Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Bertemu kembali


__ADS_3

Arfan segera meraih wajah Rindi, dan menghujani dengan kecupan. Pria itu mendekap dengan erat.


"Mas, maafkan aku," lirih Rindi menahan tangis.


"Sshh... Jangan menangis, Sayang, kamu tidak salah. Aku sangat memahami kecemasan kamu. Tetapi, aku mohon agar kamu percaya denganku. Sekarang hanya kamu dan calon anak kita prioritasku. Aku tidak berniat ingin menduakan dirimu. Tolong percaya padaku."


Rindi mengangguk. Ia menyadari bahwa telah dihantui oleh perasaan takut yang begitu besar, sehingga membuat suaminya merasa tidak nyaman.


"Sudah, jangan berpikir yang tidak-tidak lagi ya, kita kesini hanya menyampaikan niat untuk mengadakan acara tujuh bulanan dan berdo'a bersama agar bayi kita sehat selalu. Kamu jangan banyak pikiran, aku tidak mau kejadian dulu terulang kembali. Kamu harus sehat."


"Baiklah, Mas. Aku janji tidak akan mikir yang aneh-aneh lagi. Aku percaya padamu," ujar Rindi Kembali masuk kedalam pelukan suaminya.


"Good my dear. Ayo sekarang istirahat. Aku akan selalu ada disampingmu." Arfan mendekap tubuh Rindi, dan mengusap perut buncitnya. Akhirnya wanita itu tidur dengan nyaman berbantalkan lengan suaminya.


Malam setelah makan bersama, Arfan dan Rindi ingin jalan-jalan ke mall yang ada di kota Medan. Sekalian Rindi ingin membeli sesuatu untuk acara tujuh bulanan yang akan diadakan besok lusa.


Dengan menggunakan mobil Daddy Yoga, Arfan dan Rindi pamit pada kedua orangtuanya. Setibanya di mall, Arfan menggandeng tangan Rindi begitu mesra.


"Kamu mau beli apa, Dek?" tanya Arfan.


"Mama minta kita beli kain tujuh helai, Mas, soalnya Mama lupa kemaren belinya," jelas Rindi.


"Yaudah, kita ke toko perlengkapan bayi saja, disana pasti ada."


"Hmm, baiklah."


Setelah masuk ke konter perlengkapan bayi, Rindi sedang sibuk memilih beberapa macam kain panjang dengan corak yang berbeda.

__ADS_1


"Rindi!" Panggil seseorang yang membuat wanita itu mengehentikan aktivitasnya. Rindi mencari asal suara itu.


"Mbak Elin! Apa kabar, Mbak?" Rindi menyalami mantan kakak madunya itu. Rindi menatap penampilan Elin yang berbeda, yaitu perutnya sudah membuncit, tetapi tidak sebesar perutnya sendiri.


"Mbak Elin, kamu hamil, Mbak?" tanya Rindi ikut bahagia melihat Elin juga sedang hamil.


"Alhamdulillah, iya, Rin, baru jalan lima bulan. Kamu sendiri sudah berapa bulan?" tanya Elin sembari mengusap perut buncit Rindi.


"Sudah tujuh bulan, Mbak. Lusa kami mengadakan acara tujuh bulanan. Mbak Elin datang ya," ujar Rindi sekalian mengundang karena sudah bertemu.


"Insyaallah ya, semoga debay dan ibunya sehat selalu, dan lancar hingga persalinan."


"Aamiin, terimakasih untuk do'anya, Mbak. Do'a yang sama juga buat Mbak Elin. Oya, Mbak dengan siapa? Sendirian?" tanya Rindi penasaran.


"Nggak, aku dengan Mas Adri. Dan kamu sendiri?" tanya Elin.


"Aku dengan Mas Arfan, dia lagi ke toilet," jelas Rindi.


"Nggak jadi, Mas. Oya, kenalin ini Rindi istrinya Mas Arfan," ujar Elin mengenalkan Rindi pada suaminya.


"Oh, saya Adri. Kamu apa kabar? Arfan mana?" tanya Adri yang memang sudah kenal dengan Arfan saat itu yang menyerahkan Elin padanya.


"Ada, tadi ke toilet," jawab Rindi dengan ramah.


"Sudah, Dek?" terdengar suara Pria yang ditanya sudah berada dibelakangnya.


Arfan dan Elin saling pandang. Seketika Pria itu memutus tatapannya. Arfan mengubah ekspresi wajahnya dengan datar.

__ADS_1


"Hai, apa kabar?" Pria itu menyalami Adri dan Elin.


"Alhamdulillah baik." Elin tampak kaku dengan pertemuan pertama setelah dirinya menikah dengan Pria masa lalunya.


"Oya, karena sudah ketemu disini, datang ya ke acara tujuh bulanan Rindi besok lusa," jelas Arfan ikut mengundang pasangan itu.


"Insyaallah kami akan datang," jawab Adri.


"Oke, kalau begitu kami mau lanjut belanja lagi." Arfan pamit undur dihadapan mereka.


"Ah, ya. Silahkan."


"Mari, Mbak, Mas." Rindi beranjak mengikuti langkah suaminya untuk menuju kasir.


"Udah semua ini, Dek?" tanya Arfan menggandeng tangan Rindi.


"Kayaknya udah, Mas. Mama hanya titip ini."


Arfan segera mengeluarkan debit card. Tetapi Rindi menolak, karena ia ingin sesekali belanja menggunakan uangnya.


"Mas, pakai kartu aku saja."


"Udah ini saja, Sayang, simpan kartu kamu."


"Nggak. Mbak ini saja." Rindi menyerahkan kartunya pada petugas kasir.


Arfan hanya geleng kepala, ia mengalah dan kembali memasukkan kartu itu kedalam dompetnya. Arfan tidak ingin membuat mood wanita hamil itu kembali rusak. Apalagi tadi mereka sempat bertemu Elin. Arfan sudah siap-siap untuk menjawab pertanyaan yang akan dia terima.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2