Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Kemarahan Rindi


__ADS_3

Arfan dan Rindi kini sudah bahagia, Arfan sudah bisa berdamai dengan masalalunya bersama Elin, dan wanita itupun sudah bahagia bersama Pria masalalunya yang kini telah menjadi suaminya.


Semenjak berpisah dengan Elin, Arfan sudah menetap tinggal di kota bertuah itu bersama Rindi. Arfan dan Rindi akan berkunjung ke Medan bila mereka cuti.


Tak terasa waktu berjalan, kini kandungan Rindi sudah hampir tujuh bulan. Rencananya pasangan itu minggu depan akan balik ke Medan untuk melakukan acara tujuh bulanan di kediaman orangtuanya.


"Mas, bangun." Pagi-pagi sekali Rindi membangunkan suaminya.


"Mmmh, masih ngantuk, Dek." Arfan bergumam dengan mata yang masih terpejam.


"Bangun dulu, Mas, temani aku jalan pagi di keliling kompleks, nanti siang kamu boleh tidur lagi. Ayo dong, Mas..," rengek Rindi sembari menarik selimut tebal yang masih membungkus tubuh suaminya.


"Nanti, Sayang, lima menit lagi," tawar Arfan yang membuat Rindi gemas sendiri.


"Ayo dong, Mas. Nanti keburu siang, ish, yaudah aku jalan sendiri aja!" Rajuk wanita itu yang hendak berdiri dari duduknya.


"Eh, tunggu dulu, Dek, jangan ngambek dong." Arfan segera meraih tangan Rindi dan membawa kedalam pelukannya.


"Abisnya kamu itu susah banget dibangunkan," ujar Rindi masih mode kesal.


"Iya deh, aku minta maaf. Udah jangan cemberut begitu, nanti jadi jelek."


"Yaudah, makanya Mas itu ayo buruan. Nanti keburu siang cuacanya terik lagi," rengek Rindi sembari mengeratkan pelukannya.


"Ini buruan mau ngapain sih, Dek? Buruan bukain ini?" tanya Pria itu masih menggoda istrinya.


"Tuh, kan... Ih malas ah."

__ADS_1


"Hahaha... Ya habisnya kamu ngajak jalan, tapi meluknya erat kayak gini."


"Eh, iya, tuh kan jadinya kayak gini. Kamu tadi yang peluk aku, Mas. Udah ayo dong, Mas!"


"Hahaha... Oke, oke, Sayang. Lepasin dong, pelukannya."


Rindi segera melepaskan pelukannya, dan membiarkan suaminya ke kamar mandi untuk mencuci muka.


"Ayo Dek, pake switernya, dingin diluar," intrupsi Pria itu pada sang istri.


"Iya, Mas." Rindi segera meraih baju hangat yang ada di lemari.


"Udah?" tanya Arfan mendekati Rindi yang masih berdiri didepan lemari.


"Udah, ayo."


Arfan menggandeng tangan wanita hamil itu. Sebenarnya dihari libur ini dia ingin menikmati tidur nyenyak. Tetapi, karena perintah ibu negara, jadi tidak bisa lagi beralasan.


Saat mereka sedang asyik berjalan santai sambil ngobrol, Rindi melepaskan sendalnya, sehingga mendapatkan penolakan keras oleh Arfan.


"Kenapa dibuka, Dek? Nanti kaki kamu luka, mana tahu ada beling atau paku. Ayo pake lagi sendal kamu!" perintah Pria itu dengan tegas.


"Tapi, aku pengen nginjak kerikil-kerikil ini, Mas, biar sirkulasi darahku berjalan lancar," ujar Rindi mengemukakan alasannya.


"Tidak! Ayo pake lagi!" Arfan berjongkok menaruh sendal itu dihadapannya.


"Wih, ternyata kamu pintar juga cari suami yang begitu menyayangi kamu. Hebat. Apakah dia juga suami orang?" tanya seorang wanita yang membuat Rindi dan Arfan menatap wanita itu dengan tajam.

__ADS_1


"Mira, apa yang kamu katakan?" tanya dokter Fikri, ternyata pasangan itu tinggal di kompleks sebelah mereka. Dan kebetulan Dr Fikri dan Mira sedang joging.


"Kenapa? Kamu masih tidak rela jika aku bicara seperti ini pada wanita penggoda ini? Bisa jadi dia seorang pelakor dan Pria ini adalah suami orang yang..."


"Jaga bicara Anda Nona! Jangan sekali-kali kamu menghina istri saya! Dia adalah wanita terhormat. Dia tidak seperti yang kamu tuduhkan!" Arfan memberi peringatan pada istri Dr Fikri itu dengan tegas dan berapi-api.


"Hng! dasar wanita tidak tahu malu!" ternyata wanita itu masih berkata buruk sehingga membuat kesabaran ibu hamil itu habis.


"Apa kamu bilang?" Rindi menarik lengan Mira yang ingin berlalu setelah mengatai dirinya. "Aku wanita tidak tahu malu? Katakan padaku apa yang telah aku perbuat padamu sehingga kamu mengatakan hal itu? Katakan!" Bentak Rindi dengan suara lantang.


"Apakah kamu tidak sadar bahwa kamu pernah menggoda suamiku!"


"Jaga bicaramu! Kamu dengar! Aku lebih dulu mengenal Dr Fikri daripada kamu. Jika aku mau, maka saat ini kamu tidak akan bisa bersamanya. Paham kamu! Jadi, jangan sampai sekali lagi kamu menghina diriku."


Arfan membawa Rindi untuk menjauhi wanita itu yang tampak sangat emosi dengan ucapan Rindi. Dia takut jika istri Dr Fikri itu akan menyakiti istri dan calon anaknya.


"Sudah, Sayang, ayo kita pulang." Arfan menggandeng tangan sang istri. Wanita itu tampak masih emosi.


"Aku sangat kesal, Mas. Enak sekali dia mengatakan hal itu padaku."


"Iya, sayang, aku tahu kamu tidak seperti yang dikatakannya. Udah, jangan marah-marah lagi ya, makanya tadi aku sudah bilang, kita jalan santainya keliling kompleks perumahan kita saja, eh kamunya malah ngotot mau kesana. Emang kamu udah tahu ya bahwa Dr Fikri tinggal disana?" tanya Arfan yang membuat mood sang istri semakin memburuk karena merasa di pojokan, padahal dia sama sekali tidak mengetahui.


"Kamu ini apaan sih Mas? Kok nanyanya begitu? Mana aku tahu kalau mereka juga tinggal di daerah sini. Ihh, nyebelin banget deh!" Rindi menggerutu, dan meninggalkan Arfan yang tampak bingung karena sudah salah bertanya.


"Eh, Dek, jangan marah dong! Tungguin aku." Arfan melebarkan langkahnya untuk mengejar sang istri.


"Apaan sih Mas. Lepasin! Nggak usah pegang-pegang! Kamu itu dan si Mira sama saja. nyebelin!" Rindi melepaskan tangan Arfan.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2