
Shima menyuguhi para tamu minuman beserta makanan kecil, kepala udah berat
banget pengen nengok ke si mas2 ganteng
berwajahkan artis2 turki, tapi rasa malu
dan gengsi mendominasi dari pada
rasa penasaran, akhirnya cuma nunduk
aja, fokus sama makanan dan minuman
yg hendak di suguhkan di atas meja.
"Kamu beneran cuma tinggal sama anak
kamu?" tanya pak ibra
"Iya, aku cuma tinggal sama shima dan
alvan." jawab appa
"belum kefikiran nikah lagi?"
"Belum kayaknya, tpi gak tau klo
nanti shima menikah dan di bawa suaminya,
mungkin aku baru akan memikirkannya,
mencari perempuan yg mau menemani
hari tua, tapi untuk
saat ini shima mengurus rumah
dan juga alvan dengan sangat baik,
Itu sudah cukup buat ku."
Pak ibrahim mangut2 tanda mengerti.
Appa berbincang cukup lama dengan
pak ibra dan memutuskan untuk pergi
ke kebun meninjau lahan yg akan di buat villa.
"Maaf pak boleh saya numpang
ke kamar mandi?" Tanya Wildan.
ya si tampan berwajahkan artis2 turki itu
bernama Wildan Abdurrahman, anak kedua
dari bapak Ibrahim Abdurrahman.
"oh iya silahkan, di sebelah sana, samping
dapur sebelah kiri." appa menunjuk
ke arah dapur.
Wildan bergegas ke dapur mencari kamar mandi, saat mendekati pintu kamar mandi
tiba2 pintu terbuka...
"Astaghfirullah..." shima keluar
dari kamar mandi.
shima reflek merapikan rambut yg hanya
tertutupi dengan handuk, dan tersenyum
kikuk karna kaget.
"maaf aku fikir tidak ada orang, boleh
numpang ke kamar mandi?"
Tanya Wildan.
"Ohh iya silahkan" shima menyingkir dari
pintu kamar mandi dan beranjak
pergi ke kamar.
"Ya alloh ini jantung meuni berasa mau
copot, gak tau kaget liat orang asing,
atau kaget liat orang ganteng" sambil
memegang dadanya.
Nana duduk di ranjang shima, sibuk
dengan handphone nya.
"Shi aku pulang sekarang ya? soalnya
aku harus siap2, sore ini aku kan
harus kembali ke kota, besok udah
harus masuk kerja."
"bentar aku anterin, aku keringin rambut
__ADS_1
dulu."
Shima mengeringkan rambut, mengikat,
dan memakai jilbabnya, kemudian
mengantar nana kerumahnya.
"makasih ya shi udah nganterin aku."
"iya na sama2, klo pulang jangan lupa
main lagi kerumah aku ya?"
"iya shi pasti, klo libur panjang giliran
kamu dong main ke kota,
aku mau kenalin kamu sama pacar aku"
ucap nana sambil menggaruk tengkuknya
yang tidak gatal.
"insya Allah, kalo ada waktu kapan2
aku main, Jaga diri kamu baik2,
jaga maru'ah, biarpun pacaran tapi
jangan sampai
kebablasan, nanti menyesal."
Shima mengingatkan.
"Insya Allah aku akan selalu jaga diri,
terimakasih sudah mengingatkan."
Ucap nana tulus.
Mereka pun berpelukan tandap perpisahan,
selepas mengantar nana, shima kembali
kerumah untuk menyiapkan makan
siang, Sebelum appa dan para tamu
kembali dari kebun.
Hari ini shima memasak sayur asam,
ikan asin, ayam goreng bumbu kuning,
sambal, tahu bacem dan juga kerupuk.
shima pergi ke kamar untuk melaksanakan
sholat Dzuhur, karna appa dan yang lain
belum kembali dari kebun.
***
sepulang dari kebun, mereka berbincang
sejenak, lalu mereka melaksanakan shalat
secara bergantian,pak ibra shalat di kamar
appa, dan wildan beserta hanan sang asisten
shalat di kamar shima, karna jika shalat
di kamar appa semua akan membutuhkan
waktu lebih lama.
saat Wildan memasuki kamar shima
dia hanya memandang sekeliling, sederhana
namun rapih dan wangi, ya wangi bedak
bayi, di lihat ada minyak kayu putih, bedak
bayi, parfum anak2 yang menyatu dengan
produk kecantikan yang shima miliki.
"Oohh perempuan tadi sudah memiliki
anak rupanya, tpi spertinya masih cukup
muda." guman wildan.
Di meja dapur, Shima tengah menyuapi
alvan, alvan bercerita jika kemarin
temannya main ke kebun binatang,
tidak meminta secara langsung, namun
anak kecil itu sepertinya berharap shima
mengajaknya pergi ke kebun binatang.
"Apa kamu ingin jalan2 kebun binatang
__ADS_1
nak?" tanya pak ibra
alvan mengangguk antusias.
"tapi sayang sekali jika pergi hari ini
waktu kita tidak akan lama di sana,
gimana klo nanti paman ke sini lagi
kita ke kebun binatang bareng2?"
"Atteh di ajak juga kan paman?" tanya alvan.
"Tentu saja, kamu boleh ajak appa juga,
biar kita rame2."
Horeeeee alvan mau ke kebun
binatang, yee..yee.. yee..yeee
alvan turun dari kursi dan lari2.
"Jangan lari lari nanti jat..."
brukkkk...
"Aduuuhhh sakit." alvan menangis
sambil memegang kakinya.
Secara bersamaan wildan dan shima
menghampiri alvan,
mereka berdua tersenyum kikuk.
wildan meraih alvan kedalam gendongannya.
"Waaahh jagoan harus kuat, gak boleh
cengeng, cowok kan kuat." wildan
membujuk alvan agar berhenti
menangis.
"Tapi sakit kak." alvan belum
menghentikan tangisnya.
"Coba sini mana yg sakit." tanya
wildan lagi.
alvan menunjukkan letak rasa sakitnya,
kemudian wildan meniup ringan.
"udah gak sakit lagi kan?" tanya wildan
di iringi anggukan alvan.
"makasih kak." ucap alvan.
"jangan panggil kakak, uncle sudah terlalu
tua, panggil uncle aja ya?" wildan
tersenyum geli, yg benar saja di usianya
yg sudah hampir kepala tiga di panggil
kakak oleh anak kecil yg lebih cocok
jadi anaknya itu.
"oke uncle" alvan tersenyum.
"Ayo sayang sini, kasian uncle nya,
kamu kan berat" shima merentangkan
tangannya.
"Mendekat ke arah wildan seperti sport
jantung, ada debar2 dag dig dug seerrrr,
Ahhh mungkin efek jarang lihat cowok
ganteng jdinya agak terbawa suasana."
shima menjauhkan segala
macam fikiran2 yg gak masuk akal
menurutnya.
melihat shima yg sedikit salah tingkah
membuat wildan tersenyum tipis,
ahhhh mungkin karena dia tidak
terbiasa sedekat ini dengan pria
yg bukan mahromnya.
"Sayang sekali dia sudah bersuami"
__ADS_1
guman wildan dalam hati.