
#BAYANG_MASA_LALU
#BMLPart34
LinDa Vin
\=
Aku sadar tak bisa membantah dalam kondisi dan situasi sekarang. Memilih diam mungkin itu pilihan. Daripada kenekatan mas Firman berlanjut mendengar penolakanku. Aku belum siap dengan semua hal ini.
"Maaf Bila permisi, teman Bila sudah menunggu." ucapku ke orang tua mas Firman. Mereka tersenyum padaku.
"Ay," Sapaku pada Ayu, dia tersenyum padaku, sepertinya dia ikut andil dalam hal ini.
Aku beranjak dari mereka, mas Firman mengikutiku.
"Ngapain sih mas?" keluhku, kukibas pelan tangan mas Firman risih saat dia ingin mengandengku.
"Kamu bilang, ingin diperkenalkan ke semua orang." ucapnya.
"Mas marah atas ucapanku waktu itu?" tanyaku padanya. Dia menģeleng.
"Bil, mas hanya ingin memenuhi semua permintaanmu, aku mau buktiin aku bisa melakukan semuanya untukkmu."
Entahlah apa yang ada dipikiran ayah Armand ini. Dia benar-benar tak bisa ditebak, kupikir setelah hari itu semua sudah berakhir, ternyata aku salah.
"Mba Ajeng kok nggak kelihatan?" tanyaku kemudian. Aku tak melihatnya lagi setelah tadi.
"Dia pulang, nggak bisa lama-lama." jawab mas Firman.
Sebenarnya banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya, tapi bukan sekarang dan bukan di tempat ini.
"Bebz dari mana aja?" Tanya Vivian, dia kemudian tersenyum dan menyapa Mas Firman yang berdiri disampingku.
"Selamat ya Pak Andre atas pembukaan Resort nya." Vivian mengulurkan tanganya.
"Terima kasih Vi." mas Firman menyambut tangan Vivian.
"Oh. Udah lama kenal ya?" Pancing Vivian, dia kepo sejak ulang Tahun Lody beberapa waktu yang lalu.
"Kamu nggak cerita tentang kita?" Mas Firman menatapku, untuk apa juga aku cerita pikirku.
"Aku dan Nabila ... " Aku mencubit lengan mas Firman.
"Apa sih Bil, Vivian kan mau tau, di sahabatmu kan?" Alasan mas Firman
Mataku melotot.
"Biar Bila yang cerita sendiri." ucapku kesal.
"Mas pamitin lagi ke Ibu sama Bapak sama Ayu juga, Bila mau pulang dulu kepala Bila sakit." ucapku, kepalaku benar-benar berat.
"Aku anter?"
"Mas aku sudah sama Vivian tak perlu diantar." Alasanku.
"Ya udah mas antar sampai mobil."
"Nggak perlu juga, itu tamu mas masih banyak, ngapain ngurusin Bila terus."
"Karena kamu sangat berarti buat aku Bil."
Jawab mas Firman.
"Hahh ... " Vivian menutup mulutnya dengan kedua tanganya saat mendengar ucapan mas Firman.
"Ya udah, daripada ngambek, hati-hati ya, Vi titip belahan jiwaku ya."
Vivian menahan nafasnya, dan mengipaskan tangannya.
"Panas bebz." ucapnya padaku entah apa maksudnya.
Aku berlalu dengan wajah kutekuk malas dan sebal, tapi mas Firman terlihat bahagia, dasar Aneh ...
"Bebz sumpah aku merinding, aku ketingalan berapa episode coba, sampai aku tak tau hubungan kalian."
"Beneran harus cerita, ini menyangkut banyak hati." lanjutnya. Aku menoleh.
"Maksudnya saiy?" Tanyaku. Vivian mengeleng.
Sepanjang perjalanan aku banyak diam, hatiku benar-benar kacau, apa-apaan coba jadi seperti ini. Rasanya ingin menghilang ketempat yang jauh. Menenangkan hatiku yang tak karu-karuan rasanya.
----
Aku hempaskan pantatku di kursi kerjaku, Vivian mengikutiku, dan duduk di depanku.
"Saiy bukannya aku nggak mau cerita, tapi dirumahku ajha ya, jangan disini."
"Berat sepertinya." ucap Vivian,.aku hanya menganguk.
"Banget." balasku lagi.
