
Tiga puluh menit, akhirnya Arfan menyelesaikan segala tugasnya hari ini. Pria itu segera menemui istrinya yang sudah mulai bosan menunggu. Rindi sudah tampak gelisah sesekali menyesap minumannya.
"Sayang, maaf ya, bosan ya nungguin?" tanya Arfan segera duduk disisinya.
"Ga pa-pa Mas. Udah selesai?"
"Sudah, Sayang, kamu sudah makan?"
"Belum, Mas. Aku pengen makan bareng kamu. Kita beli nasi Padang nanti makan berdua dirumah ya, Mas," Rindi mengutarakan keinginannya.
"Oke, Sayang, ayo kita jalan sekarang." Arfan membantu Rindi untuk berdiri.
Mereka segera mencari restoran Padang, dan membeli nasi rames dengan double untuk porsi dua orang.
"Mas, aku pengen rendang daging, terus sama gulai asampadeh," ujar Rindi berbisik pada suaminya saat Arfan sedang memesan pada salah satu pelayan.
"Baiklah, Sayang."
Tidak berapa lama pesanan mereka selesai, Arfan segera membayar di kasir, setelah itu mereka segera menuju pulang.
"Sudah hampir jam setengah dua lho, Mas, kamu nggak terlambat ke RS lagi?" tanya Rindi di perjalanan pulang.
"Nggak pa-pa, Dek, yang penting tetap praktek," jawab Arfan masih fokus dengan kemudinya.
"Mas?"
__ADS_1
"Ya Sayang?"
"Emang suster pendamping kamu tiga orang ya?"
"Iya, kalau untuk ngeabsen satu orang yang di dalam ruangan praktekku, tetapi untuk EEG berdua di ruangan sebelah," jelas Arfan pada Rindi.
"Tapi, suster yang bersama kamu diruang EEG kok aku baru lihat?" tanya Rindi penuh selidik.
"Kenapa, Dek? Kamu cemburu?" tanya Arfan tepat sasaran, Pria itu mengulas senyum.
"Eh, nggak, siapa yang cemburu," sanggah Rindi lari dari kenyataan
"Oh."
"Kok kamu jawabnya cuma begitu, Mas?"
"Kamu kok sedekat itu pada perawat kamu?"
"Hahaha... Kamu benar-benar lucu banget. Katanya tidak cemburu?"
"Ish, iya, aku cemburu. Puas!"
Arfan kembali terkekeh mendengar pengakuan istrinya, lalu tangannya mengusap kepala Rindi dengan lembut dan mencuri kecupan dipipi mulus istrinya itu.
"Apaan sih cium-cium!" Rutu wanita itu sembari menghapus jejak kecupan di pipinya.
__ADS_1
Arfan menepikan mobilnya, lalu menatap Rindi dengan gemas. "Kalau tidak mau di kecup, sini aku peluk." Arfan segera maraih wanita itu, dan membawanya masuk kedalam pelukannya.
"Mas Arfan, lepasin!" Rindi memberontak, namun hatinya merasa begitu nyaman dalam dekapan sang suami, sehingga niatnya urung untuk melepaskan diri, malah sebaliknya, Rindi mendekap Arfan begitu erat.
"Mas, apakah kamu ingin mempunyai istri lagi selain aku?" tanya Rindi yang sudah terisak-isak.
Arfan melonggarkan pelukannya. Pria itu menatap wajah sang istri sembari menghapus air mata Ibu hamil yang sedang sensitif itu.
"Dengar, Sayang, aku tidak akan pernah membagi cinta untuk wanita manapun. Cintaku sekarang utuh hanya untukmu. Dan soal perawat itu, kebetulan dia perawat baru yang butuh bimbingan, aku harus mengajarinya untuk memahami cara kerja mesin perekam syaraf itu."
Arfan menjelaskan pada Rindi secara rinci agar istrinya itu tidak berpikir yang macam-macam. Arfan juga sangat memahami rasa takut dan cemburu Rindi, terlebih lagi sang istri sedang hamil, tentu saja jiwa sensinya mudah sekali keluar.
Rindi masih menghapus air matanya, sesekali dia menghirup air hidungnya yang ikutan keluar bersamaan dengan air matanya.
"Nih, pake ini lapnya, pake tangan jorok, nanti megang nasi Padang lagi," ujar Arfan memberikan sapu tangannya. Pria itu masih sempat menggurauwi istrinya yang sedang ngambek.
"Kamu apaan sih, Mas. Hiks, nggak tahu apa orang lagi marah," gumam wanita itu tidak menolak sembari menerima sapu tangan suaminya.
Arfan terkekeh kembali memeluk istrinya dan mengecup seluruh wajahnya. "Udah, Adek jangan sedih lagi ya, percaya sama aku, Sayang, hatiku tidak akan pernah terbagi, hanya kamu wanita satu-satunya dalam qalbuku."
"Janji,ya Mas? Nggak boleh tergoda dengan wanita lain, jaga hatimu untuku!"
"Janji, Sayang. Udah jangan nangis lagi ya. Senyum dulu dong."
Rindi mengangguk, lalu memberi senyum termanisnya. Arfan merasa lega dan kembali memberi tanda sayang sebelum menjalankan kendaraannya.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