Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Makan malam


__ADS_3

Nike menyajikan dua piring nasgor yang dieksekusi tengah malam. Saat ingin mengetuk pintu kamar untuk memanggil, Pria itu sudah keluar.


Terlihat wajahnya sudah segar tak lagi sekacau tadi. Keduanya saling pandang dengan rasa canggung.


"Ayo kita makan dulu," ajak Nike berjalan mendahului Fikri.


Nike dan Fikri menduduki kursi mereka masing-masing saling berhadapan.


"Terimakasih," ucap Fikri menerima hidangan dari wanita yang selama ini ia kenal kekocakannya di RS. Tak pernah terpikirkan bila malam ini dirinya bisa tersesat di kediaman Dokter kandungan itu.


"Ya, sama-sama. Kalau tidak enak dimaklumi saja, karena aku tidak hobi masak, aku hobi megang tali pusar dan ari-ari. Hehe...," ucap wanita itu sembari nyengir.


"Ah, kamu bisa aja." Fikri ikut tertawa kecil mendengar ucapan gadis itu.


Setelah makan, Fikri pamit ingin pulang malam itu juga, karena dia merasa sungkan berada dikediaman gadis yang masih single.


"Nike, aku pamit pulang ya, terimakasih sudah banyak membantuku, maaf aku sudah menjadi lelaki yang merepotkan kamu," pamit Pria itu dan berterimakasih.


Nike hanya diam. Entah kenapa dia berat untuk membiarkan Fikri pergi. Ada rasa cemas bila nanti lelaki itu akan bertingkah yang aneh-aneh kembali.

__ADS_1


"Dok, kenapa tidak tidur disini saja untuk malam ini? Karena ini sudah malam, apakah tempat tidurnya tidak nyaman?" tanya Nike berubah menjadi seorang wanita yang ramah lingkungan.


"Bu-bukan itu masalahnya. Aku tidak enak bila nanti orang berprasangka buruk padamu karena membawa seorang lelaki dikediamanmu," sahut Fikri yang memang ingin menjaga nama baik Dokter lajang itu.


"Sudahlah, tidak perlu memikirkan orang-orang, lagipula aku ini tinggal di apartemen, jadi tidak seperti tinggal di kompleks perumahan yang rata-rata penduduknya akan memata-matai kehidupan tetangganya sendiri," balas Nike meyakinkan Fikri.


"Kamu beneran tidak apa-apa bila aku tidur disini?" tanya Fikri masih belum yakin.


"Ya, aku tidak masalah."


"Baiklah, terimakasih ya."


Fikri hanya mengangguk segera mengikuti langkah Nike. Perempuan itu menatap tajam saat sang Dokter ingin masuk kekamarnya.


"Mau ngapain? Kamar tamu disana," tanya Nike sembari menunjuk kamar yang tadi di tempati Fikri.


"Hehe... Aku kira kamu berbaik hati mengizinkan aku untuk tidur seranjang denganmu," jawab Pria itu nyengir kuda.


"Nggak usah aneh-aneh ya, Dok. Aku suntik induksi baru tahu rasa, biar mules!" tekan Nike menatap garang.

__ADS_1


"Hahaha... Sadis amad. Dikira emak-emak mau lahiran." Pria itu terkekeh mendengar ancaman yang diberikan oleh Dokter kandungan itu, ia Berasa mendapat hiburan.


"Biarin, lagian dikasih hati minta jantung."


"Mau dong hati kamu."


"Yee, tadi aja nangis-nangis, sekarang udah bisa ngegombal. Hah, dasar lelaki!" cibir Nike menyenjangkan bibirnya.


"Hehe... Kamu bisa aja. Eh, tapi serius. Malam ini kamu bisa membuat hatiku sedikit lebih tenang. Aku bisa terlepas sesaat dari segala masalahku yang rasanya sudah tak mampu untuk aku pendam sendiri," ucap Fikri yang membuat Nike menatap sendu.


"Alhamdulillah jika kehadiranku bisa sedikit menjadi obat untuk dirimu," balas Nike mengukir senyum lembut.


"Ya, terimakasih sekali lagi. Oke, aku tidur dulu. Night."


"Night kembali." Kedua insan itu saling mengukir senyum sebelum memasuki kamar masing-masing.


Setelah masuk kamar, Nike membersihkan diri sebelum merebahkan diri diatas ranjang. Rasanya malam ini sungguh malam yang sangat melelahkan. Karena ini hari libur, tetapi ia tetap bertugas demi membantu temannya melahirkan. Ditambah lagi menemui Fikri yang sedang frustasi.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2