Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Acara tujuh bulanan


__ADS_3

Diperjalanan pulang, Rindi dan Arfan tampak biasa saja, tak ada yang berubah dari sikap mereka berdua setelah bertemu dengan Elin.


"Mas, Mbak Elin sudah hamil,lho," ujar Rindi yang membuat Arfan sedikit terjingkat mendengarnya.


"Hah? Kamu serius?" tanya Pria itu sedikit penasaran.


"Iya, katanya baru jalan empat bulan."


Arfan merasa lega mendengar bulan kehamilan wanita itu. Dia sempat berpikir bahwa anak itu miliknya. Karena waktu malam mereka berpisah, Arfan sempat menggaulinya.


"Nggak nyangka juga ya, akhirnya dia bisa hamil. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh lama," seru Pria itu sembari fokus mengemudi.


"Ya, mungkin salah satunya itu, Mas. Dan bisa jadi hormon kamu dan Mbak Elin tidak cocok maka tidak terjadi pembuahan," jelas Rindi membahas ilmu kedokteran.


"Gitu ya, Dek?" tanya Arfan yang memang tidak tahu.


"Hmm..." Rindi mengangguk.


Sejenak mereka terdiam. Dan larut dalam pikiran masing-masing. Rindi menatap Arfan sejenak, sehingga tatapan mereka bertemu.


"Kenapa menatap aku begitu, Dek?" tanya Arfan


"Mas, apakah jantung kamu masih berdebar saat bertemu dengan Mbak Elin?" tanya Rindi yang sudah mulai mengorek informasi.


"Enggak!" Jawab Arfan jujur. Karena memang itu yang dia rasakan. Tak ada debaran lagi saat bertemu dengan mantan istrinya, apalagi melihat sudah ada lelaki lain yang berada disampingnya.


"Serius?" tanya Rindi penuh selidik.


"Serius, Dek." Kenapa sih nggak percaya banget?"


"Ah, nggak, aku percaya kok, Mas."


"Hmm, syukurlah. Jujur aku sudah tak mempunyai perasaan apapun terhadap Elin. Dia sudah menikah. Kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang perasaanku. Aku hanya mencintai kamu," jelas Arfan disela sela mengemudi.


Rindi tersenyum bahagia mendengar ucapan sang suami, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Arfan. "Terimakasih, Mas, aku sangat bahagia bisa menjadi cinta satu-satunya dalam hati kamu," ujar wanita itu menatap dengan senyum manisnya.


"Iya, Sayang, aku tidak akan pernah menduakan dirimu. Tetaplah disampingku, temani aku hingga kita sama-sama tua nanti."


Rindi mengapit lengan Arfan semakin erat, bibirnya mengecup pipinya. "Aku akan selalu ada disampingmu, Mas."


Arfan membalas kecupan sang istri. "Terimakasih ya, Sayang."


***

__ADS_1


Hari ini adalah acara tujuh bulanan pasangan itu. Acaranya cukup meriah. Karena ini adalah cucu pertama dari anak laki-laki dari pasangan Dokter jantung itu.


Semua keluarga hadir, Sania juga menyempatkan diri untuk pulang menghadiri acara kakak ipar dan Abangnya.


Kini acara demi acara sudah dimulai. Dari mulai sungkeman, siraman, brojolan, hingga memutus benang yang melilit. Dan di tutup oleh Do'a keselamatan untuk ibu dan calon bayi yang akan lahir nanti.


Ditengah-tengah acara, Elin dan Adri datang menyambangi, untuk memberikan ucapan selamat dan Do'a pada pasangan itu.


"Selamat ya, Rindi. Semoga nanti lahirannya diberikan kemudahan," ujar Elin menyalami mantan adik madunya itu.


"Terimakasih banyak atas do'a dan kehadirannya, Do'a yang sama buat Mbak Elin," balas Rindi saling berpelukan. Mereka saling mengaminkan Do'a yang diucapkan.


"Selamat ya, Nak, akhirnya kamu sudah hamil," ujar Mama Zahra pada mantan menantunya.


"Terimakasih ya,Ma." Elin memeluk wanita baya itu. Wanita yang dulu sangat menyayangi dirinya, tetapi kini sikapnya tetap baik kepadanya meskipun dia sudah menyakiti perasaan anaknya.


Setelah melewati serangkaian acara, akhirnya sudah selesai acara tujuh bulanan. Pasangan itu sudah bisa beristirahat setelah melalui proses acara yang cukup melelahkan.


***


Malam ini Rindi dan Arfan masuk kamar lebih cepat, karena mereka begitu lelah. Ditambah lagi Rindi yang sudah begitu kecapean.


"Ma, Dad, kami pamit istirahat dulu ya. Soalnya Rindi sudah lelah," ujar Arfan berpamitan pada keluarganya yang masih ngobrol diruang keluarga.


Setibanya dikamar, Rindi segera bersih-bersih dan segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang, terasa begitu nyaman saat tubuhnya bisa menyentuh bantal dan tempat tidur setelah seharian bergelut dengan aktivitas yang melelahkan.


