Bayiku

Bayiku
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Nana memarkirkan motornya di parkiran cafe, kemudian mereka berdua masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman.


"Kamu mau pesan apa shi? tanya nana sambil membuka buku menunya. "yang enak di sini menurut kamu apa?" tanya shima.


"hmmm kalau menurut aku sih sop iga sama sapi lada hitamnya enak." nana memberikan saran nya. "Ya udah aku yang itu aja deh." akhirnya shima menentukan pilihan makanannya. akhirnya mereka berdua memesan makanan yang sama.


Saat menunggu makanan datang tiba2 ada seseorang yang menghampiri nana.


"Hay na, kamu di sini? orang tersebut menepuk pundak nana.


"Mas hanan?" nana menoleh kaget.


"kamu sama siapa?" hanan melirik


ke arah shima yg kebetulan duduk bersebrangan dengan na2.


"kenalin ini temen aku namanya shima." nana mengenalkan shima.


Saat shima bangun dari duduknya, dia tak kalah kaget, ternyata dia adalah orang yang pernah kerumahnya bersama pak ibra dan wildan.


''Loh mas yang waktu itu sama mas wildan kan?" kemudian shima membalas uluran tangan hanan.


"iya, kenalin aku pacarnya nana, asistennya pak wildan." hanan mengenalkan dirinya.


"Ooohhhh, na ini pacar kamu?" shima berbisik namun masih terdengar oleh hanan.


Nana hanya tersenyum malu2.


"kebetulan saya di sini juga sedang makan


siang dengan pak wildan." hanan menunjuk ke arah wildan, wildan yang tidak ngeuh sedang di bicarakan tetap sibuk saja dengan laptopnya. "Oh iya pak." shima tersenyum kikuk. "kalau begitu aku tinggal dulu ya." hanan berpamitan pada nana kemudian nana pun mengangguk tanda mengizinkan.


"Na kamu pacaran sama dia?" shima kepo dengan hubungan nana dan hanan.


"Hehee iya shi." nana malah nyengir.


"kok bisa." shima heran.


"ya bisa lah, wajah aku kurang pas ya sama mas hanan? akunya yg kurang cantik atau mas hanan nya yang terlalu ganteng." nana mendekatkan wajahnya ke arah shima.

__ADS_1


"fisik teroooosss, plis deh jangan jadikan wajah sebagai tolak ukur keserasian seseorang." shima manyun.


"Heheee, gak gituuuuuu." nana memainkan sedotan minuman yang ada di hadapannya.


"Udah ahhh makan dulu, laper nih." sungut shima sambil menyendok makanannya.


Sebenarnya nana tergolong wanita yang cantik dan juga cerdas, dia sama tingginya dengan shima sekitar 165cm, rambut sebahu, kulit langsat, hidung mancung, badannya berisi, tidak seperti shima yg cenderung kurus, berhubung dia berasal dari kampung, seperti tidak terlalu menonjolkan penampilan nya, menurut nana berpakaian itu yg penting nyaman dan pantas.


"Apa bos tau siapa yang barusan saya temui?" tiba2 hanan datang dan memberikan sebuah tebak2an. "To the point saja." wildan tidak mengalihkan pandangan nya dari laptop.


"Kalau bos bisa menebak, makan siang kali ini saya yang traktir." hanan tersenyum penuh arti. wildan mengerutkan keningnya, merasa heran dengan ekspresi hanan. "sejak kapan kamu berani menawarkan traktiran kepada saya?" wildan heran, sepertinya hanan bertemu dengan seseorang yang memberinya rezeki nomplok. "Ayolah bos, bos pasti senang dengan jawaban nya." hanan menaik turunkan alisnya. "Saya sedang malas main tebak2an, katakan saja kamu bertemu siapa." wildan tetap tidak mau menjawab. hanan memutar bola matanya jengah, punya bos gak bisa di ajak becanda dikit.


Hanan mencondongkan tubuhnya ke arah wildan untuk membisikan sesuatu, kemudian wildan memundurkan tubuhnya.


"mau ngapain?" tanya wildan kaget.


"ya elah bos, aku mau bisikin jawabannya."


"Kenapa harus deket2 geli tau, saya masih normal."


"Kayak baru pertama kali di bisikin aja bos, kalau lagi rapat ada yg bos lupa juga saya selalu bisikin."


"Oke.. okeeee." akhirnya hanan mengalah percuma berdebat dengan bosnya, yang ada para cewe itu keburu pergi.


"Saya bertemu shima." hanan mengucapkan nya dengan pelan.


"benarkah?" wildan merasa sedang di bohongi hanan, mana mungkin shima ada di sini, buat apa? sama siapa?


"Jangan becanda." wildan tetap fokus dengan laptopnya.


"Kalau tidak percaya coba nengok ke belakang." hanan memberikan instruksi.


Awalnya wildan merasa ragu, takut di kerjai hanan, tapi dia juga penasaran apa benar shima ada di sini, kemudian wildan menoleh ke belakang, Alangkah kaget, senang, bahagia, semua rasa berada di hatinya, tanpa wildan sadari dia menyunggingkan senyumnya, pujaan hatinya ada di sini, di dekatnya.


"benarkah itu shima"? wildan masih belum percaya. "Menurut bos? sama pujaan hati sendiri gak ngenalin." ucap hanan.


"Bukan begitu, ini seperti mimpi buat saya." wildan tak mengalihkan pandangannya, mumpung ada kesempatan puas2in mandang, yang di pandang asyik ketawa dengan nana, entah apa yg sedang mereka bicarakan.


"Bos mau nyamperin mereka?"

__ADS_1


"tentu saja, ini kesempatan langka."


Ternyata bosnya lebih bucin dari dia, hanan hanya menggeleng geleng kan kepalanya.


"mau kita samperin sekarang bos?"


"Iya, bayar dulu makanan nya."


"Tapi tetap bos yang bayar ya? kan


gak berhasil nebak." hanan melambaikan tangannya ke arah pelayan.


"Memang siapa yg meminta kamu bayarin makanan." ucap wildan datar.


hanan hanya menggaruk tengkuknya.


Shima tengah meminum minuman di hadapannya sambil berbincang dengan nana.


"Apa kabar shi?" dari arah belakang shima wildan muncul.


Shima menoleh ke arah sumber suara, tiba2...


uhuukkk.. uhuukkk...ehemm


"m..mas wildan? tanya shima kaget, dia fikir hanan tidak akan memberi tau wildan kalau dia ada di sini.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komennya ya!


kritik dan sarannya boleh tulis saja di komentar, dukung terus diriku yang masih belajar ini teman teman. ☺️

__ADS_1


__ADS_2