Bayiku

Bayiku
Tiga kali lebaran


__ADS_3

"Apa kabar shi?" dari arah belakang shima, wildan muncul.


shima menoleh ke arah sumber suara, tiba2...


uhuukk.. uhuukkk...ehm


"m..mas wildan?" tanya shima kaget, dia fikir hanan tidak memberi tau wildan kalau dia ada di sini. "apa kabar shi?" wildan kini sudah berada di sampingnya. "b..baik mas." shima sedikit memutar tubuhnya. "boleh kami gabung di sini?" wildan memandang shima meminta persetujuan. "boleh mas." shima mempersilahkan, tidak tau kenapa saat bertemu wildan di sini, shima menjadi lebih gugup, padahal saat bertemu di rumahnya shima merasa biasa saja, mungkin karna saat ini shima sedang berada di "daerah kekuasaan" wildan.


"Rencana kalian setelah ini mau kemana?" kini wildan memandang ke arah nana.


"Rencananya kami mau jalan2 sebentar ke mall pak." jawab nana sambil menunduk, karna biar bagaimanapun wildan adalah atasannya. "boleh saya mengantar kalian?" tanya wildan lagi. "tidak perlu mas, kita bawa motor kok." kini shima yang menjawab. "tidak perlu khawatir, ada hanan yg akan membawa motor kalian." wildan melirik ke arah hanan dan kemudian di angguki oleh hanan sambil tersenyum kecut.


***


Mereka berjalan di mall yang terbilang mewah di kota ini, karena niat shima dan nana hanya jalan2 tanpa ada niat belanja, nana hanya menunjukkan beberapa toko2 brand mewah, sementara para laki2 tampan nan gagah hanya mengikuti mereka dari belakang.


"Bos gak ada niat ngajak shima jalan berdua gitu?" hanan memberi usulan agar dia juga bisa jalan berdua dengan nana.


"sepertinya dia tidak akan mau." jawab wildan tanpa ekspresi.


"kalau mau tidak mau dia harus jalan berdua dengan bos bagai mana?" hanan menyeringai.


"bagaimana caranya?" wildan mengerutkan keningnya.


"tunggu sebentar bos." hanan mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sesuatu.


Tiba2 ponsel nana bergetar, dia membuka ponselnya, nana tersenyum saat membaca isi pesan pada ponselnya.


"kamu kenapa na?" tanya shima.


"Ehhh gak apa2 kok." nana memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.

__ADS_1


shima hanya ber Oh ria...


Tiba2 hanan datang menghampiri nana dan membisikkan sesuatu, kemudian nana membisikkan sesuatu di telinga shima, shima pun mengangguk tapi sedikit ragu.


Hanan dan nana pergi entah kemana meninggalkan wildan dan shima beserta kecanggungan dalam diri mereka berdua. wildan melangkah untuk mensejajarkan dirinya dengan shima yang terlihat kebingungan akan melangkah kemana.


"Mereka mau kemana?" wildan sudah berada di samping shima.


"Nana bilang mau mengantar hanan beli sesuatu, tpi dia janji tidak akan lama." shima merasa tidak nyaman berdua dengan wildan.


"Ya sudah kita jalan dulu ke sana, kebetulan saya juga ingin membeli sesuatu." wildan menunjuk ke salah satu toko.


"Ternyata para cowok ke sini memang niat mau belanja ya, padahal aku dan nana hanya berniat jalan jalan saja." shima tersenyum.


"Sekalian saja, mumpung kesini." wildan membalas senyuman shima.


shima hanya mengikuti langkah wildan,


mereka tengah berada di toko pakaian pria brand ternama.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya! Saya mau mencoba pakaian dulu." wildan mengangkat baju pilihan nya.


shima mengangguk setuju.


Kalo banyak duit ternyata cowo juga suka belanja ya! shima bergumam dan tersenyum.


Wildan datang menghampiri shima dengan dua warna jas berbeda di tangannya.


"Menurut kamu lebih bagus yg ini, atau yang ini?" wildan mengangkat tangan kanan dan kiri secara bergantian.


shima mengerutkan keningnya, kenapa pula wildan menanyakan pilihan kepada shima, sedangkan shima tidak tau selera wildan seperti apa. "pilih yang sesuai dengan selera mas wildan saja." Jawa shima. "boleh sekali ini saja saya membeli pakaian hasil pilihan kamu?" wildan bergeming.

__ADS_1


shima semakin tidak nyaman dengan situasi ini, dari pada ketidak nyamanan semakin berlarut-larut akhirnya shima menjatuhkan pilihannya dengan memilih pakaian yg di tangan kanan wildan, wildan mengangguk dan tersenyum tidak lupa mengucapkan terimakasih yang hanya di balas senyuman oleh shima.


"nana kok gak balik2 ya mas." shima mulai khawatir. "mungkin mereka belum selesai dengan keperluannya." jawab wildan santai.


"tapi ini sudah sore mas." shima mengeluarkan ponselnya dan menelpon nana namun tidak ada jawaban.


"kita mampir dulu kesini, bagaimana?" wildan menunjuk ke toko pakaian anak2.


Shima hanya mengangguki, berjalan berdampingan dengan wildan namun dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


Wildan mengambil satu buah kemeja kemudian membawa nya ke arah shima,


"Menurut kamu, ini cukup gak buat alvan?" tanya wildan. shima kaget 'lohhhh kok buat alvan sih'. "kok buat alvan mas? saya tidak berniat membelikan alvan baju di sini." shima kaget karna baju di sini pasti mahal2.


Saat melihat bandrol, benar saja harganya bikin sesak nafas. "Astaghfirullah mas, ini mah cukup buat beli baju tiga kali lebaran." shima menarik nafas nya dalam2. "Saya yang akan membelikan nya, anggap saja hadiah."wildan tersenyum geli melihat tingkah shima.


"tapi pak, sayang uangnya."shima memelankan suaranya takut terdengar orang lain. "Tenang saja Saya baru dapat arisan." ucap wildan tak kalah pelan. shima nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya, "Terserah mas wildan saja lah."


"Ya sudah kalau begitu kamu cari yg ukurannya pas buat alvan."


"yang ini juga kayaknya cukup mas." shima membolak-balik baju yg dia pegang.


"Sekarang kita cari celananya." wildan melangkahkan kakinya


"Ehhhh mas gak usah, ini aja udah cukup."shima menyusul ke arah wildan.


"Gak apa2 sekalian, biar cari yang matching."Wildan memilah celana yg di gantung. "yg ini kira2 cukup gak?" tanya Wildan lagi. "Aduh aku lupa ukuran celana alvan." tiba2 shima melihat seorang ibu dengan dua anaknya dan salah satunya memiliki postur tubuh yang mirip dengan alvan. "Mas kayaknya anak itu sebesar alvam ya?" shima menunjuk ke arah anak tersebut.


"Coba minta tolong, ukur celana ini ke anak itu." wildan memberi saran.


kebetulan ibu2 tersebut mendekat ke arah mereka berdua. "ibu maaf boleh pinjam anaknya untuk ngukur celana ini?" shima tersenyum malu2. "Ohh iya silahkan." ibu tersebut tersenyum ramah. "Kenapa anaknya gak sekalian di bawa aja mas, mba." lagi2 ibu tersebut tersenyum ramah.

__ADS_1


Shima dan wildan saling pandang, antara kaget, malu dan canggung.


shima dan wildan hanya membalas ibu tersebut dengan senyuman dan mengucapkan terimakasih.


__ADS_2