
Hari ini shima berangkat ke pabrik, minggu
lalu ada kabar bahwa pabrik akan mengurangi
jumlah karyawan, bukan PHK secara sepihak
melainkan persetujuan kedua belah pihak,
jika ada yg ingin keluar maka gaji pokok,
uang pesangon dan uang tunjangan lain nya
tetap akan di bayarkan, dan jika pabrik sudah
kembali stabil maka pabrik akan membuka
lowongan kembali.
shima sudah berbicara dengan appa
baiknya bagaimana, dan appa menyetujui
apapun pilihan nya, sebentar lagi alvan
akan memulai sekolahnya, shima ingin
menemani hari2 pertama alvan bersekolah,
setelah berfikir semalaman baiknya bagaimana, akhirnya shima mengambil
keputusan.
"Shi kamu yakin dengan keputusanmu?"
tanya arin.
"iya shi, kita udah dua tahun bareng2,
aku jadi sedih kalau kita pisah." Silvi
tak kalah sedihnya.
"jangan sedih dong, kita kan masih bisa
ketemu, lagian kalau nanti ada loker lagi
di sini dan aku mau kerja lagi kan aku
bisa ikut melamar lagi." Jawab shima
tersenyum.
***
Setelah memutuskan berhenti bekerja
dan alvan hari ini mulai masuk sekolah,
alvan begitu antusias bahkan baru adzan
subuh pun dia sudah bangun, biasanya
paling susah di suruh bangun pagi.
"Atteh ayo buruaaan nanti telaaat."
alvan menarik baju shima.
"Ya alloh sayang ini masih pagi, di sekolah
masih belum ada siapa2." shima
merapikan meja setelah mereka bertiga
selesai sarapan.
"tapi aku udah gak sabar." rajuk alvan.
"Sayaaang, yasa juga belum berangkat,
pasti dia masih sarapan." shima menenangkan.
"kita ke sekolah bareng yasa aja?" usul alvan
"Ayok, nanti atteh telpon mamanya yasa
dulu biar kita bisa berangkat bareng2." shima
mengeluarkan hp dari saku celananya.
tuuuttt...tuuuttt...
"Hallo Mbak mia."
__ADS_1
"iya shi ada apa?"
"yasa udah siap ke sekolah?"
"yasa masih sarapan, dia ogah2an
berangkat sekolah katanya takut
ketemu sama orang baru."
"euleuuuhhhh, alvan justru kebalikannya
mbak, denger adzan subuh langsung
melotot itu mata." shima melirik
ke arah alvan.
Yang di lirik malah cuek pura2 gak denger.
"wah alvan hebat, mudah2an di sekolah
nanti yasa gak rewel."
"iya mbak aku juga takut alvan gitu, dari
rumah semangat pas sampe sekolah
nyalinyaenciut, hii..hii..hii."
Yang di ledek nya malah manyun, pundung
kayaknya dia.
"kita barengan aja ya mbak, biar alvan
langsung ada temennya."
"ya udah ayok, kita berangkat 10 menit
lagi." mbak mia pun menutup telponnya.
Tiitt... tiiiittt...
shima membunyikan klakson motornya
di depan rumah mbak mia.
mbak mia yg sudah siap dan sudah memakai
menaiki motornya.
"yuk semangat anak2, hari pertama
sekolah pasti seru." shima menyemangati
anak2 begitu mereka turun dari motor.
"Aku takut atteh." alvan menggenggam
tangan shima erat.
"Duuuhhh ada yang deg degan."
shima malah ngeledek.
"Atteh mah ihhhhh." alvan menggelayuti
tangan shima.
"Atteh antar sampai kelas, nanti stengah jam
sebelum jam pulang sekolah atteh jemput."
shima mengelus rambut alvan.
"Atteh gak mau tungguin aku di sini?"
alvan berharap shima mau menunggu nya
sampai jam pulang sekolah.
"Anak jagoan mah harus mandiri atuh,
kan udah gede." bujuk shima.
"Yasa di tungguin tante mia gak ya?"
tanya alvan.
"Yasa juga gak di tungguin, sama kayak kamu
nanti di jemput lagi."
__ADS_1
Tidak lama kemudian mbak mia datang
dan mengajak shima pulang, dia sudah
berhasil membujuk yasa agar mau
di tinggal.
"Nah sekarang kamu sama yasa, nanti
juga ibu guru pasti kenalin kamu sama
teman2 yang lain." shima tersenyum menenangkan.
Setelah bel masuk berbunyi, shima dan mbak
mia pun pulang.
Sesampainya di rumah, shima kembali
di sibukan dengan urusan rumah, cucian
yang belum sempat di jemur, lantai yg
belum selesai di pel, akhirnya semua
pekerjaan selesai sebelum jam pulang
sekolah alvan, shima kemudian mandi
karna tadi pagi belum sempat mandi,
Agak ribet ternyata kalau pagi2 di recokin
alvan.
Seperti biasa di depan rumah mbak mia
shima membunyikan klakson nya, mbak
mia pun keluar setengah berlari.
Di perjalanan pulang dari sekolah, alvan
bercerita banyak, mulai dari teman2 nya
yang baru, belajar berhitung, menggambar
burung, semua di ceritakan dengan penuh
semangat.
Sesampainya di halaman rumah,
shima Tampak mengerutkan keningnya,
"itu mobil siapa ya." tanya shima
pada alvan.
"Mana aku tau, kan atteh yg dari tadi di rumah." jawab alvan.
"Lah iya ya, aku salah nanya, hi..hi..hii."
shima tertawa geli.
"Assalamu'alaikum." shima masuk kerumah sambil mengucap salam.
"Wa'alaikum salam." semua orang menjawab serentak.
"Alvan sudah pulang? gimana sekolahnya nak?" appa mendudukkan alvan di pangkuannya, sementara tas yg dia gendong sudah shima pegang.
"Seru banget appa, aku belajar gambar burung, dan aku dapet nilai 90, hebat kan appa?" alvan berbicara pada appa tak kalah antusias nya.
"Waaahhh hebat, kamu jagoannya appa
paling hebat, harus tambah rajin lagi ya belajar nya biar dapat nilai 100." appa menyemangati Alvan supaya tambah giat lagi belajar.
"Ehh ada uncle, maaf alvan tadi gak liat
uncle, hee..heee." alvan nyengir menunjukkan giginya yg putih.
"Yang lagi cerita di sekolah baru sampai lupa ada uncle di sini." jawab wildan.
"Alvan, salim dulu sama semuanya sayang."
perintah shima.
alvan pun mencium tangan mereka satu
persatu, mulai dari pak ibra, bu ulfah, dan juga wildan.
"Saat alvan mencium tangan bu ulfah, bu Ulfah tampak memandang shima dan alvan secara bergantian, seperti ada banyak pertanyaan di kepalanya,
__ADS_1
iya bu ulfah adalah istri pak ibra, alias ibunya Wildan.
Haiiii teman2 boleh dong bagi like, koin, dan juga poin, se ikhlasnya aja, biar aku tambah husyu nulisnya. heheheee