
#Bayang_Masa_Lalu_16
---♥️♥️♥️
Like n Komentnya yess biar tambah semangat nge Post kelanjutannya...
Eh kamu timnya siapa nih??
Tim nya Nabila-Rangga??
Atau
Tim nya Nabila - Firman??
Atau..uu
Timnya Nabila - Pengagum Rahasia??
---♥️♥️♥️
"Sayang maaf, kamu naik grab ajha ya, Karina perutnya sakit lagi. Takut ada apa apa sama bayinya"
Air hangat itu menumpuk dipelupuk mataku, mengalir tak dapat kutahan.
Apa yang kuinginkan dan yang kutakuti terjadi bersamaan. Aku begitu sombong dan percaya diri akan cinta rangga padaku.
---
Rivalku memang bukan Karina tapi bayi diperut wanita itu.
Dan karena kebodohanku sendiri juga Karina memanfaatkan bayi itu untuk menaklukkan hati Rangga.
"Bil, kenapa kamu belum pulang"
Sebuah pesan WA masuk, dari mas Firman.
Darimana dia tau aku belum pulang.
Aku sengaja tak membalasnya.
"Malam Bu" sapa pak Yoni satpamku.
"Itu grab nya sudah menunggu dari tadi" lanjutnya.
Aku merasa belum memesan di aplikasi. Ah mungkin Rangga yang memesankan untukku.
"Oh.. ya. Makasih pak Yon, pulang dulu" pamitku.
Aku langsung membuka pintu belakang tapi sepertinya terkunci, akupun kemudian membuka pintu depan dengan maksud memberi tahu driver kalo pintu penumpang terlock.
"Mas Firman" ucapku kaget.
"Masuk Bil".
"Kok mas disini?"
Jangan jangan kegilaan mas Firman kambuh lagi pikirku.
"Naik " pintanya, ku masih ragu tapi kulihat tulus dimatanya. Akhirnya kumasuk mobilnya juga.
"Nggak tau, kepikiran ajha sama kamu, pas aku lewat, ruangan kamu masih nyala lampunya, aku tanya satpammu kamu masih diatas" jelasnya tanpa kuminta.
"Sayang, aku tidur dicempaka dulu ya" kutekan tombol send ke no Rangga.
Tak berselang lama Rangga menelponku.
"Kenapa sayang, tumben ke cempaka" tanyanya kemudian.
"Iya sayang, lagi pengen ajha. Gak papa kan"
Jawabku
"Heem sayang gak papa. Sampai rumah telpon ya" pesannya
"Iya Assalamualaikum" tutupku
Aku memasukkan kembali ponselku kedalam tasku. Menyandarkan tubuhku kekursi dan memejamkan mataku.
"Bil.. Bila" pangil mas Firman. Tapi aku memilih pura-pura tidur.
Maafkan aku mas, aku tak mungkin bercerita tentang masalahku padamu atau siapapun.
Aku takut ini akan mengoyak rajutan cintaku untuk suamiku.
Aku tak ingin memberi kesempatan lagi hati ini untuk terbagi.
Aku tak ingin terlihat lemah, walau serapuh apapun diriku.
Sehingga aku tak mampu menepis pesonamu kembali.
Aku tau mas, dihati kita masih ada rasa itu. Tapi biarlah hanya menjadi masa lalu kita.
Aku kaget saat mas Firman menjawil pelan pipiku, rupanya aku benar benar terlelap.
"Sudah sampai, Bil" ucapnya kemudian.
Aku mengucek mataku, mobil mas Firman sudah menepi didepan pagar rumahku.
"Mas makasih ya, dah anterin Bila pulang" aku menoleh kearah mas Firman.
Seperti tadi siang, mas Firman hanya tersenyum.
Nini kaget melihatku.
Dia bertanya apa aku baik baik saja melihat wajah kusutku.
"Nggak papa Nin, mba mau tidur dulu ya" pamitku.
"Sayang, aku dah dirumah. Aku tidur dulu ya" aku hanya mengirimkan pesan.
Aku sedang tak ingin bicara ke Rangga sekalipun.
__ADS_1
"Sayang, aku ntar bawa Nini ke Serayu. Kasihan Karina harus ada yang nemenin, biar kamu nggak kepikiran juga"
Ucapku saat Rangga menjemputku pagi itu.
"Tenang saja aku tau Nini seperti apa" jelasku lagi.
"Sayang kamu baik baik saja?" Tanya Rangga kemudian.
Mana mungkin aku baik baik saja ketika melihat suamiku dengan wanita lain.
"Aku harus baik-baik saja, aku harus terima segala konsekuensi dari keputusan yang sudah aku ambil, sepahit dan sesakit apapun itu" jawabku.
Mataku mulai memanas ketika mengucapkan kalimat itu, ada mendung yang tiba tiba datang dan segera menitikkan hujan.
Aku menghela nafasku dalam dalam, tangan Rangga mengengamku erat.
"Sayang maafkan aku" ucap Rangga sesaat sebelum kuturun.
