
Weekend berakhir
pagi ini shima sibuk dengan urusan dapurnya, Shima memasak sarapan untuk appa, alvan dan juga dirinya, tidak lupa memandikan alvan sebelum mengantar nya ke rumah bi minah, ya selama bekerja shima selalu menitipkan alvan di rumah bi minah, Tidak terkecuali hari ini.
Sesampainya di rumah bi minah, shima menurunkan alvan dari motor nya, mengetuk pintu rumah bi minah, tidak lama bi Minah keluar dengan senyum senang.
"Waaahhh alvan udah ke sini, alvan udah sarapan shi?" tanya bi minah
"Sudah bi, tdi sebelum ke sini sarapan dulu, nah ini buat makan siangnya tinggal di panasin lagi, Dan ini uang jajan buat alvan."
"Alvan baik2 sama bi minah ya? jangan nyusahin bibi, jangan rewel, jangan lupa belajar, sebentar lagi kan alvan masuk paud."
__ADS_1
"iya atteh sayang, aku pasti belajar sama bi minah, Sun dulu sini sama aku, biar kerjanya syemangat" alvan memonyongka bibirnya hendak mencium pipi shima.
Shima pun menyodorkan pipinya yg hendak alvan cium. Cup, cup, cup, alvan memberi tiga kecupan bertubi tubi.
"Atteh sayang sama alvan, sambil memeluk alvan, ya udah atteh berangkat ya takut telat.
Alvan melambaikan tangannya pada shima sampai punggung shima tak terlihat.
Sebenarnya bi minah selalu menolak dengan alasan ikhlas menjaga alvan selama shima bekerja, karna bi minah belum di karunia anak di usianya yang sudah berumur di atas 40 tahunan, suaminya bekerja sebagai kuli bangunan di luar kota dan hanya pulang 1 bulan sekali, itulah mengapa bi minah senang menjaga alvan tanpa harus di beri upah sekalipun, bi minah sebenarnya bukan orang lama di kampung ini, baru beberapa tahun bi minah dan suaminya pindah ke kampung yg sama dengan shima.
Di parkiran pabrik shima di sambut arin dan silvi, mereka bercengkrama sedikit dan akhirnya masuk kedalam pabrik.
__ADS_1
Jam istirahat tiba, shima membuka bekal yg dia bawa dari rumah, arin dan silvi pun demikian, mereka jarang jajan dan selalu membawa bekal makanan dari rumah, biar hemat katanya, makan dengan di selingi tawa sedikit mengurangi rasa lelah, selesai makan di lanjutkan dengan solat dzuhur bersama tanpa perbincangan yang berarti.
Jam menunjukkan pukul tiga sore, itu tandanya Shima sudah pulang dari pabrik, mampir ke rumah bi minah untuk menjemput alvan, shima mengetuk pintu rumah bi minah, kemudian bi minah membuka pintu, terlihat alvan yg tengah tidur tergeletak di kasur lantai, muka belepotan hasil makan coklat,
"Ya alloh ini anak kenapa belepotan begini" sambil mengusap pipi alvan yg gembul,
"Tadi habis makan puding yg di kasih vla coklat, sengaja bibi bikinin puding biar gak terlalu sering jajan di luar" jawab bi minah.
"Makasih ya bi mau bantu shima jagain alvan, klo gak ada bibi shima gak tau harus nitip alvan ke siapa" ucap shima tersenyum haru.
"Sama2 shi, bibi seneng jagain alvan, alvan itu gak rewel, memang gak bisa diem tapi wajar karna dia masih anak2 dan masih masa pertumbuhan, bibi jadi tau rasanya punya anak, seandainya bibi pindah ke sini sejak alvan masih bayi, bibi pasti mau merawat alvan dari dulu." bi minah pun tak kalah sedih.
__ADS_1
"Dari dulu, banyak yg menawarkan diri merawat alvan, bahkan mengangkat alvan menjadi anak mereka, Tpi shima menolak di pisahkan dari alvan, meskipun waktu itu shima masih belum cukup dewasa untuk merawat seorang bayi, tpi shima gak bisa klo harus terpisah dari alvan, shima lebih nyaman seperti ini, shima bisa bekerja dan bisa merawat alvan sekaligus meski harus dengan bantuan bi minah."