Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Keputusan Elin


__ADS_3

Setelah selesai ijab qobul, acara berdo'a bersama dilangsungkan. Sesuai kesepakatan, bahwa tidak ada Resepsi pernikahan. Karena mereka menikah dalam keadaan terpaksa. Maka kedua belah pihak keluarga, menunggu persetujuan dari kedua pasangan itu.


Jika mereka nanti sudah mengatakan siap, maka orangtua akan mengaminkan saja. Setelah selesai acara mendo'a dan makan bersama. Kini keluarga dari Yanju sudah pulang . Sementara itu Yanju masih tetap tinggal dirumah istrinya.


Malam ini Aisyah merasa was-was, karena dia harus tidur satu kamar dengan suami yang tak dicintainya.


"Tidur, Dek. Jangan melamun saja," ujar Yanju yang membuyarkan lamunan Aisyah.


Wanita itu segera bergeser sembari meraba-raba mencari sesuatu, ternyata dia mencari bantal guling dan meletakkan di tengah-tengah mereka untuk memberi sekat.


"Kamu nggak boleh melewati pembatas ini!" ujar Aisyah sedikit galak memberi peringatan.


Yanju hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri. Pria itu tersenyum mentertawakan nasibnya menikah tanpa cinta dan tak diinginkan sama sekali oleh sang istri.


Aku harus sabar menghadapinya. Anggap saja ini adalah ujian yang Allah berikan.


Pria itu membatin dan segera merebah di atas ranjang yang telah diberi sekat oleh Aisyah. Tetapi tingkat kejahilannya datang tiba-tiba.


Yanju mengalihkan bantal guling itu sehingga sekat itu sudah sirna. Pria itu tersenyum. Sementara Aisyah sudah memejamkan mata. Tetapi mendengar Yanju sudah naik keatas tempat tidur. Dia kembali meraba mencari bantal guling itu.


Saat tangannya meraba-raba, tak sengaja dia menyentuh wajah tampan sang suami yang belum pernah dia lihat. Dengan perlahan tangannya mengusap wajah itu.


Hidungnya mancung. Bibirnya tipis, alisnya tebal dan rapi. Apakah dia tampan? Ah ya Allah, aku tidak bisa melihat wajahnya.


"Udah menerawang dan membayangkan bagaimana bentuk wajahku?" tanya Yanju yang membuat Aisyah segera menarik tangannya. Namun, seketika Yanju menahan tangan halus itu.


Perlahan ia mengecup punggung tangan Aisyah, jangan ditanya bagaimana perasaan wanita itu. Jantungnya terasa ingin segera melompat.


"Ihh... apaan sih kamu! Nggak usah macam-macam ya. Lancang sekali! Beraninya kamu mencium tanganku!" Sentak Aisyah


Yanju semakin mendekati tubuh wanita itu dan menindihnya sehingga Aisyah tak bisa berkata-kata lagi. "Kenapa jika aku mencium dirimu? Kamu itu sudah halal aku sentuh." Yanju tak bisa mengendalikan hasratnya, sebagai lelaki normal tentu saja dia menginginkannya.

__ADS_1


Aisyah hanya mematung dibawah kungkungan sang suami. Perasaannya sungguh tak menentu. Tetapi dia masih belum rela karena ini baginya sangatlah terburu-buru, ia belum bisa berdamai dengan hatinya yang masih terluka atas apa yang telah terjadi pada dirinya.


Pria itu yang telah membuatnya celaka, dan kini dia pula yang akan menidurinya, rasanya dalam sesaat masa depannya hancur ditangannya.


Yanju mulai melu mat bibir Aisyah, namun wanita itu membalasnya dengan tangis sesenggukan. Bagi Aisyah ini tidak mudah. Bercinta dengan Pria yang tak dicintai dan juga tak dapat dilihat.


Menyadari bahwa sang istri tidak menginginkan, Yanju segera melepas pagutannya. Dia menatap wajah cantik yang telah basah dengan air mata.


Perlahan tangannya mengusap wajah putih bersih itu dengan ibu jarinya. "Maafkan aku. Ayo sekarang tidurlah." Yanju kembali meletakkan bantal guling itu ditengah-tengah mereka.


