Bayiku

Bayiku
Kambing hitam


__ADS_3

Raut wajah bu Ulfah yg semula sangat ramah


kini sedikit berubah, entah apa yg membuat


sikapnya menjadi sedikit tidak ramah.


Rencananya mereka datang ke sini untuk


mengisi villa dengan beberapa furniture,


belum semuanya lengkap baru ada ranjang,


lemari dan juga kursi, Untuk di bagian dapur


mama belum membeli apapun, mama ingin


lihat2 dulu kira2 kitchen set seperti apa yg


cocok untuk di villa.


sebelum berangkat ke sini mama belanja


dulu ke supermarket, mama rindu masakan


kampung, padahal di rumah pun bi isah maupun bi santi bisa saja masak makanan


kampung, hanya saja jika di makan di kampungnya langsung akan terasa lebih nikmat.


Pak ibra mencairkan suasana hati bu ulfah


yg sedari tadi di lihatnya seperti ada yang membuatnya tidak nyaman.


"Mama katanya mau masak makanan kampung sama shima, dia jago banget loh ma masakanya." pak ibra memandang wajah bu ulfah sambil tersenyum.


Bu ulfah yg sedari tadi fikirannya entah kemana terlonjak kaget saat pak ibra berbicara padanya.

__ADS_1


"i..iya pa, belanja'annya masih di mobil."


bu ulfah beranjak menuju mobil.


Shima yg tak tau apa yg tengah di fikirkan


bu ulfah bersikap biasa saja, selayaknya tuan rumah dengan tamu, shima sebenarnya tipikal orang yang mudah berbaur, apalagi lawan bicaranya itu orang yg banyak bicara, mereka akan cepat sekali akrab.


Shima mengikuti bu ulfah menuju mobilnya,


Ada 2 plastik blanja'an yg cukup besar.


"Biar saya bawa satu bu, sepertinya cukup berat." shima mengangkat salah satu plastik dan membawanya ke dapur di susul oleh bu ulfah.


"Mau masak sekarang bu?" shima meletakkan plastik belanjaan nya.


"Iya sekarang aja, ini masaknya agak banyak soalnya." bu ulfah membuka plastik belanjaan nya dan mengeluarkan satu persatu.


"Ya alloh bu sampai bawa beras segala." shima tersenyum saat melihat plastik berisi beras 5kg. pantesan ini plastik kok berat banget ya, ternyata isinya berasss, untung jiwa emak2 ku sudah terlatih.


"Gak seberapa bu, mereka makannya juga


gak banyak."shima tersenyum.


"Gak banyak apanya, si papa bilang pas waktu itu datang sama pak jaja makanan yang kamu


masak sampai mau habis sama mereka, malu2in banget kan kayak gak pernah di kasih makan." bu ulfah tertawa di balas senyuman oleh shima.


"Gak apa2 bu jarang2 ini, kalau keseringan baruuuu, hi..hiii..hiii." shima tertawa kecil di ikuti tawa yg cukup keras oleh bu ulfah.


"uang belanja kamu bisa tekor gara2 pak ibra ya?" ha..ha..haa..


Nah lohhhh kirain bu ulfah itu orangnya kalem berwibawa, ehhhh kalo udah nguprek di dapur ketauan selera humornya. hii..hii.hiii.


Selesai potong memotong, shima mengambil wajan, mulai memasak tumis teri medan,

__ADS_1


ngulek sambel terasi, bikin sayur asem request'an pak ibra, bikin karedok request'an bu ulfah, buntil daun singkong, yg ini inisiatif shima sendiri, kebetulan ada beberapa pohon singkong di sawah belakang rumahnya, tidak lupa kerupuknya juga.


"Tante asli kota ini juga?" shima duduk di samping bu ulfah.


"iya tante asli sini, sebenarnya pak ibra sama tante juga orang kampung, dulu kami merintis usaha dari nol, bukan kaya dari lahir, apalagi orang paling kaya se asia." bu ulfah tertawa kecil.


"Tante mah udah sukses, udah kaya, udah mapan, kadang aku suka sedih lihat appa yg masih gini2 aja." Shima tertunduk.


"Gak usah kaya, yg penting cukup, gak perlu kaya harta yang penting kaya hati, banyak orang yg sudah kaya se asia tapi masih terus saja kerja siang malam, itu artinya mereka merasa belum cukup, jika kita di beri rasa cukup oleh alloh maka berapapun harta yg kita miliki itu akan terasa cukup, Tidur nyaman, ibadah tenang, fikiran tidak tertuju pada pekerjaan terus menerus, biaya hidup tidak semahal gaya hidup sayang. bu Ulfah memberikan petuahnya untuk shima, entah di sadari atau tidak bu ulfah mengelus pundak shima.


Shima tersenyum memandang bu ulfah.


"Iya apa juga selalu bilang begitu."


Tiba2 pak ibra datang menghampiri mereka berdua.


"Gimana ini makanan nya sudah siap? kami para pria sudah tidak tahan dengan aroma makanan nya yg bikin cacing di perut meronta-ronta." pak ibra mengelus perutnya yg agak buncit.


"Ahhh itu mah papa aja yg kelaparan, pake bawa2 pak ahmad sama wildan." sungut mama "Ehhh si mama mah gak tau aja dari tadi perut wildan sama ahmad juga udah pada bunyi." bela pak ibra


"Waaahhh kita di kambing hitamkan wil." tiba2 appa dan wildan ikut menghampiri mereka, sontak semuanya pun tertawa.


.


.


.


.


.


.


jangan lupa like sama komen nya ya? biar nulisnya tambah khusyuk. 🤗

__ADS_1


__ADS_2