
Dua Minggu kemudian keluarga wildan datang ke rumah shima, mengutarakan maksud dan tujuannya untuk melamar shima,
Tidak ada acara mewah dan meriah, hanya ada acara sederhana yang hanya di hadiri keluarga inti saja.
"Setelah menikah nanti apakah shima tidak keberatan jika ikut bersama suami?" tanya pak ibra. "Insya alloh tidak, karna istri memang harus mengikuti suami." jawab shima tersenyum. pak ibra menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Apa setelah menikah saya boleh mengajak alvan tinggal bersama saya sebelum appa menikah lagi?" tanya shima ragu.
Awalnya appa menolak usul shima untuk membawa alvan bersamanya.
"Tentu saja, kamu boleh membawa anak kamu tinggal bersama kamu dan wildan." kini mama yang menjawab.
Appa terlonjak kaget kemudian berkata.
"Tunggu, anak kamu? maksudnya apa?" appa bertanya dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Bukankah alvan anaknya shima?" mama bertanya dengan hati2.
"Siapa yang bilang?" raut wajah appa sedikit berubah. "Tidak ada, hanya kami yang menyimpulkan sendiri, maaf kalau menyinggung perasaan kalin." kini pak ibra yg bicara. "Oalaaahhhhh, salah faham ternyata." appa tertawa dan shima hanya tersenyum, sementara pak ibra sekeluarga tampak kebingungan dengan tawa appa.
"Maaf, maaf, aku jdi tidak berhenti tertawa." appa berdehem kemudian raut wajahnya kembali serius.
"Sebenarnya alvan itu anak saya, adik dari shima, istri saya meninggal pada saat melahirkan alvan, memang beberapa keluarga dan kerabat menginginkan alvan untuk mereka asuh, namun kami menolak, terutama shima, shima tidak mau adiknya di asuh orang lain, makanya hingga saat ini shima lah yang mengasuh dan membesarkan alvan, sampai2 shima rela mengorbankan pendidikan nya." appa menjelaskan semuanya.
"Ya alloh, kami fikir shima itu adalah ibunya alvan, maaf kami hanya tau istrimu meninggal tanpa bertanya banyak tentang penyebab kematian nya." sesal pak ibra.
"Gak apa2 bu, aku gak tersinggung sama sekali." shima memegang tangan bu ulfah dengan tangan yang satunya.
Sementara wildan hanya tersenyum, seperti mendapatkan bonus lagi, Setelah dia sudah benar-benar menerima kondisi buy one get one free, kini wildan mendapat bonus tambahan, bahwa ternyata shima masih gadis, wildan melirik ke arah shima yang hanya tertunduk malu.
Setelah perbincangan selesai di lanjutkan ke acara makan2, setelah makan mereka melanjutkan pembicaraan, membahas bulan dan tanggal pernikahan mereka berdua dan keputusan kedua belah pihak acara pernikahan akan di laksanakan 6 minggu dari hari ini, kemudian keluarga pak ibra pamit undur diri.
__ADS_1
"Shi, appa minta maaf mungkin kamu tidak pernah di dekati pria karna mereka fikir kamu seorang single mom." Appa membantu shima merapikan rumah setelah acara selesai.
"Appa gak perlu minta maaf, justru aku sengaja jika ada yang bertanya apakah alvan anak ku, aku selalu menjawab dengan senyuman seakan mengiyakan apa yang mereka tanyakan, aku ingin tau seberapa besar laki laki itu mencintai shima, shima tidak pernah menyangka mas wildan akan menerima kondisi shima yg mas wildan fikir adalah ibunya alvan, itu membuktikan kalau mas wildan bisa menerima alvan dengan baik." shima menggenggam tangan ayahnya.
"Appa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu dan alvan, maaf jika appa belum bisa membahagiakan kalian."ucap appa sendu. "Aku dan alvan sangat bahagia appa, terimakasih."shima mencium tangan ayahnya.
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa tinggal satu minggu lagi acara pernikahan akan segera berlangsung, Segala persiapan sudah hampir selesai karna ini hanya pernikahan sederhana, sebenarnya keluarga wildan menawarkan pernikahan yang mewah dan di langsungkan di hotel ternama,namun secara halus shima menolaknya dengan alasan sederhana saja biar lebih khidmat.
Siang ini shima tengah sibuk mendata kembali apakah semua teman dekat dan keluarganya sudah di undang atau belum, tidak banyak undangan yang shima bagikan, hanya keluarga dan teman teman dekatnya saja, apalagi saat nana tau jika shima akan menikah dengan bosnya, dia menggerutu karna dia yg pacaran lama tpi shima yang menikah duluan.
Tiba2 terdengar suara tangis alvan dari dalam kamar, shima bangun dari duduknya dan menghampiri alvan yang tengah tertidur sambil menangis, shima memegang dahi alvan, ternyata alvan demam tinggi, shima berinisiatif membawa alvan ke klinik, kebetulan appa sedang di rumah jadi bisa menemani shima ke klinik, ternyata klinik yang biasa shima datangi tutup, terpaksa harus ke klinik yang agak jauh setelah sampai di klinik shima membawa alvan yang sesekali mengigau dan menangis, setelah beberapa waktu menunggu akhirnya giliran alvan di panggil oleh dokter.
"Shima???"
Merasa namanya di panggil, shima melirik ke arah sang dokter, "kak rio?"
__ADS_1