
Pelukan Arfan semakin kuat sehingga Rindi tak bisa bergerak. Dia berusaha untuk mendorong tubuh Arfan agar sedikit merenggang.
"Kamu kenapa Dek? Kenapa kamu berubah juga, apakah kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Arfan menatap Rindi dengan sendu, tiba-tiba Pria itu menjatuhkan air matanya.
Rindi semakin heran melihat sikap suaminya yang seperti itu. "Mas, ada apa? Kenapa kamu seperti ini? Tentu saja aku sangat mencintai kamu. Ayo kita duduk dulu." Rindi membimbing suaminya untuk duduk.
Lama mereka saling pandang, Rindi menggengam tangan Arfan dan mengecupnya. Lalu meletakkan di pipinya. "Aku sangat mencintai kamu Mas..."
Arfan kembali membawa Rindi kedalam pelukannya. Berulang kali Pria itu menghujani wajah cantik istrinya dengan kecupan, sembari mengucapkan terimakasih.
Rindi masih mengusap punggung suaminya untuk memberikan kenyamanan, Pria itu tampak begitu manja dan rapuh, Rindi ingin sekali menanyakan masalahnya, tetapi dia masih menahan membiarkan suaminya untuk lebih tenang.
Setelah merasa cukup lebih tenang, Rindi melerai pelukannya dan menatap lekat wajah Dokter tampan itu. Perlahan tangan Rindi mengusap rahang tegas itu.
"Ada apa Mas?" tanya Rindi dengan iba.
Arfan menggengam erat tangan Rindi lalu mengecupnya. "Dek, apakah kamu mempunyai Pria masa lalu?" tanya Arfan yang kembali membuat Rindi tidak mengerti
"Maksud kamu, Mas?"
"Jawab saja Dek, apakah dulu kamu mempunyai kekasih sebelum menikah denganku?" Ternyata apa yang terjadi pada Elin membuat Pria itu merasa ketakutan.
"Nggak, Mas, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Pria manapun. Jujur yang dekat banyak, dan juga pernah ada yang mengungkapkan perasaan, tetapi saat itu aku belum memikirkan untuk menjalin hubungan, karena aku masih fokus dengan cita-citaku."
"Kamu itu adalah cinta pertamaku, Mas. Jujur aku sudah jatuh cinta saat pandangan pertama. Dan kamu harus tahu Mas, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku sangat mencintai kamu. Aku akan tetap menemanimu hingga kita menua bersama, meskipun takdirku sebagai istri kedua, insyaallah aku ikhlas Mas."
Ucapan Rindi membuat hati Arfan semakin terharu, Arfan kembali memeluk Rindi penuh kasih sayang dan mengecup puncak kepalanya.
"Tapi takdir itu telah berubah Dek, sekarang hingga selamanya, hanya kamulah wanita satu-satunya dalam hatiku. Aku tidak akan pernah membagi cinta lagi. Cinta dan kasih sayangku hanya untukmu."
Rindi terkesiap mendengar ucapan Arfan, dia masih belum bisa menerjemahkan apa maksud yang tersirat dalam kata-kata suaminya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Mas?"
"Dek, aku telah menceraikan Elin."
"Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan Mas? Kenapa kamu bisa melakukan hal itu?" Rindi benar-benar syok mendengar penjelasan Arfan.
"Mungkin ini sudah takdir Dek, tetaplah selalu bersamaku. Jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintai kamu..." lirih Arfan. Hati Pria itu masih terasa perih bila mengingat perpisahannya dengan Elin. Bahkan dengan kedua tangannya menyerahkan wanita itu pada lelaki masa lalunya.
Arfan mulai menceritakan semuanya pada Rindi apa yang telah terjadi. Rindi tidak tahu harus berkata apa. Entah ini suatu kebahagiaan baginya kerena sekarang dia telah memiliki hati Arfan seutuhnya. Namun, disisi lain dia juga sedih melihat suaminya yang tampak begitu terluka. Ah, takdir benar-benar tak ada yang tahu.
"Sabar ya Mas. Mungkin ini semua sudah takdir dari Allah. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Mas. Dan berjanjilah bahwa kamu tidak akan pernah menduakan aku!" Rindi memegang tangan Arfan, Pria itu membalas genggaman tangan istrinya.