Vivian terlihat ikut serius, sudah mulai meraba atau mungkin sedang menerka-nerka.
"Harus hari ini ya ceritanya?" Tanyaku, berniat menunda, aku masih bingung mengatur hatiku.
"Sampai kamu tenang ajha bebz, penasaran sih, tapi kalau belum siap jangan dipaksa."
Jawab Vivian bijak.
"Makasih ya saiy." ucapku, Vivian menganguk.
"Bebz aku tinggal bentar ya." pamit Vivian aku hanya menganguk.
Semua yang terjadi sama sekali tak pernah terlintas sedikit saja dalam pikiranku. Tak pernah terpikirkan mas Firman senekat ini, walaupun aku tau karakternya yang keras kepala dan pantang menyerah alias ngeyelan.
__ADS_1
Kenapa dia harus berubah pikiran, dan kenapa keluarganya juga mendukungnya? Kepalaku berputar rasanya, bagaimana lepas dari semua ini.
Terlalu banyak hal yang aku sembunyikan yang akhirnya menjadikan ketakutan tersendiri buatku, kalau terbuka sewaktu-waktu.
--------
"Kak ada tamu dibawah."
Sintia masuk dan memberitahuku ada yang menunungguku di ruang meeting.
"Siapa? Kakak nggak ada janji kan?"
Sintia mengeleng.
Siapa lagi?, aku bergegas turun dan masuk keruangan 3 x 5 itu.
Seorang wanita dengan penampilan mentereng menungguku, aku tak mengenalnya, tapi dari pandangan pertama terasa ini bukan pertanda baik.
"Selamat siang, maaf dengan Nyonya siapa? dan keperluan dengan saya apa ya?"
Tanyaku kemudian. Wanita itu tak bangun dari kursinya saat ku datang.
Kepala mendongak dan tatapan serta raut muka merendahkan, aku membacanya demikian.
"Saya mamanya Ajeng, Ajeng Pramudya
Sudrajat." kenalnya. Oh ini rupanya yang bernama Nyonya Pramudya, Aku menganguk.
"Keperluan dengan saya?" Tanyaku dengan wajah datar.
Dia tidak segera menjawabku. Dia kemudian membuka ponselnya.
"Nabila.. memiliki 2 butik, pabrik konveksi, klinik dan salon kecantinkan, Rental mobil dan sebuah peternakan."
Aku sedikit berfikir apa maksud wanita itu menyebutkan usahaku.
"Kamu pikir dengan memiliki itu semua kamu merasa sudah sepadan?, kamu tau? itu tak ada seujung kukupun dibanding kekayaan keluarga Sudrajat." ucap wanita itu dengan senyum sinis.
"Kamu tak berhasil menjadi keluarga Sudrajat dimasa lalu, dan sepertinya kamu masih mau mencoba lagi, dasar wanita murahan kelas rendahan, mau kaya cara instan."
Aku mulai paham dengan yang wanita inginkan, dan dia sudah menyelidiku rupanya. Telingaku mulai panas atas hinaanya.
"Nabila, kamu harus tetap ingat dengan semua yang kamu miliki sekarang tak akan merubah stratamu, kamu tetaplah anak seorang sopir dan ibumu seorang mantan babu, kelasmu kelas bawah jangan membandingkan dirimu dengan anak saya."
Aku masih menyimak dan menunggu kalimat pedas apa lagi yang akan keluar. Darahku sudah memanas.
"Dan kalau kamu ditinggalkan suami kamu, rumah tanggamu berantakan, bukan berarti kamu bisa merusak rumah tangga orang lain agar senasib denganmu."
Kalimat terakhir membuat lengkap membakar hatiku
"Jauhi Firman, jangan ganggu rumah tangga anak saya, atau saya bisa menghancurkan kamu beserta seluruh keluarga kamu."
Ancam wanita itu.
"Nyonya Pram yang terhormat, terima kasih untuk sanjungannya kepada saya, apa yang saya capai dan dapatkan sekarang itu buah hasil kerja keras saya walau tak sampai seujung kuku, bukankan itu lebih baik daripada putri anda yang bisanya hanya berfoya-foya tanpa menghasilkan apa-apa."
