Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Pulang ke Medan


__ADS_3

Hari ini pasangan suami istri itu sedang berbahagia, karena mereka akan pulang ke kampung halaman Arfan, yaitu untuk mengadakan acara tujuh bulanan.


"Dek, ini udah semuanya barang-barang yang akan kita bawa?" tanya Arfan yang akan menenteng barang bawaan untuk memasukkan kedalam mobil.


Rindi hanya diam, larut dalam lamunan. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu, sehingga membuat tubuhnya terpaku, angannya melayang.


"Kenapa, Dek?" tanya Arfan menghampiri.


"Ah, tidak apa-apa, Mas. Kita pergi sekarang?" tanya Rindi sedikit kaku.


"Iya, Sayang, taksi sudah menunggu. Ayo kita pergi."


Rindi segera mengekor dibelakang, Arfan membukakan pintu untuk istrinya setelah memberikan barang bawaan pada driver taksi itu. Setelah memastikan Rindi duduk dengan nyaman, ia kembali memeriksa rumah agar aman saat ditinggalkan, dan mengunci garasi juga semua pintu.


"Jalan, Pak." perintah Arfan setelah memposisikan duduknya disamping sang istri. Wanita itu masih tampak diam tak banyak bicara.


Arfan sedikit heran melihat sikap istrinya yang mendadak jadi pendiam. Tangan Pria itu menggengam jari-jari halus wanita hamil yang berprofesi sebagai dokter Labor itu. Perlahan mengecup sangat lembut.


"Ada apa, Sayang? kenapa kamu diam begini? Ayo cerita, Dek."


"Mas?" Panggil Rindi menatap sendu.


"Ya, Sayang?"


"Apakah kamu tidak mempunyai perasaan lagi dengan Mbak Elin?" tanya Rindi yang membuat Arfan sedikit terjingkat.

__ADS_1


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Rindi juga bingung entah kenapa hatinya begitu cemas bila Arfan akan bertemu dengan Elin Kembali, Rindi takut jika suaminya tidak bisa move on. Secara Elin adalah cinta pertama bagi Pria itu.


"Jawab pertanyaan aku, Mas?"


"Dek, tujuan kita pulang untuk acara yang sudah kita sepakati bersama dengan keluarga. Jadi, aku tidak mau kamu mikir yang tidak-tidak. Elin sudah masalalu bagiku. Aku tidak berniat untuk menemui dirinya. Jadi, tolong jangan rusak momen ini!" Tegas Arfan sedikit tidak nyaman dengan sikap Rindi yang selalu saja cemburuan.


"Maaf ya, Mas. Kamu pasti kesal sama aku 'kan? Ya, aku memang wanita yang selalu membuat kamu kesal. Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak akan menanyakan apapun. Tapi, apakah aku salah bila sedikit saja takut, karena dari awal aku tahu bahwa Mbak Elin adalah cinta pertama kamu, Mas." Rindi memalingkan wajahnya menatap keluar, tubuhnya merapat ke pintu mobil.


Arfan hanya menghela nafas dalam, dirinya tidak tahu harus bagaimana menyikapi. Kenapa perasaan wanita begitu halusnya. Benar-benar sulit untuk dimengerti, pasti dirinya sudah salah bicara lagi.


Arfan hanya diam saja untuk memberi waktu pada sang istri agar dia tenang. Nyatanya tidak seperti itu, perasaan wanita hamil itu semakin kacau saat suaminya terlibat dalam sikap diam dan cuek.


Hingga dipesawat Rindi masih diam tak bicara apapun. Arfan ingin memulai percakapan, tetapi dia tidak tahu darimana. Mood wanita itu sedang buruk.


"Tidak, Mas, aku ngantuk ingin tidur." Rindi segera memposisikan dirinya miring kearah jendela. Arfan masih berusaha menekankan rasa sabar yang begitu besar.


***


Setibanya di kota Medan, mereka sudah ditunggu oleh supir yang di perintahkan oleh orangtuanya. Arfan membukakan pintu untuk Rindi.


Kini mobil sudah bergerak meninggalkan pekarangan Bandara, Rindi dan Arfan masih terlibat perang dingin. Setibanya dikediaman orangtuanya. Rindi segera turun begitu saja, lalu menghampiri mertuanya.


"Hai, Sayang..." Mama Zahra menyongsong menantunya.

__ADS_1


"Ma." Rindi menyalami tangan Mama mertuanya.


"Kok manyun? Kenapa, Nak? Kalian bertengkar?" tanya Mama memberondong. Seketika Rindi dan Arfan saling pandang.


"Ah, tidak,Ma!" Pasangan itu serentak mengucapkannya. Rindi mengulas senyum pada Arfan.


"Nggak mungkin kami bertengkar, Ma, anak Mama selalu membuat aku tersenyum dan bahagia," ujar Rindi tiba-tiba memeluk lengan Arfan.


"Ah syukurlah, ayo masuk." Mama Zahra mendahului mereka. Sementara Arfan masih menatap lekat pada sang istri. Tetapi Rindi memalingkan muka.


"Papa mana,Ma?" tanya Arfan


"Papa belum pulang, ada pasiennya yang kritis jadi harus membutuhkan penanganan intensif. Mungkin sebentar lagi pulang. Sana kamu bawa istrimu istirahat dikamar. Mama bantuin Bibi menyediakan makan siang. Nanti kalau sudah beres Mama panggil," ujar Mama.


Arfan dan Rindi segera memasuki kamarnya. Jika dulu Rindi menempati kamar tamu, tapi sekarang ia sudah menempati kamar sang suami.


Didalam kamar Rindi masih diam, tangannya masih sibuk menyusun pakaian mereka di dalam lemari. Arfan merebahkan diri, ia tidak ingin mengganggu ketenangan Rindi.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rindi ingin kembali keluar untuk membantu Mama mertua, sesaat ia menoleh pada suaminya yang juga ikut mendiamkan dirinya. Ada rasa sedih, tetapi Rindi menyadari bahwa dirinya sudah terlalu khawatir yang berlebihan. Bukankah dulu dirinya ikhlas berbagi suami, tetapi kenapa sekarang dia menjadi begitu takut? Dan bukankah sekarang Elin sudah menikah dengan Pria lain, lalu apa masalahnya.


Rindi mendekati Arfan yang sudah terlelap. Dengan pelan ia mengusap wajah tampan suaminya.


"Mas, maafkan aku. Maaf jika sikapku menjadi seperti anak-anak. Aku sangat mencintai kamu, Mas. Aku takut kehilangan kamu." Rindi mengecup pipi Arfan, lalu ikut merebah disampingnya. Tangannya melingkar memeluk dengan erat.


Arfan yang merasa tidurnya terusik, ia membuka mata. Seketika tatapan mereka bertemu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2