"Aku berjanji Dek, tapi kamu selalu temani kemanapun aku pergi ya. Aku hanya takut, takut tidak bisa mengendalikan diri. Aku ingin rumah tangga kita bahagia selamanya."
"Ya, aku akan ikut kemanapun kamu bertugas. Bagiku keutuhan rumah tangga kita itu yang utama. Aku juga harus memahami kekurangan dirimu Mas, maka dari itu aku tidak akan memberi celah untuk orang ketiga hadir dalam rumah tangga kita. Aku akan belajar dari pengalaman yang pernah kita lalui.
"Terimakasih ya, Sayang." Arfan mengecup bibir Rindi penuh perasaan.
Rindi tiba-tiba mengingat pesan Dokter untuk tidak berhubungan suami istri sementara waktu, karena kehamilan pertamanya mempunyai riwayat yang mengakibatkan sang bayi meninggal dunia. Faktor-faktornya salah satu adalah kandungan cukup lemah, karena Rindi melahirkan diusia kandungan delapan bulan.
"Mas, maafkan aku tidak bisa untuk sementara waktu," ujar Rindi menahan serangan Arfan pada tubuhnya.
"Kenapa Sayang? Kamu lagi haid?" tanya Arfan mencoba untuk mengerti.
"Bukan Mas..." Rindi menggelengkan kepalanya
"Terus kenapa Dek?" tanya Arfan semakin curiga. Tetapi Rindi membalas dengan senyuman.
"Sebentar ya, Mas. Aku punya sesuatu buat kamu." Rindi beranjak mengambil tasnya yang ada di atas nakas, lalu mengeluarkan sebuah surat dari Dokter kandungan.
"Ini buat kamu Mas." Rindi menyerahkan pada Arfan.
__ADS_1
"Apa ini Dek?"
"Buka saja Mas."
Arfan segera membuka surat itu dan membaca secara detail, disurat itu menyatakan bahwa Ny. Rindiani positif hamil. Seketika Arfan mengucap syukur, tersenyum dan tak kuasa menahan haru sehingga Pria itu mengeluarkan air mata.
Arfan segera bangun dari duduknya dan membopong tubuh Rindi, sembari memberi kecupan hangat di seluruh wajahnya.
Rindi begitu terkejut saat mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari suaminya. Wanita itu juga tak kuasa menahan tawa bahagia mereka.
"Udah Mas, turunkan aku..." Kedua tangan Rindi bergelayut manja di leher suaminya.
"Aku bahagia sekali, Dek, aku akan mencurahkan segala kasih sayangku hanya untukmu dan juga anak kita." Arfan menidurkan Rindi dengan perlahan.Tangan Arfan mengusap perut datar istrinya itu. "Terimakasih ya,Nak, kamu sudah mau hadir di kehidupan kami, kamu adalah pelengkap kebahagiaan Papa dan Mama."
Arfan membawa calon anaknya bercakap-cakap, sesekali dia mengecup perut datar Rindi, kesedihan yang dia rasakan sesaat hilang seketika.
Ternyata rencana baik Tuhan tidak ada yang tahu. Arfan yang sudah menikah dengan Elin selama enam tahun belum mempunyai anak. Tapi sekarang kehadiran Rindi dalam hidupnya dapat melengkapi kebahagiaannya.
Arfan tak henti-hentinya mengucap syukur pada Allah, saat ini Arfan hanya akan fokus pada istri dan calon anaknya. Dia akan berusaha melepaskan Elin dengan Pria yang dicintainya, semoga wanita itu juga mendapatkan kebahagiaannya.
Rindi memindahkan kepalanya diatas pangkuan suaminya, tentu saja dibalas dengan senang hati oleh Arfan. Pria itu membelai rambut Rindi dengan sayang.
"Apakah Adek pengen sesuatu?" tanya Arfan penuh perhatian.
"Untuk sekarang lagi nggak pengen apa-apa Mas, cuma pengen di sayang selalu sama kamu," ujar Rindi yang membuat Arfan gemas.
"Kamu jangan khawatir Dek, kasih sayangku akan selalu tercurah padamu. Apapun yang kamu inginkan akan aku penuhi. Aku tidak ingin melewati momen berharga ini. Aku akan membayar semua kesedihanmu dulu saat hamil anak pertama kita."
Rindi tersenyum bahagia. "Terimakasih ya Mas." Wanita itu mengeratkan pelukannya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