"Kalau mas Firman lebih memilih saya, dibanding mba Ajeng, kenapa tidak mengoreksi mba Ajeng lebih dulu, apakah dia sudah menjadi istri yang baik, perasaan dan cinta seseorang itu bisa berubah, kalau mba Ajeng memang baik pasti lambat laut bisa mengambil hati mas Firman, jangan menyalahkan orang lain."
"Dan untuk rumah tangga saya, Anda tak mengerti apapun jadi tak usah merasa tau tentang kehidupan saya."
"Oh ya, Rejeki itu Tuhan yang mengatur, sedikitpun saya tidak merasa takut atas ancaman anda, Anda keliru kalau berfikir ancaman anda membuat saya takut."
Wanita itu terlihat mencengram ponsel ditanganya.
"Emm, sebenarnya saya kasihan dengan mba Ajeng, bahkan saya memilih untuk menolak mas Firman berkali-kali, tapi kedatangan anda dengan segala keangkuhan anda membuat saya berfikir ulang."
"Anda pasti tau, mas Firman rela melakukan apapun demi saya, bahkan besan anda pun sudah welcome atas kehadiran saya kembali, di kehidupan mas Firman."
Aku tersenyum sinis
Kuperlihatkan sikap Sombongku, walaupun itu bukan dari hatiku.
"Kamu akan membayar mahal , atas penghinaanmu hari ini." ucap wanita itu lalu berdiri dan beranjak.
"Oh ya, kalau ternyata mas Firman masih menemani mba Ajeng, itu berkat rasa kasihan saya sebagai sesama wanita, Anda berdoa saja semoga iba saya muncul kembali, karena mas Firman pasti menuruti semua permintaan saya."
Lanjutku saat wanita itu sudah sampai didepan pintu. Dia berhenti sejenak dan kemudian membuka dan menutup kembali dengan keras.
Jadi tau dari mana sifat angkuh mba Ajeng menurun.
Aku menarik nafasku dalam, mas Firman aku harus bicara kembali dengannya.
Aku bergegas naik keruanganku, Sintia sepertnya sedang istirahat. Aku langsung masuk dan mengambil ponselku.
Kucari namanya dan menekan tombol pangilan.
Aku tak pernah menghubunginya, dia yang selalu menghubungiku.
"Assalamualaikum mas." salamku saat dia menerima pangilanku.
"Waalaikumsalam Bil, tumben kangen ya." Terdengar suaranya begitu riang.
"Mas Bila mau ketemu."
"Sekarang? Mas ada janji dengan klien jam setengah dua, tapi kalau kamu sudah kangen sih nggak apa-apa aku pending buat kamu." Dia sengaja mengodaku.
"Bila tunggu Mas selesai ketemu klien saja" lanjutku.
"Nanti Mas langsung kekantor kamu ya"
"Iya Mas, makasih, Bila tunggu.. daa" kututup ponselku
Perasaanku kacau, aku juga masih bingung bagaimana menolak mas Firman, bagaimana bicara baik-baik padanya dan membuatnya mengerti.
Aku kembali mengambil ponselku, kutuliskan sebuah pesan ke Vivian, aku memintanya tidur dirumah, aku butuh teman bicara, tak kuat lagi menyimpan semua hal ini sendiri.
__ADS_1
[Bil, besok waktunya kontrol aku antar ya]
Sebuah pesan masuk dari Wira, aku sendiri lupa waktunya kontrol kandunganku, dia mengingatnya.
[Makasih ya udah di ingatkan]
Balasku
[Boleh aku antar?]
[Aku ditemenin Bebebz besok, mau ikut?]
Maafkan aku Wira, kamu terlalu baik aku jadi takut sendiri dengan kebaikanmu.
Aku takut kau salah mengartikan kedekatan kita dan memang sudah sepertinya.
Kumainkan ponselku, kuputar-putar. Kenapa coba jadi seperti ini, yang aku harap datang dia pergi, yang kuharap pergi dia malah kembali. Kepalaku pusing, kupergi memgambil wudhu aku belum sholat dzuhur.
---
"Kak, ada Pak Andre." Sintia muncul dari balik pintu, kulihat jam di tanganku, katanyanya janjian dengan klien.
"Eh pak, Silahkan." Sintia membukakan pintu ruanganku lebar, mas Firman menyusulku ke atas.
"Makasih Sintia." sapanya ke Sintia.
