
Fikri tak menghiraukan jeritan wanita itu. Sekuat tenaga Nike mencoba untuk mendorong tubuh Fikri dari atas tubuhnya. Namun Pria itu semakin jadi memberi serangan pada tubuh sensitif Nike.
"Aaawwh!!" Fikri menjerit sangat kuat karena dadanya terasa sangat ngilu dan panas. Nike menggigitnya dengan kuat.
Akhirnya tubuh Pria itu berhasil ia singkirkan. Fikri masih mengeram kesakitan. Nike tak mempedulikan. Perempuan itu memikirkan bagaimana caranya menyadarkan orang mabuk.
Nike menuju kamar mandi untuk mengambil air satu dayung. Lalu mengguyurkan pada tubuh Fikri.
"Biyuuurrr!"
"Hah! Hah!" Fikri terduduk sembari mengusap wajahnya dengan nafas memburu. Separuh kesadarannya telah kembali. Walau kepalanya masih sangat berdenyut, tetapi dia sudah mulai bisa berpikir secara jernih.
Fikri menatap sekeliling ruangan itu. Netranya menemui seorang gadis cantik yang rasanya sudah tak asing lagi wajahnya. Wanita itu menyorotnya dengan tajam.
"Do-dokter Nike!" seru Pria itu menatap tak percaya.
"Iya, Aku! Apakah kamu sudah mengenaliku? Jangan sampai kamu salah memanggil namaku! Dan awas kalau kamu masih berani bertindak asusila padaku lagi!" tekan gadis itu dengan muka garang.
"Hei, Nike, tunggu dulu!" Fikri berdiri dan segera meraih tangan wanita itu yang hendak keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Seketika Nike terpaku dan merasa was-was, takut jika lelaki itu kembali ingin memperkosa dirinya.
"Apalagi, Dokter?" tanya Nike masih sedikit kesal. Sebenarnya dia kasihan melihat lelaki itu, tetapi karena kelakuannya, membuat gadis dua puluh enam tahun itu sedikit Gedeg. Untung saja dirinya tak habis akal untuk melakukan perlawanan. Jika tidak, maka barang original yang masih bersegel akan dibuka paksa oleh dokter frustasi itu.
"Aku ini dimana? Kenapa ada kamu disini?" tanya Fikri ingin tahu.
"Kamu itu ada di apartemen aku."
"Apartemen kamu? Kok bisa?"
"Ya bisalah! Kan aku yang bawa kamu kesini."
"Kenapa kamu membawaku kesini?"
"Ish, kenapa nada bicara kamu seperti itu? Kamu tidak ikhlas membantu aku? Yasudah, aku pergi sekarang, terimakasih atas bantuanmu." Fikri segera beranjak membuka pintu kamar itu.
"Eh, eh... Mau kemana kamu?" Nike meraih tangannya. Takut bila nanti Fikri akan bertingkah aneh-aneh lagi diluaran sana.
"Aku ingin pulang sekarang. Sekali lagi aku berterima kasih atas bantuanmu. Maaf jika aku sudah merepotkan kamu," ucap Fikri tulus.
__ADS_1
"Ayo istirahatlah. Ini sudah malam, lebih baik besok saja kamu pulangnya," ujar Nike memberi solusi dengan nada yang mulai melunak. Gadis itu berusaha melupakan insiden yang memang tak disadari oleh Pria itu.
"Tapi, aku melihat kamu sangat kesal denganku. Apakah aku melakukan kesalahan padamu saat mabuk tadi?" tanya Fikri yang sudah feeling, karena dia merasa antara ada dan tiada, tangannya menjamah sesuatu yang berbeda.
"Tidak ada. Ayo tidurlah!" Nike sengaja berbohong, takut kecanggungan diantara mereka terjadi. Nike juga tidak ingin Fikri merasa bersalah karena mereka bertugas di RS yang sama, tentu saja akan sering bertemu.
"Kamu serius?" tanya Fikri meyakinkan.
"Iya... Sudah istirahatlah. Apakah kamu lapar?" tanya gadis itu mengalihkan pembicaraan.
"Ya, aku sangat lapar. Tapi tak apa. Aku bawa tidur saja," ujar Pria itu tak ingin merepotkan.
"Tunggulah sebentar. Aku akan memasak sesuatu buat kamu. Lebih baik kamu mandi agar tubuhmu terasa lebih segar," ujar Nike memberi solusi.
"Ah, baiklah. Aku akan mandi agar otakku fresh."
Iyalah harus fresh, Dok. Jangan sampai kamu macam-macam lagi padaku.
Batin Nike segera beranjak menuju dapur untuk memasak sesuatu untuk Dokter frustasi itu.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