Bayiku

Bayiku
episode tujuh


__ADS_3

Sepulang dari rumah Shima, hanan


tidak langsung pulang, dia membicarakan


urusan pekerjaan terlebih dahulu


dengan wildan.


"Pulang dari sana bos seperti tengah


memikirkan sesuatu." tanya hanan heran.


"Entahlah, ada suatu hal yg membuat


diri saya bertanya-tanya." jawab wildan


memandang lurus ke depan tanpa


memalingkan wajahnya ke arah hanan.


"apa bos memikirkan perempuan tadi?"


tanya hanan semakin dibuat penasaran.


"Atas dasar apa saya harus memikirkan dia?"


" atas dasar bos tertarik dengan wanita itu,


tapi bos seperti nya dia sudah berkeluarga,


dan anak tadi..." hanan tidak melanjutkan


ucapan nya.


"kemungkinan besar si kecil nan lucu itu


adalah anaknya, karna hanya ada dia


wanita dewasa di rumah itu." ucap wildan


yakin.


"bagaimana jika perempuan itu


punya suami?" tanya hanan lagi.


"Tidak ada tanda2 laki2 yg menghuni


kamarnya, kalau pun suaminya bekerja


jauh ataupun tengah merantau,


setidaknya akan ada sesuatu yg


berhubungan dengan laki2 itu


di kamarnya."


"apakah dia seorang janda, atau..."


lagi2 hanan tidak melanjutkan ucapannya.


"Apa masalahnya jika dia seorang janda?


dia wanita yg sepertinya baik,


pekerja keras, sayang keluarga, menjaga


ayah dan juga anaknya dengan baik,


saya memperhatikan semuanya


selama disana, semua tampak terawat


dengan cukup baik, padahal kondisinya


dia juga bekerja, itu sesuatu yg luar biasa


menurut saya, jadi tidak ada yg salah


dengan status dia sekalipun seorang janda."

__ADS_1


"siapa yang janda?" tiba2 mama


menghampiri mereka berdua.


reflek keduanya merapikan duduknya


masing2.


"mama tanya gak ada yg jawab,


jangan bilang Wildan lagi ngincer


janda." tanya mama penuh selidik.


"mama bicara apa sih." jawab wildan


datar


"hanan jawab tante, itu yg janda siapa?"


mama memicingkan matanya ke arah hanan.


"t..tidak ada nyonya." jawab hanan gugup.


"Kalian kalo di tanya urusan cewe gak


pernah mau jawab, dan kamu wildan...


mama mengarahkan tatapan tajamnya


ke arah wildan.


"Cepet nikah, kamu udah mau 30tahun,


dan ayolaaaah jangan sama janda,


yg masih gadis juga banyak wil, memang


kamu mau cari perempuan yg seperti apa


lagi sih?" ucap mama putus asa.


"maaa, udang dong jangan di perpanjang,


perempuan yg cocok, pasti wildan kenalin


ke mama."


"okee... okeee... lagi2 mama gak bisa


ngomong apa2 lagi sama kamu."


mama mengembuskan nafas nya kasar.


***


keesokan harinya seperti biasa wildan


berangkat ke kantor seorang diri,


sesampainya di kantor wildan sudah


di sambut oleh hanan, hanan


menghampiri wildan, membacakan


jadwal wildan hari ini.


entahlah, sejak kemarin wildan sepertinya


masih memikirkan sesuatu. apakah


perempuan itu? ya mungkin saja.


"menurut mu, apakah saya harus


mencari tau tentang perempuan itu?"


"namanya shima bos."


"entahlah saya merasa terlalu canggung

__ADS_1


untuk menyebut namanya."


"apakah semalaman bos masih


memikirkan nya?" tanya hanan penuh


selidik.


"saya sendiri tidak habis fikir, bagaimana


bisa saya terus membayangkan wajah


kagetnya saat keluar dari kamar mandi,


Wajah yg tanpa di polesi apapun tapi


saya melihat nya sangat cantik,


wajah seriusnya saat dia


mendengar kan cerita anaknya,


jiwa keibuan terpancar di wajahnya, ahhh


entahlah." Wildan mengusap wajah nya


kasar.


"Sepertinya bos jatuh cinta pada


pandangan pertama."ucap hanan tersenyum


wildan tersenyum dan berkata.


"Mungkin saja saya hanya kagum


pada karakter, pembawaan nya,


dan juga jiwa keibuan nya."


"apakah kita akan kesana lagi bos?"


"sepertinya iya, ada banyak hal yang harus


saya ketahui tentang dia."


***


Di pabrik shima tengah makan


siang bersama teman temannya,


shima hari ini harus


lembur, jdi pulang nya akan


lebih sore.


"ehhh aku solat duluan ya." Shima


beranjak dari kursi.


"Aku ikuuuttttt." arin ikut beranjak.


"Woooyyyy tungguin, aku belum


selesai makaaan." silvi manyun


tapi mulutnya di penuhi makanan.


"Tuuhhh di temenin rioooo." arin lari


sambil menarik tangan shima.


Silvi semakin manyun saat melihat


rio yg menggeser duduknya.


"gak usah di temenin, aku bisa sendiri."


ucap silvi ketus

__ADS_1


Rio hanya tersenyum dan melanjutkan


makan nya.


__ADS_2