"Sama-sama pak, permisi." Sintia menutup pintu ruanganku sambil senyum-senyum.
"Katanya ketemu klien?" tanyaku, mas Firman duduk didepanku, sambil meletakan sebuah toples kecil sepertinya berisi coklat.
"Ketemu kamu lebih penting."
Jawabnya, aku meraih toples itu dan melihat isinya, benar coklat. Aku mengoyangkanya.
"Buat kamu, katanya bagus buat ibu hamil awal-awal gitu, kandungan flavonoid dalam coklat bagus buat perkembangan janin."
Jelas mas Firman, sudah seperti Wira saja, nah, jadi ingat Wira.
"Makasih ya." Ucapku,
mas Firman menganguk, dia memajukan kursinya, tanganya diletakkan diatas meja untuk menopang wajahnya.
"Tadi mau ngomongin apa?" Tanyanya menatap ku lembut.
Aku bingung mulai dari mana, apalagi melihat wajah yang sok romantis itu,
"Mas ... " bukaku, mulai serius.
"Hmm ... " jawabnya, aku tak suka caranya menatapku.
"Liatnya jangan gitu, Bila jadi nggak bisa ngomong kan."
"Hmm mas kangen Bil." ucap mas Firman sambil tersenyum tanpa melepas pandanganya dariku.
"Kok liatnya dingin gitu?" lanjutnya lagi.
Aku menarik nafas dalam dan menghebuskan berlahan.
"Mas Bila mau bicara tentang ... "
Terdengar pangilan di ponsel mas Firman. Dia meraih ponselnya dari saku kemejanya.
"Dari Ibu sebentar." ucapnya padaku, akupun menganguk.
"Iya Bu, ini Firman lagi sama calon mantu Ibu." Mas Firman menjawab Ibunya dengan senyum-senyum padaku.
"Oh, sekarang dimana?" Ekspresi mas Firman berubah tegang.
"I..iya bu." mas Firman menutup telponya dan mengembalikan ke sakunya.
Wajahnya terlihat tegang.
Aku melihatnya, menunggu penjelasannya.
"Kondisi Ajeng ngedrob." jelasnya.
"Sekarang mba Ajeng dimana?" Tanyaku.
"Sedang perjalanan ke rumah sakit."
"Ya udah sana kerumah sakit!" suruhku ke mas Firman.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanyanya terlihat tak enak.
"Nggak apa-apa, mas kerumah sakit aja." aku berdiri dan menarik mas Firman berdiri.
"Beneran?" Tanya nya lagi, seolah engan pergi, aku mendorong mas Firman ke pintu.
"Iya, sudah sana." pintaku. Lalu aku membukakanya pintu.
"Aku pergi dulu ya." tangan Mas Firman mengusap kepalaku dan beranjak, setelah menyapa Sintia sosok itu mulai menuruni tangga.
Aku melihat ke Sintia yang senyum-senyum, pura-pura melihat layar komputer didepannya.
"Aahhh, so sweat banget sih pak Andre gemess." goda Sintia kemudian.
"Hmm dah jangan berfikir aneh-aneh." ucapku ke gadis itu, tapi dia malah terkekeh.
Aku hempaskan pantatku ke kursi, aku tak nyaman dengan situasi ini. Apa hanya karena takut disebut pelakor sehingga aku ingin menolak mas Firman, tidak, lebih dari itu, ada yang menganjal dihatiku, terutama Rangga, tapi kenapa pria itu menghilang begitu saja, apa aku harus memohon dan memohon lagi, aku sudah berkali kali melakukannya.
Kacau pikiranku, membuatku tak bisa bekerja, ayo Nabila kenapa kamu terlihat begitu lemah dihadapan mas Firman, kenapa dia terlihat memegang kendali atasmu. Tinggal katakan "Tidak" kenapa sulit sekali.
Sulit karena dia tidak mengenal kata tidak, berkali-kali sudah meminta dia pergi, dia selalu memiliki cara membawa dirinya kembali, selalu seperti itu.
Itu karena kelemahanmu sendiri, kau memberikan ruang dihatimu, kau tidak menutup rapat-rapat hatimu untuknya. Kau juga masih punya perasaan terhadapnya.
__ADS_1
Dua sisi pikiranku saling berebut dan bertengkar sendiri. Benar-benar sakit kepalaku rasanya.
Bersambung ...