
"Maaf jika aku menyinggung perasaan mu,
aku menyesal telah bertanya seperti itu."
kata wildan tulus.
"tidak masalah, kehidupan yang cukup keras menuntut ku untuk menjadi Wonder
woman, orang yg baru mengenalku
memang kadang bertanya tentang hal itu."
lagi2 shima hanya tersenyum, tidak ada
raut wajah sedih, marah, ataupun tersinggung.
***
Sesampainya di rumah, shima dan wildan
yg sedang menggendong alvan pun
masuk, ada appa dan juga pak ibra yg sedang
serius bermain catur.
"Assalamu'alaikum," ucap shima.
"wa'alaikum salam." appa dan juga pak
ibra menjawab secara bersamaan.
"kalian sudah pulang." tanya pak ibra.
"iya pa." jawab wildan.
"sini alvan nya, biar aku tidurkan dulu."
shima mendekati wildan untuk mengambil
alvan di gendongan wildan.
"gak apa2 biar aku aja, mau di tidurkan
di kamar kamu?" wildan bertanya dan di
angguki oleh shima.
wildan pun beranjak ke kamar shima dan
menidurkan alvan,
Saat wildan kembali ke ruang tamu tampaknya pak ibra sudah berpamitan,
wildan pun ikut berpamitan kepada pak
ahmad, ayahnya shima.
di perjalanan wildan terus saja melirik
ke arah papa nya, seperti ada yg ingin di
tanyakan, namun ragu.
"Kamu kenapa? dari tadi lirik papa terus."
pak ibra bertanya namun mata nya tetap
mengarah ke arah ponsel yg di mainkannya.
"menurut papa, shima itu sperti apa?"
seketika pak ibra mematikan ponselnya
dan mengarahkan pandangannya ke arah
wildan.
"apa papa tidak salah dengar, kamu menanyakan perempuan sama papa?"
tanya pak ibra heran.
"pa, aku serius."
"kamu tertarik sama dia?" lagi-lagi pak ibra bertanya tanpa menjawab pertanyaan
wildan tadi.
"entahlah, tpi aku merasa ingin tau banyak
hal tentang dia, dia itu menarik." wildan
sedikit mengangkat bibirnya membentuk
__ADS_1
sebuah senyuman.
"itu namanya kamu tertarik." pak ibra
menjawab kegalauan hati wildan.
Wildan lebih nyaman berbicara dengan
papa nya di banding dengan mamanya,
wildan merasa papa lebih tenang jika
menyikapi suatu hal, seandainya saat ini
wildan berbicara langsung dengan mamanya,
bisa di pastikan beliau akan jadi orang
pertama yg paling heboh jika tau Wildan sedang tertarik pada seorang perempuan,
Apalagi jika mamanya tau jika shima adalah
seorang....... "ahhhh aku tidak bisa bayangkan
jika mama tau status shima."
shima memang tidak mengatakan
secara langsung jika dia adalah
seorang janda, tpi wildan menyimpulkan
dari keadaan dan ucapan shima tadi sore.
"Papa lihat shima itu orangnya baik,
mandiri, kuat, pandai mengurus urusan rumah tangga, dan keluarga nya pun baik, meskipun mereka dari keluarga sederhana tapi mereka di pandang baik di lingkungan nya, jika memang kamu serius sama shima, papa dukung, tpi kamu juga harus bicara terlebih dahulu sama mama."
"Tapi ini terlalu cepat jika harus cerita sekarang sama mama."
"tidak ada salahnya jika kamu memang
ingin cepat2 menikahi shima."
"ya alloh pa, kenapa sampe sejauh itu sih,
dia juga belum tentu mau sama aku."
"Yakinkan dulu hati kamu, nanti kita
baik2, menikah itu sekali seumur hidup,
jangan sampai saling menyakiti."
***
"ya alloh ini yg kondangan kayak lupa
jalan pulang." ibu negara mulai memberikan
tausiah nya.
"Mampir dulu ke rumah ahmad, sambil
menanyakan pembangunan villa kita,
katanya hampir selesai, mungkin minggu
depan kita sudah bisa mulai mengisi dengan
beberapa furniture, dan mulai mencari orang
yang mau mengurus villa kita nanti." jawab
papa santai.
"udah pada makan malam belum?" tanya
mama lagi.
"sudah tadi di rumah ahmad." jawab papa
"Wildan kamu sudah makan?" tanya papa.
"lohhh kalian gak makan bareng?" tanya mama heran.
"tadi Wildan pergi sama anaknya ahmad,
jdi papa gak tau apa wildan sudah makan
atau belum."
"kok bisa? cewe apa cowo pah anaknya?"
__ADS_1
jiwa kepo emak meronta-ronta.
"ceweeeee." jawab papa cuek.
"what??? beneran wil?" mama mencari
jawaban yg meyakinkan.
Wildan menganggukkan kepala sambil
beranjak ke kamarnya.
"bi tolong buatkan saya kopi ya? dan bawa
ke kamar." titah wildan
"baik den." bi isah kemudian berbalik
ke arah dapur.
"Wil mau kemana? mama belum selesai
bicaraaaaa." mama setengah berteriak
namun tidak di hiraukan oleh wildan.
"Ck,,, anak itu." bu Ulfah memandang
kesal ke arah wildan yg tak menghiraukan nya.
selesai dengan mandinya wildan duduk
di kursi di ruangan kerjanya,
membuka laptop dan mulai mengutak
ngatik nya.
"Aaarggghhh, kenapa kefikiran dia terus
sih." wildan mengacak rambutnya.
"seandainya mama tau kalau dia single
mother, apa yang akan terjadi?"
"memang apa salahnya sih jika sudah
pernah menikah? Semua orang kan
pasti menginginkan pernikahan sekali
seumur hidup, dan shima pun pasti
seperti itu."
"ya alloh sekalinya aku jatuh cinta
tpi belum apa2 aku sudah merasa bingung
sendiri, merasa takut sebelum berperang."
wildan melipat tangannya diatas meja dan menundukan kepalanya menjadikan
tangannya sebagai bantalan.
Di lain tempat shima pun sama bingungnya
dengan wildan, bukan karna dia sudah jatuh
cinta, melainkan segala pertanyaan dan
jawaban yg wildan berikan padanya.
"Dia suka sama aku? ha..haa.. yang benar
saja, kayak di kota kehabisan stok cewe
cantik aja, ahhh mungkin dia hanya kepo,
pengen tau apakah aku janda cerai, janda
mati, atau gadis tapi janda, hmmm biarkan
saja, biar waktu dan takdir yg menjawab
semuanya, apapun pandangan mereka
aku harus terima, karna aku menginginkan
laki2 yg benar2 mencintai ku apa adanya."
Sepertinya malam ini mereka berdua
__ADS_1
akan susah tidur, sibuk dengan fikirannya
masing2.