
Jam satu malam pasangan itu sudah sampai di kota bertuah. Arfan membawa Rindi menginap di sebuah hotel sehingga membuat Rindi heran.
"Kenapa kita nginap di hotel, Mas?" tanya Rindi masih penasaran kenapa Arfan tak langsung pulang ke kontrakannya.
"Malam ini kita tidur disini dulu ya, Sayang, aku masih punya waktu dua hari lagi, jadi besok pagi kita cari rumah aku ingin membelinya buat kamu," ujar Arfan, yang membuat Rindi tidak percaya
"Mas, kenapa secepat ini? bukankah pengeluaran kamu masih banyak?" tanya Rindi merasa tidak enak, karena dia tahu tanggungan suaminya itu banyak apalagi dia juga akan melanjutkan ujian kedokteran, tentu saja butuh biaya yang cukup besar.
"Dek, kamu tidak perlu khawatir, tabungan aku masih cukup untuk membiayai kebutuhan kita, kamu tidak perlu merasa aku terlalu berlebihan kepadamu, aku hanya ingin kedua istriku mempunyai hak yang sama. Aku ingin kamu juga mempunyai rumah atas nama kamu sendiri seperti apa yang telah aku berikan kepada Elin."
Arfan menjelaskan pada Rindi agar istrinya itu tidak merasa sungkan pada kakak madunya. Akhirnya Rindi hanya mengangguk menerima apa yang akan diberikan oleh suaminya.
Setibanya didalam kamar hotel, Rindi segera bersih-bersih, ingin segera istirahat ia begitu mengantuk, tadi di perjalanan ia tidak tidur karena menemani suaminya, takut jika Arfan terlena dan ketiduran saat mengemudi.
"Nggak makan dulu, Dek?" tanya Arfan, baru selesai mandi hanya menggunakan bathrob. Pria itu ikut merebah di samping Rindi.
"Nggak, Mas. Aku ngantuk banget," rengek Rindi begitu manja dan memutar tubuhnya menghadap pada Arfan, lalu memeluk Pria itu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Tidurlah Sayang."
Arfan membalas pelukan istrinya, dan berulang kali mengecup puncak kepalanya sembari mengelus punggung Rindi dengan lembut agar semakin nyaman berada dalam dekapannya.
Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah memasuki alam mimpi, hingga pagi menjelang dan kedua pasangan halal itu terbangun segera melaksanakan sholat subuh dua rakaat.
Jam delapan pagi, setelah rapi Arfan dan Rindi check out. Mereka segera menuju kompleks perumahan yang telah diberi petunjuk oleh teman Arfan yang ada di kompleks itu juga.
Arfan segera menemui temannya itu untuk melihat kondisi rumah yang akan ia beli untuk Rindi. Dari kondisi rumahnya cukup nyaman, lokasinya strategis dekat dengan pusat kota masjid juga tidak jauh dari gang rumah itu.
Arfan menanyakan bagaimana pendapat sang istri, ternyata Rindi sependapat dengannya. Dia setuju jika Arfan membeli rumah itu. Dan akhirnya mereka sepakat untuk membelinya.
Setelah selesai bernegosiasi dengan pemilik rumah, akhirnya Arfan membeli rumah itu dengan harga yang disepakati.
__ADS_1
Kini pasangan itu bekerja sama membersihkan rumah baru mereka, dan Arfan menyewa jasa tukang kebun untuk membersihkan perkarangan rumah itu. Butuh waktu seharian untuk bersih-bersih, akhirnya rumah itu sudah kinclong dan nyaman di tempati.
Karena rumah baru, belum ada perabotan dirumah itu. Malamnya mereka menyempatkan diri untuk membeli perabotan yang seperlunya saja terlebih dahulu. Sebenarnya Arfan tidak masalah untuk melengkapi segalanya perabotan, tetapi Rindi melarangnya.
"Dek, kita beli semuanya saja!" Ujar Pria itu masih bersikukuh saat mereka berada di toko furniture.
"Tidak, Mas. Yang perlu saja. Sofa besok-besok saja, lagian tadi kita sudah beli karpet beludru. Yasudah itu saja untuk diruang tamu," cegah Rindi.
