
"Hai shi, maaf nunggu lama." nana menghampiri wildan dan shima.
"iya gak apa2, udah selesai na? kita pulang yuk udah sore." shima mengajak nana pulang. "udah kok, yuk kita pulang." ucap nana
"Mas wildan kita pulang duluan ya, terimakasih untuk semuanya." shima mengangkat belanjaan nya.
"Tapi kamu belum beli apa2 shi." ucap wildan.
"ini sudah lebih dari cukup mas, kalau begitu aku pergi dulu mas."shima pamit dan menarik tangan nana. "saya anterin ya?" wildan mengajak shima pulang bersama nya, "Gak usah terima kasih, nana kan bawa motor." shima membalikan badannya dan tersenyum tanpa menghentikan langkahnya.
***
"kita mau makan apa malam ini?" tanya nana.
"Terserah kamu, aku mh makan apa aja juga oke." Jawab shima. "Makan pecel lele yang di depan aja yuk, aku laper." nana mengelus perutnya. " perasaan dari tadi itu mulut ngunyah mulu, masa laper lagi." ledek shima.
"Gak apa2 yang penting aku tetep langsing." ucap nana penuh percaya diri. shima hanya memutar bola matanya jengah. "ya udah yuk ah keluar." nana menarik tangan shima.
Shima hanya menggunakan piyama tidur di lapisi jaket untuk menghalau udara dingin malam hari.
Sepanjangan malam mereka bercerita tentang banyak hal.
"Shi kamu beneran lagi deket sama pak wildan?" tanya nana penasaran.
"Enggak juga sih, biasa aja, dia pernah beberapa kali ke rumah karena keluarga nya bikin villa di kebun dekat rumah aku, gitu doang." shima memberikan penjelasan.
"jadi kalian gak ada hubungan apa2?
"Ya enggak lah, kayak di rumah gak ada kaca aja."
__ADS_1
"Jangan gitu shi, keluarga pak wildan kayaknya bukan tipikal pemilih yang bagaimana2."
"Tapi na, waktu itu mas wildan pernah bertanya tentang status aku." shima menceritakan semua nya.
"Serius shi? kamu jawab gitu." nana tertawa saat mendengar semua cerita shima.
"Iya." jawab shima simple
"kayak nya dia suka sama kamu deh, karena kalau gak suka kan gak mungkin nanya begituan sama kamu, tapi bagus sih kamu jawab kayak gitu, biar tau sejauh mana dia serius sama kamu." nana memberi dukungan.
"Wooooyyy fikiran kamu kejauhaaaannnn." shima memegang dahi nana.
"Aku bicara apa adanya shi, seandainya pak wildan beneran suka sama kamu gimana?" tanya nana lagi. "gak mungkiiiinnn, udah ahhh mau tidur, kamu cepet nikah aja sama mas hanan mu itu." shima memejamkan matanya. "tahun depaaannnn." jawab nana ikut memejamkan mata.
***
"Shi, mas hanan bilang kamu bakal di jemput pak wildan buat ke rumahnya, ibunya pak wildan mau ketemu sama kamu." ucap nana sambil mengunyah sarapannya.
"kamu denger kan? aku gak usah ulangin baca pesan mas hanan lagi kan?" ucap nana meledek. "Isshhh kamu ini, mau ngapain ya mas wildan ngajakin aku ke rumahnya." shima kebingungan. "Kan keluarga nya beberapa kali pernah ke rumah kamu, mungkin saat tau kamu lagi di sini, gak mungkin kan gak ngajak kamu ke rumah mereka dulu."nana memberikan kemungkinan. "hmmm iya juga sih."
Wildan datang menjemput shima, awalnya shima memaksa nana untuk ikut, namun nana memiliki seribu alasan, karna nana tau dia akan garing selama berada di sana,
akhirnya shima hanya pergi berdua dengan wildan.
sesampainya di gerbang rumah, shima terkesima dengan rumahnya, rumah tiga lantai yang terbilang mewah berdampingan dengan rumah2 yang tak kalah mewah, wildan menghentikan mobilnya.
"Ayo turun shi, kamu gugup ya mau bertemu calon mertua" wildan membuka seat belt nya sambil tersenyum. "ehh i..iya mas, ehhh apa???." shima kaget campur bingung lalu membuka seat belt nya juga.
Shima hanya mengikuti wildan dari belakang,
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."shima mengucap salam saat memasuki rumah mewah tersebut,
mengedarkan pandangannya pada sekeliling rumah yang mewah namun elegant.
"Wa'alaikum salam, shima kamu apa kabar?" bu ulfah datang lalu memeluk shima, shima pun mencium tangan bu ulfah.
"Alhamdulillah tante baik." shima menjawab dan tersenyum. "Ayok masuk sayang, semalam wildan bilang ketemu kamu di sebuah cafe, makanya tante nyuruh dia bawa kamu kesini, udah lama tante gak ketemu kamu, papa kamu sama alvan apa kabar?" tanya bu ulfah. "Alhamdulillah baik tante, rencananya hari ini juga aku akan pulang." shima tersenyum. "kok cepet banget pulangnya?" tanya bu ulfah lagi. "iya soalnya besok alvan masuk sekolah."
"ohhh begitu," bu ulfah menganggukan kepalanya. wildan pergi lagi entah kemana setelah mengantar shima bertemu dengan mamanya.
Setelah bercengkrama cukup lama tiba tiba bu ulfah bertanya lagi.
"Shi apa boleh tante tanya sesuatu? tanya bu Ulfah. "Tentu saja tante." jawab shima. " Apa kamu sudah memiliki calon suami." tanya bu ulfah hati2. "Belum tante, memangnya kenapa?" tanya shima bingung. "Syukurlah, apa kamu sudah berfikir untuk menikah dalam waktu dekat ini?"
Shima semakin di buat bingung.
"Pernikahan bukan hal mudah, aku belum pernah merasa siap untuk menikah, tpi jika sudah tiba waktunya aku menikah maka aku harus mempersiapkan diri."jawab shima di ikuti senyum mengembang di bibir bu ulfah.
"Seandainya wildan ingin melamarmu, apakah kamu akan menerima nya?" bu ulfah bicara seolah semuanya telah di pertimbangkan.
Lidah shima seakan kelu untuk menjawab, pertanyaan ini terlalu tiba2 dan mengagetkan baginya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Teman teman, jangan lupa like dan komentar nya, dan jangan lupa juga mampir di karya baruku (Bukan pernikahan impian) kritik dan saran mohon di sertakan di kolom komentar terima kasih.☺️