
"Malam ini kita tidur disini saja ya," ujar Arfan masih membelai rambut Rindi dan mengecup puncak kepalanya.
"Baiklah, tapi nanti malam kita jalan-jalan ya, Mas. Aku pengen cari makanan yang enak di pedagang pinggiran jalan," seru Rindi yang sedikit membuat Arfan heran.
"Pedagang pinggiran? Emang kamu mau makanan apa Dek?"
"Makan bakso, Mas."
"Kenapa harus di pinggir jalan?"
"Tapi aku maunya itu. Sepertinya bakso mas-mas yang mangkal di depan kantor walikota enak deh."
Arfan tidak ingin membantah dia hanya ingin membuat istrinya bahagia, meskipun agak sedikit keberatan tetapi demi keinginan calon buah hatinya, maka apapun akan dia lakukan.
"Baiklah, sayang. Ayo kita mandi dulu, sebentar lagi sholat magrib."
Rindi segera bangkit, mereka mandi berdua, meskipun tak ada adegan yang mantap-mantap. Arfan hanya membantu sang istri untuk menyabuni punggungnya, tak bisa di tampik bahwa Pria itu memang menginginkan hal itu, tetapi dia berusaha untuk menahan, demi menjaga keselamatan buah hatinya.
Selesai mandi, pasangan itu segera melaksanakan ibadah wajib tiga rakaat. Setelahnya mereka segera keluar untuk memenuhi keinginan Rindi.
"Dimana Dek?" tanya Arfan sembari matanya memperhatikan sekitaran depan gedung walikota Pekanbaru.
"Biasanya didepan sana, Mas. Kok nggak ada sih?" Rindi ikut bertanya-tanya.
"Kamu yakin biasanya disini?" tanya Arfan meyakinkan.
"Iya, Mas. Aku sering lihat saat pulang kerja."
"Yasudah, coba aku tanyain sama pedagang yang lainnya ya." Arfan menepikan mobilnya berhenti di pinggir jalan, dia segera turun menghampiri salah satu pedagang yang ada disana.
"Permisi, Buk. Saya mau tanya, biasanya disini ada jual bakso, kok sekarang tidak ada y" tanya Arfan mencari tahu.
"Oh, hari ini memang tidak jualan Mas."
"Oh, begitu.Yah sayang, istri saya lagi ngidam pengen bakso Simasnya."
"Yah kasihannya. Yang lain nggak mau ya Mas?"
"Nggak mau, Buk, dia pengen bakso yang itu juga. Yaudah, terimakasih ya, Buk."
"Ya, sama-sama."
__ADS_1
Arfan kembali masuk kedalam mobil, dengan wajah sedikit murung, dia takut istrinya akan kecewa.
"Gimana, Mas?"
"Nggak jualan hari ini, Dek, terus gimana dong?"
"Oh, gitu ya. Yaudah, besok saja kita balik lagi ya, Mas."
"Kamu serius nggak pa-pa?" tanya Arfan memastikan takut istrinya sedih
"Iya, nggak pa-pa Mas. Sekarang kita cari makan yang lain saja yuk."
"Yaudah, Adek mau apa?"
"Kita cari martabak mesir."
"Okey, Sayang, maaf ya, aku belum bisa memenuhi keinginan kamu, tapi aku janji besok pulang kerja akan langsung mampir kesini untuk membelinya buat kamu," ujar Arfan merasa bersalah, padahal Rindi tidak terlalu mempermasalahkan.
"Tidak, pa-pa Mas. Kenapa kamu merasa bersalah seperti itu? Masih ada hari besok. Benarkan Nak? Papa jangan sedih, Adek tidak apa-apa kok." Rindi menirukan suara anak kecil sehingga membuat Arfan terkekeh gemas.
Arfan merundukan kepalanya tepat di depan perut datar Rindi, perlahan tangannya mengusap dan mengecupnya. "Terimakasih ya, anak Papa sangat pengertian sekali, sama seperti Mamamu." Arfan menegakkan tubuhnya lalu mengecup bibir sang istri.
"Baiklah, kita cari martabak mesir sekarang." Kini kendaraan roda empat itu melaju di sebuah pusat kuliner yang ada di kota bertuah itu.
Rindi begitu bahagia karena mendapatkan perhatian khusus dari suaminya, Arfan benar-benar memanjakan istrinya, Pria itu menunjukkan keseriusan untuk membayar segala penderitaan Rindi saat hamil anak pertama mereka.
