
Shima pov
Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa memiliki bayi. ku jaga, ku urusi, ku ajarkan banyak hal pada bayi kecil itu, padahal waktu itu aku masih umur 18 tahun, berat rasanya, apalagi aku hanya di temani ayahku menjalani semua ini, aku bertekad aku harus bisa dan memang aku harus bersyukur aku bisa menjalani semua ini, kini usiaku menginjak 23 tahun, itu tandanya bayiku sudah hampir usia 5tahun, ahhhh tidak terasa aku sudah mulai harus memikirkan dimana dia akan menjalankan pendidikan anak usia dini nya.
Aku kini bekerja menjadi seorang buruh pabrik, yahhh namanya juga hanya lulusan SMK, cita2 kuliah pun harus terkubur karna satu dan lain hal, apa lagi ada bayiku yg harus ku jaga, Aku tinggal bertiga dengan ayah dan juga bayiku, Ayahku memiliki pabrik penggilingan padi, tidak terlalu besar tapi cukup lah untuk makan sehari hari, Lalu kenapa aku harus bekerja selama ayahku bisa memenuhi kebutuhan kami bertiga, ya setidaknya aku harus tau diri, aku sudah dewasa, malu rasanya jika harus bergantung pada orang tua, belum bisa membahagiakan orang tua setidaknya jangan menyusahkan beliau lah, bayiku yg kini sudah mulai menjadi kanak-kanak bernama alvan, dia gembul, matanya bulat sepertiku, entahlah kenapa bayiku menjadi bohay seperti itu padahal dia tidak selalu ku berikan makanan bergizi, tidak jarang dia juga jajan sembarangan, yah memang di bawah pengasuhan orang lain tidak seperti kita mengasuhnya sendiri, hanya sabtu dan minggu aku bisa bermain seharian dengan alvan, mengajarinya belajar mengenal angka, mengenal huruf dan mengaji, memang baru 2tahun ini aku menjadi buruh pabrik, karna dulu alvan terlalu kecil untuk aku tinggal, dulu hidupku dan alvan sepenuhnya bergantung pada ayahku, tpi kini aku sudah bisa kredit motor yg satu tahun lagi baru akan lunas, ya lumayan lahhh meskipun hasil kredit, beberapa ratus ribu aku tabung untuk kehidupanku kedepannya, syukur2 bisa buat biaya kuliah.
Hari ini kebetulan hari minggu, aku sibuk membersihkan rumah di bantu alvan, bukan di bantu sih lebih ke di recoki aja, alvan lebih suka memanggilku atteh dan memanggil ayah dengan sebutan appa.
__ADS_1
Aku selalu bahagia family time sperti ini, appa yg sebelum berangkat ke pabrik sempat memotong rumput dan aku yg menyapu halaman, sementara alvan sibuk angkat2 tong sampah yg lumayan berat, jika aku menawarkan bantuan alvan dengan semangat menolak, katanya laki2 itu harus kuat, entah dapat dari mana kata2 seperti itu.
Apakah di usia 23tahun ini aku punya pacar atau pernah pacaran atau bahkan akan segera menikah? jawabannya aku tidak pernah terfikirkan sama sekali tentang entah itu pacar, pacaran apa lagi menikah, hidupku lurus2 aja fokus pada alvan, appa dan juga diriku sendiri.
Lantas kemana sanak saudaraku? Mereka tentu saja punya kesibukan masing2, dan aku memahami itu, positif thinking dan lurus2 aja lahhh fikirannya biar gak lieuurrrr.
Alvan jangan lari2 nanti kamu jatuh nak," baru selesai bicara tiba2 "gubraaaaakkkkk" ember beserta alvan nyungsep di rumput.
__ADS_1
'Huuu huu huuu, atteh sakiiiittttt" keluh alvan sambil menangis
"Cuuuppp cuuuuppp, mana yg sakit?
Alvan menyodorkan sikutnya ke arah shima.
"Waaahhh sikutnya baret, ehhh sama lututnya juga, Udahan dulu yuk bersih2 nya, kita obatin dulu luka kamu, tapi harus mandi dulu ya? kamu kan habis keringetan, biar enak nanti bisa langsung bobo.
__ADS_1
"Huuu huuu, hiks hiks, enggak mau bobo, alvan mau jajan dulu, huuuu"
elaaaahhhh ini bocah, sama jajan gak pernah lupa.