh aku mendengus pelan mengangkat sebelah bibir atasku, kasian sekali pria malang ini. Rangga seperti aku tak doyan telur setengah matang. Seketika Rangga mau memuntahkan isi mulutnya dia


buru buru meminum air putih didepannya.


"Ga enak ya mas" melihat ekspresi Rangga Karina terlihat kecewa.


"Emm aku baru ingat ada janji pagi ini, Rangga buru buru berdiri.


"Sayang aku duluan ya" pamitnya kearahku. Tangannya menyambar roti yang baru akan kumasukkan kembali kemulutku, dan melangkah cepat.


Karina menatapku yang masih melonggo dengan tangan masih didepan mulutku. Dia memalingkan wajah kesalnya dan meningalkan meja makan.


Tawa nini pecah seketika. Aku memelototinya, walau sebenarnya aku juga ingin tertawa. Aku berusaha menahannya.


-----


Semakin hari, tingkah karina semakin menjadi dia sangat pintar mempermainkan emosi Rangga. Bayi dalam perutnya selalu dijadikan alasan. Dia seolah tak membiarkan Rangga bersamaku walau sedetik saja.


Karina selalu bergelayut di lengan Rangga, dan alasannya selalu sama bayinya.


Aku mulai bersikap dingin ke Rangga. Aku lebih suka membawa pulang pekerjaan kantor untuk mengalihkan perhatianku dari mereka. Dan siang aku lebih senang keluar dengan Vivian, Lody, Sintia terkadang mas Firman.


Rangga lebih sering pulang saat istirahat siang. Karena beberapa kali Karina mengatakan kalau dia pendarahan.


------


Pagi ini aku sudah bersiap lebih pagi, hari ini jadwal Karina kontrol.


Aku sedang menyisir rambutku saat Rangga selesai berganti pakaian.


"Sayang"


Rangga memelukku dia mencium ujung telingaku. Hatiku berdesir, lama aku tak menikmati sentuhannya.


Tapi ketika aku mengingat tangan ini juga yang mendekap wanita itu akhir akhir ini, hasratku menjadi padam.


Aku melepaskan pelukan Rangga. Baru suami tampanku itu akan bertanya kenapa, sudah terdengar pangilan Karina dari luar.


Aku menunjuk kearah pintu dengan daguku.


Rangga masih terpaku didepanku, tapi akhirnya memilih berlalu karena Karina terus memangilnya.


"Mas aku maunya cuma kita berdua yang pergi" rengek Karina ketika melihatku keluar dari kamar.


"Aku mau Nabila ikut, biasanya kan juga dia yang nemenin kamu"


Mendengar ucapan Rangga, karina terdiam dan sesengukkan sambil mengelus perut buncitnya.


"Padahal bayi ini loh yang mau sama papanya"


"Oh gak papa kok, kalian berdua saja. Aku baru ingat mau ketemu klien pagi juga"


Ucapku sambil memalingkan badan dan kembali kekamarku. Rangga mengejarku.


"Sayang..." Rangga meraih tangganku. Aku membalikkan badan kearahnya. Dia melihatku dengan pandangan iba, merasa bersalah.


"Gak papa sayang, aku baik baik saja" ucapku sok tegar.


"Kamu antar Karina ajha, aku beneran ada janji sama Vivian pagi ini, cuma tadi lupa" alasanku.


Rangga melepas tangganku, ketika mendengar tangis Karina semakin membesar.


Aku duduk ditepian ranjangku, suara mobil Rangga sudah tak terdengar lagi derunya.


Nini berdiri di depan pintu.


"Hati mba terbuat dari apa sih? Nini saja yang cuma ngelihat nggak bisa terima mba digini in" ucapnya emosi.


"Mba kok bisa sesabar ini, Nini kira cuma ada di pilem pilem orang kayak gitu, ternyata benar benar ada dikehidupan nyata" suara Nini terdengar meledak ledak.


Aku hanya terdiam tak mampu berkata apapun untuk menjawab pertanyaan pertanyaan Nini.


"Mba.. Nini ga kuat lagi, Nini pulang saja kerumah Cempaka ya?, Nini gak mau disini lagi.."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2