"Yaudah, tapi kita beli meja makan ya, soalnya aku sudah terbiasa," ujar Pria itu masih berusaha bernegosiasi.
"Baiklah kalau begitu." Rindi mengikuti keinginan sang suami dia juga tidak bisa melarang karena sudah kebiasaan Arfan.
Setelah selesai membeli perabotan. pasangan itu menyempatkan diri belanja kebutuhan sehari-hari di minimarket. Merasa sudah cukup mereka segera makan malam diluar sebelum pulang.
***
Kini Arfan sudah mulai bertugas seperti biasanya di kedua RS. Sementara itu Rindi juga sudah mulai meneruskan ujian prakteknya bersama Dr Fikri.
Saat Arfan masuk ternyata ruangan itu kosong. Dia menjadi bingung kemana Dr Fikri dan Rindi.
"Ah, sus, Dr Fikri dimana ya?" tanya Arfan pada salah seorang perawat.
"Dr Fikri sedang diruang Labor, Dok," jawab perawat memberitahu.
Arfan segera menuju ruangan laboratorium untuk mengetahui keberadaan sang istri. Dengan perlahan Dokter syaraf anak itu melongokkan kepalanya untuk melihat keberadaan mereka. Arfan melihat istrinya sedang fokus dengan penelitian sebuah penyakit yang di dampingi oleh Dr Fikri.
Sudah ada tiga puluh menit Arfan menunggui sang istri, hingga akhirnya penelitian itu selesai Rindi segera keluar.
"Mas Arfan!" Rindi terkejut saat melihat suaminya sudah menunggu diluar.
"Eh, Dr Arfan. Sudah lama nungguin Rindi?" tanya Dr Fikri. Ya, Fikri sudah mengetahui bahwa Rindi adalah istri Arfan, jadi dia sudah tidak heran lagi.
__ADS_1
"Ah belum, baru Lima menit. Sudah selesai?" tanya Arfan kembali.
"Ya, sudah."
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu, Dok. Mari..." Rindi berpamitan dengan Dr seniornya itu.
Diperjalanan pulang, Arfan hanya diam, sedikit membuat Rindi merasa bertanya-tanya. Apakah suaminya ini sedang ada masalah?
"Mas, kita mampir di minimarket sebentar ya, aku mau belanja sayuran, di kulkas stok sudah pada habis," ujar Rindi membuka percakapan.
"Ah, ya. Tadi ujian praktek tentang apa, Dek?" tanya Arfan
"Oh, tadi itu aku harus menyelesaikan ujian praktek menganalisis sampel potongan organ, jaringan, maupun cairan tubuh seperti darah dan urine. Maaf ya, jika Mas Arfan lama nungguin aku," ujar Rindi yang sudah tahu bahwa suaminya sedikit jengkel atau ada faktor lain yang membuat moodnya berubah.
"Hmm, tidak apa-apa." Arfan menjawab sekenanya saja.
"Mas?"
"Ya?"
"Kamu marah sama aku?" tanya Rindi masih merasa tidak enak.
Arfan menatap wajah istrinya yang tampak sendu. Padahal tidak ada alasan dirinya untuk marah, tetapi entah kenapa dia merasa tidak nyaman melihat istrinya dekat dengan Dr Fikri.
Pria itu bingung dengan perasaannya sendiri. Dia mengusap kepala Rindi dengan lembut, dan mengukir senyum. Dia tidak ingin mengikuti ego dirinya, bukankah dia yang meminta Rindi meneruskan perjalanan karirnya. Jadi sangat bodoh rasa rasanya bila dia cemburu tak beralasan seperti ini.
"Aku tidak marah kok, Sayang, tidak ada alasan untuk marah padamu. Jangan sedih ya. Aku hanya lelah hari ini." Arfan mencoba untuk menormalkan perasaannya, dia tidak ingin Rindi tahu apa yang sedang dirasakannya. Arfan takut bila Rindi tahu dia pasti akan menghentikan ujiannya. Arfan tidak mau itu terjadi, dia ingin Rindi mencapai cita-citanya yang telah lama tertunda.
Bersambung...
Happy reading 🥰
__ADS_1