
Ketika sampai di rumah, appa menyambut
pak ibra dan juga wildan, sementara shima
langsung masuk tanpa menoleh ke arah
wildan, dia merasa malu karena tercyduk
sedikit melihat wajah wildan.
Setelah berganti pakaian, shima membuat
minuman untuk pak ibra dan wildan,
tiba2 alvan datang sambil ngucek mata
karna bangun tidur.
"ehhh ada uncle wildan."
"Sini jagoan duduk deket uncle." wildan
menepuk tempat duduk di sebelah nya.
alvan pun berjalan ke arah wildan dan duduk
di sampingnya.
"uncle kesini pasti mau ngajak alvan
ke kebun binatang kan?" alvan berbicara
sambil menguap, sepertinya bocah kecil itu
masih mengantuk.
"Uncle habis nganterin paman ibra, terus
mampir dulu ke sini deh." jawab wildan.
"yaaahhh gak jadi ke kebun binatang deh."
alvan mengerucutkan bibirnya sambil
menunduk.
"waaahhh ada jagoan yg lagi ngambek
nih." bujuk wildan.
Wildan memang bisa di bilang bungsu
dari dua bersaudara, tapi imej bungsu
yg manja sama sekali tidak terlihat dalam
dirinya, justru dia terbilang kaku,
ekspresi nya lurus2 aja bahkan
dengan ibunya sekalipun, tapi jika
Menghadapi anak kecil dia akan menjadi
laki2 yg manis, saat dengan dua
keponakan nya dan juga dengan alvan
saat ini, tidak kaku, mudah tersenyum,
anak2 yg di dekatinya mudah sekali akrab
dengannya.
Saat tengah berbicara dengan alvan,
tidak terlihat kecanggungan seperti saat
berhadapan langsung dengan shima.
"Kan aku pengen ke kebun binatang uncle."
alvan masih merajuk.
"gimana kalau sore ini kita jalan2 ke alun2
aja? ke kebun binatang nya nanti saat
uncle tidak sibuk uncle sengaja datang ke sini
buat ngajak alvan jalan2 ke kebun binatang,
gimana? setuju?."
"Setujuuuuu." alvan mengangguk penuh
__ADS_1
semangat.
"kalau begitu habis solat ashar kita
pergi ke alun2." wildan mengelus rambut
alvan.
"Boleh ajak atteh gak?" tiba2 alvan kembali
bertanya membuat shima kaget dan
seketika memandang alvan sambil menggelengkan kepala.
Namun apalah daya, wildan malah menyetujui nya, appa dan pak ibra pun memberi izin
dengan alasan wildan belum tau banyak
tentang daerah sini.
Selepas solat ashar mereka pun pergi
menuju alun2, tidak begitu jauh hanya sekitar
lima kilometer.
Selama di perjalanan mereka berdua tidak
mengeluarkan suara sedikitpun, hanya ada
alvan yg sibuk lirik kanan kiri melihat
sesuatu yang menurutnya menarik.
Hingga akhirnya wildan memberanikan diri
bertanya untuk pertama kali.
"Usia kamu berapa?" wildan bertanya
tanpa menolehkan wajahnya.
"2 bulan lagi 23tahun." jawab shima
dengan wajah sedikit menunduk.
"kesibukan kamu sekarang apa?"
"Mengurus, alvan, rumah, dan juga
"Alasan kamu bekerja di pabrik apa?
bukannya kamu juga harus menjaga
alvan?"
"Aku sudah cukup dewasa, aku malu harus
terus bergantung sama appa."
"maaf boleh aku bertanya sesuatu?"
wildan semakin tidak tahan untuk menanyakan hal ini pada shima, namun
saat shima mengangguk tanda setuju,
Ternyata mereka sudah sampai di parkiran
alun2, wildan menunda pertanya'an nya,
karna ngobrol saat mobil sudah berhenti
ternyata membuat mereka merasa
semakin canggung.
Wildan, shima dan juga alvan keluar dari
mobil, alvan begitu antusias hingga dia
berlari, tampaknya bocah itu sudah tidak
sabar ingin segera menginjak rumput
sintetis yg terhampar luas di sana.
"Alvaaaaannn jangan lari2, tungguin atteh."
shima setengah berlari mengejar alvan
yg tidak mendengarkan teriakannya, kalau
bocah itu hilang bisa ribet urusannya.
Saat menginjakkan kakinya di rumput sintetis
__ADS_1
alvan begitu antusias, banyak anak seusianya
juga tengah bermain di sana, alvan lari kesana kemari dan melihat anak kecil sedang
bermain bola plastik, alvan menghampiri
shima dan memintanya membelikan bola
seperti itu.
"sama uncle aja yuk beli bolanya?"
"ehhh gak usa, biar sama aku aja."
shima menolak dan bangun dari duduknya.
"gak apa2, kamu duduk di sini aja, biar
aku yg nemenin alvan." wildan menuntun
alvan menjauh dari shima.
shima hanya mampu menghembuskan
nafas panjang, sebenarnya dia merasa
tidak nyaman hanya berdua dengan wildan,
bertiga sih sebenarnya tpi merasa tidak
berpengaruh apa2 pada debaran jantungnya.
Wildan kembali dengan alvan yg tengah
memeluk bola yg barusan ia beli.
"Atteh lihat bolanya bagus kan?"
alvan mengangkat bolanya.
shima mengangguk dan tersenyum.
"uncle main yuk!."
"Ayo sini tendang bolanya ke sini."
wildan duduk di atas rumput sementara
alvan berdiri dan menendang bolanya
ke arah wildan, kemudian wildan
melempar kembali bola tersebut ke arah
alvan.
shima hanya duduk di pinggiran pembatas,
memandang alvan yg tertawa lepas,
"ya alloh dia ketawanya nikmat begitu,
kasian dia kurang piknik kayaknya, maafin
atteh ya, mungkin atteh kurang perhatian
sama kamu." gumam shima merasa sedih.
Wildan menghampiri shima, dan duduk
agak jauh dari shima, sekitar 1 meter.
"Kamu sepertinya tidak senang alvan ajak
ke sini." tanya wildan
"Aku senang lihat alvan tertawa seperti
tadi, aku jarang ajak alvan pergi jalan2
kayak gini, paling cuma keliling sore2
pake motor." shima tersenyum tanpa
menoleh ke arah wildan.
"Aku ingin melanjutkan pertanya'an tadi,
apa boleh?"
"Tentu saja, jika aku memiliki jawabannya
dengan senang hati aku jawab." lagi2
shima tersenyum namun pandangan nya
__ADS_1
tetap ke arah alvan untuk mengawasi.