
Sejak kebersamaan dimalam itu, kini hubungan Dr Fikri dan Dr Nike semakin dekat, dan Fikri juga sedang proses dalam perceraian.
Sepertinya kehadiran Nike dapat membuat Pria itu keluar dari keterpurukan. Fikri juga tak ambil pusing atas perceraian yang sedang berjalan prosesnya.
Siang ini Dokter Labor itu sengaja menunggu Nike, ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
"Hai, shht!" seru Fikri memberi kode pada gadis itu yang sedang menyusuri lorong RS.
"Aiih, kirain siapa yang manggil kayak begitu. Why?" tanya Nike menaikkan alisnya.
"Kamu bawa mobil?" tanya Fikri mensejajarkan langkahnya dengan Nike.
"Ya bawalah. Emang kenapa?"
"Aku nebeng ya," ucap Pria itu.
"Loh, emang mobil Dokter mana?" tanya Nike heran, tumben-tumbenan Fikri nebeng.
"Ah, mobil aku lagi ada masalah. Tadi aku sudah telpon orang bengkel untuk jemput," ucap Pria itu beralibi.
"Hmm, baiklah, tapi kamu tidak punya niat terselubung kan, Dok?" tanya gadis itu curiga.
"Ya ampun, kamu kira aku ini ada tampang laki-laki nakal?"
__ADS_1
"Ya adalah, karena kamu pernah..."
"Pernah ngapain?" tanya Fikri penasaran karena ucapan Nike terhenti.
"Ah, maksud aku kamu pernah nakal, karena mabuk," elak Nike.
"Yah, namanya juga khilaf, untung aja ada kamu yang ngebantuin aku, kalau tidak, mungkin aku tidak tahu apakah hidupku akan baik-baik saja seperti saat ini," tutur Fikri merasa menyesal karena telah melarikan luka hatinya pada minuman, ia berharap minuman dapat menghilangkan sakit hati dan kekecewaan walau sesaat.
"Sini aku yang nyetir," ucap Fikri meminta kunci kendaraan roda empat itu pada Nike.
"Eh, nggak, biar aku saja," tolak Nike dengan cepat. Wanita itu masih merasa heran kenapa dokter Fikri tiba-tiba ingin pulang bersamanya.
"Yaelah, kamu meragukan aku?"
"Iyalah aku meragukan. Soalnya tidak biasanya kamu nebeng Ama aku," jawab Nike menatap curiga.
Diperjalanan, mereka hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Dek, mampir ke cafe ya, kita makan siang dulu, mau nggak?" tawar Fikri dengan panggilan yang berbeda dan tentu saja membuat Nike ingin muntah mendengarnya.
"Apa, Adek?" tanya Nike mengulang kembali untuk memastikan.
"Kenapa? Mual ya dengernya. Hahaha... Jahat bener kamu, Ke," ucap Pria itu yang sudah bisa menebak sendiri.
__ADS_1
"Iyalah, kok rasanya aku pengen muntah dengernya. Hah, dasar Mardud, belum juga ketok palu udah main ngegombal anak gadis orang," ucap Nike menatap malas.
"Eh, nggak boleh marah dong Pertu, kalau kayak gini pantas aja kamu nggak laku-laku. Gimana mau laku, lah digombal aja udah marah, hah, dasar Pertu, kalau begini tidak ada Pria yang mau deketin kamu selain aku. Cek Cek," ucap Fikri sembari menaik turunkan alisnya.
"Wih, wih, ringan banget tuh bibir kalau ngomong. Enak aja bilangin aku perawan tua. Dengar ya, sebentar lagi Tuhan pasti akan kirimkan aku jodoh yang sempurna."
"Ya akulah jodohmu itu yang sempurna!" sahut Fikri penuh percaya diri.
"Haish, mulai deh, udah ah, ayo turun. Katanya pengen makan," akhirnya gadis itu menyudahi perdebatan yang tak ada ujungnya.
"Ah, Nike," ucap Fikri meraih tangan gadis itu saat hendak turun.
"Ada apa, Dok?"
"Serius, aku ingin menikah denganmu," ucap Pria itu yang membuat wajah Nike merah merona, dan jantungnya berdegup tak menentu. Ini benar-benar diluar dugaannya.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Fikri kembali karena tak mendapat respon dari wanita itu.
"Maaf, Dok, lebih baik selesaikan urusan kamu di pengadilan dulu. Aku tidak mau dikatakan penyebab hancurnya rumah tangga kalian," jelas Nike.
"Setelah aku resmi bercerai, apakah kamu mau menjadi Istriku?"
"Kita lihat saja nanti," jawab gadis itu yang membuat otak Fikri berdenyut mendengar jawaban yang masih abu-abu. Tapi tak apa, ia akan berusaha untuk meyakinkan hati wanita itu.
__ADS_1
Bersambung.....
Happy reading 😍