"Aku juga minta maaf sayang" balasku"aku mencintaimu" lanjutku.
Rangga mengusap sisa air mata pipiku dan mengecup keningku.
"Kak Nabila kenapa?" tanya Sintia menyusulku masuk ruang kerjaku.
"Kakak terlihat kacau akhir akhir ini" ungkapnya lagi.
Aku memandang gadis manis itu, mencoba tersenyum.
"Kakak belum bisa cerita Sint" jawabku kemudian. Sintia hanya menganguk mencoba memahami kondisiku.
"Kak ada pesanan masuk, tapi dia gak minta barang yang sudah ada, dia minta desain sendiri"
Kamipun mengalihkan kembali pembicaraan ke masalah pekerjaan.
"Konsepnya apa? "Tanyaku kemudian.
"Mereka minta ada unsur batik didalamnya, tapi hanya sebagai kombinasi. Untuk warna dasarnya sesuai logo mereka warna hijau"
Jelas sintia kemudian.
"Oh.. okay, kamu tar pangil Byan minta kesini ya"
Di otakku sudah mulai ada gambaran. Aku tak pandai mengambar diatas kertas, biasanya hanya coretan kasar. Dengan menjelaskan maksudku, byan selalu bisa menjadikan desain gambar yang sesuai dengan keinginan dan maksudku.
Dengan begini, aku bisa sejenak melupakan masalah pribadiku.
"Kak Nabila, besok Armand ulang tahun"
Sebuah pesan masuk ke ponselku dari no bulik Lulik. Ya Tuhan, maafkan mama anakku, mama hampir melupakan hari ulang tahunmu.
Aku segera memencet tombol video call. Wajah tampan lelaki kecilku menyambutku dengan senyum lebar.
"Assalamualaikum" salamnya ceria.
Akupun membalas salamnya.
"Masakkk ... " godaku pura2 tak mengingatnya. Walaupun sebenarnya begitu.
Semakin besar semakin terlihat wajah mas Firman diwajah Armandku. Dia tampan seperti ayahnya.
"Apa ya? Lego lagi ajha kak" pintanya
"Siaapp Bozz" ucapku dengan gaya hormat " nanti kak Bila kirim hadiahnya" lanjutku.
Ya Tuhan anakku sudah besar, besok adalah hari ulang tahunnya. Aku segera membuka sebuah aplikasi belanja online mencari barang yang Armand inginkan tadi.
Maafkan mama sayang, hanya itu yang bisa mama lakukan. Aku mengusap foto Armand yang selalu kusimpan dilaciku. Armand benar-benar fotocopy dari mas Firman
"Sayang, makan diluar aku jemput ya" masuk pesan WA dari Rangga.
"Udah buruan turun" lanjutnya. Aku melihat dari jendela mobil Rangga sudah terparkir.
"Nggak usah ngintip, cepet turun"
Aku hanya membaca pesan Rangga tanpa membalasnya.
"Sint, kakak keluar dulu ya" pamitku ke Sintia kemudian beranjak turun.
"Assalamualaikum" salamku ketika naik dan mencium pungung tangannya.
Rangga menjawab salamku dan mulai mengerakkan mobilnya berlahan.
"Sayang mau kemana?" Tanyaku kemudian.
Rangga hanya mengangkat bahunya.
"Lah ngajak keluar nggak tau mau kemana" ucapku kemudian.
"Kemana ajha asal sama kamu" jawabnya kemudian dengan senyum manisnya
"Ih.. " sungutku geli
Kami berhenti disebuah taman kota, sepi hanya terlihat beberapa sepeda motor terparkir.
Aku sandarkan kepalaku di lengan suamiku itu, dia mengecupku lembut.
"Aku rindu" ucapku, aku rindu berdua saja dengannya.
"Sayang" Rangga membelai rambutku.
"Heem"
"Semoga kita bisa melewati ini semua ya" ucap Rangga kemudian.
Aku semakin menyamankan kepalaku dilengan lelaki itu.
"Hanya sampai bayi itu lahir sayang, Karina menantangku kalau sampai bayi itu lahir dan kau tak memiliki perasaan apa-apa padanya, dia berjanji akan pergi dari kehidupan kita dan menyerahkan bayi itu kepada kita"
"Kamu harus kuat demi cinta kita" lanjutku lagi. Rangga kembali mencium kepalaku.
"Sayang, maafkan aku, aku tau ada luka dibalik senyum yang selalu kau suguhkan, dan hatiku ikut perih. Karena kebodohanku telah melukai hati dan perasaanmu"
__ADS_1
Ucap Rangga pelan.
Kami lama terdiam, hanya menikmati kebersamaan yang jarang bisa kami dapatkan sekarang.
"Sayang, dah siang balik yuk " ajakku.
"Eh bentar sayang, turun yuk lihat ada yang jualan durian" tunjuk Rangga
"Oh ya"
Akupun mengikuti langkah Rangga.