Aisyah menghapus air matanya, dan membungkus tubuhnya dengan kain tebal. Hatinya masih takut, dan tidak tenang. Takut suatu waktu Yanju akan kembali melakukannya.


***


Pagi ini mereka sedang sarapan bersama, Elin datang dengan mengendarai mobilnya sendiri. Wanita itu mengukir senyum tipis, saat melihat Rindi dan Arfan duduk secara bergandengan.


Rindi merasa tidak enak, dia segera beranjak dan berpura mencuci tangan di wastafel. Setelahnya ia segera menghampiri Elin.


"Hmm, baiklah. Kebetulan aku memang belum sarapan," jawab Elin masih tersenyum.


"Ayo duduklah Nak." Mama Zahra mempersilahkan Elin untuk duduk.


"Kok tumben bawa mobil sendiri, Dek?" tanya Arfan menarik kursi disisi kirinya.


"Ya, pengen bawa mobil lagi, Mas." Elin menjawab pertanyaan Arfan datar.


Setelah memberikan piring untuk Elin. Rindi memilih duduk lebih menjarak, yaitu di sisi Sania.


Mereka sarapan dalam hening, tak ada yang membuka pembicaraan. Arfan tampak merasa serba salah dalam bersikap. Pria itu mencoba untuk tetap tenang.


"Mas, aku datang kesini untuk membicarakan tentang kita," ujar Elin yang membuat semua mata menatap kepadanya.

__ADS_1


Rindi juga tak kalah kaget dengan ucapan Elin. Tetapi dia berusaha untuk tetap tenang, bukankah dirinya sudah pasrah apapun yang di inginkan elin akan dia turuti. Meskipun terasa sulit tapi, dia tidak ingin membuat Elin sedih.


"Ya, kita memang harus membicarakan hal ini. Agar semuanya jelas," balas Arfan dan di ikuti oleh anggukan oleh Elin.


Setelah selesai makan. Mereka segera menuju ruang tamu. Rindi hanya tertunduk. Dia merasa tak punya hak untuk bicara. Semua keputusan ada pada Elin.


"Dek, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Arfan membuka percakapan. Semua keluarga hanya diam.


Lama Elin terdiam, matanya menatap Rindi dan beralih pada Arfan. Dia mengamati suami dan madunya itu dengan seksama.


"Aku sudah mengambil keputusan..." Elin menjeda ucapannya, kembali membuat Arfan dan Rindi merasa tak sabar mendengarnya.


"Aku ingin Rindi pergi dari sini." Ucapan Elin membuat Arfan terjingkat dia menatap Elin dengan rasa tak percaya. Bukankah waktu itu dia dan Elin sudah pernah membahas tentang ini. Dan saat itu Elin menyetujui, jika Rindi menjadi madunya.


"Tapi, Dek..."


"Sudah, Mas. Bukankah semalam kita sudah pernah membahas tentang ini?" Rindi menahan Arfan agar tak protes apapun yang menjadi keputusan Elin.


"Tidak pa-pa, Mbak. Aku janji akan pergi dari kehidupan Mbak dan Mas Arfan. Dan mulai sekarang tolong talak aku, Mas!" Rindi berusaha untuk tetap tegar, dia sudah tak ingin menangis lagi.


Arfan hanya diam tanpa beraksi. Dia menatap Elin agar memikirkan kembali keputusannya. Elin menatap Rindi dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Rindi, aku memintamu pergi dari sini, bukan berarti aku meminta kamu pergi dari kehidupan Mas Arfan. Tetapi, aku meminta kamu pergi dari sini dan menjadi istri Mas Arfan di kota tempat dia bekerja. Aku ingin kamu bisa menjaga suami kita ini agar tak menikah lagi. Jujur aku sudah tak sanggup bila harus berbagi suami lagi dengan istrinya yang ketiga. Cukup hanya kita berdua saja."


Kata-kata Elin membuat orang yang ada di ruang tamu itu bermacam ekspresi. Ada sedih dan ada sedikit lucu. Rindi masih belum percaya dengan apa yang diucapkan oleh kakak madunya.


Mendadak Arfan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa terkena skakmat oleh sang istri. Karena memang itulah alasannya mengapa dia bisa mencari istri lagi, karena tak sanggup menahan kebutuhan biologisnya.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2