
"Apa kamu sekarang punya pacar, atau pernah
punya pacar?" tanya wildan.
shima menunjukkan ekspresi kaget,
tidak menyangka wildan akan bertanya
tentang kehidupan pribadinya,
Tapi shima memiliki jawabannya,
maka dia harus menjawab.
"Dulu aku pernah pacaran semasa SMA,
tidak lama, hanya hampir dua tahun,
sampai sekarang belum pernah pacaran lagi."
"Alasan kalian putus kenapa?"
"Dia yg menginginkan hubungan kami
berakhir, aku pernah tanya kenapa, dan
jawaban dia hanya ingin fokus belajar,
tidak mau menjalani hubungan terlalu
jauh terlebih dahulu dan aku sangat
menghormati keputusan nya."
"Apa setelah itu hubungan kalian baik2 saja?"
"hubungan kami baik, hingga dia lulus
sekolah, setelah itu kami tidak pernah
bertemu lagi, katanya dia mendapatkan
beasiswa kuliah ke luar negeri."
"Apa kamu masih berharap laki2 itu
kembali padamu?"
shima tersenyum dan menjawab.
"Untuk apa? dia tidak pernah menjanjikan
apapun saat hubungan kami berakhir."
wildan tersenyum dan menganggukan
kepala tanda mengerti.
"Kenapa m....mas wildan bertanya seperti itu?" shima sangat gugup, ini pertama kalinya
dia menyebut nama wildan secara langsung.
Awalnya bingung harus memanggil namanya
saja, atau dengan mas, kak, atau Abang,
dan akhirnya mas lah yg shima pilih.
"Apa kamu keberatan jika aku ingin sedikit
mengenal mu, mengetahui beberapa hal
tentang kamu." wildan kembali bertanya.
shima mengerutkan keningnya, merasa heran dengan apa yang wildan ucapkan.
"kenapa harus aku?" entahlah kata2 itu
muncul begitu saja.
"Karena kamu itu berbeda." dan lagi2 wildan
pun menjawab begitu saja sesuai dengan
apa yg hatinya ucapkan.
Untuk kesekian kalinya shima merasa kaget
dan heran, bertanya tanya apa maksud dari
semua yg wildan ucapkan.
Beberapa menit mereka berkutat dengan
fikirannya masing2.
"Atteh, aku cape, laper juga." alvan
__ADS_1
berlari dan mengelus perutnya.
seperti nya bocah itu sudah bosan
bermain.
"Sebentar lagi Maghrib, solat dulu di sini,
habis itu kita cari makan dan pulang."
wildan mengelus kepala alvan.
Tidak lama kemudian adzan magrib
berkumandang dari masjid yg berada
tepat di depan alun2, shima dan wildan
bergantian sholat.
"Kita makan dulu yuk." ajak wildan.
alvan mengangguk antusias.
Mereka duduk di sebuah restoran,
alvan tidak henti2 nya memandang kagum,
karna ia pertama kalinya masuk ke dalam
restoran yg menurutnya mewah.
"Alvan mau makan apa sayang?" tanya wildan
sambil memandang alvan.
alvan yg tampak tidak tau makanan apa
yg ada di restoran itu tampak bingung,
biasanya dia hanya di ajak ke warteg atau
ke warung makan padang.
"Apa aja lah mas, asal jangan yg aneh2,
alvan gak ngerti makanan apa yg ada di sini."
shima yg menjawab pertanyaan wildan,
"wildan pun mengangguk, kalau kamu mau
makan apa?" wildan menyodorkan menu
makanan ke arah shima.
"Apa aja, aku bukan pemilih,
hampir semua makanan aku suka."
shima menggeser menu makanan yang
wildan sodorkan.
wildan kembali mengangguk.
Saat makanan datang, mata alvan tampak
berbinar, makanan yg jarang bahkan ada
beberapa makanan yg belum pernah ia makan, ada ayam goreng mentega, udang
asam manis, cumi saus padang, dan lain
lain.
Tiba2 alvan berteriak dan bilang
"Asiiiikkkk makan enaaakkk." sambil
bertepuk tangan.
"Alvaaan, jangan berisik malu di lihat
orang." shima bicara sepelan mungkin
agar hanya alvan yg mendengar.
wildan hanya tersenyum memandang
keduanya, sementara shima hanya
tersenyum kikuk ke arah wildan.
"Gimana makanan nya, enak?" tanya wildan.
'Enak bangeeetttt, tpi yang ini pedes."
__ADS_1
sambil menunjuk ke arah piring berisi
cumi saus padang.
"iya yg itu memang agak pedes, kalau kamu
suka nanti kita bawa buat di rumah juga ya?"
"Beneran uncle? asiiiikkk." alvan semakin
senang.
shima hanya menggeleng kepala dan
menutup muka dengan telapak tangannya.
wildan yg melihat hal tersebut hanya
tersenyum.
di perjalanan alvan terus saja menguap,
"kamu ngantuk sayang?" shima
mengelus kepala alvan di ikuti anggukan
alvan.
"Ya udah bobo ya?"
"tapi aku gak nyaman bobonya kayak gini,
aku udah tinggi atteh." keluh alvan
yg merasa tidak nyaman tidur di atas pangkuan dan sempit.
"Aku mau pindah ke jok belakang aja boleh?
alvan bertanya pada wildan.
"boleh kalau kamu mau" jawab wildan.
akhirnya alvan berpindah posisi.
kecanggungan semakin besar saat alvan
pindah ke belakang, seperti hanya ada
mereka berdua apalagi sekarang bocah
itu sudah tidur pulas.
"ehm... wildan membuka percakapan
kembali.
"Apa saya boleh bertanya lagi?" rasa penasarannya ternyata semakin besar.
shima mengangguk tanda mengizinkan.
"mohon maaf jika saya lancang, hanya saja
jika tidak di tanyakan sekarang, saya takut
malam ini dan malam2 berikutnya saya
akan sulit tidur."
shima mengernyitkan dahinya, (apa lagi ini ya alloh, kenapa gak to the point aja sih, bikin degdegan)
"iya silahkan mau tanya apa lagi."
"Apa kamu sudah menikah atau pernah
menikah?"
Deg....
akhirnya shima tau arah pembicaraan wildan,
dan ternyata yg membuat nya penasaran adalah status alvan, ya tentu saja alvan.
"bagaimana kalau aku sudah pernah
menikah?" shima tersenyum.
"Y..yaa t..tidak apa2." wildan gugup.
"Yang akan menikahiku otomatis akan
buy one get one free, sulit bukan berada
di posisiku." shima tertawa kecil.
ketua'an gak sih kalo visual nya kayak gini. 😂
__ADS_1