Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Belum rezeki


__ADS_3

Elin memberikan darahnya pada Rindi, Arfan tak bisa berkata apa-apa, dia berharap Elin bisa memaafkan dirinya, dan menerima Rindi sebagai adik madunya.


Mengambil darah Elin masih belum cukup, maka, Yanju ikut mendonorkan darahnya untuk Rindi, kebetulan golongan darahnya sama. Karena masih kurang, Hanan juga ikut mendonorkan. Dua orang darah polisi masuk pada tubuh Rindi, dan seorang darah wanita yang berhati tulus juga menyatu dalam tubuhnya.


Setelah merasa cukup mendapatkan donor darah untuk Rindi, Arfan segera menemui putarannya yang kata dokter kritis. Kini giliran Pria itu yang harus menyelamatkan bayinya.


Sebagai seorang Dokter syaraf anak, maka, Arfan sudah tahu tindakan yang harus dilakukan. Pria itu juga menanyakan riwayat lahir anaknya.


"Apa kendala lahirnya, Dok?" tanya Arfan pada Dokter yang menangani putranya.


"Saat Ibu Rindi, dirujuk, dia sudah kelelahan, sehingga tidak memiliki tenaga untuk mengeluarkan bayi, dan bayi sudah lama di pintu, namun, kepala tidak turun, maka kami melakukan vacum, dan saat bayi lahir tangisannya tidak keluar, asfiksia berat."


Dokter menerangkan secara rinci, karena mereka baru mengetahui bahwa Rindi adalah istri Dokter syaraf anak itu sendiri. Mereka sebenarnya sangat penasaran dan begitu kepo dengan status pernikahan dokter itu, karena mereka tahu bahwa Arfan sudah menikah.


Bahkan saat Dokter neurologi Anak itu menikah, mereka semua datang menghadiri. Tetapi, hanya sebatas rekan kerja, maka tak ada yang berani menanyakan hal pribadi Arfan.


Tak berselang lama, Arfan sudah sampai di ruangan bayi yang sedang ditangani secara khusus.


Arfan melihat begitu banyak alat medis di tubuh mungil yang bersih tak berdosa itu. Arfan menyentuh bayinya dari lubang yang ada di boks kaca.


"Anak Papa, kuat ya. Kita sama-sama berjuang ya, kamu pasti kuat, kamu kuat seperti Mama kamu." Gumam Pria itu menitikkan air mata,


Hatinya begitu pilu, akibat keegoisan dirinya, kini ibu dan anak itu sedang berjuang melawan maut. Andai dari awal dia menceritakan yang sebenarnya, mungkin nasib istri dan anaknya tidak akan seperti sekarang ini.


Ya Allah, ya Rabb. Aku mohon belas kasihMu, tolong selamatkan istri dan anak hamba dalam melewati masa kritis ini. Hamba mohon ya Allah, jangan Engkau berikan ujian berat ini pada istri dan anakku. Biarkan mereka merasakan kebahagiaan, sebagaimana yang dia impikan.


"Dok, mari kita lakukan transfusi darah, ambil berapapun yang dibutuhkan untuk anak saya." Tegas Arfan, agar Dokter tak ragu mengambil darahnya.


"Baik, mari Dok."

__ADS_1


Setelah melakukan transfusi darah, Dokter masih memeriksa kondisi sang bayi yang masih belum stabil. Arfan yang mengetahui dampak dari penyakit itu, hatinya begitu resah.


"Dok, apakah tadi dia mengalami kejang?" tanya Arfan ingin memastikan.


"Ada, Dok, tapi hanya sebentar," jelas Dr yang menangani.


Kembali nafas Pria itu terasa sesak. Arfan selalu bergumam Do'a dan ikut memeriksa kondisi sang anak. Pria itu begitu sibuk dengan alat medis.


"Dok, darah tidak bisa disalurkan, karena tak bisa memasang jarum, nadinya lapuk." Seru dokter itu.


Arfan tersentak kaget dan istighfar, dia segera mengambil alih pekerjaan teman sejawatnya, dengan tangannya sendiri mencoba mencari nadi untuk ditanam jarum agar darah bisa di salurkan.


Arfan sangat tidak tega melihat keadaan anaknya. Begitu banyak bekas jarum di tubuh bayi merah itu, Pria itu masih berusaha, dari tangan tak bisa, maka dia beralih ke keki.


