Bayiku

Bayiku
episode sepuluh


__ADS_3

Ketika sampai di rumah, appa menyambut


pak ibra dan juga wildan, sementara shima


langsung masuk tanpa menoleh ke arah


wildan, dia merasa malu karena tercyduk


sedikit melihat wajah wildan.


Setelah berganti pakaian, shima membuat


minuman untuk pak ibra dan wildan,


tiba2 alvan datang sambil ngucek mata


karna bangun tidur.


"ehhh ada uncle wildan."


"Sini jagoan duduk deket uncle." wildan


menepuk tempat duduk di sebelah nya.


alvan pun berjalan ke arah wildan dan duduk


di sampingnya.


"uncle kesini pasti mau ngajak alvan


ke kebun binatang kan?" alvan berbicara


sambil menguap, sepertinya bocah kecil itu


masih mengantuk.


"Uncle habis nganterin paman ibra, terus


mampir dulu ke sini deh." jawab wildan.


"yaaahhh gak jadi ke kebun binatang deh."


alvan mengerucutkan bibirnya sambil


menunduk.


"waaahhh ada jagoan yg lagi ngambek


nih." bujuk wildan.


Wildan memang bisa di bilang bungsu


dari dua bersaudara, tapi imej bungsu


yg manja sama sekali tidak terlihat dalam


dirinya, justru dia terbilang kaku,


ekspresi nya lurus2 aja bahkan


dengan ibunya sekalipun, tapi jika


Menghadapi anak kecil dia akan menjadi


laki2 yg manis, saat dengan dua


keponakan nya dan juga dengan alvan


saat ini, tidak kaku, mudah tersenyum,


anak2 yg di dekatinya mudah sekali akrab


dengannya.


Saat tengah berbicara dengan alvan,


tidak terlihat kecanggungan seperti saat


berhadapan langsung dengan shima.


"Kan aku pengen ke kebun binatang uncle."


alvan masih merajuk.


"gimana kalau sore ini kita jalan2 ke alun2


aja? ke kebun binatang nya nanti saat


uncle tidak sibuk uncle sengaja datang ke sini


buat ngajak alvan jalan2 ke kebun binatang,


gimana? setuju?."


"Setujuuuuu." alvan mengangguk penuh

__ADS_1


semangat.


"kalau begitu habis solat ashar kita


pergi ke alun2." wildan mengelus rambut


alvan.


"Boleh ajak atteh gak?" tiba2 alvan kembali


bertanya membuat shima kaget dan


seketika memandang alvan sambil menggelengkan kepala.


Namun apalah daya, wildan malah menyetujui nya, appa dan pak ibra pun memberi izin


dengan alasan wildan belum tau banyak


tentang daerah sini.


Selepas solat ashar mereka pun pergi


menuju alun2, tidak begitu jauh hanya sekitar


lima kilometer.


Selama di perjalanan mereka berdua tidak


mengeluarkan suara sedikitpun, hanya ada


alvan yg sibuk lirik kanan kiri melihat


sesuatu yang menurutnya menarik.


Hingga akhirnya wildan memberanikan diri


bertanya untuk pertama kali.


"Usia kamu berapa?" wildan bertanya


tanpa menolehkan wajahnya.


"2 bulan lagi 23tahun." jawab shima


dengan wajah sedikit menunduk.


"kesibukan kamu sekarang apa?"


"Mengurus, alvan, rumah, dan juga


"Alasan kamu bekerja di pabrik apa?


bukannya kamu juga harus menjaga


alvan?"


"Aku sudah cukup dewasa, aku malu harus


terus bergantung sama appa."


"maaf boleh aku bertanya sesuatu?"


wildan semakin tidak tahan untuk menanyakan hal ini pada shima, namun


saat shima mengangguk tanda setuju,


Ternyata mereka sudah sampai di parkiran


alun2, wildan menunda pertanya'an nya,


karna ngobrol saat mobil sudah berhenti


ternyata membuat mereka merasa


semakin canggung.


Wildan, shima dan juga alvan keluar dari


mobil, alvan begitu antusias hingga dia


berlari, tampaknya bocah itu sudah tidak


sabar ingin segera menginjak rumput


sintetis yg terhampar luas di sana.


"Alvaaaaannn jangan lari2, tungguin atteh."


shima setengah berlari mengejar alvan


yg tidak mendengarkan teriakannya, kalau


bocah itu hilang bisa ribet urusannya.


Saat menginjakkan kakinya di rumput sintetis

__ADS_1


alvan begitu antusias, banyak anak seusianya


juga tengah bermain di sana, alvan lari kesana kemari dan melihat anak kecil sedang


bermain bola plastik, alvan menghampiri


shima dan memintanya membelikan bola


seperti itu.


"sama uncle aja yuk beli bolanya?"


"ehhh gak usa, biar sama aku aja."


shima menolak dan bangun dari duduknya.


"gak apa2, kamu duduk di sini aja, biar


aku yg nemenin alvan." wildan menuntun


alvan menjauh dari shima.


shima hanya mampu menghembuskan


nafas panjang, sebenarnya dia merasa


tidak nyaman hanya berdua dengan wildan,


bertiga sih sebenarnya tpi merasa tidak


berpengaruh apa2 pada debaran jantungnya.


Wildan kembali dengan alvan yg tengah


memeluk bola yg barusan ia beli.


"Atteh lihat bolanya bagus kan?"


alvan mengangkat bolanya.


shima mengangguk dan tersenyum.


"uncle main yuk!."


"Ayo sini tendang bolanya ke sini."


wildan duduk di atas rumput sementara


alvan berdiri dan menendang bolanya


ke arah wildan, kemudian wildan


melempar kembali bola tersebut ke arah


alvan.


shima hanya duduk di pinggiran pembatas,


memandang alvan yg tertawa lepas,


"ya alloh dia ketawanya nikmat begitu,


kasian dia kurang piknik kayaknya, maafin


atteh ya, mungkin atteh kurang perhatian


sama kamu." gumam shima merasa sedih.


Wildan menghampiri shima, dan duduk


agak jauh dari shima, sekitar 1 meter.


"Kamu sepertinya tidak senang alvan ajak


ke sini." tanya wildan


"Aku senang lihat alvan tertawa seperti


tadi, aku jarang ajak alvan pergi jalan2


kayak gini, paling cuma keliling sore2


pake motor." shima tersenyum tanpa


menoleh ke arah wildan.


"Aku ingin melanjutkan pertanya'an tadi,


apa boleh?"


"Tentu saja, jika aku memiliki jawabannya


dengan senang hati aku jawab." lagi2


shima tersenyum namun pandangan nya

__ADS_1


tetap ke arah alvan untuk mengawasi.


__ADS_2