Bayiku

Bayiku
Wonder woman


__ADS_3

"Maaf jika aku menyinggung perasaan mu,


aku menyesal telah bertanya seperti itu."


kata wildan tulus.


"tidak masalah, kehidupan yang cukup keras menuntut ku untuk menjadi Wonder


woman, orang yg baru mengenalku


memang kadang bertanya tentang hal itu."


lagi2 shima hanya tersenyum, tidak ada


raut wajah sedih, marah, ataupun tersinggung.


***


Sesampainya di rumah, shima dan wildan


yg sedang menggendong alvan pun


masuk, ada appa dan juga pak ibra yg sedang


serius bermain catur.


"Assalamu'alaikum," ucap shima.


"wa'alaikum salam." appa dan juga pak


ibra menjawab secara bersamaan.


"kalian sudah pulang." tanya pak ibra.


"iya pa." jawab wildan.


"sini alvan nya, biar aku tidurkan dulu."


shima mendekati wildan untuk mengambil


alvan di gendongan wildan.


"gak apa2 biar aku aja, mau di tidurkan


di kamar kamu?" wildan bertanya dan di


angguki oleh shima.


wildan pun beranjak ke kamar shima dan


menidurkan alvan,


Saat wildan kembali ke ruang tamu tampaknya pak ibra sudah berpamitan,


wildan pun ikut berpamitan kepada pak


ahmad, ayahnya shima.


di perjalanan wildan terus saja melirik


ke arah papa nya, seperti ada yg ingin di


tanyakan, namun ragu.


"Kamu kenapa? dari tadi lirik papa terus."


pak ibra bertanya namun mata nya tetap


mengarah ke arah ponsel yg di mainkannya.


"menurut papa, shima itu sperti apa?"


seketika pak ibra mematikan ponselnya


dan mengarahkan pandangannya ke arah


wildan.


"apa papa tidak salah dengar, kamu menanyakan perempuan sama papa?"


tanya pak ibra heran.


"pa, aku serius."


"kamu tertarik sama dia?" lagi-lagi pak ibra bertanya tanpa menjawab pertanyaan


wildan tadi.


"entahlah, tpi aku merasa ingin tau banyak


hal tentang dia, dia itu menarik." wildan


sedikit mengangkat bibirnya membentuk

__ADS_1


sebuah senyuman.


"itu namanya kamu tertarik." pak ibra


menjawab kegalauan hati wildan.


Wildan lebih nyaman berbicara dengan


papa nya di banding dengan mamanya,


wildan merasa papa lebih tenang jika


menyikapi suatu hal, seandainya saat ini


wildan berbicara langsung dengan mamanya,


bisa di pastikan beliau akan jadi orang


pertama yg paling heboh jika tau Wildan sedang tertarik pada seorang perempuan,


Apalagi jika mamanya tau jika shima adalah


seorang....... "ahhhh aku tidak bisa bayangkan


jika mama tau status shima."


shima memang tidak mengatakan


secara langsung jika dia adalah


seorang janda, tpi wildan menyimpulkan


dari keadaan dan ucapan shima tadi sore.


"Papa lihat shima itu orangnya baik,


mandiri, kuat, pandai mengurus urusan rumah tangga, dan keluarga nya pun baik, meskipun mereka dari keluarga sederhana tapi mereka di pandang baik di lingkungan nya, jika memang kamu serius sama shima, papa dukung, tpi kamu juga harus bicara terlebih dahulu sama mama."


"Tapi ini terlalu cepat jika harus cerita sekarang sama mama."


"tidak ada salahnya jika kamu memang


ingin cepat2 menikahi shima."


"ya alloh pa, kenapa sampe sejauh itu sih,


dia juga belum tentu mau sama aku."


"Yakinkan dulu hati kamu, nanti kita


baik2, menikah itu sekali seumur hidup,


jangan sampai saling menyakiti."


***


"ya alloh ini yg kondangan kayak lupa


jalan pulang." ibu negara mulai memberikan


tausiah nya.


"Mampir dulu ke rumah ahmad, sambil


menanyakan pembangunan villa kita,


katanya hampir selesai, mungkin minggu


depan kita sudah bisa mulai mengisi dengan


beberapa furniture, dan mulai mencari orang


yang mau mengurus villa kita nanti." jawab


papa santai.


"udah pada makan malam belum?" tanya


mama lagi.


"sudah tadi di rumah ahmad." jawab papa


"Wildan kamu sudah makan?" tanya papa.


"lohhh kalian gak makan bareng?" tanya mama heran.


"tadi Wildan pergi sama anaknya ahmad,


jdi papa gak tau apa wildan sudah makan


atau belum."


"kok bisa? cewe apa cowo pah anaknya?"

__ADS_1


jiwa kepo emak meronta-ronta.


"ceweeeee." jawab papa cuek.


"what??? beneran wil?" mama mencari


jawaban yg meyakinkan.


Wildan menganggukkan kepala sambil


beranjak ke kamarnya.


"bi tolong buatkan saya kopi ya? dan bawa


ke kamar." titah wildan


"baik den." bi isah kemudian berbalik


ke arah dapur.


"Wil mau kemana? mama belum selesai


bicaraaaaa." mama setengah berteriak


namun tidak di hiraukan oleh wildan.


"Ck,,, anak itu." bu Ulfah memandang


kesal ke arah wildan yg tak menghiraukan nya.


selesai dengan mandinya wildan duduk


di kursi di ruangan kerjanya,


membuka laptop dan mulai mengutak


ngatik nya.


"Aaarggghhh, kenapa kefikiran dia terus


sih." wildan mengacak rambutnya.


"seandainya mama tau kalau dia single


mother, apa yang akan terjadi?"


"memang apa salahnya sih jika sudah


pernah menikah? Semua orang kan


pasti menginginkan pernikahan sekali


seumur hidup, dan shima pun pasti


seperti itu."


"ya alloh sekalinya aku jatuh cinta


tpi belum apa2 aku sudah merasa bingung


sendiri, merasa takut sebelum berperang."


wildan melipat tangannya diatas meja dan menundukan kepalanya menjadikan


tangannya sebagai bantalan.


Di lain tempat shima pun sama bingungnya


dengan wildan, bukan karna dia sudah jatuh


cinta, melainkan segala pertanyaan dan


jawaban yg wildan berikan padanya.


"Dia suka sama aku? ha..haa.. yang benar


saja, kayak di kota kehabisan stok cewe


cantik aja, ahhh mungkin dia hanya kepo,


pengen tau apakah aku janda cerai, janda


mati, atau gadis tapi janda, hmmm biarkan


saja, biar waktu dan takdir yg menjawab


semuanya, apapun pandangan mereka


aku harus terima, karna aku menginginkan


laki2 yg benar2 mencintai ku apa adanya."


Sepertinya malam ini mereka berdua

__ADS_1


akan susah tidur, sibuk dengan fikirannya


masing2.


__ADS_2