Dimana saat itu Rindi menjalani hari-harinya tanpa kehadiran seorang suami, maka dari itu Arfan menebus semuanya, sehingga membuat Rindi begitu terharu dan bahagia.
"Dek, nanti kita telpon Mama ya?"
"Oh, iya. Kita kok jadi lupa ya, Mas? Padahal Papa dan Mama sudah pesan agar kita segera memberikan kabar bahagia untuk mereka."
"Hehe... Iya, mungkin karena kita juga sedang bahagianya jadi lupa."
Selesai makan, Arfan dan Rindi duduk santai di Sofa yang ada di kamar hotel itu. Arfan menghubungi orangtuanya.
"Assalamualaikum, Ma."
"Wa'alaikumsalam... Apakah kamu sudah sampai Nak?"
"Alhamdulillah sudah Ma, sekarang aku lagi bersama Rindi. Daddy dimana,Ma?"
__ADS_1
"Daddy ada disini sama Mama. Ada apa? Kok sepertinya kamu sedang senang?"
"Seneng banget, Ma, ayo tebak apa?"
"Apa? Ayo dong berbagi cerita sama Mama. Penasaran nih, benar kan Daddy?"
Mama Zahra meminta pembenaran pada suaminya, karena sang anak memberinya teka teki yang membuatnya penasaran.
"Ma, Rindi Hamil."
"Alhamdulillah... Mama dan Daddy seneng banget, Nak. Kamu harus jaga kandungan istrimu dengan baik. Mama dan Daddy selalu mendoakan semoga kalian bahagia selamanya."
"Aamiin... Terimakasih Do'anya, Ma, Dad. Insyaallah aku akan selalu menjaga istri dan anakku."
"Mama dan Daddy kapan kesini?" tanya Rindi ikut menimpali percakapan suami dan mertuanya.
"Tenanglah, Daddy akan cari waktu yang tepat. Kami pasti akan datang, yang penting kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik."
Daddy menjawab pertanyaan Rindi. Sehingga mereka sangat bahagia. Setelah selesai ngobrol dengan orangtua, Arfan mengakhiri dengan salam.
Rindi masih menyandarkan kepalanya didada Arfan, suaminya itu dengan senang hati membelai lembut rambutnya. Sesekali kecupan hangat mendarat di dahi dan bibir Rindi.
"Ayo kita tidur, Dek. Ibu hamil nggak boleh begadang," ujar Arfan tanpa aba-aba membopong tubuh Rindi untuk membawanya keatas ranjang.
Rindi hanya terkekeh gemas dengan perlakuan suaminya itu. Arfan menjatuhkan tubuh Rindi dengan sangat hati-hati, lalu menarik selimut tebal itu untuk memberi kehangatan diapun juga masuk dalam selimut yang sama sehingga mereka tidur dalam kehangatan dan rasa nyaman.
Pagi harinya Arfan sudah terbangun lebih dulu dari Rindi. Seperti biasanya, dia akan melaksanakan ibadah wajib dua rakaat. Setelah itu Arfan menghampiri sang istri yang masih terlelap dengan damai.
Sebenarnya Arfan kasihan untuk membangunkan, tetapi ini kewajiban. Sesayang apapun dia dengan istri, untuk ibadah maka dia harus wajib memerintah dan menuntun agar wanitanya tidak menjadi khufur akan nikmat Tuhan.
"Sayang, ayo bangun, sholat subuh dulu, Dek." Arfan mengecup seluruh wajah cantik istrinya untuk membangunkan. Rindi yang merasa terusik tidurnya dia bergumam.
"Hmm... Jam berapa ini Mas?" tanyanya sembari mengerjap dengan mata yang masih mengantuk.
"Sudah hampir setengah enam, Sayang. Ayo sholat dulu, habis itu kita bersiap untuk pulang. Soalnya pagi ini jadwal aku penuh di RSUD," jelas Arfan yang membuat Rindi segera paham.
Rindi segera bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu, dia melaksanakan sholat subuh, selesai sholat mereka segera bersiap dan check out.
Diperjalanan pulang, pasangan halal itu menyempatkan diri untuk mampir di warung sarapan, takutnya tidak sempat karena Arfan dikejar waktu. Karena dia sudah libur satu hari maka jadwal pasiennya yang semalam akan jatuh hari ini maka akan double.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