
***
"Mama tadi cepet akrab banget sama shima." Papa mulai memancing mama biar cerita tentang kemurungan nya tadi.
"Ahhh biasa aja juga." mama masih ketus.
"Masa biasa aja sampe ketawa2 gitu." papa masih terus mancing2.
"Yaaaa ada yg mau di ketawain aja, masa ada yang lucu gak ketawa." mama belum ngeuh kalo papa mancing2.
"Tapi shima orangnya baik ya ma, sederhana, dewasa, tapi kayaknya humoris." papa masih usaha. "Kalau humoris iya pa, mama seneng kalo ngebodor sama dia kayak ada temen gesrek aja gitu." Naaahh mama mulai nih.
"Pas pertama ketemu papa fikir juga dia itu orangnya pendiem, ehhhh ternyata rame juga, apa lagi waktu itu pas ada temennya, uhhh bukan lagi, papa suka sama karakter dia yg ceria, tpi keibuan." Papa mulai mengeluarkan jurus. "iya lahhh kayaknya mama lebih suka ngobrol sama shima dara pada sama wildan yg kayak kanebo kering, ngobrol sama mama kayak lagi berhadapan sama guru bp." mama nyindir wildan, yg di sindir mah dingin2 aja.
__ADS_1
"Ya udah nanti kalau isi villa sudah lengkap kita kesana lagi, masak2 nya di villa, apalagi kalau nadira ada di Indonesia, pasti tambah seru." papa berbicara dengan semangat.
"Mama jadi kangen sama tara dan nara, cucu2 ku apa kabar ya, udah beberapa hari nadira gak telpon mama." mama mengeluarkan ponselnya. "Mungkin nadira sibuk ma, biarin aja." ucap papa.
"Jadi gimana mama suka kan sama shima?" papa berbicara dengan hati2, takut di semprot ibu negaranya.
"Suka dalam hal apa dulu." mama mendelik ke arah papa. "ya dalam semua hal dong ma." ucap papa. "Kalau untuk calon menantu mama masih fikir2 ya, gak usah minta di lamarin dulu." mama berbicara ketus. "Lahhh itu mama, emang siapa yg minta di lamarin." kini giliran wildan yang bersuara. "bukannya kamu suka sama dia ya? waktu itu kamu sama hanan pernah ngebahas janda, pas mamah tanya kalian malah diem2an gak ada yg mau jawab." tingkat emosi mama sudah mulai naik. "Emang kalo wildan suka sama dia mama bakal setuju gitu?" kini giliran wildan yang harap2 cemas, takut emaknya nolak mentah2. "mama kan tadi udah bilang, masih fikir2 dulu, kamu fikir nikahin anak orang kayak beli odading, banyak hal yg harus di pertimbangkan, apa lagi status dia yang.. .. .." mama tidak meneruskan ucapannya. "Emang kalau buy one get one free kenapa ma?" wildan masih harap2 cemas. "Ya...yaaa gak apa2." mama bilang gak apa2 tpi sebenarnya di hatinya masih ada yang ganjel. "teruuusss?" wildan semakin kepo dengan pendapat ibunya. "Ya udah sih santai dulu aja, kan mama baru ketemu sekali, belum tentu dia nya juga mau sama kamu, mama aja suka garing kalau ngobrol sama kamu, apa lagi dia." Mama menurunkan kadar semangat wildan yg sudah menggebu. "Ya udah ahhh udah malem, mama mau tidur, ini badan pegel2 banget." mama menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri. "Papa juga ikut ahhhh, kasian mama gak ada yg ngeukeupin." papa merangkul bahu mama. "Papa suka gak inget umur, kasian tuh yang jomblo." mama malah ledekin Wildan, wildan hanya mendelikan matanya jengah, di ikuti tawa ledekan mama dan papa.
"Suasana kayak gini nih yg bikin aku butuh istri, Masuk kamar sendiri, tidur sendiri, nyiapin baju sendiri, pulang kerja yg bikinin kopi always bi isah, nyiapin makan bi isah lagi, lama2 bisa naksir bi isah kalo gini caranya." wildan mengusap wajahnya dan memainkan janggut nya."
Wildan akhirnya beranjak menuju kamarnya karna rumah sudah sepi, ternyata sudah setengah sebelas, Sekuat kuatnya menjomblo, akan ada saat dimana seseorang merasa jenuh dengan kesendirian nya, dan itu yang tengah wildan rasakan saat ini.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
jangan lupa like dan komennya ya?
biar nulisnya tambah semangaaadddhhh... ☺️
__ADS_1