Bayiku

Bayiku
Rebutan peluk


__ADS_3

Setelah alvan tertidur pulas, Wildan, shima dan juga appa duduk di ruang tv.


"Jangan terlalu memikirkan alvan, appa pasti jaga alvan dengan baik, kamu tidak perlu khawatir." Appa membuka pembicaraan, menenangkan kegundahan hati shima.


"Tapi appa, shima gak pernah ninggalin kalian dalam waktu yang sangat lama." shima mulai terisak.


"Appa masih sangat sehat, lihat, apa masih segar bugarkan?! kalau hanya untuk mengurusi alvan, appa lebih dari mampu."


Appa menggenggam tangan shima.


"Appa sama alvan ikut kami saja ya?" ucap shima.


Appa hanya tertawa kecil.


"Appa fikir kamu itu sudah sangat dewasa, ternyata kamu masih sangat cengeng, mengkhawatirkan appa dan alvan terlalu berlebihan." Appa mengusap kepala shima.


"Begini saja, appa tidak usah sering2 ke pabrik, cukup seminggu sekali atau seminggu dua kali, Semua kebutuhan appa dan alvan biar aku yang tanggung." kini giliran wildan berbicara.


"Tidak, tidak, appa tidak setuju, appa masih bisa mencukupi kebutuhan makan dan minum kami nak, kamu tidak perlu khawatir." Appa menolak keras usul wildan.


"Shima setuju dengan apa yg mas wildan ucapkan, Appa sudah sepuh, sudah waktunya appa menikmati masa tua."Ucap shima.


"Appa ini masih muda, masih segar bugar begini. sudah, kalian ini baru menikah, jangan memikirkan hal yg berat2, kehidupan rumah tangga kalian baru saja di mulai, akan banyak hal yg akan kalian lalui, pesan appa kalian harus saling terbuka satu sama lain, jujur, jika ada masalah jangan di biarkan berlarut-larut, harus pandai meredam ego dan emosi masing2, karna dengan emosi akan semakin memperkeruh keadaan kalian, appa akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." appa memberikan petuah nya.


Shima pun menghambur ke pelukan appa, menangis menumpahkan rasa sedihnya, rasa bahagianya, rasa bangganya, sedih karena akan berpisah dengan orang tua, bahagia karena appa mendukung pernikahannya, bangga karena memiliki orang tua yang luar biasa bijaksana.


Appa membalas pelukan shima dengan eratnya, tanpa shima sadari, appa pun menitikan air mata, anak perempuan yang di peluknya kini sudah bukan lagi tanggung jawabnya, tanggung jawabnya sudah berpindah pada laki2 yg bergelarkan suami.


"Sudah, jangan nangis terus, istirahat lah, ini sudah malam." Appa bangun dari duduknya mengusap kepala shima lalu melangkah menuju kamarnya.


Pagi ini shima tengah sibuk packing pakaian yang akan di bawanya, rencana nya wildan akan langsung membawa shima ke rumah pribadinya.


"Atteh bawa semua bajunya."alvan menghampiri shima yg tengah sibuk.

__ADS_1


"Enggak dong, kan nanti atteh bakal sering ke sini nengokin kamu sama appa." shima mengusap kepala alvan sekilas.


"Beneran yaaaa? awas gak boleh bohong." ucap alvan.


"Kalau uncle lagi gak banyak kerjaan, atteh pasti ke sini, janji." shima mengangkat jari kelingkingnya.


"Gak boleh inkar janji." alvan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari shima.


"Mas gak ke rumah mama dulu?" tanya shima.


"Enggak, soalnya mama nunggu di rumah kita, ada papa sama kak nadira juga."


"Ada tara dan nara juga dong kalau gitu, kangen anak gemesshhh itu." ucap shima gemas.


Wildan hanya tersenyum.


"Assalamu'alaikum." Wildan dan shima mengucapkan secara bersamaan.


"Wa'alaikum salam." mama menghampiri mereka berdua.


"Alhamdulillah ma baik." shima mencium tangan ibu mertua nya.


"Uncleeee." tiba2 tara menghampiri wildan dan merentangkan tangannya ingin di peluk.


"Aku duluan yg di peluk uncle."Tiba2 nara sudah berdiri di belakang tara.


"Aku duluuuuu." tara tak mau mengalah.


"aku duluuu." wajah nara sudah mulai memerah menahan tangis.


"Ada yang mau peluk aunty?" tiba2 shima merentangkan kedua tangannya.


"Aku sama aunty aja, bial sama2 syantik." nara berlari kecil menghampiri shima dan memeluknya.

__ADS_1


"Nahhh kalau begini kan gak bakal rebutan lagi." mama tertawa melihat tingkah kedua cucunya, sementara nadira hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Shima menaruh kopernya di dalam kamar, kamar yang mungkin tiga kali lebih besar dari kamarnya, ada kamar mandi di dalam, ada ruang khusus pakaian dan ada tv yang lumayan besar.


"Ini mh seharian di kamar juga bakalan betah." gumam shima.


"Liatin apa sih?" ucap wildan tiba2.


"Astaghfirullah mas, ngagetin tau nggak." shima memegang dadanya.


"Ngapain ngelamun coba." wildan membela diri.


"Mas yang dateng diem2, jadi aku gak kedengeran mas masuk kamar." shima mengerucutkan bibirnya.


"Masih siang, jangan goda2 suami, apa lagi di bawah ada mama, jangan bikin rusuh." justru malah wildan yg menggoda.


Seketika shima mengatupkan bibirnya.


Reflek wildan tertawa melihat tingkah istrinya.


"Ke bawah yuk, mama udah nyiapin makan siang." wildan menggenggam tangan shima.


Deg..deg..deg..


Ini jantung kenapa ya alloh, tiba tiba berasa sesak nafas, kaki lemes, pengen pingsaaaannn...


.


.


.


.

__ADS_1


Semoga cerita gaje ini masih bisa di nikmati ya teman-teman. 😁


__ADS_2