Hasilnya tetap nihil. Detak jantung bayi semakin melemah. "Kamu harus bertahan, Nak, kamu pasti bisa, Sayang, please... jangan menyerah, Dek, Papa mohon." gumam Arfan tak bisa menahan air matanya.


Dengan kegigihan Pria itu, akhirnya jarum bisa terpasang di tali pusar sang bayi. Sedikit lega dihatinya. Tetapi, tak banyak kemajuan.


"Oeek.. Oeek.." Suara bayi itu begitu lemas, dan terhenti, sepertinya dia hanya ingin menyapa sang Papa untuk yang terakhir kalinya.


Kini semua alat pengukur yang menempel pada tubuh bayi sudah senyap, tak lagi bekerja. Itu Menandakan jika bayi sudah meninggal dunia.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Ini pasti salah. Dok, coba periaksa kembali, alat pengukur jantung, dan nafasnya!" ujar Arfan dengan mata yang memerah.


Beberapa Dokter yang menangani, termasuk Dokter anastesi, mereka berusaha mengikuti perintah Arfan, walau sebenarnya mereka sudah tahu yang sebenarnya.


"Maaf, Dok, bayi sudah meninggal dunia."


"Tidak! Ini tidak mungkin! Anak Papa pasti masih hidup, ayo bangun, Nak. Bangun Sayang Papa." Arfan masih berusaha mengelus tubuh mungil itu, dan berulang kali mengecek nadinya.

__ADS_1


"Tidaaakkk! Hiks..." Arfan bersimpuh dilantai, dengan kepala tertunduk, air matanya jatuh berderai.


Dr Yoga yang sedari tadi menemani, saat mendengar teriakkan dalam ruangan bayi, maka ia segera masuk kedalam dengan perasaan yang tak enak.


"Arfan! Apa yang terjadi?" Dokter Yoga menatap bayi yang ada didalam boks itu. Dia ikut memeriksa kondisi sang bayi, yaitu cucunya sendiri.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un." Dokter jantung itu berseru Istirja. Menandakan bahwa cucunya memang telah berpulang ke Rahmatullah.


Sementara Arfan masih tergugu menahan sesak di dadanya. Dia merasa begitu bersalah atas meninggalnya buah cinta mereka.


"Arfan, bangunlah! Kamu jangan lemah begini, Nak. Allah telah menempatkan putramu di surgaNya."


Dr Yoga, membantu putranya untuk bangun. Dan memeluknya untuk memberikan kekuatan.


"Ini semua salah aku, Dad, aku yang menyebabkan istri dan anakku menderita seperti ini," ucap Pria itu penuh penyesalan, di dalam dekapan sang Daddy.


"Arfan, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semua ini sudah kehendak Allah. Allah lebih sayang dengan putramu. Mungkin belum rezeki kita diberikan amanah untuk merawatnya dalam waktu yang lama. Kamu harus kuat dan sabar, ingatlah! Rindi butuh dukunganmu. Jika kamu lemah, maka siapa yang akan menguatkan istrimu."


Arfan sedikit lebih tenang saat mendengar nasehat dari sang Daddy. dia berusaha untuk tegar, apa yang dikatakan Daddy memang benar, ia tidak boleh lemah, harus kuat, agar bisa menyemangati sang istri.


Arfan mengangguk pada teman sejawatnya yang ikut menangis menyaksikan peristiwa duka itu. Dokter yang tadi menangani bayinya, ia segera melepaskan segala alat yang masih menempel di tubuh bayi mungil itu.


Setelah semua alat terlepas, Arfan meraih putranya dan membawa dalam dekapannya. Arfan mengecup seluruh wajah malaikat kecil yang bersih tak berdosa itu.


"Selamat jalan, Nak. Semoga kamu menjadi penghuni surga. Tunggu Papa dan Mama disana ya," lirih Pria itu kembali menjatuhkan air matanya.


Arfan masih mendekap bayi itu dalam buaiannya. Rasanya sulit sekali untuk ikhlas, harapannya yang ingin bermain bersama malaikat kecil itu, kini menguap tak tersisa. Arfan tidak tahu bagaimana nanti ia menghadapi sang istri saat menanyakan keadaan anaknya.


Bersambung....

__ADS_1


NB. Maafkan author ya, jika masih membuat raeder nangis Bombay 🥺 kisah ini memang kisah sedih 😌🙏 Eh, tapi jangan lupa kasih dikit dukungan dong biar author semangat Update 🙏🤗


Happy reading 🥰


__ADS_2