Arfan yang baru selesai mandi segera naik dan merebah disamping istrinya. Tangan Pria itu mengusap perut buncit Rindi. "Sayang, kamu kapan ambil cuti?" tanya dokter syaraf anak itu pada sang istri.


"Nanti, Mas, tunggu kehamilan aku genap delapan bulan, sekalian dengan cuti melahirkan," jelas Rindi.


"Aku takut kamu kelelahan, Sayang." Arfan membawa Rindi dalam dekapannya.


"Insyaallah aku tidak apa-apa, Mas. Cuma satu bulan lagi."


"Baiklah, jika kamu ada keluhan kita segera periksa ya." Ternyata kepergian anak pertama mereka membuat rasa trauma bagi Arfan. Karena sekarang kandungan Rindi sudah hampir memasuki delapan bulan.


"Iya, Mas. Kamu tidak perlu cemas. Anak kita pasti kuat." Rindi berusaha untuk meyakinkan suaminya.


"Baiklah, kalau begitu ayo tidur, Dek." Arfan memeluk sang istri dengan nyaman. Maka dalam sekejap Rindi sudah menemui mimpinya.


***


Pagi setelah sarapan, Arfan dan Rindi pamit pada keluarganya untuk kembali ke kota bertuah, karena Arfan tidak bisa meninggalkan tugasnya dengan waktu yang sudah ditetapkan.

__ADS_1


Mengingat jadwal prakteknya yang begitu padat, maka ia tidak bisa mengabaikan tugas penting itu. Karena kehadirannya setiap hari sangat diharapkan oleh anak ABK. Khususnya untuk anak yang mengidap epilepsi.


"Ma, Dad, kami pamit pulang. Soalnya aku tidak bisa meninggalkan tugasku terlalu lama," ujar Arfan berpamitan pada kedua orangtuanya.


"Yah, udah pulang aja. Padahal aku masih kangen dengan kak Rindi. Kami masih ingin ngobrol banyak. Iya kan,kak?" tanya Sania pada kakak iparnya.


"Hehe... Iya, maaf ya, kakak tidak bisa lama," balas Rindi sembari memeluk adik iparnya itu.


"Udah, besok kalau kakakmu sudah melahirkan kamu main kesana. Nanti bisa ngobrol sepuasnya," ujar Arfan menimpali ucapan adik dan istrinya.


"Nggak bisa janji, Bang. Soalnya jadwal kerja aku padat. Ditambah sekarang Bang Hanan tugas diluar kota."


"Abang Do'ain saat itu tiba kamu mempunyai banyak waktu luang."


"Aamiin... Yaudah, Abang dan kak Rindi hati-hati, nanti kalau sudah sampai beri kabar kami."


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu." Arfan dan Rindi menyalami tangan kedua orangtuanya dengan takzim.


"Baiklah, hati-hati ya, Nak. Jaga istrimu dengan baik. Nanti saat Rindi lahiran Mama dan Daddy akan usahakan untuk datang. Benar 'kan Dad?" tanya Mama Zahra pada suaminya.


"Iya, insyaallah. Nanti akan Daddy usahakan."


Pasangan halal itu meninggalkan kota Medan, dan kembali ke kota dimana mereka tugas, dan juga kampung halaman Rindi.


***


Seperti biasa pagi ini pasangan halal itu bangun di awal waktu untuk melaksanakan ibadah sebagai seorang muslim. Dengan perut yang sudah berat dibawa, wanita itu tetap menyediakan keperluan kerja suaminya. Dari mulai menyiapkan pakaian ganti, sarapan, kopi, dan yang lain sekiranya perlu dibawa oleh Dokter neurologi Anak itu.


Setelah membereskan keperluan suaminya, Rindi segera bergegas bersiap untuk dirinya sendiri. Wanita dua puluh empat tahun itu sangat menikmati perannya sebagai seorang istri bagi lelaki yang teramat dicintainya. Beruntung Pria itu sangat pengertian. Terkadang dia tak membiarkan sang istri untuk melakukan sendiri pekerjaan dirumah. Arfan akan membantu bila ada waktu luang.


"Kopinya, Mas." Rindi meletakkan diatas meja.


"Terimakasih, Sayang." Arfan segera menyesap kopi buatan istrinya. "Dek, kita harus mencari Art. Sekarang kamu sudah mulai mendekati HPL. Jadi harus ada yang membantu dirumah.


"Baiklah, nanti aku coba tanyain sama teman-teman yang ada di RS, mana tahu ada teman Art mereka yang butuh pekerjaan," ujar Rindi.


"Baiklah, Sayang, nanti pulang praktek tungguin aku ya," ujar Arfan meminta seperti biasanya.


"Oke, Ayo kita sarapan dulu," Rindi menggandeng suaminya menuju meja makan.


Bersambung....


Nb. Satu episode lagi end ya🤗

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2