
Sepulang dari rumah Shima, hanan
tidak langsung pulang, dia membicarakan
urusan pekerjaan terlebih dahulu
dengan wildan.
"Pulang dari sana bos seperti tengah
memikirkan sesuatu." tanya hanan heran.
"Entahlah, ada suatu hal yg membuat
diri saya bertanya-tanya." jawab wildan
memandang lurus ke depan tanpa
memalingkan wajahnya ke arah hanan.
"apa bos memikirkan perempuan tadi?"
tanya hanan semakin dibuat penasaran.
"Atas dasar apa saya harus memikirkan dia?"
" atas dasar bos tertarik dengan wanita itu,
tapi bos seperti nya dia sudah berkeluarga,
dan anak tadi..." hanan tidak melanjutkan
ucapan nya.
"kemungkinan besar si kecil nan lucu itu
adalah anaknya, karna hanya ada dia
wanita dewasa di rumah itu." ucap wildan
yakin.
"bagaimana jika perempuan itu
punya suami?" tanya hanan lagi.
"Tidak ada tanda2 laki2 yg menghuni
kamarnya, kalau pun suaminya bekerja
jauh ataupun tengah merantau,
setidaknya akan ada sesuatu yg
berhubungan dengan laki2 itu
di kamarnya."
"apakah dia seorang janda, atau..."
lagi2 hanan tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa masalahnya jika dia seorang janda?
dia wanita yg sepertinya baik,
pekerja keras, sayang keluarga, menjaga
ayah dan juga anaknya dengan baik,
saya memperhatikan semuanya
selama disana, semua tampak terawat
dengan cukup baik, padahal kondisinya
dia juga bekerja, itu sesuatu yg luar biasa
menurut saya, jadi tidak ada yg salah
dengan status dia sekalipun seorang janda."
__ADS_1
"siapa yang janda?" tiba2 mama
menghampiri mereka berdua.
reflek keduanya merapikan duduknya
masing2.
"mama tanya gak ada yg jawab,
jangan bilang Wildan lagi ngincer
janda." tanya mama penuh selidik.
"mama bicara apa sih." jawab wildan
datar
"hanan jawab tante, itu yg janda siapa?"
mama memicingkan matanya ke arah hanan.
"t..tidak ada nyonya." jawab hanan gugup.
"Kalian kalo di tanya urusan cewe gak
pernah mau jawab, dan kamu wildan...
mama mengarahkan tatapan tajamnya
ke arah wildan.
"Cepet nikah, kamu udah mau 30tahun,
dan ayolaaaah jangan sama janda,
yg masih gadis juga banyak wil, memang
kamu mau cari perempuan yg seperti apa
lagi sih?" ucap mama putus asa.
"maaa, udang dong jangan di perpanjang,
perempuan yg cocok, pasti wildan kenalin
ke mama."
"okee... okeee... lagi2 mama gak bisa
ngomong apa2 lagi sama kamu."
mama mengembuskan nafas nya kasar.
***
keesokan harinya seperti biasa wildan
berangkat ke kantor seorang diri,
sesampainya di kantor wildan sudah
di sambut oleh hanan, hanan
menghampiri wildan, membacakan
jadwal wildan hari ini.
entahlah, sejak kemarin wildan sepertinya
masih memikirkan sesuatu. apakah
perempuan itu? ya mungkin saja.
"menurut mu, apakah saya harus
mencari tau tentang perempuan itu?"
"namanya shima bos."
"entahlah saya merasa terlalu canggung
__ADS_1
untuk menyebut namanya."
"apakah semalaman bos masih
memikirkan nya?" tanya hanan penuh
selidik.
"saya sendiri tidak habis fikir, bagaimana
bisa saya terus membayangkan wajah
kagetnya saat keluar dari kamar mandi,
Wajah yg tanpa di polesi apapun tapi
saya melihat nya sangat cantik,
wajah seriusnya saat dia
mendengar kan cerita anaknya,
jiwa keibuan terpancar di wajahnya, ahhh
entahlah." Wildan mengusap wajah nya
kasar.
"Sepertinya bos jatuh cinta pada
pandangan pertama."ucap hanan tersenyum
wildan tersenyum dan berkata.
"Mungkin saja saya hanya kagum
pada karakter, pembawaan nya,
dan juga jiwa keibuan nya."
"apakah kita akan kesana lagi bos?"
"sepertinya iya, ada banyak hal yang harus
saya ketahui tentang dia."
***
Di pabrik shima tengah makan
siang bersama teman temannya,
shima hari ini harus
lembur, jdi pulang nya akan
lebih sore.
"ehhh aku solat duluan ya." Shima
beranjak dari kursi.
"Aku ikuuuttttt." arin ikut beranjak.
"Woooyyyy tungguin, aku belum
selesai makaaan." silvi manyun
tapi mulutnya di penuhi makanan.
"Tuuhhh di temenin rioooo." arin lari
sambil menarik tangan shima.
Silvi semakin manyun saat melihat
rio yg menggeser duduknya.
"gak usah di temenin, aku bisa sendiri."
ucap silvi ketus
__ADS_1
Rio hanya tersenyum dan melanjutkan
makan nya.