Mas penjualnya membukakan 1 untuk kami, buah favorit..
"Hmmm enak sayang coba" Rangga menyuapiku.
" Hiya kayak kamu, Manis ada pahitnya" ucapku. Rangga tertawa..
"Serius" ucapku " kalo kebanyakan ama kamu, sama kayak makan duren yang ini, bisa mabuk, ya kan pak" tanyaku pada penjual yang senyam senyum dari tadi.
"Mabuk Cinta ya?" Canda Rangga. Akupun tertawa.
Rangga memasukkan 2 buah ke bagasi mobilnya untuk dibawa pulang.
"Sayang jemput jam 5, jangan lupa" ucapku sebelum Rangga pergi. Mobilku dibawa mas Wawan untuk diservis.
Setengah enam kami sampai dirumah, Karina yang tidur-tiduran didepan TV langsung berlari kebelakang ketika aku dan Rangga masuk rumah.
Kedengarannya sedang muntah muntah, kubaui bajuku dan Rangga.
Walaupun belum mandi kami masih wanggi. Apa alergi sama aku pikirku.
Aku menyusulnya kebelakang, dia mengusirku namun ketika mendengar suara Rangga dia mau keluar, tapi kemudian masuk dan muntah lagi.
"Pergi, jangan dekat-dekat !"
Aku dan Rangga saling berpandangan.
'Karin nggak suka durenn, pergi jangan didepan pintu. Teriaknya lagi.
Ohww gara-gara duren, aku dan Rangga beranjak kekamar.
Ada nggak yah kira-kira parfum aroma durian buat ku semprotkan ke Rangga biar Karina tidak mau dekat-dekat lagi.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Rangga melihatku senyum-senyum.
Aku hanya mengeleng, masih tersenyum geli.
"Bil, per tanggal 1 kita dibantu Dr Atika Rahayu dan Dr Wira, Bagus Prawira " jelas Vivian padaku memperkenalkan 2 Dokter yang akan bergabung mulai bulan depan.
Kedua Dokter itu memperkenalkan diri, Dokter Atika cantik usianya sekitar 35 thn an
Dr Wira masih muda, sepertinya lebih muda dariku.
"Selamat bergabung, kami berharap dengan bergabungnya Dr Wira dan Dr Atika di tempat kami, kita akan bisa mengembangkan Klinik ini menjadi lebih besar lagi" sambutku.
"Untuk hal lainnya nanti sama DrLody " ucapku.
Selesai meeting, aku ijin ke kantorku, Aku baru membalas pesan dari Sintia saat aku tak sengaja bertumburan dengan seseorang.
"Maaf maaf" ucapku karena aku yang tak memperhatikan jalan.
"Nabila" ucapnya pelan, seperti meyakinkan apa yang dilihatnya sekarang.
Aku masih terpaku, melihat seseorang yang berdiri didepanku.
"Nabila kan?!" Yakinya lagi. Aku menganguk.
Kenapa dunia begitu sempit pikirku.
"Ka..kamu ingat saya" tanyanya kemudian. Dia melihatku dari atas kebawah.
"I.. iya" ragu ku menjawabnya.
"Nyonya apa kabar?" tanyaku kemudian.
"Kamu banyak berubah, hampir saya tak mengenalimu tadi" ucapnya.
"Nyonya tidak berubah, tetap cantik" pujiku padanya.
Hanya satu yang berubah, tak ada tatapan sinis lagi dimatanya.
Yah wanita cantik ini adalah mantan mertuaku, ibu nya mas Firman.
"Kamu apa kabar?" tanyanya kemudian.
Aku mengajaknya ke ruanganku, apakah aku sudah melupakan sakit hatiku tentu belum, kenapa aku bisa baik seperti ini, aku sendiri juga kadang tak bisa menjawabnya. Dan aku bukan sedang berpura-pura.
"Nyonya apa kabar" tanyaku kemudian setelah menyuguhkan sebotol air mineral.
"Jangan pangil nyonya, pangil saja ibu, seperti ayu dan Firman"
Aku mencoba tersenyum.
"Kamu apa kabar?" Dia belum menjawab pertanyaanku tapi malah balik bertanya
"Nabila baik bu" jawabku.
Wanita itu menganguk nganguk.
"Nabila, ini sudah rencana Tuhan mempertemukan kita kembali, mungkin Tuhan ingin memberi kesempatan pada Ibu, untuk dapat meminta maaf atas kesalahan ibu dimasa lalu, mohon maafkan Ibu"
Aku seperti tak percaya mendengar itu keluar dari bibir wanita ini. Aku masih tertegun.
"Nabila mau memaafkan ibu kan?" Wanita itu menatapku, aku dapat merasakan ada ketulusan disana.
"Nabila sudah memaafkan ibu, bahkan tanpa ibu meminta maafpun" ucapku.
Wanita ini kemudian memelukku, serasa mimpi disiang hari. Kucubit kecil tanganku sakit. Berarti ini nyata.
Bersambung...
__ADS_1